“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya

  • EDUKASI
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
Share this :

“Empat Serangkai” Pelukis Bertemu Kembali, Merajut Cerita Surabaya dalam Kanvas

SURABAYA, 4 September 2025 — Sebuah lukisan tidak sekadar menghadirkan warna, garis, dan bentuk. Di balik sapuan kuas, selalu ada cerita, ingatan, kegelisahan, bahkan cara seorang seniman memandang kehidupan. Karena itu, ketika empat pelukis kembali mempertemukan karya mereka dalam satu ruang, yang hadir bukan hanya pameran, melainkan juga perjumpaan gagasan dan pengalaman.

Suasana itulah yang terasa dalam pameran “Bingkai Warna” yang digelar Komunitas Pelukis Empat Serangkai Surabaya di Delima Resto & Art Gallery, Quds Royal Hotel, Jalan Iskandar Muda 85, Kota Surabaya.

Pameran ini mempertemukan kembali empat perupa, yakni Eddy Marga, Dewi Ulantina, Budi AN, dan Lutfi Satako, melalui 12 karya dengan karakter visual yang berbeda, namun berpadu dalam satu semangat: merawat kreativitas dan menghadirkan kembali cerita melalui bahasa seni rupa.

Pameran dibuka Jumat, 4 September 2026, pukul 15.00 WIB. Konsep pembukaannya pun dibuat berbeda. Mengusung tema “Jagongan Ngopi Bareng”, para tamu diajak menikmati karya seni dalam suasana perbincangan yang cair dan akrab, dengan sentuhan tradisi Jawa. Komunitas seni dan budaya Surabaya, tamu hotel, serta kalangan media turut hadir dalam perhelatan tersebut.

“Bingkai Warna” berlangsung selama dua pekan, hingga 18 September 2026. Pengunjung dapat menyaksikannya secara gratis setiap hari pukul 09.00–21.00 WIB. Menariknya, ruang pamer berada di Delima Resto & Art Gallery yang menyatu dengan lobi Quds Royal Hotel. Interior bergaya Eropa klasik dan Timur Tengah memberikan latar yang unik bagi karya-karya para pelukis.

Bagi Pungky Kusuma, General Manager Quds Royal Hotel Surabaya, pameran tersebut memiliki arti tersendiri. Sebab, Empat Serangkai tak hanya kali pertama menghadirkan karya mereka di hotel yang berada di kawasan Ampel tersebut. Tahun sebelumnya, pada bulan yang sama, keempat pelukis itu juga menggelar pameran bersama bertajuk “Bingkai Masa”.

“Kami bangga bisa kembali menjadi rumah bagi karya-karya luar biasa mereka,” tutur Pungky Kusuma. Menurutnya, keberadaan ruang seni di lingkungan hotel menjadi bagian dari upaya mempertemukan masyarakat dengan karya kreatif para seniman lokal.

Apresiasi serupa disampaikan Eddy Marga selaku koordinator Empat Serangkai. Ia menilai konsistensi manajemen Quds Royal Hotel dalam menyediakan ruang publik bagi seniman merupakan bentuk dukungan penting terhadap perkembangan ekosistem seni dan budaya di Surabaya.

“Proses kreatif para pelukis tidak pernah berhenti. Upaya manajemen Quds Royal Hotel yang secara konsisten memberikan ruang publik bagi para seniman untuk berekspresi merupakan penghargaan tersendiri bagi kami,” kata Eddy dalam sambutannya.

Pameran “Bingkai Warna” dibuka bersama Pungky Kusuma dan Andri Setiawan, salah satu dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, yang juga dikenal sebagai pelukis senior dan landscaper.

Dari empat pelukis tersebut, Eddy Marga kembali menunjukkan kekuatannya dalam mengangkat tema perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tiga karyanya membawa penonton menyusuri fragmen sejarah yang tak hanya penting untuk dikenang, namun juga direnungkan.

Salah satunya adalah karya kolase berjudul “Gugurnya Cak Durasim”. Melalui kanvas, Eddy menghidupkan kembali sosok Cak Durasim yang selama ini lebih dikenal sebagai tokoh ludruk. Padahal, ia juga dikenal sebagai aktivis perjuangan kemerdekaan.

Kiprah Cak Durasim dalam perjuangan berkat ia pernah mendapat pendidikan dari Dr. Soetomo. Ketika aktivitas perjuangannya terendus tentara Jepang, Cak Durasim akhirnya gugur ditembak. Kisah tragis tersebut diterjemahkan Eddy menjadi bahasa visual yang sarat semangat perjuangan.

Berbeda dengan Eddy, Dewi Ulantina, satu-satunya perempuan dalam Empat Serangkai, tampil melalui gaya dekoratif-ekspresif. Alumni FBBS IKIP Surabaya itu menghadirkan sosok-sosok perempuan dari berbagai etnis Indonesia, antara lain perempuan Batak Karo dan Aceh. Karya-karyanya seperti mengajak penonton melihat keberagaman Indonesia melalui wajah dan karakter perempuan.

Sementara itu, Lutfi Satako, alumnus STKW Surabaya, membawa empat karya bercorak ekspresionisme. Sebagian besar lahir dari pengalaman on the spot, ketika objek dilukis langsung di lokasi. Kota Lama Surabaya menjadi sumber inspirasinya: Jembatan Merah, Pasar Ikan Pabean, Gerbang Pecinan Surabaya, hingga Gapura Munggah di kawasan wisata religi Sunan Ampel.

Adapun Budi AN, seniman yang berbasis di Kampung Wisata Heritage Peneleh, memilih jalur berbeda. Ia mengabadikan jejak arsitektur lama Surabaya melalui Gedung Cerutu, Gedung Singa, serta rumah-rumah kuno di kawasan Lawang Seketeng dan Peneleh. Dengan media cat air di atas kertas kanvas, Budi menghadirkan warna-warna lembut yang menyimpan suasana masa lalu.

Empat pelukis, empat karakter, dan empat cara memandang dunia. Namun, semuanya bertemu dalam satu ruang: kanvas. Dari sana, “Bingkai Warna” sesungguhnya bukan sekadar pameran, melainkan sebuah percakapan visual tentang sejarah, manusia, keberagaman, dan kota yang terus berubah.

“Acara ini bisa menjadi kesempatan emas bagi para pecinta seni, kolektor, hingga mahasiswa fakultas seni dan budaya untuk mengamati, menikmati, dan mengapresiasi langsung karya seni berkualitas di Surabaya,” pungkas Pungky Kusuma.

Untuk melengkapi pengalaman pengunjung, manajemen Quds Royal Hotel juga memberikan diskon hingga 25 persen untuk aneka hot coffee dan cold beverage di Coffee Corner selama periode pameran. Sebab, menikmati seni barangkali memang tak selalu membutuhkan kata-kata. Cukup duduk, menyeruput kopi, lalu membiarkan mata dan hati berbincang dengan warna.

Di antara hiruk-pikuk kota, “Bingkai Warna” mengingatkan bahwa Surabaya tak hanya kota yang menyimpan sejarah. Ia juga kota yang terus melahirkan cara-cara baru untuk mengingat, merasakan, dan menceritakan kembali masa lalu melalui kreativitas. Dan di atas kanvas, kenangan itu menemukan bingkainya. (Ali Muchson)

Biarkan Foto Bicara

“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya
“Bingkai Warna” di Delima Resto & Art Gallery Quds Royal Hotel Surabaya

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *