Gantungkan Pagi

  • FIKSI
Gantungkan Pagi - Cerita Pendek
Share this :

Cerita Pendek

Petang itu, rumah kecil di tepi sawah berdiri dalam diam, sementara kabut tipis masih menggantung di lembah. Di dinding, jam tua berdetak lirih, dan berbagai perabot sederhana semuanya seakan membisu, menambah sunyi petang itu. Siska, 28 tahun, hanya menatap kosong seisi ruangan.

Kursi menjalin di beranda masih terpaku; dulu di sanalah Raka duduk menikmati angin, sambil menunggu Siska menyeduhkan kopi. Rak kecil di pojok dapur masih menyimpan gelas kesayangannya, namun kini tak pernah lagi terisi.

Siska berjalan perlahan, menyeret langkah yang terasa berat, lalu duduk di teras, dan berselonjor di kursi rotan yang sudah mulai renta. Di hadapannya, secangkir teh yang ia buat sejak setengah jam lalu, sudah kehilangan asapnya.

Semua benda di rumah itu masih sama, tak ada yang berubah. Hanya satu yang hilang: suara Raka, sapaan, canda tawa, godaan usil, dan bahkan teguran kecil yang dulu membuat rumah sederhana itu terasa penuh dan ceria sepanjang hari.

Seiring di tengah keheningan itulah, sebuah suara lirih dari radio tua tiba-tiba mengalun. Lantunan lagu Hang The Morning masuk begitu saja, menghantam perasaan Siska yang rapuh.

…………………………..

And say today is fresh to death
Hang morning string it hight
Like laundry full of hope and sky
Each cloth a piece of where we’ve been
Still soft enough to start again

……………………………….

Potongan lirik itu terdengar bagai sayatan. Lagu yang dulu mereka nyanyikan berdua saat-saat awal pernikahan. Air mata Siska jatuh, tak bisa ditahan. Lagu itu menyeretnya masuk ke dalam pusaran kenangan, membuka pintu masa lalu, membuka kembali pada kenangan manis bersama lelaki, yang dulu ia tak mampu menolak cintanya.

Ingatan itu meluncur, kembali hidup. Pagi yang cerah setelah hujan semalaman. Raka dan Siska sibuk menggantung cucian di halaman rumah mereka. Seprai biru, yang mereka beli dari gaji terakhir setelah menikah, berkibar diterpa angin. Jatuh.

Siska cemberut sambil menunjuk noda samar di ujung kain. “Seprai ini udah kena hujan, Rak. Rasanya sayang banget….”

Raka menghampiri, menaruh segelas kopi di meja dekatnya. Ia menatap lembut.
“Seprai ini memang saksi perjalanan kita. Tapi, noda kecil nggak akan pernah hapus cerita. Yang penting, kita masih bisa menjemurnya bareng-bareng, Siska.”

Siska tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. Di saat itulah ia sadar bahwa kebahagiaan bukan soal barang, namun soal kebersamaan, soal saling berbagi perasaan.

Di balik jemuran, angin pagi berembus membawa bau tanah basah. Siska menutup matanya, membiarkan ucapan Raka meresap. Seandainya ia tahu, kalimat sederhana itu akan jadi harta paling berharga setelah semua yang telah terjadi.

Di hari lain, matahari merayap turun perlahan, warna keemasan sinarnya menembus sela daun jati yang menjulang di pekarangan. Raka dan Siska duduk di teras, masing-masing dengan cangkir kopi hangat di tangan.

“Aku jadi ingat lagu itu,” kata Raka sambil menyeruput sedikit kopi hangat. Hang The Morning seperti doa, ya! Supaya kita kuat menjemput hari, menggantung pagi, meskipun kita nggak tahu apa yang terjadi akan datang buat kita.” lanjutnya.

Siska menoleh, matanya teduh. “Kamu nggak pernah janji apa-apa, Rak. Tapi setiap pagi bersama kamu…, rasanya kayak janji yang nggak perlu diucapkan.”

Raka tertawa kecil, sembari meraih tangan Siska. “Mungkin itu yang disebut janji tanpa janji, Sis.”

Mereka duduk lama dalam diam. Hening, tapi bukan kosong. Hening yang penuh makna, seakan dunia hanya milik mereka berdua. Bahkan suara burung pipit yang hinggap di pohon mangga petang itu tak mengusik kedamaian mereka.

Ingatan Siska melayang lebih jauh, ke masa awal ketika semua dimulai. Dulu, mereka bertemu di kota, sebagai pegawai rendahan di sebuah perusahaan swasta. Pertemuan pertama sederhana saat berpapasan. Tumpukan map laporan jatuh dari tangannya, kertas berserakan di lantai. Raka, dengan senyum tulusnya, ikut jongkok membantu mengumpulkan.

“Ini, jangan sampai ada yang rusak,” katanya sambil merapikan kertas di tangan Siska, sembari menatapnya. Siska hanya mengangguk gugup, namun ada kesan mendalam, hatinya berdesir oleh keramahan lelaki itu.

Hari-hari setelahnya, mereka semakin sering berinteraksi. Lembur bersama, berbagi cerita sederhana di ruang kantor yang dingin. Kadang Raka mengajak makan malam seadanya di warung dekat kantor sebelum keduanya pulang. Dari hal-hal kecil itulah, cinta tumbuh tanpa mereka sadari.

Hingga suatu petang, di antara tumpukan kertas laporan, Raka berucap:
“Sis, aku bosan dengan kehidupan kota. Aku mau pulang ke desa. Mau hidup sederhana, jujur, nanam padi di sawah peninggalan orangtua, ngeliat langit yang luas tanpa terhalang belantara beton. Kamu mau ikut aku?”

Siska sempat kaget dan ragu, namun ia dapat menyembunyikan sikapnya saat itu. Pikirnya, bagaimana dengan pekerjaannya? Dengan kenyamanan gaji bulanan? Hah, hidup di desa! Tapi kemudian ia menatap dalam-dalam mata Raka, mata yang penuh keyakinan.

Akhirnya ia mengangguk. Dan benar, setelah menikah mereka keluar dari pekerjaan, dan menetap di desa, yang terbilang tak jauh dari jangkauan kota. Di sini, ia merasakan rumah yang sesungguhnya. Damai. Jauh dari polusi, kebisingan, dan hidup serba berpacu dengan waktu.

“Meoong…, meooong…, meooong….” mendadak suara si Boby di luar ingin masuk ke rumah. Siska membukakan pintu. Seiring dengan itu, suara Hang The Morning pun lenyap dari pendengarannya, hanya menyisakan hening yang menusuk.

Kini, semua itu tinggal kenangan. Raka, lelaki yang mengajaknya pulang ke desa, lelaki yang menenangkannya dengan kopi di pagi hari, lelaki yang menikahinya tiga tahun lalu. Lelaki yang membuat seprai biru punya makna lebih dari sekadar kain, yang setiap helainya adalah sehelai tempat mereka pernah berada. Kini sudah tiada.

Ia meninggal tiba-tiba. Siang yang panas, di tengah sawah. Raka sempat tersenyum dan mencium keningnya saat mau berangkat, sambil memikul cangkul di pundak. Tapi beberapa jam kemudian, kabar buruk datang. Ia roboh terkena serangan jantung. Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, orang desa biasa menyebutnya terserang angin duduk.

Siska berlari ke sawah dengan napas tersengal-sengal, namun semuanya terlambat. Raka sudah membujur kaku dalam pelukan tanah. Siska pun tersungkur lemas. Pingsan. Orang-orang desa segera menolong mereka.

Baginya dunia seakan runtuh. Sejak saat itu, rumah sederhana ini hanya menyisakan kesunyian. Jemuran di halaman sering kosong, kopi terasa hambar, dan lagu di radio lebih sering menorehkan rasa perih daripada penghiburan.

Siska berdiri di halaman, menatap tiang jemuran bambu. Dulu, di sinilah mereka sering menyoalkan cucian yang jatuh tertiup angin, kadang jadi ribut sebentar. Pun di sinilah, mereka bercanda tentang seprai biru dan janji tanpa janji.

Dan kini, hanya angin yang berhembus membersamainya, tanpa canda tawa, tanpa silang pendapat, tanpa ada uring-uringan. Dengan suara serak, ia berbisik, “Rak…, aku masih gantungkan pagi ini, meski tanpa kamu!”

Air matanya mengalir deras. Entah apa yang akan ia lakukan besok, lusa, dan tahun-tahun mendatang. Ia belum bisa membayangkan. Yang jelas, pagi tanpa Raka hanyalah ruang kosong yang sulit ia isi. Janda muda. Kini, sebuah status baru disandangnya, status yang kadang menghadirkan anggapan miring di mata sebagian masyarakat.

Dan petang itu, di bawah temaram lampu meja kamarnya, Siska menulis di buku catatan tua yang dulu sering mereka pakai mencatat belanja dan hasil panen.

“Raka,

Aku masih di sini, di rumah kita. Jemuran masih berdiri, meski kainnya jarang berkibar. Kopi masih mengepul, meski rasanya hambar tanpa canda kamu. Aku mencoba menggantung pagi, seperti kata-kata yang dulu sering kamu bisikkan. Tapi menggantung pagi sendirian ternyata jauh lebih berat daripada yang kubayangkan.

Rak…, kalau benar cinta itu kesetiaan, maka aku akan tetap setia. Meski kamu sudah pergi lebih dulu, aku akan terus menyimpanmu di setiap matahari terbit. Sebab aku percaya, kesetiaan sejati bukan hanya bersama sampai akhir hayat, tapi juga berani mencintai dalam keikhlasan. Aku mencintaimu, sampai pagi terakhirku tiba.”

Dan di sanalah ia duduk berlama-lama, ditemani sepi dan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Siska menutup buku itu dengan tangan bergetar, lalu mendekapkannya ke dada. Di luar, malam makin pekat. Angin malam mengibaskan tirai jendela, seolah membawa bisikan halus dari Raka.

“Hang the morning, Siska. Hang the morning…!” Siska pun hafal dan fasih betul menyanyikan lagu favorit bersama lelaki sederhana semasa berdua, lelaki yang kini hanya tinggal dalam doanya.

Hang The Morning
Indie Chill Sounds

We hang the sheets and let them dry
They wave like flags against the sky
The sunlight plays a cross your hair
And for a second all is fair
You hum the tune with coffee breath

And say today is fresh to death
Hang morning string it hight
Like laundry full of hope and sky
Each cloth a piece of where we’ve been
Still soft enough to start again

You fold the blue I fold the gray
And stack our minute into day
No rush no fuss just here and now
Like morning vows without a vow
You touch my hand and laugh out loud
Like joy was something we allowed

Hang morning in the line
Let every brezze become a sign
And though we’re not sure what comes next
The sky is a letter yet un texted
Pray….
Some days just bloom without a push
Like Sunday sun on quiet bush

Hang the morning hang it true
Let every fault remind of you
And when the winds begin to play
We’ll know we lived a sunny day

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *