Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian

  • EDUKASI
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Share this :

Roode Brug Soerabaia dan PSL Turut Hadir Upacara Peringatan ke-84
Pertempuran Laut Jawa 1942

Sejarah kerap hadir tak untuk membuka luka lama, melainkan untuk mengingatkan manusia agar tak mengulang kesalahan yang sama. Di tengah hiruk-pikuk Surabaya modern, peringatan ke-84 Pertempuran Laut Jawa 1942 menjadi penanda bahwa ingatan kolektif atas perang tetap relevan, bukan untuk membangkitkan permusuhan, melainkan meneguhkan komitmen pada perdamaian.

Upacara peringatan digelar di kompleks makam kehormatan Belanda Ereveld Kembang Kuning. Momentum ini mengenang pertempuran besar yang terjadi pada 27 Februari 1942, ketika tiga kapal perang Belanda, yakni: HNLMS De Ruyter, HNLMS Kortenaer, dan HNLMS Java, tenggelam dalam pertempuran melawan armada Jepang di Laut Jawa, Jumat (27/2/2026) pagi.

Rangkaian acara diawali di Monumen Karel Doorman, sosok yang memimpin armada Sekutu dalam pertempuran tersebut dan turut gugur bersama kapalnya. Suasana hening terasa ketika lagu “Dona Nobis Pacem”, yang berarti “Berilah Kami Damai”, dikumandangkan, menegaskan bahwa peringatan ini berakar pada harapan akan dunia yang lebih tenteram.

Karel Willem Frederik Marie Doorman (23 April 1889 – 28 Februari 1942) adalah seorang perwira angkatan laut Belanda yang selama Perang Dunia II memimpin sisa-sisa pasukan serang angkatan laut Komando Amerika-Britania Raya-Belanda-Australia pada saat Pertempuran Laut Jawa. Ia tewas dalam pertempuran ketika kapal induknya HNLMS De Ruyter ditorpedo dan turut tenggelam bersama kapal tersebut.

Setelah upacara, keluarga prajurit yang gugur bersama sejumlah tamu undangan melanjutkan prosesi dengan ziarah ke pusara para korban. Setiap makam dihormati tanpa membedakan identitas, termasuk makam-makam tanpa nama. Di situlah nilai kemanusiaan menemukan maknanya: semua yang gugur diperlakukan setara dalam ingatan.

Direktur pengelola taman kehormatan Belanda di Indonesia, Eveline de Vink, menuturkan bahwa Surabaya menjadi satu-satunya lokasi penyelenggaraan peringatan ini setiap 27 Februari. Baginya, peringatan tak sekadar seremoni tahunan, namun ruang refleksi lintas generasi.

“Kisah tentang perang perlu terus dibagikan, agar generasi berikutnya memahami betapa mudahnya dunia tergelincir ke jurang konflik ketika kesadaran akan bahaya perang diabaikan,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan bahwa Ereveld Kembang Kuning merupakan bagian dari tujuh taman kehormatan Belanda yang tersebar di Indonesia dan kini terbuka untuk publik. Kehadiran kompleks makam tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi sejarah, yakni tempat masyarakat belajar, mengenang, sekaligus merenungkan harga mahal dari sebuah peperangan.

Pertempuran Laut Jawa sendiri menewaskan sekitar 915 prajurit Angkatan Laut Belanda. Armada itu dipimpin oleh Laksamana Muda Doorman, yang berada di atas De Ruyter saat kapal tersebut tenggelam. Tragedi tersebut menjadi salah satu episode paling menentukan dalam babak Perang Dunia II di kawasan Asia Tenggara.

Honorary Consul of the Kingdom of the Netherlands di Jawa Timur, Lily Jessica Tjokrosetio, menegaskan bahwa kehadiran mereka di Surabaya bukan hanya untuk menghormati mereka yang gugur, namun juga merawat ingatan sejarah sebagai pelajaran bersama. Sisa-sisa perang, katanya, semestinya menjadi pengingat bahwa konflik bersenjata bukanlah solusi bagi persoalan bangsa-bangsa.

Lebih jauh, ia menyampaikan adanya upaya penelusuran data keluarga prajurit yang dimakamkan, termasuk kerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya dalam mengakses arsip pemakaman lama seperti di Peneleh yang telah ada sejak abad ke-19, atau tahun 1800-an.

“Tak sedikit keluarga di Belanda yang hingga kini masih mencari jejak leluhur mereka. Melalui koordinasi dengan kedutaan dan konsulat, data tentang para prajurit yang dimakamkan di Surabaya terus diperbarui agar sejarah tetap terjaga dan dapat diakses generasi berikutnya,” tegasnya.

Pada akhirnya, peringatan ini mengajarkan satu hal sederhana namun mendasar, yakni damai itu bukanlah keadaan yang hadir dengan sendirinya. Ia harus diingat, dipelajari, dan diperjuangkan. Dari pusara-pusara sunyi di Kembang Kuning, Surabaya kembali diingatkan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin bagi masa depan umat manusia. (Ali Muchson)

Biarkan Foto Bicara
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian

Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian
Dari Laut Jawa ke Kembang Kuning: Refleksi Ingatan Sejarah dan Pesan Perdamaian

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *