âRibuan penari, gemerlap aksesori fosfor, dan filosofi Kembang Dermo berpadu dalam sebuah perhelatan budaya yang tak hanya memanjakan mata, namun juga mengajak manusia kembali merenungkan makna kehidupan. Pantai Marina Boom menyedot pengunjung.â
Dua kilometer ternyata terasa bukan jarak yang pendek sore itu. Kendaraan merayap, sepeda motor merangsek di sela-sela kemacetan, sementara mobil-mobil bergerak tersendat seperti keong berjalan. Di antara deretan kendaraan, gelombang manusia terus mengalir ke arah yang sama: Pantai Marina Boom, Banyuwangi.
Pun waktu semakin beranjak menuju malam, namun jalanan justru kian padat. Semua seolah tak ingin terlambat menyaksikan satu peristiwa yang telah menyedot perhatian banyak orang: Festival Gandrung Sewu 2026 dengan konsep Glow in the Dark.
Di tengah arus perjalanan yang tersendat itu, rasa penasaran saya semakin besar. Seperti apa suasana ketika ribuan penari Gandrung tampil di bawah langit malam, dengan aksesori yang berpendar dalam gelap?
Selama ini, saya hanya mengenal Gandrung Sewu melalui foto, tayangan video, dan cerita orang lain. Saya belum pernah menyaksikan secara langsung pertunjukan kolosal yang menjadi salah satu ikon budaya Banyuwangi tersebut.
Tak disangka, kesempatan itu datang melalui ajakan dr. Subandji Sadeli, teman sehobi pemburu sunrise saat sambil jalan kaki pagi. Ajakan istimewa beberapa minggu sebelum Hari H langsung saya iyakan. Kami berangkat dengan menumpang kereta api pada Sabtu pagi (24/10/2026) dan tiba di Banyuwangi pada sore hari.
Dari stasiun, keluarga dr. Subandji menjemput kami. Tak banyak waktu untuk beristirahat. Kami segera menuju Homestay El Aziza untuk mandi dan mempersiapkan diri. Salat Zuhur dan Asar telah kami jamak. Tak lebih dari 30 menit, kami sudah kembali bersiap menuju pantai.
Namun, perjalanan yang semula kami perkirakan singkat berubah menjadi perjuangan menembus kepadatan. Jarak sekitar dua kilometer dari homestay terasa berlipat panjangnya. Setiap kendaraan bergerak perlahan, sementara langkah orang-orang yang berjalan menuju lokasi seakan membentuk arus tersendiri.
Pemandangan itu menghadirkan kesan kuat: Gandrung Sewu tak sekadar pertunjukan tari, melainkan peristiwa budaya yang menggerakkan puluhan ribu orang untuk datang dan merasakan dan merayakan kemeriahannya secara langsung.
Ketika Pantai Berpendar dalam Cahaya Gandrung
Malam mulai menyelimuti kawasan pantai. Di tengah suasana yang kian ramai, perhatian pengunjung tertuju pada panggung dan area pertunjukan. Tahun ini, Gandrung Sewu hadir dengan konsep berbeda. Glow in the Dark.
Yakni, seni tradisional yang dipadukan dengan tata cahaya dan teknologi pertunjukan, menghadirkan pengalaman visual yang menawarkan wajah baru bagi tari Gandrung tanpa meninggalkan akar budayanya.
Sekitar 20 ribu lebih pengunjung memadati kawasan Pantai Marina Boom untuk menyaksikan perhelatan tersebut. Mereka datang dari berbagai kota, dengan beragam tujuan. Ada yang ingin menikmati keindahan tari tradisional, ada yang sengaja berburu foto, ada pula yang meliput peristiwa budaya ini untuk keperluan media masing-masing.
Di antara kerumunan itu, para fotografer berusaha menemukan sudut terbaik. Bagi mereka, pertunjukan ini tak sekadar rangkaian gerak yang berlangsung di atas hamparan pasir, melainkan pertemuan antara cahaya, ekspresi, komposisi, dan momentum. Satu kedipan mata atau perubahan gerak bisa menjadi gambar yang bercerita panjang.
Ketika 1.300 penari tampil dengan aksesori berpendar, suasana malam menghadirkan pesona tersendiri. Gerak yang terkoordinasi, warna yang menyala, dan tata cahaya menciptakan lanskap visual yang berbeda dari pertunjukan Gandrung Sewu pada umumnya. Tradisi seolah menemukan ruang baru untuk menyapa generasi masa kini.
Gandrung Sewu 2026 melibatkan 1.300 penari dari Banyuwangi dan sejumlah daerah lain. Kehadiran para penari lintas daerah menunjukkan bahwa kesenian tradisional tak harus berhenti sebagai warisan yang hanya dibanggakan di tempat asalnya.
Ia dapat menjadi ruang perjumpaan, ruang kolaborasi, maupun tempat orang-orang dengan asal berbeda, dan latar belakang berbeda bertemu melalui bahasa gerak serta kecintaan terhadap kebudayaan.
Namun, besarnya antusiasme juga menghadirkan persoalan tersendiri. Tak semua pengunjung dapat memasuki area pertunjukan dan menikmati penampilan secara langsung dari dalam venue. Membludaknya jumlah penonton membuat sebagian orang harus menerima kenyataan bahwa mereka tak bisa menyaksikan pertunjukan dari tempat yang diharapkan.
Nadia, seorang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Jember, menjadi salah satu di antaranya. Ia telah menempuh perjalanan menggunakan kereta api pulang-pergi demi menyaksikan Gandrung Sewu. Namun, karena tak berhasil menembus lautan manusia, ia terpaksa kembali ke tempat menginap.
Kisah Nadia menjadi catatan kecil di balik kemeriahan festival. Tingginya minat masyarakat merupakan kebanggaan, namun sekaligus mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah acara tak hanya diukur dari banyaknya orang yang datang.
Pengelolaan kapasitas, akses masuk, arus pengunjung, dan kenyamanan penonton juga perlu menjadi bagian penting dari sebuah perencanaan. Sebab, setiap orang yang datang membawa harapan untuk pulang dengan pengalaman yang berkesan untuk diceritakan.
Kembang Dermo dan Pesan Kehidupan
Di balik gemerlap cahaya dan kemegahan pertunjukan, Gandrung Sewu 2026 mengangkat tema Kembang Dermo. Tema ini tak sekadar pemanis narasi artistik, melainkan membawa pesan filosofis yang berakar pada tradisi masyarakat Banyuwangi.
Kembang Dermo berupa rangkaian bunga pada bilah-bilah bambu kecil yang berasal dari tradisi sakral ritual Seblang di Desa Olehsari. Di dalamnya tersimpan simbol dan pengingat tentang hubungan manusia dengan leluhur, sesama, dan Sang Pencipta.
Empat kuntum bunga kenanga melambangkan penghormatan kepada para leluhur yang telah membuka wilayah, merintis kehidupan, serta mewariskan kebudayaan yang masih tetap dihidupi masyarakat hingga saat ini.
Sementara itu, satu kuntum bunga kantil mengandung makna nginthil (Jw), yakni mengikuti atau menyertai. Makna tersebut mengingatkan manusia untuk senantiasa mengikuti sang Maha Pencipta, dan menghargai orang-orang yang telah berjasa dalam perjalanan hidupnya.
Filosofi ini berkelindan dengan ungkapan tradisional mung sak dermo, yang mengajarkan ketulusan dalam menjalankan peran dan kewajiban hidup. Manusia boleh memiliki cita-cita, bekerja keras, dan berusaha mencapai keberhasilan. Namun, ambisi tak semestinya membuatnya kehilangan arah, melupakan asal-usul, atau menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.
Ada pesan sederhana, namun mendalam, yang dapat dipetik dari Kembang Dermo, yakni kehidupan tak semata-mata tentang seberapa sukses seseorang mencapai sesuatu, melainkan bagaimana ia menjalani prosesnya. Ketulusan, rasa syukur, penghormatan terhadap pendahulu, dan kesadaran akan keterbatasan diri menjadi bagian dari perjalanan yang patut dirawat.
Dalam konteks festival, filosofi tersebut memberi kedalaman pada sebuah pertunjukan yang secara visual begitu memikat. Cahaya boleh berpendar, panggung boleh megah, dan ribuan penari boleh mengundang decak kagum. Namun, nilai kebudayaan justru menemukan maknanya ketika pesan yang dibawanya mampu menyentuh kehidupan masyarakat.
Tari Gandrung Sewu sebuah tradisi, maka keberadaannya tak sekadar sesuatu yang diwariskan untuk dikenang. Ia merupakan sumber nilai yang perlu dipahami, dihidupi, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Gandrung Sewu dan Wisata Banyuwangi
Daya tarik Gandrung Sewu tak hanya terletak pada kemegahan pertunjukannya. Festival ini juga menjadi bagian dari upaya Banyuwangi memperkuat identitas daerah melalui pariwisata berbasis budaya.
Pada tahun 2026, Gandrung Sewu kembali masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN), program Kementerian Pariwisata yang menempatkan berbagai perhelatan unggulan daerah sebagai daya tarik pariwisata Indonesia.
Konsep Glow in the Dark memperlihatkan bagaimana seni tradisi dapat dikemas secara kreatif untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Inovasi menjadi cara untuk menjaga kesenian tetap menarik, terutama bagi generasi muda yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan budaya visual.
Namun, inovasi semestinya tak menggeser substansi. Teknologi dan tata cahaya merupakan sarana untuk memperkuat pengalaman, bukan menggantikan nilai yang menjadi jiwa kesenian. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara kreativitas pertunjukan dan keberlanjutan tradisi.
Kolaborasi InJourney dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi turut menempatkan Gandrung Sewu sebagai signature cultural event, yakni perhelatan budaya unggulan yang berpotensi mendorong perjalanan wisata lebih luas.
Dalam pendekatan ini, pengalaman wisata tak berhenti pada satu panggung atau satu destinasi, namun terhubung dengan transportasi, akomodasi, promosi, kuliner, produk usaha lokal, dan keterlibatan masyarakat.
Wisatawan yang datang menyaksikan Gandrung Sewu diharapkan meluangkan waktu untuk mengunjungi destinasi lain di Banyuwangi, menginap, menikmati kuliner khas, serta membeli produk UMKM.
Dengan demikian, manfaat festival tak hanya dirasakan oleh penyelenggara atau pelaku pertunjukan, namun juga dirasakan oleh masyarakat yang menggerakkan kehidupan ekonomi di sekitarnya.
Nah, barangkali ukuran keberhasilan sebuah festival tak semata-mata berapa jumlah penonton atau gemerlap panggungnya. Lebih dari itu, yakni sejauh mana perhelatan tersebut menghidupkan kebudayaan, membuka peluang ekonomi, memperkuat kebanggaan masyarakat, dan meninggalkan pengalaman bermakna bagi siapa pun yang datang.
Cahaya yang Tinggal usai Pertunjukan
Malam itu, Pantai Marina Boom menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan masa kini. Ribuan penari menghadirkan gerak yang memikat, aksesori fosfor menyala di tengah kegelapan, sementara ribuan pasang mata tertuju pada pertunjukan yang telah menarik perhatian anggota masyarakat dari berbagai penjuru.
Bagi saya, perjalanan yang berawal dari ajakan seorang teman sehobi memotret matahari terbit akhirnya membawa pengalaman yang berkesan. Saya datang dengan rasa ingin tahu, namun pulang dengan pemahaman bahwa sebuah pertunjukan budaya menyimpan lebih banyak hal daripada yang terlihat oleh mata.
Di balik cahaya yang berpendar, ada ratusan pekerja seni, ada kerja keras para penari. Di balik kemeriahan festival, ada masyarakat yang menjaga tradisi. Dan di balik rangkaian bunga Kembang Dermo, ada pesan tentang ketulusan, penghormatan kepada leluhur, serta kesadaran untuk senantiasa mengingat Sang Pencipta.
Cahaya panggung tentu akan padam. Kerumunan perlahan meninggalkan pantai, kendaraan kembali bergerak, dan malam pun menyimpan kembali gemerlapnya menjadi redup. Namun, tradisi atau budaya yang dirawat dengan kesungguhan semestinya tak ikut meredup ketika pertunjukan berakhir.
Sebab, sejatinya, yang membuat Gandrung Sewu tetap bercahaya tak hanya aksesori yang menyala dalam gelap, melainkan nilai-nilai kehidupan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Itulah cahaya yang tak cukup hanya disaksikan, namun juga perlu dipahami dan dijaga bersama.
Seiring para penari Gandrung Sewu menutup pertunjukan dan meninggalkan panggung pasir Pantai Marina Boom, saya dan dr. Subandji pun melangkah pulang menuju El Aziza Homestay. Jalanan yang macet membuat kami harus berjalan kaki, dan akun Strava saya mencatat: 1,84 km, 45 menit 33 detik. Anggap olahraga malam setelah dlosoran di pasir pantai selama tak kurang dari 5 jam sambil memotret.
Tak ada penjemput, bukan karena ia tak mau menjemput, melainkan jalanan yang terlampau padat membuat kendaraan tak mungkin menjangkau kami. Maka, berjalan kaki menjadi pilihan di tengah himpitan manusia dan kendaraan yang bergerak pelan bak keong berjalan. Bahkan sekali-sekali tak bergerak. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara



































