Giat #blusukanedan Atas Kerja Sama PSL dengan JADIMAUKEMANA
Sebuah kota tak hanya terdiri atas jalan, gedung, dan nama-nama tempat. Di balik setiap sudutnya tersimpan cerita tentang manusia, perjalanan waktu, dan perubahan zaman. Karena itu, mengenal sebuah kota terkadang tak cukup hanya dengan membaca buku atau melihat peta. Kita perlu datang, berjalan, berhenti, dan mendengarkan cerita yang tersimpan di balik bangunan-bangunan tuanya.
Semangat itulah yang dibawa 34 anggota Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL) ketika mengikuti “Exploring Probolinggo”, Sabtu, 3 Oktober 2026. Kegiatan #blusukanedan ini merupakan kerja sama PSL dengan JADIMAUKEMANA, sebuah Tour Organizer.
Perjalanan dimulai pukul 05.00 WIB dari Kopi Kenangan SPBU Jalan Ngagel Surabaya. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, rombongan tiba di Kota Probolinggo dan langsung singgah di Soto Pak Ali. Sarapan pagi menjadi bekal energi sebelum kaki diajak menyusuri jejak sejarah kota.
Dari tempat sarapan, rombongan menuju Pendopo Kota Probolinggo. Di sana peserta mendapat sambutan sekaligus pemaparan seputas sejarah pendopo dari petugas kerumahtanggan tersebut. Dari pendopo, bus kemudian membawa rombongan ke Stadion Probolinggo.
Bus diparkir di kawasan stadion, sementara perjalanan dilanjutkan dengan moda transportasi tradisional, becak. Mengapa becak? Pilihan ini tak sekadar soal cara berpindah menumpang kendaraan, namun juga menjadi ikhtiar kecil untuk memberi ruang hidup bagi moda transportasi yang perlahan tersisih oleh derasnya kendaraan bermotor.
Dengan menaiki becak, peserta tak hanya menyusuri jalan-jalan kota dengan lebih dekat, namun juga turut merawat denyut kehidupan yang menjadi bagian dari wajah lama Probolinggo. Dua peserta menaiki satu becak, pun ada beberapa yang ditumpangi hanya seorang peserta.
Delapan belas becak turut mengantarkan #blusukanedan untuk menyusuri jalan-jalan kota. Secara berurutan, inilah objek “Exploring Probolinggo”:
Pendopo Kabupaten Probolinggo
Jejak pemerintahan Kabupaten Probolinggo dapat ditelusuri hingga 18 April 1746, ketika Kyai Djojolelono dilantik VOC sebagai bupati pertama. Pusat pemerintahan kala itu berada di kawasan Jalan Prajurit Siaman, kini Jalan A. Yani, yang sekaligus berkembang sebagai pusat aktivitas ekonomi.
Pada masa Bupati kedua, Raden Tumenggung Djojonegoro, sekitar 1770, nama Banger berubah menjadi Probolinggo. Pendopo lama dengan konstruksi kayunya menjadi salah satu penanda perjalanan panjang pemerintahan sebelum pusat Kabupaten Probolinggo kemudian beralih ke Kraksaan.
Seminarium Marianum
Sejarah Seminarium Marianum berangkat dari kegelisahan Keuskupan Malang dalam mempersiapkan calon imam. Pada 8 Oktober 1948, Mgr. Albers, O.Carm mendirikannya di Malang dengan delapan siswa, didampingi Rm. Patricius Ammerlan, O.Carm sebagai rektor pertama.
Perjalanan itu berlanjut ketika Keuskupan Malang memutuskan memindahkannya ke Probolinggo. Keputusan Mgr. HJS. Pandoyoputro, O.Carm pada 16 Januari 2001 kemudian diwujudkan pada 10 Juli 2001.
Sejak menempati gedung di Jalan Letjen Panjaitan No. 58, seminarium bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang untuk menumbuhkan panggilan, membentuk pribadi, dan menyiapkan generasi yang mengabdikan hidup bagi Gereja dan umat.
Pojok Literasi Probolinggo
Di sebuah gang permukiman padat di Kelurahan Sukabumi, Mayangan, tumbuh sebuah gagasan sederhana: membaca sebagai jalan untuk mengenali sejarah. Digagas Edi Martono, Pojok Literasi Arkeologi berawal dari “Gubuk Maos” di Taman Kreativitas Remaja, Bina Keluarga Remaja (TKR BKR), Jalan Cempaka 10B.
Ruang ini dikelola secara mandiri dengan dana pribadi dan koleksi buku milik pengelola, terutama buku-buku sejarah. Kesederhanaannya justru menjadi kekuatannya. Dari ruang kecil itu tumbuh ikhtiar untuk mendekatkan buku, sejarah, dan budaya kepada masyarakat.
SMP Katolik Mater Dei
Riwayat SMP Kristen Mater Dei bermula dari Middelbare Meisjes School (MMS) yang dibuka pada 1 Agustus 1948 di sebuah rumah sewa di Jalan Laut, kini Jalan Dr. Moh. Saleh. Dua tahun kemudian, tepatnya 1 Agustus 1950, sekolah itu berganti nama menjadi SMP Kristen Mater Dei di bawah Kongregasi Suster-Suster Santa Perawan Maria (SPM) atau Perkumpulan Dharmaputri.
Kini sekolah tersebut menempati gedung di Jalan Panglima Sudirman No. 22. Perjalanannya menunjukkan bahwa sebuah bangunan pendidikan bukan hanya tempat berlangsungnya pelajaran, tetapi juga ruang yang menyimpan jejak generasi demi generasi.
Museum Dr. Mohammad Saleh
Dibangun pada dekade 1930-an, rumah ini dahulu merupakan kediaman dr. Mohammad Saleh, dokter pribumi pertama di Probolinggo. Dari rumah pribadi, bangunan tersebut kini berubah menjadi museum yang menyimpan peralatan medis masa lalu, benda rumah tangga, gramofon, peti ukir, hingga jam gantung.
Yang ikonik, ada pula Ruang Peteng, ruang gelap yang dahulu digunakan untuk beribadah dengan lebih khusyuk. Kini, rumah itu menjadi cagar budaya sekaligus pengingat bahwa sejarah kesehatan dan kehidupan manusia dapat dibaca melalui benda-benda yang pernah menemani zamannya.
Gedung Praja Wibawa
Sebelum menjadi markas Satpol PP Kota Probolinggo, Gedung Praja Wibawa pernah digunakan sebagai Post en Telegraafkantoor te Probolinggo, atau kantor pos pada masa kolonial Belanda. Perkembangan layanan pos di Hindia Belanda kemudian menjangkau berbagai kota, termasuk Probolinggo.
Kini bangunan di Jalan Raya Panglima Sudirman itu telah berganti fungsi. Namun, perubahan fungsi tak serta-merta menghapus jejak masa lalu. Dindingnya tetap menjadi bagian dari ingatan perjalanan kota.
Gedung Markas Kodim 0820 Probolinggo
Bangunan yang kini menjadi Markas Kodim 0820 Probolinggo dahulu merupakan rumah dinas Asisten Residen Belanda yang dibangun pada 1819 di kawasan elite kolonial Heerenstraat, kini Jalan Suroyo.
Melewati masa pemerintahan kolonial, pendudukan Jepang, hingga Indonesia merdeka, bangunan tersebut mengalami perubahan fungsi. Kini ia menjadi markas militer, sekaligus saksi bagaimana ruang kota terus bergerak mengikuti perubahan zaman.
Gedung Museum Probolinggo
Bergaya Empire Style, gedung yang didirikan pada 1814 ini dahulu dikenal sebagai Societeit Gebouw Harmonie, tempat pertemuan kalangan elite kolonial. Setelah kemerdekaan, bangunan itu berubah menjadi Gedung Panti Budaya atau gedung serbaguna.
Gagasan menjadikannya museum muncul pada akhir 2008. Museum kemudian dibuka pada 26 Agustus 2009 dan diresmikan pada 15 Mei 2011. Perubahannya menunjukkan bahwa bangunan lama dapat diberi kehidupan baru tanpa harus kehilangan ingatan yang dikandungnya.
Gereja Merah Probolinggo
GPIB Immanuel, yang lebih dikenal sebagai Gereja Merah, dibangun pada 1862 di Jalan Suroyo No. 32. Pembangunannya diprakarsai Pendeta Pati Rajawane pada masa Bupati Meijer untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah warga Kristen dan tenaga kerja kolonial.
Keunikannya terletak pada konstruksi knock-down. Rangka bajanya dibuat di Belanda, dikirim melalui laut, lalu dirakit kembali di Probolinggo. Warna merah yang mendominasi bangunan memiliki makna religius, sementara sebuah Injil kuno turut menjadi bagian dari jejak sejarah gereja ini.
Gedung Susteran
Gedung Susteran atau Asrama Putri Santo Yoseph (Zustershuis te Probolinggo) mulai dibangun pada 1 Agustus 1929. Kehadirannya tak terlepas dari kedatangan tujuh suster pionir Kongregasi Suster-Suster Santa Perawan Maria pada 11 Oktober 1926.
Dipimpin Moeder M. Oda bersama enam suster lainnya, mereka mengawali karya pendidikan dan pelayanan di Probolinggo. Kompleks susteran kemudian berkembang menjadi bagian penting dari pelayanan sosial, pendidikan, dan kehidupan para siswi.
Gedung Graha Prabu
Graha Prabu kini menjadi aula utama di kawasan Mapolres Probolinggo Kota. Namun, kawasan ini menyimpan jejak pendidikan kolonial. Di sekitar Jalan Dr. Moh. Saleh pernah berdiri Kweekschool, sekolah pendidikan guru yang diresmikan pada 2 Januari 1875 oleh Residen J. Kniphorst.
Saat ini, Graha Prabu digunakan untuk berbagai kegiatan kedinasan. Pergantian fungsi tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah ruang dapat terus mengabdi kepada masyarakat meski zaman dan kebutuhan berubah.
Stasiun Probolinggo
Stasiun Probolinggo, berkode PB, mulai beroperasi pada 3 Mei 1884 oleh Staatsspoorwegen (SS), bersamaan dengan pembukaan jalur Pasuruan–Probolinggo sepanjang sekitar 40 kilometer. Perannya semakin penting setelah jalur diperpanjang ke arah timur pada 1895 hingga terhubung menuju Banyuwangi.
Kedekatannya dengan pelabuhan menjadikannya simpul penting transportasi dan perdagangan. Fasad bergaya Indische serta sejumlah ornamen lama masih bertahan, seolah menyimpan suara perjalanan dari masa lalu.
Benteng Mayangan
Benteng Mayangan pada mulanya merupakan gudang penyimpanan komoditas perdagangan pada masa VOC sekitar 1700-an. Setelah VOC bubar, asetnya diambil alih pemerintah kolonial. Pada masa pendudukan Inggris, 1811–1816, bangunan itu berubah fungsi menjadi benteng pertahanan sekaligus gudang amunisi.
Tempat ini juga berkaitan dengan peristiwa Keproek Tjina pada 1813 yang menewaskan tokoh Tionghoa Han Tik Ko bersama sejumlah pejabat. Karena itu, Benteng Mayangan bukan hanya bangunan tua, melainkan ruang yang menyimpan lapisan sejarah kota yang tak selalu sederhana.
Pelabuhan Tanjung Tembaga
Pelabuhan Tanjung Tembaga di Kelurahan Mangunharjo merupakan salah satu simpul penting sejarah perdagangan Probolinggo. Pada 1920, pelabuhan ini ditetapkan sebagai pelabuhan pantai dan berkembang menjadi pintu keluar berbagai komoditas, seperti tembakau, gambir, dan gula menuju Eropa.
Posisinya di kawasan Oosthoek membuat aktivitas ekspornya sangat strategis. Pada masa Jepang, fungsinya berubah menjadi pangkalan militer untuk pendaratan pasukan, bongkar muat kapal perang, dan kebutuhan logistik. Pelabuhan ini menjadi gambaran nyata bagaimana sebuah ruang ekonomi dapat berubah mengikuti pergantian kekuasaan.
OSVIA Probolinggo
OSVIA Probolinggo berawal dari Hoofdenschool yang didirikan pada 1878. Pada 1900, sekolah tersebut direorganisasi menjadi OSVIA (Opleidingsschool voor Inlandsche Ambtenaren), tempat pendidikan calon pegawai pamong praja, terutama dari kalangan bangsawan dan priyayi.
Pada 1927, cabang OSVIA digabung menjadi MOSVIA yang dipusatkan di Magelang. Bekas kompleksnya kemudian pernah digunakan sebagai Clemens-Tehuis pada 1936–1942. Kini bangunan di Jalan Soekarno-Hatta itu menjadi markas Kompi A dan B Yon Zipur 10 Kostrad serta telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
*
Chrisyandi Tri Kartika, founder PSL, menuturkan bahwa #blusukanedan tak sekadar datang untuk melihat, namun berjalan untuk memahami. Dari Probolinggo, perjalanan itu mengingatkan bahwa sejarah tak hanya bisa dibaca dalam travel guide book, atau dalam buku destinasi, di perpustakaan.
“#blusukanedan, juga hidup di jalan yang kita lewati, bangunan yang masih berdiri, usaha kecil yang terus bertahan, dan cerita warga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” lanjut sosok Pustakawan di Universitas Ciputra Surabaya.
Pun tak luput dari kebiasaan anggota PSL, singgah di sentra UMKM sudah menjadi bagian penting setiap #blusukanedan di suatu kota. Di Sentra UMKM Kecamatan Mayangan kali ini, tak sekadar berbelanja oleh-oleh, namun juga bentuk kecil dukungan terhadap pelaku usaha lokal agar roda ekonomi mereka tetap berputar.
Pada akhirnya, menjelajahi Probolinggo tak sekadar berpindah dari satu bangunan tua ke bangunan tua lainnya. Setiap tempat adalah halaman dari buku besar kota tentang kekuasaan, pendidikan, iman, kesehatan, perdagangan, transportasi, dan kehidupan manusia.
Dengan #blusukanedan, sejarah tak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi diajak kembali hadir, disentuh, dilihat, dan direnungkan dari jalan-jalan kota hari ini. Sebab, mengenali jejak masa lalu bukan sekadar mengingat apa yang pernah terjadi, melainkan menemukan kembali jati diri kota dan makna perjalanan kita sebagai bagian dari sejarahnya.
Dan ketika bus kembali membawa pulang rombongan ke Surabaya, yang ikut terbawa bukan hanya oleh-oleh, melainkan juga sepotong ingatan tentang Probolinggo. Sebab, setiap perjalanan yang dijalani dengan hati terbuka selalu meninggalkan jejak, tak hanya pada tempat yang dikunjungi, namun juga pada cara kita memandang dan memaknai kehidupan. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara

















































