Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah

Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Share this :

Roode Brug Soerabaia Menyemangati Pelari Le Minerale Surabaya Marathon 2026

Napas mereka mulai berat. Langkah yang sejak subuh berirama kini tak lagi seringan saat meninggalkan garis start. Keringat membasahi wajah, sementara kaki terus dipaksa bergerak menuju garis akhir yang tinggal beberapa kilometer lagi.

Lalu, ketika memasuki kilometer ke-39 di depan Hotel Majapahit Surabaya, suara tepuk tangan dan sorak-sorai memecah kelelahan itu.

“Welcome to Surabaya, City of Heroes! Disusul seruan lain yang terdengar lantang. “Anda sedang melintasi tempat bersejarah, lokasi terjadinya Insiden Bendera 1945, dulu bernama Hotel Yamato!”

Beberapa pelari spontan mengangkat tangan. Ada yang membalas dengan acungan jempol, ada yang mengulum senyum tipis di sela napas yang tersengal. Sebagian lagi hanya menoleh sejenak, namun sorot mata mereka seolah mengatakan satu hal, terima kasih.

Barangkali hanya beberapa detik. Namun, bagi pelari marathon, beberapa detik yang menghadirkan semangat baru sering kali terasa lebih berharga daripada hitungan menit.

Pagi itu, Minggu (2/8/2026), di titik yang menjadi saksi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia, komunitas Roode Brug Soerabaia mengambil peran sederhana sekaligus bermakna. Mereka tak ikut berlari. Mereka memilih berdiri di tepi jalan, bertepuk tangan, meneriakkan semangat.

Dengan mengenakan kostum ‘reenactor’ pejuang, mereka menghadirkan potongan sejarah di tengah sebuah pesta olahraga, dan mengingatkan ribuan orang bahwa jalan yang sedang mereka pijak tak sekadar lintasan lomba.

Pilihan lokasi itu bukan kebetulan.

Hotel Majapahit, yang pada masa kolonial dikenal sebagai Hotel Yamato, adalah ruang yang menyimpan salah satu fragmen paling heroik dalam perjalanan bangsa. Dari tempat inilah berkobar Insiden Bendera pada 19 September 1945.

Yakni, sebuah peristiwa yang kemudian menjadi penanda keberanian arek-arek Surabaya mempertahankan martabat kemerdekaan. Maka, ketika para pelari melintas, mereka sesungguhnya sedang melewati ruang yang pernah dipenuhi keberanian, tekad, dan pengorbanan.

Pembina Roode Brug Soerabaia, Sylvi Mutiara, berdiri bersama rekan-rekannya berperan sebagai tim ‘cheering’ sejak pagi. Mengenakan kostum pejuang, ia tak henti-hentinya menyapa setiap pelari yang melintas.

“Terima kasih kepada para pelari. Sebagian besar dari mereka tampak semakin bersemangat ketika melewati kami di depan Hotel Majapahit. Melihat antusiasme mereka, kami pun ikut semakin bersemangat. Jadinya, energi positif itu saling mengalir dan saling menguatkan,” tuturnya.

Kalimat Sylvi sederhana, namun menyimpan makna yang dalam. Menyemangati orang lain ternyata bukan sekadar memberi energi, melainkan juga menerima energi yang sama besarnya. Tepuk tangan yang diberikan kembali dalam bentuk senyum, lambaian tangan, atau tatapan penuh rasa syukur.

Di titik itu, pelari dan penyemangat saling menguatkan.

Momentum itulah yang ingin dihadirkan dalam “Le Minerale Surabaya Marathon 2026”, ajang sport tourism yang didukung Pemerintah Kota Surabaya dan diinisiasi Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jawa Timur.

Mengusung konsep “City Run”, perlombaan ini mengajak peserta menikmati Surabaya melalui jalan-jalan yang menyimpan sejarah panjang. Rutenya melewati Balai Pemuda, Balai Kota Surabaya, Tugu Pahlawan, Jalan Tunjungan, Kawasan Kota Lama, hingga Hotel Majapahit. Kota tak lagi dipandang sebagai deretan gedung atau ruas jalan, melainkan sebagai ruang yang menyimpan cerita.

Di sinilah olahraga bertemu dengan sejarah.

Berlari tak lagi semata-mata mengejar catatan waktu. Setiap kilometer menjadi kesempatan mengenal wajah Surabaya lebih dekat. Pelari mancanegara menemukan kisah sebuah kota yang dibangun oleh semangat perjuangan, sementara peserta dari berbagai daerah diajak mengingat kembali bahwa kemerdekaan juga memiliki jejak-jejak yang dapat disentuh.

Panitia membuka empat kategori lomba, yakni 5K, 10K, Half Marathon (21K), dan Full Marathon (42K). Peserta berusia minimal 13 tahun dapat mengikuti kategori 5K, sedangkan kategori lainnya diperuntukkan bagi peserta berusia sedikitnya 17 tahun.

Sentuhan inovasi juga terlihat pada medali yang diterima para “finisher”. Tak berhenti sebagai simbol keberhasilan, medali itu dapat digunakan sebagai kartu diskon di berbagai pusat perbelanjaan, restoran, dan hotel di Surabaya. Sebuah gagasan yang memperlihatkan bagaimana olahraga dapat menggerakkan denyut ekonomi sekaligus memperpanjang pengalaman peserta setelah melewati garis finis.

Namun, mungkin kenangan yang paling lama tersimpan justru bukan medali itu.

Barangkali, bertahun-tahun kemudian, sebagian pelari tak lagi mengingat catatan waktunya. Mereka mungkin lupa berapa menit yang dibutuhkan untuk menyelesaikan lomba atau di kilometer berapa kaki mulai terasa berat.

Namun, barangkali bisa jadi mereka masih mengingat sekelompok orang berkostum pejuang yang berdiri di depan Hotel Majapahit. Orang-orang yang bertepuk tangan tanpa mengenal siapa nama pelari yang melintas, namun tetap bersorak seolah menyemangati sahabat sendiri.

Di sanalah Surabaya memperlihatkan jati dirinya.

Sebuah kota tak hanya dikenang karena gedung-gedungnya, jalan-jalannya, atau kemeriahan sebuah acara. Kota dikenang karena warganya mampu merawat ingatan, lalu membagikannya kepada siapa pun yang datang.

“Pagi itu, di kilometer ke-39, sejarah tak sedang dipajang di balik kaca museum. Ia berdiri di tepi jalan. Ia bertepuk tangan. Dan ia ikut berlari bersama ribuan langkah menuju garis finis.” (Ali Muchson)

Biarkan Foto Bicara

Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: Wildan Arif
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: Wildan Arif
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson
Foto: alisson
Di Kilometer 39, Sejarah Menyemangati Langkah
Foto: alisson

Featured image by Wildan Arif

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *