Kanal YouTube Roode Brug Soerabaia, Situs Alisson.id, dan @magercinematic
Media Arsip Digital Roode Brug Soerabaia
SURABAYA — Sebuah komunitas tak hanya hidup dari kegiatan yang diselenggarakannya. Di balik setiap pertemuan, perjalanan, pameran, diskusi, teatrikal, maupun kegiatan sejarah, tersimpan jejak yang suatu ketika dapat menjadi bagian penting dari ingatan kolektif.
Jejak perjalanan sebuah komunitas itu bisa hadir dalam berbagai bentuk, seperti: foto, video, poster, surat, catatan kegiatan, hingga dokumen digital yang tersimpan di berbagai perangkat dan platform.
Kesadaran bahwa arsip memiliki nilai penting bagi keberlangsungan sebuah komunitas itulah yang membawa dua mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menelusuri pengelolaan arsip di komunitas sejarah Roode Brug Soerabaia.
Keduanya adalah Nayara Sabrina Jamil (21) dan Nindhita Aisyah Budiarsih (21), mahasiswa Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan FISIP Unair semester 5. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari tugas mata kuliah Manajemen Arsip Statis.
Mereka berdua ingin mengulik arsip secara mendalam, dengan tujuan mengetahui secara langsung bagaimana sebuah komunitas mengelola, menyimpan, mengorganisasi, dan menyediakan akses terhadap arsip yang dimilikinya.
Roode Brug Soerabaia dipilih sebagai sumber data lantaran aktivitas komunitas ini bergiat erat dengan dokumentasi sejarah. Berbagai kegiatan yang dilakukan untuk mengenalkan kembali sejarah Surabaya terkait dengan Pertempuran Surabaya 1945 kepada masyarakat.
Dengan berbagai kegiatan tersebut, maka secara tak langsung melahirkan arsip yang bernilai, baik sebagai dokumentasi kegiatan maupun sebagai rekaman perjalanan sebuah komunitas dalam merawat ingatan sejarah.
Pada Kamis (20/8/2026) siang, Nayara dan Nindhita melakukan wawancara dengan Ali Muchson, Koordinator Bidang Publikasi dan Dokumentasi Roode Brug Soerabaia. Wawancara tersebut diarahkan untuk memperoleh gambaran mengenai pengelolaan arsip komunitas, terutama arsip yang berkaitan dengan aktivitas dan perjalanan Roode Brug Soerabaia.
Pertanyaan yang diajukan cukup mendasar, namun penting. Keduanya ingin mengetahui apakah arsip yang dimiliki komunitas dapat dilihat secara langsung, baik dalam bentuk fisik maupun digital. Mereka juga menggali jenis arsip yang tersedia, mulai dari foto, surat, notulen, poster, banner kegiatan, video, hingga berbagai dokumen digital.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah rentang waktu dokumentasi. Sejak kapan Roode Brug Soerabaia mulai mendokumentasikan kegiatannya? Adakah periode tertentu yang belum terdokumentasikan dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa arsip tak semata-mata dilihat sebagai kumpulan dokumen, namun juga sebagai rangkaian perjalanan waktu yang dapat memperlihatkan bagaimana sebuah komunitas tumbuh dan berkembang.
Nayara dan Nindhita juga menaruh perhatian pada volume dan sebaran arsip. Sebuah komunitas yang aktif berkegiatan mungkin memiliki arsip dalam jumlah besar, namun arsip tersebut belum tentu tersimpan di satu tempat. Sebagian mungkin berada pada perangkat pribadi pengurus, akun media sosial, atau platform lain yang pernah digunakan komunitas pada masa sebelumnya.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana arsip-arsip tersebut diorganisasikan. Apakah sudah dikelompokkan berdasarkan jenis, kegiatan, atau periode tertentu, atau masih tersimpan secara bercampur? Dari sini terlihat bahwa pengelolaan arsip tak sekadar persoalan menyimpan dokumen, namun juga bagaimana membuatnya mudah ditemukan kembali ketika suatu saat dibutuhkan.
Aksesibilitas menjadi aspek lain yang tak kalah penting. Arsip yang tersimpan dengan baik namun sulit ditemukan pada akhirnya juga kehilangan sebagian manfaatnya. Karena itu, kemudahan akses, terutama untuk kebutuhan penelitian dan/atau kunjungan berulang selama satu semester, menjadi bagian dari perhatian mereka.
Mereka juga berusaha menemukan informan yang paling memahami sejarah dan isi arsip komunitas. Hal ini penting lantaran arsip tak selalu mampu menjelaskan dirinya sendiri. Sebuah foto, misalnya, mungkin hanya memperlihatkan siapa yang hadir dan apa yang terjadi, namun konteks mengenai waktu, tempat, alasan kegiatan, serta makna di balik peristiwa tersebut kadang hanya diketahui oleh orang-orang yang terlibat langsung.
Dalam konteks inilah, arsip digital Roode Brug Soerabaia menjadi menarik. Dokumentasi yang tersebar melalui berbagai media, termasuk kanal YouTube Roode Brug Soerabaia, situs Alisson.id, dan @magercinematic, menunjukkan bahwa perjalanan sebuah komunitas pada masa kini tak hanya meninggalkan arsip dalam bentuk konvensional.
Di samping itu, aktivitas komunitas juga meninggalkan jejak digital yang dapat menjadi sumber informasi bagi generasi berikutnya. Jika dikelola dan ditata dengan baik, jejak-jejak tersebut tak hanya menjadi rekaman perjalanan komunitas, namun dapat juga menjembatani ingatan masa lalu dengan pengetahuan bagi generasi yang akan datang.
Pada akhirnya, tugas kuliah yang dikerjakan Nayara Sabrina Jamil dan Nindhita Aisyah Budiarsih memperlihatkan sebuah hal sederhana namun penting: arsip adalah ingatan yang membutuhkan perawatan.
Sebuah kegiatan tertentu mungkin selesai dalam hitungan jam. Sebuah peristiwa mungkin berlalu dalam satu hari. Namun foto, video, catatan, dan dokumen yang menyertainya dapat membuat peristiwa itu tetap hadir bertahun-tahun kemudian.
Ketika dikelola dengan baik, arsip tak hanya menyimpan masa lalu, namun juga membantu generasi berikutnya memahami bagaimana sebuah komunitas tumbuh, bergerak, dan memberi makna bagi lingkungannya.
Bagi Roode Brug Soerabaia, dokumentasi kegiatan tak sekadar pekerjaan publikasi. Ia merupakan bagian dari upaya merawat jejak perjalanan komunitas. Sementara bagi Nayara dan Nindhita, penelusuran arsip tersebut menjadi pengalaman akademik yang mempertemukan teori pengelolaan arsip dengan kenyataan di lapangan.
Di antara tumpukan foto, video, poster, koleksi buku, dan dokumen digital itu, sesungguhnya tersimpan sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni ingatan. Dan ingatan, sebagaimana sejarah, akan kehilangan maknanya apabila tak dirawat, ditata, dan diwariskan. (Ali Muchson)
Featured image by Nindhita
