23 Orang Pensiunan Guru SMP Negeri 23 Surabaya Menyusuri Pesona Pacitan
Pukul 05.00 WIB, Rabu pagi, 14 Oktober 2026. Udara Surabaya masih menyisakan dingin dini hari ketika dua Toyota HiAce mulai bergerak dari sisi timur SPBU Pandugo. Sebanyak 23 pensiunan guru SMP Negeri 23 Surabaya bersiap menempuh perjalanan menuju Pacitan.
Di dalam kendaraan, sapaan bersahutan, gurauan mulai terdengar, dan tawa renyah memecah suasana pagi. Seolah-olah, waktu kembali membawa mereka ke masa ketika setiap hari berjumpa di sekolah, berbagi cerita, dan menertawakan hal-hal sederhana di sela-sela kesibukan mengajar.
Pagi itu, tak ada bel sekolah yang memanggil mereka, tak ada tumpukan pekerjaan yang menunggu diselesaikan, dan tak ada jadwal mengajar yang harus dikejar. Yang ada hanyalah perjalanan, sahabat-sahabat lama, serta dua hari yang sengaja disediakan untuk menikmati kehidupan di luar rutinitas.
Ketika kendaraan memasuki jalan tol, Surabaya perlahan tertinggal. Percakapan terus mengalir, sesekali diselingi tawa yang menghangatkan kabin. Jalan menuju Pacitan masih panjang, dengan kelokan tajam, tanjakan, dan turunan yang menanti di kawasan perbukitan.
Namun, bagi rombongan berusia 61–72 tahun itu, perjalanan bukan semata-mata urusan mencapai tujuan. Ada kebahagiaan tersendiri dalam kebersamaan yang tak selalu bisa diperoleh ketika masing-masing kembali menjalani kesibukan di rumah.
Perjalanan dua hari itu pun bukan sekadar wisata ke pantai, menyusuri sungai, atau berburu kuliner dan oleh-oleh. Ada sesuatu yang lebih berharga untuk dirawat: persahabatan yang telah tumbuh selama puluhan tahun dan semangat untuk tetap menikmati kehidupan setelah masa pengabdian formal berakhir.
Sebab, pensiun boleh mengakhiri rutinitas pekerjaan, namun tak harus mengakhiri kegembiraan untuk bertemu, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan baru. Justru ketika waktu terasa lebih lapang, reuni dan perjalanan bersama menemukan maknanya, yakni membuktikan bahwa pensiun dan bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti bertumbuh.
Perjalanan Dimulai, Kenangan Kembali Bersemi
Rabu pagi, pukul 05.00 WIB, dua mobil Toyota HiAce meninggalkan titik kumpul di sisi timur SPBU Pandugo, Surabaya. Tujuan mereka Pacitan, kota di pesisir selatan Jawa Timur yang menyimpan pesona pantai, perbukitan, dan sungai yang memikat.
Rombongan melintasi jalan tol, keluar melalui gerbang Balerejo, Madiun, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Ponorogo dan Pacitan. Memasuki kawasan Slahung, jalan mulai berkelok tajam, menyusuri perbukitan dengan tebing dan jurang di sisi jalan.
Bagi sebagian orang, jalur semacam itu mungkin cukup menguras tenaga. Namun, suasana di dalam kendaraan justru dipenuhi percakapan dan tawa renyah. Tak terdengar keluhan berarti tentang pusing, mual, atau mabuk perjalanan, meski usia berkisar 61–72 tahun. Pengalaman panjang seolah mengajarkan bahwa perjalanan akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama.
Di antara cerita lama dan gurauan baru, waktu tempuh tak lagi sekadar hitungan kilometer. Perjalanan menjadi ruang untuk saling menyapa, mendengarkan kabar, dan menghidupkan kembali kedekatan yang dahulu tumbuh di lingkungan sekolah.
Sekitar pukul 10.50 WIB, rombongan tiba di hotel dan langsung melakukan check-in. Makan siang berupa nasi kotak, sumbangan salah seorang peserta, Hj. Tutik Mintiasih, dinikmati bersama di area luar lobi.
Sesudah beristirahat dan menunaikan salat Asar, rombongan berkunjung ke Museum SBY, milik mantan Presiden ke-6 Republik Indonesia. Suasana museum terasa tertata, tenang, dan modern. Berbagai koleksi berupa foto, dokumentasi perjalanan kepemimpinan, benda-benda bersejarah.
Tak ketinggalan juga hingga memorabilia yang mengajak pengunjung menelusuri perjalanan hidup Susilo Bambang Yudhoyono, mulai dari kiprahnya di dunia militer hingga pengabdiannya sebagai Presiden ke-6 Republik Indonesia bersama Ani Yudhoyono.
Museum ini bukan sekadar ruang untuk mengenang sosok seorang pemimpin, melainkan juga tempat menyimak jejak perjalanan bangsa melalui rekaman peristiwa, keputusan, dan pengalaman yang pernah mewarnai sejarah Indonesia.
Setelah itu berbelanja oleh-oleh khas Pacitan berupa tahu tuna, bakso tuna, dan aneka olahan ikan lainnya. Karena sebagian produk berupa makanan beku, pesanan dititipkan di toko untuk diambil menjelang kepulangan.
Sore itu, perjalanan berlanjut ke Pantai Teleng. Debur ombak menyambut kedatangan rombongan, sementara cahaya matahari perlahan melunak di ufuk barat. Matahari yang merunduk di balik pepohonan dan punggung perbukitan menghadirkan suasana senja yang menenangkan.
Di hadapan bentang alam itu, obrolan sejenak berpadu dengan desir angin laut. Ada kebahagiaan sederhana ketika seseorang bisa menikmati keindahan tanpa dikejar jadwal pekerjaan, sekaligus membaginya dengan sahabat yang memahami perjalanan hidupnya.
Malam harinya, rombongan berjalan-jalan di Alun-Alun Pacitan sebelum menikmati makan malam di restoran lokal. Di sekeliling alun-alun, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menawarkan beragam kuliner.
Kupat tahu, jadah bakar, kopi, teh dan jajanan lainnya menjadi bagian dari kehidupan malam warga. Di tempat semacam ini, perjalanan tak hanya mempertemukan pengunjung dengan destinasi, namun juga dengan denyut kehidupan masyarakat setempat.
Sungai Maron, Keceriaan di Antara Rimbun Pepohonan
Kamis pagi, setelah sarapan dan menyelesaikan proses check-out, rombongan berangkat menuju Sungai Maron sekitar pukul 07.00 WIB. Jalanan kembali berkelok menyusuri perbukitan. Di kiri dan kanan, pepohonan jati tampak meranggas akibat kemarau panjang. Tanah yang mengering menjadi penanda bahwa keindahan alam tak selalu hadir tanpa tantangan.
Sesekali, dari balik kaca kendaraan, terlihat mobil tangki air dikerumuni warga yang membawa galon dan jeriken. Mereka mengantre untuk memperoleh air bersih, sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk memasak.
Pemandangan itu menyelipkan renungan di tengah perjalanan yang penuh kegembiraan: di balik pesona dan eksotika suatu daerah, ada pula kehidupan masyarakat yang berhadapan dengan persoalan nyata. Kelangkaan air. Air kehidupan bagi semua makhluk dan bumi ini.
Setibanya di Sungai Maron, suasana berubah. Rombongan menyewa lima perahu bermotor untuk menyusuri sungai menuju kawasan muara. Air yang tampak jernih, pepohonan kelapa yang menjulang, serta rimbunnya vegetasi di sepanjang tepian menghadirkan pemandangan yang menyegarkan mata.
Perahu bergerak perlahan, membelah permukaan air. Para peserta tampak menikmati setiap sudut panorama, sesekali berfoto dan berswafoto untuk mengabadikan kebersamaan. Gelak tawa terdengar ketika perahu melaju menyusuri alur sungai, membawa mereka semakin jauh dari hiruk-pikuk keseharian.
Dua jam terasa begitu singkat. Setelah perjalanan perahu berakhir, rombongan menyerbu warung kelapa muda. Air kelapa yang segar menjadi pelepas dahaga di bawah terik matahari. Bagi mereka, kenikmatan itu bukan semata-mata soal minuman, melainkan juga tentang jeda, kebersamaan, dan kegembiraan yang tumbuh dari pengalaman sederhana.
Pantai Klayar, Tebing Karang Bolong, dan Pesona di Balik Gelombang Ombak
Perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Klayar, sekitar 6,5 kilometer dari Sungai Maron. Meski jaraknya relatif dekat, jalur berbukit dengan tanjakan, turunan tajam, dan tikungan membuat kendaraan harus melaju dengan perhitungan matang. Sekitar 30 menit perjalanan menjadi waktu yang wajar untuk menaklukkan medan tersebut.
Pantai Klayar memang bukan destinasi asing bagi wisatawan. Hamparan pasir putih, air laut yang jernih, gulungan ombak, serta tebing-tebing tinggi menjadikannya salah satu ikon wisata Pacitan. Namun, bagi rombongan, keindahan pantai ini masih menyimpan sudut-sudut yang layak dijelajahi lebih jauh.
Tak kalah eksotiknya, di sisi kanan kawasan Pantai Klayar terdapat formasi tebing dengan lubang besar menyerupai karang bolong. Tak jauh dari sana, Semenanjung Karang Bolong yang tebingnya menjorok ke laut, menawarkan sudut pandang berbeda terhadap bentang pesisir selatan Jawa Timur.
Untuk menjangkau ketiga lokasi tersebut, yakni Tebing Karang Bolong, Semenanjung Karang Bolong, dan kawasan Pantai Klayar, pengunjung dapat menggunakan jasa ojek setempat dengan tarif sekitar Rp50.000 untuk perjalanan pulang-pergi dari area parkir mobil. Plus pengojek siap menjadi fotografer Anda.
Dari atas tebing, hamparan laut terlihat luas. Perahu-perahu kecil tampak terayun mengikuti gerak gelombang. Angin laut menyapu wajah, sementara birunya cakrawala seolah mengajak siapa pun berhenti sejenak dari kesibukan pikiran.
Bagi para pensiunan guru itu, kesempatan menikmati pemandangan semacam ini terasa istimewa. Usia memang menua, namun rasa ingin tahu dan kegembiraan menemukan sesuatu yang baru tetap terpelihara. Mereka membuktikan bahwa perjalanan tak harus selalu menuntut kecepatan atau pencapaian tertentu. Sesekali, cukup dengan hadir, melihat, dan menikmati.
Menutup Perjalanan, Tak Hanya Oleh-Oleh Namun Juga Semangat Dibawa Pulang
Menjelang siang, rombongan bertolak kembali menuju Kota Pacitan. Sekitar 40 kilometer memisahkan Pantai Klayar dari pusat kota, dengan waktu tempuh kurang lebih satu hingga satu setengah jam, itu pun bergantung pada kondisi jalan dan lalu lintas.
Sebelum memasuki kota, rombongan singgah untuk makan siang di Warung Sari Laut Bu Gandos, Jalan Raya Tompak Rinjing, Tamperan, Sidoharjo, Pacitan. Aneka hidangan laut menjadi pilihan.
Mulai dari tuna bakar, sate tuna, gulai ikan, cumi-cumi, hingga lobster dengan beragam bumbu. Nasi putih maupun nasi tiwul melengkapi sajian, menghadirkan cita rasa menu kearifan lokal yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman berwisata.
Usai makan siang, rombongan kembali ke kota untuk mengambil pesanan oleh-oleh berupa tahu tuna, bakso tuna, siomai tuna, dan aneka olahan ikan lainnya. Belanja tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan kecil terhadap usaha lokal yang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat Pacitan.
Perjalanan pulang dilanjutkan melalui Jalur Lintas Selatan (JLS), menyusuri bentang pesisir dan perbukitan selatan Jawa. Jalur ini menawarkan panorama yang memikat, namun juga menuntut kewaspadaan karena kontur jalan yang naik-turun tajam, dan berkelok-kelok mengular.
Adi, pengemudi yang mendampingi rombongan, mengingatkan bahwa ketersediaan stasiun pengisian bahan bakar serta penerangan jalan di sejumlah ruas masih terbatas. Karena itu, kondisi perlampuan kendaraan dan kecukupan bahan bakar perlu dipastikan aman sebelum perjalanan.
Alhamdulillah, Kamis pukul 23.45 WIB, rombongan tiba kembali di titik kumpul di sisi timur SPBU Pandugo, Surabaya. Seluruh peserta kembali dalam keadaan sehat walafiat, dan membawa berhalaman-halaman cerita buat keluarga di rumah.
Dua hari perjalanan pun berakhir. Namun, yang dibawa pulang bukan hanya foto, oleh-oleh, atau cerita tentang pantai dan sungai. Ada pula kenangan baru yang kelak bisa kembali dihidupkan dalam percakapan, pada reuni berikutnya, atau ketika masing-masing menjalani hari-hari di rumah.
Pensiun memang mengakhiri masa pengabdian formal di tempat kerja, namun tak harus mengakhiri persahabatan dan semangat untuk terus bertumbuh. Reuni memberi kesempatan untuk merawat ikatan, sedangkan perjalanan membuka ruang untuk menikmati kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Pun kebahagiaan di usia senja tak selalu diukur dari seberapa jauh kaki melangkah atau seberapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi. Terkadang, kebahagiaan justru hadir ketika kita masih memiliki sahabat untuk berbagi cerita, tubuh yang masih mampu diajak bergerak, dan hati yang tetap terbuka untuk mensyukuri kesempatan.
Sebab, usia boleh terus bertambah, namun semangat hidup tak harus ikut menua. Selama persahabatan masih dirawat dan rasa syukur tetap tumbuh, selalu ada perjalanan yang layak dinantikan. Tak hanya menuju tempat-tempat baru, melainkan juga menuju pemahaman yang lebih dalam tentang arti kebersamaan dan kehidupan. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
























































