Perwakilan Roode Brug Soerabaia Turut Sosio Drama “Serangan Umum Surakarta 1949”
“Bukan sekadar pertunjukan sejarah, sosio drama teatrikal “Serangan Umum Surakarta 1949” menjadi ruang untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan.”
Suasana berbeda terasa di Balai Kota Bandung, Minggu (30/8/2026) pagi. Dalam rangka memperingati Hari Veteran Nasional 2026, DPC LVRI Kota Bandung melalui panitia peringatan Hari Veteran Nasional menyelenggarakan kegiatan bertajuk Parade Juang dan Sosio Drama Teatrikal 2026: “Serangan Umum Surakarta 1949”
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pemerintah Kota Bandung, para veteran, Forkopimda Kota Bandung, jajaran empat matra TNI, tamu undangan, mahasiswa, pelajar, serta para reenactor dari berbagai daerah. Para reenactor datang tak hanya dari Kota Bandung dan sekitarnya, namun juga dari Jakarta, Bogor, Sukabumi, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur yang diwakili oleh Roode Brug Soerabaia.
Bagi para reenactor, keterlibatan dalam sosio drama tak sekadar memainkan kembali adegan peperangan masa lalu. Di balik kostum, atribut, dan peran yang dimainkan, tersimpan upaya untuk membangunkan kembali memori kolektif tentang kisah perjuangan agar lebih mudah dipahami oleh generasi masa kini.
Ketua Panitia, Sandi Firdaus, menuturkan bahwa sosio drama teatrikal “Serangan Umum Surakarta 1949” hendak mengingatkan masyarakat bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah. Kemerdekaan lahir dari keberanian untuk berdiri melawan penjajahan, bahkan ketika nyawa menjadi taruhannya.
“Di tengah hiruk-pikuk zaman yang sering melupakan sejarah, momen seperti ini menjadi media untuk membangunkan memori kolektif masyarakat,” tutur founder Front Bandung Territory 1945 (FBT45).
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana menghormati jasa para veteran dan mempererat silaturahmi di antara sesama veteran beserta keluarga.
Namun, penghormatan kepada para pejuang, lanjutnya, tak cukup berhenti pada seremoni. Generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan perjuangan dengan hati yang bersih, tekad yang kuat, serta kecintaan kepada tanah air.
“Bangsa yang besar tak hanya bangsa yang mengingat pengorbanan para pahlawannya, namun juga bangsa yang meneruskan semangat perjuangan itu dalam setiap langkah sesuai tanggung jawab masing-masing,” pungkas sosok yang akrab disapa Kang Sandi.
Mengingat Kembali Serangan Umum Surakarta
Pesan tersebut menemukan relevansinya ketika sejarah Serangan Umum Surakarta 1949 kembali dihadirkan melalui sosio drama.
Perjuangan bangsa Indonesia tak berhenti setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Keinginan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia melahirkan rangkaian pertempuran dan perjuangan diplomasi. Salah satu episode pentingnya adalah Serangan Umum Empat Hari di Surakarta, pada 7–10 Agustus 1949.
Setelah Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948, Yogyakarta sebagai ibu kota Republik diduduki Belanda. Surakarta kemudian menghadapi ancaman serupa. Untuk mencegah fasilitas strategis jatuh ke tangan musuh, Letkol Slamet Riyadi memimpin aksi pembumihangusan sejumlah bagian kota pada 21 Desember 1948. Sejumlah bangunan penting, termasuk kawasan Pasar Gede dan kantor gubernur, dibakar sebagai bagian dari strategi perlawanan.
Sejak itu, perlawanan terus dikonsolidasikan. Mayor Achmadi memimpin rapat komando dan pasukan dibagi ke dalam sejumlah rayon. Kekuatan perjuangan semakin besar dengan bergabungnya Tentara Pelajar, Mobile Brigade, Corps Pelajar Islam, hingga Hizbullah.
Puncaknya terjadi pada 7 Agustus 1949. Pasukan Republik menyerang Surakarta dari berbagai penjuru. Rayon Prakoso bergerak dari utara, Suhendro dari selatan, Abdul Latief dari barat, dan Sumarto dari timur laut. Dalam waktu relatif singkat, sebagian besar kota berhasil dikuasai dan sejumlah pos pertahanan Belanda diserang.
Pertempuran berlanjut hingga 10 Agustus. Rakyat tak hanya menjadi saksi, namun turut menopang perjuangan dengan menyediakan logistik, perlindungan, dan informasi. Pada hari terakhir, serangan dilakukan secara intensif hingga menjelang diberlakukannya gencatan senjata.
Di tengah pertempuran, bergabungnya satu kompi pasukan bentukan Belanda (TBS) ke pihak Republik dengan membawa persenjataan lengkap semakin membangkitkan semangat para pejuang.
Setelah gencatan senjata diberlakukan, suasana berubah. Rakyat keluar dari tempat persembunyian dan menyambut para pejuang. Lagu-lagu perjuangan berkumandang, sementara Sang Merah Putih kembali berkibar di berbagai penjuru kota. Sebuah kemenangan moral yang menunjukkan bahwa Republik Indonesia masih berdiri.
Meski demikian, peristiwa itu belum sepenuhnya berakhir. Pada 11 Agustus 1949, pasukan khusus Belanda Korps Speciale Troepen (KST) menyerang kawasan Kratonan, Jayengan, hingga markas Palang Merah Indonesia di Gading. Serangan tersebut menimbulkan korban di kalangan rakyat sipil, petugas PMI, dan pasien.
Dalam situasi genting itu, pasukan Republik tetap mematuhi gencatan senjata. Demi mencegah jatuhnya korban yang lebih besar, Letkol Slamet Riyadi kemudian menempuh jalan perundingan dengan pihak Belanda. Upaya tersebut menghasilkan kesepakatan penghentian permusuhan dan pengaturan patroli bersama melalui Local Joint Committee.
Kekuasaan Belanda di Surakarta akhirnya berakhir dengan penyerahan kota kembali kepada Republik Indonesia pada 12 November 1949. Serangan Umum Empat Hari Surakarta turut memperkuat posisi Indonesia dalam perjuangan diplomatik menuju Konferensi Meja Bundar.
Sejarah yang Tak Boleh Berhenti sebagai Cerita
Hari Veteran Nasional sendiri diperingati setiap 10 Agustus sejak 2015 sebagai momentum untuk menghormati jasa para veteran yang telah berjuang bagi bangsa dan negara. Serangan Umum Surakarta 7-10 Agustus 1949 tersebut merupakan salah satu landasan historis penetapan 10 Agustus sebagai Hari Veteran Nasional.
Karena itu, menghadirkan kembali Serangan Umum Surakarta 1949 melalui sosio drama memiliki makna lebih dari sekadar mengenang masa lalu. Ia menjadi jembatan antara generasi yang mengalami sejarah dengan generasi yang hanya mengenalnya melalui buku.
Dari sekitar 2.000 Tentara Pelajar yang terlibat dalam perjuangan tersebut, tujuh orang gugur, di luar korban dari kesatuan lain dan masyarakat sipil. Angka itu mengingatkan bahwa kemerdekaan memiliki harga yang tak murah.
Pada akhirnya, yang diwariskan para pejuang bukan semata kisah tentang peperangan, melainkan keberanian, pengorbanan, persatuan, dan kecintaan kepada tanah air.
Maka, ketika kostum para pejuang kembali dikenakan dan adegan pertempuran dihadirkan di hadapan publik, sesungguhnya yang sedang dihidupkan bukanlah perang. Yang dihidupkan adalah ingatan.
Sebab bangsa yang kehilangan ingatan tentang perjuangannya akan mudah kehilangan arah. Sebaliknya, bangsa yang mampu merawat memori sejarah akan selalu memiliki cermin untuk menatap masa depan.
Dan dari sanalah pesan Hari Veteran Nasional menemukan maknanya: kemerdekaan bukan hadiah yang cukup untuk dirayakan, melainkan warisan yang harus dijaga. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
Photo from Sandy – FBT’45 & Yoshi W. Sujoso













Featured image from Sandy – FBT’45
