Alur Kafe Partisipasi – ‘The Open Space Meeting’: Model Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya untuk Akselerasi Pemajuan Kebudayaan

  • EDUKASI
Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya untuk Akselerasi Pemajuan Kebudayaan
Share this :

Dalam kurun waktu yang cukup panjang, pembangunan nasional, termasuk pembangunan daerah, acapkali menunjukkan kecenderungan menempatkan kebudayaan sebagai sektor pelengkap dari agenda ekonomi dan infrastruktur.

Kebudayaan kerap direduksi menjadi sekadar perhelatan, destinasi pariwisata, atau komoditas ekonomi kreatif, tanpa fondasi nilai dan orientasi peradaban yang kokoh. Akibatnya, dimensi etis, historis, dan identitas kolektif yang seharusnya menjadi ruh pembangunan justru terpinggirkan.

Dalam konteks Kota Surabaya yang telah dinobatkan sebagai Kota Pahlawan, kecenderungan tersebut berpotensi mengikis identitas kota yang selama ini dikenal sebagai kota perjuangan, kota rakyat, dan kota dengan keberanian moral yang kuat.

Padahal, Surabaya memiliki modal historis, sosial, dan kultural yang sangat kaya untuk bertumbuh sebagai kota peradaban yang berakar pada nilai-nilai Pancasila. Kesadaran inilah yang melatarbelakangi upaya serius untuk menata ulang arah pemajuan kebudayaan secara lebih partisipatif dan berkelanjutan.

Bertolak dari kebutuhan tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya (Disbudporapar) menyelenggarakan kegiatan “Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya untuk Akselerasi Pemajuan Kebudayaan” di Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (14/2).

Kegiatan dibuka oleh Plt. Kepala Disbudporapar Surabaya, Heri Purwadi (Sekretaris Dinas), dengan mengusung tema “Tata Kelola Kebudayaan Surabaya sebagai Kota Dunia”, forum ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka yang menempatkan setiap peserta bukan sekadar undangan, melainkan subjek aktif dalam merumuskan masa depan kebudayaan kota.

Musyawarah tersebut dikemas dalam delapan tahapan yang saling terhubung, membentuk alur partisipasi yang reflektif, kreatif, dan sistematis.

Tahap Pembukaan dan Orientasi Umum

Tahap awal berfokus pada ‘need assessment’ dan penyelarasan tujuan bersama. Peserta diajak memahami maksud dan proses partisipasi dalam forum, dengan penegasan bahwa setiap orang adalah narasumber. Fasilitator memaparkan secara rinci tahapan musyawarah yang akan dilalui, sekaligus mengajak peserta menuliskan dua harapan paling mendasar yang ingin dicapai melalui forum tersebut.

Suasana dibangun secara reflektif melalui proses skoring skala pertemuan serta ajakan untuk membuka hati, pikiran, dan seluruh indera. Dengan demikian, forum tidak sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi ruang kesadaran kolektif.

Tahap Berkenalan

Tahap ini dirancang untuk mencairkan suasana sekaligus memperdalam relasi antarpeserta. Setiap peserta diminta menyampaikan ‘life story’ singkat guna menggali kekuatan, keunikan, dan jejak pengalaman masing-masing dalam bidang kebudayaan.

Output yang diharapkan bukan hanya saling mengenal nama dan latar belakang, tetapi tumbuhnya kedekatan emosional serta rasa saling percaya sebagai fondasi dialog yang produktif.

Tahap Rasa

Pada tahap ini, peserta diajak menemukan kekuatan bersama melalui refleksi atas pengalaman terbaik yang pernah mereka alami dalam konteks pemajuan kebudayaan. Setiap orang diminta mengidentifikasi tiga pengalaman penting yang dianggap berhasil dan bermakna.

Melalui pendekatan ‘The Core Positive’ dan metode ‘one lecture minute’, peserta memperkenalkan temuan mereka, menggali makna di balik pengalaman tersebut, serta mengidentifikasi potensi kolektif yang dapat dikembangkan bersama.

Diskusi berlangsung dalam kelompok, dengan dua menit presentasi untuk merangkum gagasan utama. Tahap ini menegaskan bahwa perubahan berangkat dari pengakuan atas kekuatan, bukan sekadar daftar persoalan.

Tahap Raih: Menciptakan Impian

Tahap berikut ini memperkenalkan gagasan perubahan melalui pendekatan ‘Change The Way You See Yourself’. Peserta diajak membangun visi kolektif menggunakan metode ‘Power of Image’ atau ’ision board’.

Fasilitator menantang peserta membayangkan Surabaya pada 2030, 2040, hingga 2050: apa yang ingin dilihat, disaksikan, dan dirasakan dalam pemajuan kebudayaan kota. Papan impian bersama itu menjadi representasi harapan lintas generasi. Tahap ini ditutup dengan semangat “Imagine, Inspire, Action” bahwa imajinasi harus menggerakkan langkah nyata.

Tahap Rancang melalui Pendekatan The Open Space Meeting

Memasuki tahap perancangan, forum diperkenalkan pada konsep ‘The World Café’, yang dalam konteks ini disebut Kafe Partisipasi. Peserta bebas memilih topik percakapan sesuai minat dan pendekatan yang dianggap paling relevan, dengan pendampingan co-fasilitator. Ruang ini membuka kemungkinan dialog lintas perspektif yang cair, setara, dan solutif.

Peserta dapat berkontribusi dalam lima komisi utama, yaitu:

  1. visi dan misi,
  2. nilai-nilai dan mandat (‘code of conduct’),
  3. bentuk formatur lembaga kebudayaan,
  4. isu strategis pemajuan kebudayaan, serta
  5. tata kelola dan tata laksana lembaga.

Tahap Rencana

Tahap ini memperkenalkan ‘Systemic Intervention Tools’ melalui Expo Bursa Ide Pemajuan Kebudayaan dalam format “Pasar Kebudayaan”. Setiap komisi mempresentasikan hasil rumusan, sementara kelompok lain melakukan kunjungan bergilir sesuai rotasi terjadwal.

Metode komunikasi multi-arah mendorong interaksi aktif dan pertukaran gagasan secara silang. Setiap meja menjadi ruang argumentasi, klarifikasi, sekaligus penyempurnaan ide. Fasilitator memastikan disiplin waktu dan alur interaksi berjalan tertib, sehingga seluruh gagasan dapat terserap secara maksimal.

Tahap Rawat: Memastikan Keberlanjutan

Forum tidak berhenti pada perumusan gagasan. Pada tahap ini, peserta memastikan keberlanjutan hasil musyawarah melalui pembentukan Tim Formatur Lembaga Kebudayaan. Pemilihan dilakukan secara adil dan sederhana. Setiap peserta memilih tiga nama untuk diberi mandat.

Selanjutnya dilakukan tabulasi dan pengurutan berdasarkan kebutuhan serta jumlah suara, termasuk cadangan. Disepakati pula jangka waktu penyusunan langkah-langkah strategis dan praktis dalam jangka pendek, agar hasil musyawarah tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan bergerak sebagai kerja nyata.

Feedback dan Evaluasi

Sebagai penutup, peserta memberikan umpan balik terhadap seluruh proses yang berlangsung selama satu hari penuh. Evaluasi dilakukan secara partisipatif untuk mengidentifikasi aspek yang paling berkesan, paling disukai, serta hal-hal yang perlu diperbaiki pada pelaksanaan berikutnya. Refleksi ini menjadi bagian penting dalam membangun budaya musyawarah yang terus belajar dan bertumbuh.

Penutup

Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ikhtiar kolektif untuk menempatkan kebudayaan kembali pada poros pembangunan kota. Melalui model “Kafe Partisipasi – The Open Space Meeting”, forum ini menunjukkan bahwa tata kelola kebudayaan yang inklusif hanya mungkin lahir dari ruang dialog yang setara, terbuka, dan berorientasi masa depan.

Di tangan warga yang mau mendengar dan didengar, kebudayaan bukan lagi pelengkap, melainkan penentu arah peradaban. Dan dari ruang-ruang percakapan yang hangat di Balai Pemuda itu, Surabaya sedang meneguhkan dirinya: bukan hanya sebagai kota sejarah, namun sebagai ‘kota dunia’ yang berakar kuat pada nilai, keberanian, dan gotong royong. (Ali Muchson)

Biarkan Foto Bicara
Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya
untuk Akselerasi Pemajuan Kebudayaan

Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya untuk Akselerasi Pemajuan Kebudayaan
Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya untuk Akselerasi Pemajuan Kebudayaan
Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya untuk Akselerasi Pemajuan Kebudayaan
Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya untuk Akselerasi Pemajuan Kebudayaan
Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya untuk Akselerasi Pemajuan Kebudayaan
Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya untuk Akselerasi Pemajuan Kebudayaan
Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya untuk Akselerasi Pemajuan Kebudayaan
Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya untuk Akselerasi Pemajuan Kebudayaan
Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya untuk Akselerasi Pemajuan Kebudayaan

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *