Ketika lampu-lampu Ballroom Eight 9 Ciputra World Surabaya perlahan meredup. Cahaya keemasan menyinari panggung, sementara ratusan pasang mata tertuju ke arah sebuah grand piano yang berdiri anggun di tengah ruangan.
Seluruh kursi terisi penuh. Tak terdengar percakapan, hanya keheningan yang nyaris sempurna, seolah semua orang sepakat menyerahkan dirinya kepada bahasa yang tak memerlukan kata-kata: yakni musik, pada Sabtu (1/8/2026) petang.
Sesaat kemudian setelah dibuka oleh Pdt. Andreas Rahardjo,yang juga orangtua Dr. Kevin Rahardjo, denting piano pertama terdengar. Ruangan yang khidmat itu berubah menjadi ruang perenungan. Tak sekadar konser musik klasik, melainkan perjalanan tentang harapan, keberanian, dan keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari kemungkinan.
Itulah semangat yang dihadirkan Amadeus Enterprise melalui konser “Beyond The Eyes: Nothing is Impossible – A Piano Concert & Story of Steven Tanus” di Ballroom Eight 9 Ciputra World Surabaya. Sebuah konser yang tak menjadikan seminar motivasi sebagai media untuk menginspirasi, melainkan menghadirkan kisah kehidupan melalui setiap nada yang dimainkan.
Tokoh utama konser ini adalah Steven Tanus, pianis klasik tunanetra asal Indonesia yang telah membuktikan bahwa prestasi tak pernah ditentukan oleh keterbatasan fisik. Musik menjadi bahasa yang memperlihatkan bahwa manusia mampu melihat jauh melampaui apa yang dapat ditangkap oleh mata.
Steven menyelesaikan pendidikan Bachelor of Music in Piano Performance di Yong Siew Toh Conservatory of Music, Singapura, dengan beasiswa penuh dan lulus dengan predikat istimewa. Perjalanan akademiknya berjalan seiring dengan prestasi di berbagai kompetisi piano internasional.
Ia meraih medali perak pada Unheard Notes Piano Paralympic di Wina tahun 2013, medali perak di Tokyo tahun 2015, serta medali emas dan perunggu pada kategori berbeda di New York tahun 2018, di samping berbagai penghargaan internasional lainnya.
Namun, malam itu, para penonton tak hanya menyaksikan sederet prestasi. Mereka menyaksikan seorang musisi yang berbicara melalui tuts piano. Setiap karya yang dimainkan seakan menjadi fragmen perjalanan hidup yang ditempa oleh disiplin, kerja keras, dan keteguhan hati.
Steven membuka penampilannya dengan Etude in C-Sharp Minor karya Frédéric Chopin, kemudian melanjutkan From The Bohemian Forest, Op. 68: In the Spinning Room karya Antonín Dvořák duet bersama Dr. Kevin Rahardjo
Permainan pianonya semakin memuncak melalui Polonaise in A-Flat Major, Op. 53 (Heroic) karya Chopin yang penuh energi dan heroisme. Setelah membawakan lima prelude karya Alexander Scriabin, ia menutup penampilan solonya dengan Air from Orchestral Suite No. 3 BWV 1068 karya Johann Sebastian Bach (Arr. Siloti) yang menghadirkan suasana teduh dan kontemplatif.
Steven Tanus lahir di Jakarta, 11 November 1993. Meski kehilangan penglihatan sejak bayi, ia tak pernah kehilangan arah hidup. Musik menjadi jalan yang dipilihnya sejak kecil hingga akhirnya mengantarkannya menempuh pendidikan di Yong Siew Toh Conservatory of Music, Singapura, dengan beasiswa penuh.
Berbagai medali pada kompetisi piano internasional di Austria, Jepang, dan Amerika Serikat menjadi bukti bahwa dedikasi mampu mengalahkan segala keterbatasan. Filosofi hidupnya sederhana, namun kuat: ia tak ingin dikenang sebagai pianis tunanetra, melainkan sebagai pianis hebat yang kebetulan tak dapat melihat.
Konser tersebut juga menjadi panggung bagi tiga pianis muda Indonesia yang memiliki kiprah internasional, mereka adalah:
Clarin Lukito membawakan Ciclo Brasileiro, W374: Impressões Seresteiras karya Heitor Villa-Lobos dengan permainan yang lembut, penuh warna, dan kaya nuansa musikal. Setelah itu, ia kembali tampil berduet bersama Steven membawakan Sleeping Beauty Suite, Op. 66A, karya Pyotr Ilyich Tchaikovsky, memperlihatkan dialog musikal yang harmonis di antara dua pianis dengan karakter permainan yang berbeda namun saling melengkapi.
Clarin Lukito merupakan pianis dan pendidik musik asal Surabaya yang mendirikan Clarin Piano Studio. Lulusan Diploma ABRSM ini telah mengukir prestasi pada berbagai kompetisi piano internasional, di antaranya di Taiwan dan Italia, serta menjadi finalis Ananda Sukarlan Award dan Steinway & Sons Piano Competition. Di luar panggung konser, ia mendedikasikan dirinya membimbing anak-anak dan remaja yang menekuni piano klasik.
Sementara itu, Dr. Kevin Rahardjo menghadirkan interpretasi matang melalui Barcarolle in F-Sharp Major, Op. 60 karya Chopin, disusul pula Impromptu in G-Flat Major, Op. 90 No. 3 karya Franz Schubert. Pengalaman akademik dan artistiknya terasa dalam setiap frasa yang dimainkan dengan penuh keseimbangan antara teknik dan ekspresi.
Sosok Dr. Kevin Rahardjo dikenal sebagai salah satu pianis Indonesia dengan kualifikasi akademik tertinggi di bidang piano klasik. Gelar Doctor of Musical Arts (D.M.A.) dari Frost School of Music, University of Miami, melengkapi pendidikan Bachelor dan Master of Music yang ia tempuh di Portland State University, Amerika Serikat. Selain aktif tampil dalam konser, Kevin juga mengabdikan dirinya sebagai pendidik, juri kompetisi, dan pembina generasi pianis muda di Indonesia.
Penampilan ditutup oleh Anthony Hartono, pianis muda asal Magelang yang tengah meniti karier internasional. Ia membawakan Gaspard De La Nuit, M.55: Ondine karya Maurice Ravel, salah satu repertoar piano paling menantang dalam khazanah musik klasik. Permainan Anthony yang presisi sekaligus puitis menghadirkan atmosfer magis yang memukau para penonton.
Anthony Hartono adalah representasi generasi baru pianis Indonesia yang semakin diperhitungkan di panggung internasional. Lulusan Yong Siew Toh Conservatory of Music ini kini pun menyandang Master of Music in Piano Performance dari Sibelius Academy, Helsinki, Finlandia. Kemenangan pada Ananda Sukarlan Award 2014 menjadi salah satu pijakan penting yang mengantarkannya tampil di berbagai konser dan resital di dalam maupun luar negeri.
Masing-masing pianis memang tampil dengan karakter musikal yang berbeda. Namun, keseluruhan konser justru memperlihatkan satu benang merah yang kuat: musik klasik tak hanya menguji keterampilan teknis, melainkan juga kejujuran batin dalam menyampaikan makna setiap komposisi.
Tema “Nothing is Impossible” pun terasa tak sekadar slogan yang terpampang pada poster konser. Ia hadir nyata melalui perjalanan hidup Steven Tanus. Keterbatasan penglihatan tak pernah menghalanginya menembus ruang-ruang konser dunia.
Sebaliknya, ia membuktikan bahwa manusia sering kali mampu melihat lebih jauh ketika tak lagi bergantung pada mata, melainkan pada ketekunan, keberanian, dan keyakinan terhadap impian yang diperjuangkan.
Konser ini sekaligus menjadi pengingat bahwa seni memiliki kekuatan yang tak dimiliki banyak medium lain. Musik tak menggurui, tak memaksa orang untuk percaya, namun mengajak setiap pendengar mengalami sendiri makna perjuangan melalui resonansi nada-nada yang mengalun.
Ketika konser berakhir, tepuk tangan panjang bergemuruh memenuhi ballroom. Para penonton berdiri memberikan penghormatan kepada seluruh pianis yang malam itu menghadirkan pertunjukan berkelas. Di bawah cahaya lampu yang kembali menerangi ruangan, wajah-wajah penonton memancarkan kekaguman sekaligus haru.
Mereka tak sekadar pulang setelah menikmati konser musik klasik. Mereka membawa pulang sesuatu yang lebih berharga: keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah tembok yang menghentikan langkah, melainkan titik awal untuk membuktikan bahwa tak ada yang mustahil bagi mereka yang berani bermimpi, bekerja keras, dan terus melangkah.
Di sanalah makna sejati Beyond The Eyes menemukan bentuknya. Bahwa manusia sesungguhnya tak hanya melihat dengan mata, melainkan juga dengan hati, harapan, dan semangat yang tak pernah menyerah. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara


























