Ada karya seni yang cukup dipandang untuk dinikmati keindahannya. Namun, ada pula karya yang mengajak kita berhenti sejenak, lalu bercermin kepada diri sendiri. Wounds Made Worthy atau Luka yang Menjadi Berharga, karya Evolet Faith Shamayim (17), termasuk di antaranya.
Tiga topeng yang dilukis dalam pigura berukuran 60 × 80 cm itu tak sekadar tiga objek yang berdiri sendiri, melainkan sebuah kesatuan yang menyimpan simbolik perjalanan tentang identitas, luka, dan pemulihan manusia.
Seusai pembukaan pameran Persona Kelana di Galeri Purbangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85, Surabaya, Sabtu (15/8/2026) petang, rasa penasaran membawa saya terlebih dahulu mencari Faith, pelukis muda Surabaya, menggelar karya. Saya tak langsung berkeliling menikmati karya-karya lain yang dipajang.
Meski Wounds Made Worthy tak ditampilkan dalam pameran tersebut, saya telah melihatnya melalui akun Instagram Faith, @faith_shamayim. Kali ini, saya ingin mendengar langsung kisah di balik karya itu. Tak saya pungkiri, itu lantaran saya sangat mengapresiasi. Secara kebetulan juga, salah satu jepretan foto saya, Mbok Jamu, pernah dilukisnya.
Melalui tiga topeng tersebut, Faith memaknai manusia sebagai pribadi yang dianugerahi identitas unik oleh Tuhan. Pada mulanya, topeng itu sempurna, utuh, orisinal, dan sepenuhnya menjadi milik pemiliknya. Demikian pula manusia yang hadir ke dunia dengan martabat dan citra diri yang telah diberikan Tuhan kepadanya.
Namun, perjalanan hidup tak selalu membuat kita tetap utuh. Label yang dilekatkan orang lain, tuntutan lingkungan, pengalaman pahit, serta gesekan dalam relasi sosial perlahan dapat meninggalkan retakan. Topeng kedua menggambarkan fase itu: permukaannya pecah dan terluka, seolah menunjukkan betapa dalam kehidupan dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Akan tetapi, pemulihan bukan berarti mengembalikan kita persis seperti keadaan semula. Dalam karya Faith, pemulihan topeng yang rusak itu justru mengalami proses panjang: ditusuk, ditarik benang berulang-ulang, dan dirajut kembali hingga menemukan bentuknya kembali.
Demikian pula, ketika manusia menyerahkan luka, masalah atau kehancurannya kepada Tuhan, bekas luka tak selalu dihapus. Sebaliknya, luka itu diisi dan dipulihkan sehingga berubah menjadi kesaksian bahwa seseorang pernah jatuh, tetapi mampu bangkit kembali.
Karena itu, luka tak lagi semata-mata menjadi tanda kerusakan atau kenistaan. Ia dapat menjadi bagian dari keindahan perjalanan hidup, sesuatu yang membuat seseorang semakin bernilai, matang, dan penuh makna, hal itu sebagaimana digambarkan oleh topeng ketiga.
Faith juga menghadirkan aroma wewangian pada karya tersebut. Aroma menjangkau sesuatu yang tak terlihat mata, sebagaimana cara Tuhan bekerja melalui jalan-jalan yang kerap tak kita pahami. Kehadiran-Nya memberi ketenangan di tengah proses pemulihan, sehingga jiwa perlahan menemukan kembali ruang untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Wounds Made Worthy mengingatkan kita bahwa tak semua luka harus disembunyikan. Sebagian justru perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan. Sebab, ketika luka diserahkan kepada Tuhan, ia dapat berubah menjadi jejak kasih, kekuatan, dan harapan yang menjadikan kita tak kembali seperti semula, melainkan menjadi pribadi yang lebih utuh dan kokoh.
Siapa sih, Evolet Faith Shamayim?
Bagi sebagian anak, pensil hanyalah alat untuk mencoret kertas. Bagi Evolet Faith Shamayim, pensil seperti pintu yang sejak dini membawanya memasuki dunia yang kelak menjadi bagian penting dari hidupnya.
Kini, pada usia 17 tahun, Faith telah dikenal sebagai seniman muda Indonesia yang menorehkan prestasi di tingkat nasional maupun internasional melalui karya-karya cat air dan mixed-media yang detail, khas, dan penuh cerita.
Faith adalah salah satu siswi Mawar Sharon Christian School, Surabaya. Rekam jejaknya sebagai seniman muda tak hanya terbatas pada pameran di Indonesia. Karya-karyanya telah hadir dalam sejumlah pameran internasional, seperti di Singapura, Malaysia, Inggris, dan lain-lain.
Bahkan, sebanyak 60 lukisannya telah menjadi bagian dari koleksi salah satu museum di Singapura. Di balik pencapaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang bermula dari sebuah desa kecil di Klaten.
Faith lahir pada 29 Januari 2009 di sebuah desa terpencil di Klaten. Dua bulan kemudian, ia berpindah dan tumbuh besar di Surabaya. Sejak usia dua tahun, bahkan ketika kemampuan berbicaranya belum berkembang lancar, tangannya sudah akrab dengan pensil. Ada sesuatu yang tampaknya lebih dahulu ingin ia ungkapkan melalui garis dan bentuk.
Ketertarikan itu kemudian tumbuh menjadi kecintaan pada seni. Faith mulai menekuninya dengan lebih serius pada usia 11 tahun, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Namun, masa yang penuh keterbatasan itu justru membuka ruang bagi kreativitas sekaligus kepeduliannya terhadap sesama.
Menurut penuturan ibunya, ketika Faith mengetahui para pengemudi ojek daring mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, muncul keinginannya untuk membantu. Lukisan-lukisannya yang saat itu dihargai sekitar Rp100.000,00 digunakan untuk menggalang dana.
Melalui Indonesian Clown Alley, hasil penjualan lukisan Faith disalurkan untuk menyediakan 100 bungkus nasi bagi para pengemudi ojek daring, hampir setiap minggu selama enam bulan. Untuk memenuhi kebutuhan kegiatan amal tersebut, Faith tak kenal lelah melukis.
Untuk kegiatan tersebut, Faith menghasilkan sekitar 300 lukisan dalam setahun. Kegigihan itu tak mengganggu aktivitas sebagai siswa, justru berjalan beriringan dengan prestasi studinya. Selama SMP, ia memperoleh beasiswa, kemudian mendapatkan beasiswa penuh ketika memasuki SMA.
Bagi Faith, seni tak sekadar perkara menciptakan sesuatu yang indah. Seni adalah bahasa untuk menyampaikan kasih, menumbuhkan harapan, dan menggerakkan hati. Karena itu, ia terus belajar, berkarya, sekaligus berbagi kreativitas kepada orang lain.
Sebagian orang mungkin tumbuh dengan belajar mewarnai di dalam garis. Faith justru tumbuh dengan belajar bagaimana membantu orang lain menemukan dan menggambar garis mereka sendiri. Maka, seni tumbuh menjadi jalan berbagi.
Di situlah perjalanan Faith menemukan maknanya: bahwa karya terbesar seorang seniman barangkali tak hanya apa yang terpajang di dinding galeri atau museum, melainkan kebaikan yang terus hidup setelah karya itu selesai. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara




















