Dilema Guru: “Konflik Penilaian ketika Hadapi Mentalitas Siswa”

  • EDUKASI
Dilema Guru: “Konflik Penilaian ketika Hadapi Mentalitas Siswa"
Share this :

Tergelitik usai membaca unggahan di akun Instagram @pakariesok, Senin (15/12/2025), berjudul “Sang Penjaga Waktu dan Nilai”, yakni perihal tantangan yang dihadapi guru tak sekadar menentukan nilai akhir, pun mentalitas siswa. Menurutnya, tak sedikit siswa yang meremehkan mata pelajaran inti dan bersikap acuh tak acuh.

Mereka juga beranggapan bahwa dalam Kurikulum Merdeka, asalkan nilai P5 (proyek) bagus, mereka otomatis akan naik kelas dan lulus, mengabaikan pentingnya integritas akademis. Unggahan tersebut menggugah saya untuk membuat analogi atas dua tindakan ‘menolong’ yang dilakukan oleh seorang guru, Pak Sabar (bukan nama sebenarnya).

Dua tindakan ‘menolong’ itu adalah: menuntun seorang tunanetra tua menyeberang jalan, dan tindakan ‘menolong’ dengan merekayasa nilai seorang murid, sebut saja Dimas (bukan nama sebenarnya), yang seharusnya ia tak memenuhi syarat untuk naik kelas.

Menolong adalah sangat dianjurkan bagi siapa pun, lantaran itu tergolong suatu kebajikan. Namun, tak setiap pertolongan melahirkan buah yang baik bagi perkembangan mental dan karakter individu. Jika menolong tak sesuai dengan urgensinya.

Mari kita cermati bersama dua narasi tentang tindakan ‘menolong’ ini, yang pada akhirnya menghasilkan konsekuensi moral yang sangat jauh berbeda.

Narasi Pertama

Di tengah hiruk-pikuk suasana pasar yang riuh, seorang pejalan kaki tunanetra berdiri ragu di tepi jalan. Tongkatnya digenggam erat, seolah menunggu keajaiban kecil. Dari kejauhan, Pak Sabar melihatnya dan segera mendekat.

“Permisi, apakah Bapak ingin menyeberang jalan? Biar saya bantu,” tawarnya dengan suara yang berusaha menenangkan.

Orang tunanetra itu mengangguk, lalu meletakkan tangannya di lengan Pak Sabar. Dengan langkah perlahan, Pak Sabar menuntunnya sambil menjelaskan setiap pijakan dan rintangan.

“Kita hati-hati, lalu lintas sedang ramai,” katanya seraya melambaikan tangan agar pengendara memberi kesempatan menyeberang. Di jalanan yang kita pijak bersama ini, tak semua pengendara sadar berbagi ruang bagi pejalan kaki. Kadang, justru tancap gas.

Orang tunanetra itu sepenuhnya sadar bahwa ia sedang dibantu. Ia merasakan ketulusan pada lengan yang digenggam dan mendengar suara Pak Sabar sebagai penunjuk arah. Setibanya di seberang jalan, ia mengucapkan terima kasih dengan tulus.

“Terima kasih banyak, Nak. Pertolonganmu sangat berharga,” ucap tunatera.

Ia melanjutkan perjalanan dengan kesadaran penuh bahwa keselamatannya hari itu adalah hasil uluran tangan orang lain. Sementara Pak Sabar, memandangi punggungnya yang kian menjauh dan mengecil, merasakan kepuasan batin yang menenteramkan, sebuah hadiah kecil atas kebaikan yang barangkali kerap dianggap sepele.

Narasi Kedua

Panggung kini beralih ke ruang guru. Seorang siswa bernama Dimas (bukan nama sebenarnya) memiliki nilai yang secara objektif tak memenuhi syarat untuk naik kelas. Namun, desakan manajemen, tuntutan kurikulum yang anti-tinggal kelas, atau bahkan rasa kasihan yang keliru, mendorong Pak Sabar untuk ‘menolong’ dengan cara lain.

Pada suatu siang, Pak Sabar duduk sendiri di depan laptop. Ruang guru terasa lengang, tetapi batinnya gaduh. Ia tahu betul bahwa secara akademik Dimas belum menguasai materi. Dengan tangan berat, ia membuka spreadsheet nilai.

Dalam beberapa kali klik, angka 45 berubah menjadi 75 di kolom keterampilan, dan 60 menjadi 80 di kolom pengetahuan. Manipulasi itu membuat segalanya tampak seolah-olah Dimas berhasil.

Saat rapor dibagikan, Dimas tersenyum lebar. Ia menatap angka-angka tersebut dengan bangga, yakin bahwa semua itu adalah hasil jerih payahnya sendiri. Ia naik kelas tanpa pernah tahu bahwa ‘keselamatan’ akademiknya bukan buah kerja keras, melainkan hasil rekayasa.

Ia tak merasa pernah dibantu, maka ia pun tak perlu mengucapkan terima kasih. Ia menerima kebohongan sebagai kebenaran.

Sebaliknya, Pak Sabar memanggul beban moral yang menghimpit. Ia telah melanggar sumpah kejujuran dan objektivitas profesional. Ia memang ‘menolong’ Dimas, tetapi menebusnya dengan mengorbankan integritas dirinya sendiri.

Kenaikan kelas Dimas menjadi krisis kejujuran yang harus ia tanggung sendiri. Sebagai pendidik, ia merasa profesinya ternoda.

Pelita versus Angka

Perbedaan mendasar dari kedua tindakan tersebut terletak pada transparansi dan manipulasi. Dalam narasi pertama, pertolongan bersifat jelas dan disadari oleh penerimanya. Sang tunanetra tahu bahwa ia dibantu, mengucapkan terima kasih, dan melanjutkan hidup dengan kesadaran yang utuh. Pak Sabar pun memperoleh kepuasan batin.

Sebaliknya, pada narasi kedua, pertolongan dilakukan secara tersembunyi dan manipulatif. Siswa tak pernah tahu bahwa ia ‘ditolong’. Ia merasa bangga atas capaian yang sesungguhnya palsu. Fondasi akademik yang rapuh pun mulai dibangun.

Konsekuensinya, bagi siswa adalah keyakinan semu akan kompetensi diri; bagi guru, beban mental dan krisis kejujuran profesi yang mendalam.

Kesimpulan

Jika membantu seorang tunanetra adalah laksana menyalakan pelita di ruang terang: terlihat, diakui, dan menghangatkan. Sebaliknya, memanipulasi nilai adalah menyembunyikan pelita di balik tumpukan dokumen administratif. Guru menanggung beban moral seorang diri, sementara siswa melangkah maju dengan keyakinan palsu atas keberhasilannya.

Ironisnya, ‘kesuksesan’ semacam ini hanyalah bom waktu. Ia akan meledak ketika siswa tersebut dituntut menunjukkan kompetensi nyata di jenjang berikutnya. Inilah pertolongan yang merusak, yakni menghancurkan kejujuran pendidik sekaligus merampas hak siswa untuk berhadapan dengan kenyataan.

Yang pasti, di negeri ini ada berjuta Pak Sabar atau Bu Nina (bukan nama sebenarnya) sebagai guru, dan berpuluh-puluh juta Dimas atau Desi (bukan nama sebenarnya) sebagai siswa. Jika praktik semacam ini terus membudaya, ke mana arah pendidikan kita akan melaju?

Jangan-jangan, slogan mempersiapkan Generasi Emas 2045 hanyalah fatamorgana di tengah hamparan padang pasir, di musim kemarau panjang integritas. Kegelisahan Pak Sabar ini terasa begitu dekat bagi saya.

Sebab, saya sendiri adalah ‘mantan’ jelmaan Pak Sabar, seorang Umar Bakri yang telah menapaki tahun ketujuh menikmati masa purna tugas. Namun, apa yang kini dirasakan Pak Sabar, tak ubahnya seperti kegelisahan yang pernah saya tanggung di masa lalu. (Ali Muchson)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *