Ungkapan Syukur 27 Tahun Usia Pernikahan, Sylvi dan Yoshi
Suguhkan âHotel Tour Exclusiveâ bagi Anggota Roode Brug Soerabaia
Dua puluh tujuh tahun bukan sekadar angka dalam perjalanan sebuah rumah tangga. Ia adalah jejak waktu yang menyimpan banyak cerita: tentang suka dan duka, tentang tawa dan air mata, tentang bagaimana dua manusia belajar berjalan beriringan di tengah perubahan kehidupan.
Bagi Sylvi Mutiara dan Yoshi, 27 tahun usia pernikahan menjadi momentum untuk kembali menengok perjalanan itu dengan satu kata sederhana, tetapi dalam maknanya yang dalam, yakni bersyukur.
Menurut Sylvi, perjalanan panjang kehidupan berkeluarga tentu tidak selalu berjalan dalam suasana yang manis. Ada asam kehidupan yang harus dirasakan, ada pula berbagai keadaan yang menuntut keduanya untuk terus belajar memahami, menerima, dan beradaptasi.
âBersyukur adalah salah satu kunci kelanggengan rumah tangga,â ungkap Sylvi.
Ungkapan syukur itu kemudian tidak berhenti sebagai perayaan pribadi. Sebagai Pembina Roode Brug Soerabaia, Sylvi dan Yoshi memilih membagikan kebahagiaan tersebut kepada anggota Roode Brug Soerabaia yang turut mengambil bagian dalam merawat ingatan sejarah Surabaya.
Mereka yang terlibat teatrikal Perobekan Bendera di Hotel Majapahit, Sabtu (26/9/2026), mendapat apresiasi melalui sebuah pengalaman istimewa: âHotel Tour Exclusive and Historical Sharing Sessionâ di Hotel Majapahit Surabaya â MGallery Collection yang kisah peristiwa terkait Pertempuran Surabaya 1945 disampaikan oleh Founder dan Ketua Roode Brug Soerabaia: Ady Setyawan dan Satrio Sudarso.
Bagi Sylvi dan Yoshi, setidaknya ada tiga nikmat yang ingin ia syukuri bersama. Pertama, memiliki suami yang terbaik baginya. Bukan berarti terbaik menurut ukuran semua orang, melainkan sosok yang terbaik untuk dirinya.
Kedua, dikaruniai anak-anak yang dapat dibanggakan melalui prestasi sekaligus baktinya kepada orang tua. Sedangkan yang ketiga, memiliki suami dan anak-anak yang tidak âneko-nekoâ, sederhana, serta mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan tempat.
Dari keluarga, rasa syukur itu kemudian merambah dan meluas menjadi apresiasi kepada mereka, anggota Roode Brug Soerabaia, yang selama ini ikut menjaga cerita dan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
âHotel Tour Exclusiveâ, Menyusuri Arsitektur Ikonik
âHotel Tour Exclusiveâ bukan sekadar perjalanan menyusuri sebuah bangunan tua. Program ini memadukan sejarah, pengenalan ruang, dan sentuhan artistik untuk menghadirkan kembali memori masa lalu dalam suasana yang lebih dekat dan personal.
Perjalanan diawali dengan sambutan hangat staf hotel yang begitu ramah. Sebelum menyusuri ruangan-ruangan ikonik, peserta memperoleh penjelasan umum seputar arsiterktur hotel dahulu dikenal sebagai Hotel Oranje dan Hotel Yamato beserta keluarga Sarkies dan seputar peristiwa Perobekan Bendera Belanda.
Salah satu ruang yang menarik perhatian adalah Room #033, yang dalam kisah revolusi 1945 dikenal berkaitan dengan aktivitas pihak Belanda/Sekutu. Dari kamar inilah rencana pengibaran bendera Belanda, yakni warna Merah-Putih-Biru bermula.
Kemudian pada situasi berikutnya, bendera tersebut kemudian memantik kemarahan pemuda Surabaya hingga berujung pada aksi perobekan warna biru, menyisakan Merah Putih yang berkibar di atas hotel.
Kamar itu juga menyimpan cerita tentang pintu rahasia yang dahulu menjadi akses keluar-masuk menuju perkampungan warga di belakang hotel. Kini, ruang tersebut dikenal sebagai Kamar Merdeka, penamaan yang sekaligus menjadi pengingat bahwa bangunan dapat menyimpan lebih dari sekadar kemewahan arsitektur, pun ia menyimpan keberanian manusia.
Dari sejarah perjuangan, perjalanan berlanjut menuju Charlie Chaplin Room, yang mengingatkan pada jejak bintang dunia Charlie Chaplin ketika singgah di Surabaya pada 1 April 1932. Kamar Legendary Suite nomor 47 kemudian menjadi bagian dari memori hotel yang terus dirawat hingga kini.
Namun, puncak perjalanan sejarah terasa ketika peserta tiba di Flag Terrace. Di tempat inilah memori Perobekan Bendera seakan kembali menemukan ruangnya. Jam dinding klasik dan penanda sejarah yang masih terawat menjadi saksi bahwa sebuah peristiwa yang berlangsung puluhan tahun silam masih dapat berbicara kepada generasi hari ini.
Tak kalah menarik juga, peserta âHotel Tour Exclusiveâ berkesempatan menikmati pemandangan Lobby Garden yang hijau dan asri, sekaligus untuk foto bersama berlatar belakang Presidential Suite, atau air mancur di tengan hamparan hijau.
Satrio Sudarso, Ketua Roode Brug Soerabaia, dalam sambutannya menyampaikan bahwa 27 tahun bukan perjalanan yang singkat. Pernikahan Bu Sylvi dan Pak Yoshi tentu telah melewati beragam warna kehidupan, dibangun dengan kesetiaan yang dirawat setiap hari, saling memahami dalam suka maupun duka, serta komitmen untuk terus berjalan beriringan.
âSaya turut berbahagia atas rasa syukur yang dirayakan ini,â ujarnya. Ia berharap cinta dan kehangatan yang selama ini terjaga senantiasa langgeng, serta dianugerahi kesehatan, ketenteraman, dan kebahagiaan hingga akhir hayat.
Menurut Satrio, perjalanan panjang tersebut juga menjadi cermin dan teladan tentang bagaimana kesetiaan dan saling menguatkan dapat menjaga sebuah rumah tangga tetap kokoh. Sebab, usia pernikahan bukan semata tentang panjangnya waktu yang telah dilalui, melainkan tentang kesediaan untuk terus memahami, menerima, dan memilih berjalan bersama dalam setiap keadaan.
Atas nama anggota Roode Brug Soerabaia, Satrio menyampaikan terima kasih tak terhingga atas perhatian, dukungan dan penghargaan, serta kemurahan hati Bu Sylvi dan Pak Yoshi terhadap berbagai kegiatan komunitas. Salah satunya melalui apresiasi kepada anggota yang terlibat dalam pertunjukan teatrikal Perobekan Bendera pada 26 September 2026 dalam bentuk âHotel Tour Exclusiveâ ini.
Ketulusan dukungan dan kebaikan hati Bu Sylvi dan Pak Yoshi, lanjutnya, bukan sekadar bantuan material, namun merupakan wujud kepedulian yang tulus terhadap kebersamaan sekaligus kecintaan untuk terus merawat sejarah Surabaya, terutama mengedukasi generasi muda agar mengenal sejarah kotanya.
âSemoga setiap kebaikan yang telah diberikan akan kembali dalam bentuk rezeki yang luas, keberkahan, kesehatan, dan kebahagiaan bagi keluarga,â pungkas dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
*
Pada akhirnya, 27 tahun pernikahan Sylvi dan Yoshi mengajarkan bahwa rasa syukur tidak selalu harus dirayakan dengan kemeriahan. Ia dapat diwujudkan dengan berbagi kebahagiaan, menghargai orang-orang yang berjalan bersama, sekaligus merawat ingatan yang menjadi bagian dari perjalanan bangsa.
Sebab sejarah pun, seperti halnya rumah tangga, membutuhkan perawatan. Bukan hanya agar tidak dilupakan, tetapi agar nilai-nilai di dalamnya tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam sebuah perayaan: bukan sekadar mengenang berapa lama kita telah berjalan, melainkan mensyukuri dengan siapa kita berjalan dan untuk apa perjalanan itu terus dilanjutkan. Kebahagiaan. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara












































