Cermin Diri: Lima Kebodohan Modern yang Kini Dianggap Wajar

Cermin Diri: Lima Kebodohan Modern yang Kini Dianggap Wajar
Share this :

— Membaca Zaman Lewat Kacamata Nalar yang Retak —

Oleh: Ali Muchson dan Wahyu D.

SURABAYA – Di tengah era digital yang serba cepat dan dangkal ini, kebodohan tak lagi dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, ia telah menjadi bagian dari gaya hidup, bahkan sering kali dianggap keren dan autentik.

Dalam bukunya The Death of Expertise, Tom Nichols menyampaikan keprihatinannya terhadap meningkatnya kepercayaan diri orang awam dalam berbicara soal topik-topik kompleks, padahal tak memiliki landasan pengetahuan yang memadai.

Ia menulis, “We’ve raised a generation that believes having opinions is the same as having knowledge.”, bahwa kita telah membesarkan generasi yang percaya bahwa memiliki opini setara dengan memiliki pengetahuan.

Senada dengan itu, Neil Postman, dalam karya terkenalnya Amusing Ourselves to Death, menyoroti bagaimana budaya hiburan telah menggantikan kedalaman berpikir publik. Ia menulis bahwa dalam masyarakat modern, “people will come to love their oppression, to adore the technologies that undo their capacities to think.”

Dalam terjemahan bebas, hal ini menggambarkan suatu masyarakat di mana orang-orang ditenangkan dan dikendalikan oleh teknologi dan kenyamanan, yang menyebabkan mereka secara pasif menerima penindasan atas diri mereka. Ya, dalam bahasa halusnya yakni mereka dibuai oleh kemudahan teknologi.

Sementara itu, Mark Bauerlein, dalam bukunya The Dumbest Generation, mengungkapkan kekhawatiran tentang generasi muda yang lebih sering scrolling di media sosial daripada membaca buku.

Ia menulis, “Never have the opportunities for education been greater, and never have young people seemed so uninterested in taking advantage of them.” (Belum pernah sebelumnya kesempatan belajar sebesar ini tersedia, dan belum pernah juga kaum muda tampak begitu tak tertarik memanfaatkannya.)

Berikut ini disajikan ulang dari berbagai referensi dalam redaksi dan sudut pandang yang barangkali berbeda tentang lima bentuk kebodohan modern yang secara tak sadar telah dianggap wajar oleh masyarakat:

Menganggap Opini Setara dengan Fakta

Dalam budaya digital saat ini, semakin banyak orang yang percaya bahwa semua pendapat layak dihargai sama, tak peduli seberapa keliru atau dangkalnya. Mereka merasa bahwa ketakpercayaan terhadap ilmuwan atau pakar adalah bagian dari kebebasan berpikir. Ketika seorang dokter menjelaskan manfaat vaksin, misalnya, langsung disanggah oleh komentar dari orang yang hanya membaca unggahan status media sosial.

Ini bukan ekspresi kebebasan intelektual, melainkan penolakan terhadap otoritas keilmuan yang sebenarnya berbasis bukti. Tom Nichols menyebutnya sebagai “the collapse of a functional, knowledge-based society into a cacophony of arrogance and ignorance.” (runtuhnya masyarakat yang berbasis pengetahuan dan fungsional menjadi hiruk-pikuk kesombongan dan ketaktahuan.)

Menolak Proses, Mengejar Ringkasan

Banyak orang ingin terlihat tahu, namun enggan menjalani proses memahami. Ingin mahir dalam sejarah, sains, atau sastra, namun tak tahan membaca buku atau artikel panjang. Mereka lebih memilih video berdurasi 30 detik atau infografis cepat.

Neil Postman menilai ini sebagai bagian dari kerusakan budaya akibat dominasi hiburan: “What we need are not new facts but the means of understanding what we already know.” (Yang kita butuhkan bukanlah fakta-fakta baru, melainkan cara untuk memahami apa yang sudah kita ketahui.) Namun, pemahaman hanya bisa dibentuk lewat proses berpikir yang tekun dan mendalam, sesuatu yang makin jarang dihargai.

Menjadikan Ketaktahuan Sebagai Identitas

Kalimat seperti, “Saya orangnya santai aja, gak suka mikir ribet,” sering dianggap bentuk kejujuran dan kesederhanaan. Padahal ini menunjukkan penerimaan terhadap kebodohan, bahkan kebanggaan atas ketakmauan untuk belajar. Di masa lalu, tak tahu adalah kondisi sementara yang mendorong orang untuk mencari tahu.

Sekarang, tak tahu malah dijadikan bagian dari identitas. Bauerlein menulis bahwa ini adalah bentuk “budaya anti-intelektual”, di mana keinginan untuk tahu kalah oleh keinginan untuk hanya merasa nyaman.

Mengabaikan yang Dalam, Memuja yang Instan

Konten edukatif, artikel reflektif, dan panjang semakin tersisih. Yang viral justru video dengan efek cepat, suara keras, dan pesan dangkal. Hal ini bukan hanya karena algoritma media sosial, namun karena preferensi kita sendiri yang makin menyukai hal-hal instan.

Kita menganggap lambat itu tak relevan, dan mendalam itu membosankan. Padahal, seperti dikatakan oleh filsuf klasik maupun ilmuwan modern, kebijaksanaan tak pernah datang secara cepat, ia tumbuh dari perenungan yang panjang dan mendalam.

Menganggap yang Viral Sebagai yang Valid

Ketika suatu pandangan didukung banyak orang atau sering muncul di linimasa, kita cenderung menganggapnya sebagai suatu kebenaran. Media sosial menciptakan ilusi konsensus, di mana popularitas dianggap sebagai ukuran validitas. Ini berbahaya.

Karena orang tak lagi berpikir mandiri, namun sekadar ikut suara mayoritas. Nichols menyebut ini sebagai bentuk baru dari “demokrasi tanpa pengetahuan”, di mana suara terbanyak bukan lagi cerminan dari pemahaman, melainkan gema kebodohan kolektif.

Penutup

Di zaman dengan derasnya arus informasi ini, kebodohan justru hadir dengan percaya diri, tak lagi disembunyikan, bahkan dirayakan. Kita perlu waspada. Cerdas bukan berarti tahu segalanya, namun berani berpikir lebih dalam, bersikap kritis, dan tetap rendah hati dalam proses belajar. Itu semua tak instan. Ia membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk tak sekadar ikut arus.

Nah, yang kerap terjadi, kadang orang belum membaca dan menelaah secara mendalam, namun sudah terburu salah paham. Yang ada lalu menghakimi. Kita pun mungkin pernah jatuh ke dalam jebakan-jebakan demikian. Namun kesadaran adalah langkah awal dari perubahan. Dan perubahan kecil di kepala kita, bisa jadi sebagai awal dari kondisi masyarakat yang lebih waras.

Mungkin inilah saatnya bertanya pada diri sendiri: “Apakah saya sedang berpikir, atau hanya mengulangi apa yang sedang tren, sesuatu yang viral?”

Daftar Referensi

  1. Bauerlein, M. (2008). The Dumbest Generation: How the Digital Age Stupefies Young Americans and Jeopardizes Our Future. New York: TarcherPerigee.
  2. Logika Filsuf: https://www.facebook.com/search/top/?q=Logika%20Filsuf
  3. Nichols, T. (2017). The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why it Matters. Oxford: Oxford University Press.
  4. Postman, N. (1985). Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Show Business. New York: Penguin Books.

You may also like

1 thought on “Cermin Diri: Lima Kebodohan Modern yang Kini Dianggap Wajar”

  1. Terima kasih pak Ali pencerahannya.
    Semoga membawa perubahan cara pandang kita, agar tidak terjebak dalam kebodohsn modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *