BlusuksEdan di XXI – Nobar Bersama PSL
Bukan namanya anggota PSL (Pernak-Pernik Surabaya Lama) kalau ke mana-mana tak selalu ‘grudukan’ atau jalan bareng-bareng. Tak hanya jika #blusukanedan mengulik arsitektur kuno atau bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda dan lain-lain, bahkan #blusukanedan di XXI pun mesti ‘grudukan’.
Berawal entah dari menonton trailer dan judulnya saja, atau bahkan ada di antara kami, sepuluh orang, yang sudah menyaksikan film Pawn (2020), yakni: Citra, Imu, Lala, May, Wiwied, Sylvi, Yoshi, Agris, Tegar, dan saya, sepakat #blusukanedan nonton bareng di XXI Ciputra World Surabaya, Minggu (17/8/2025) petang.
Gak aneh juga, kebiasaan anggota PSL saat #blusukanedan mengulik arsitektur kuno atau bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda dan lain-lain dengan memberikan review atau semacam catatan kecil tentang bangunan tersebut. Bahkan, nonton film pun beberapa di antara ‘awak’ PSL memberikan komentarnya. Tak luput pula kebiasaan hidupkan UMK, sekadar ‘njajan’ atau makan dengan menu kuliner kearifan lokal.
Komentar mereka akan saya sertakan di artikel ini, setelah saya mencoba me-review “Panggil Aku Ayah” berkat menonton bareng mereka sebagai berikut.
Review “Panggil Aku Ayah”
“Panggil Aku Ayah” (PAA) hadir sebagai adaptasi yang berhasil menghidupkan kembali tema found family dengan nuansa yang hangat sekaligus menyentuh hati. Film ini diangkat dari karya film Korea berjudul Pawn (2020), namun PAA berhasil menempatkan diri sebagai versi yang terasa dekat dengan penonton Indonesia.
Bagi mereka yang pernah menonton Pawn, mungkin sudah bisa menebak arah cerita film tersebut. Tetapi kejutan bukanlah hal utama yang ditawarkan, melainkan bagaimana kisah tersebut dipindahkan dengan cermat ke konteks lokal. Sukabumi. Pawn film Korea yang menampilkan Sung Dong-il sebagai pemeran utama
Rifki Ardisha sebagai penulis naskah berhasil menerjemahkan cerita tentang orangtua – anak, dilema keluarga, dan hadirnya sosok asing yang tak terduga, menjadi refleksi yang terasa nyata di kebanyakan yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.
Kekuatan film ini terletak pada interaksi Dedi (Ringgo Agus Rahman) dan Intan kecil atau Pacil (Myesha Lin). Proses keduanya membangun kepercayaan tak serta merta secara instan. Penonton diajak menyaksikan perjalanan emosional yang panjang: dari rasa curiga, penolakan, hingga akhirnya tumbuh kehangatan layaknya ayah dan anak.
Perjalanan ini menjadi makin menyentuh karena Pacil sendiri adalah anak yang sedang berada dalam posisi rentan: tanpa sosok ayah, penuh keterbatasan secara material bersama ibunya, Rossa (Sita Nursanti). Menariknya, meski proses tersebut panjang, cerita tidak terasa bertele-tele.
Justru setiap konflik yang dihadirkan, baik persoalan pribadi maupun kritik sosial tentang kondisi masyarakat, membuat dinamika hubungan Dedi dan Pacil semakin berlapis. Saat keduanya akhirnya dekat, penonton ikut larut dalam transformasi itu, bahkan tak jarang menitikkan air mata, dan terdengar ‘srat-srot’ mengelap hidung mereka.
Chemistry Ringgo dan Myesha menjadi pusat gravitasi film. Ringgo berhasil menunjukkan sosok ayah pengganti dengan segala kompleksitas emosinya, sementara Myesha mampu menampilkan karakter anak yang di luar tampak tangguh, namun sebenarnya menyimpan ketakutan atau phobia untuk kembali ditinggalkan.
Lewat tatapan, ekspresi, dan dialog sederhana, Dedi dan Pacil, keduanya membangun interaksi yang begitu natural hingga momen bahagia sekalipun tetap terasa haru. Kehadiran Tatang (Boris Bokir) menambah warna. Dengan ceplas-ceplos dan selera humor khasnya, ia menjadi penyeimbang dari atmosfir emosional Dedi dan Pacil, sehingga cerita tak jatuh ke melodrama berlebihan.
Konon, perbedaan lain dari Pawn terlihat pada tokoh ibu, Rossa, yang mendapatkan porsi lebih besar. Hal ini menjadikan film “Panggil Aku Ayah” lebih membumi dengan realitas keindonesiaan, sekaligus menyoroti dilema seorang ibu dalam kondisi serba terjepit, yakni sebagai single parent, dan kesulitan ekonomi lantaran terbelit hutang.
Namun, film ini tidak sepenuhnya tanpa kekurangan. Transisi kisah ketika Pacil beranjak dewasa (diperankan Tissa Biani) terasa agak bagaimana gitu. Kurang greget. Ikatan yang sebelumnya begitu kuat antara Intan, Dedi, dan Rossa mendadak kehilangan intensitasnya.
Minimnya interaksi Intan dewasa dengan karakter lain membuat chemistry yang sebelumnya terbangun seakan menguap begitu saja, sehingga bagian klimaks bersama sang ibu pun terkesan kurang menggugah.
Secara keseluruhan, “Panggil Aku Ayah” bukan sekadar drama keluarga. Film ini juga menyentuh isu-isu sosial yang relevan: seperti fenomena ‘fatherless generation’, keputusan ekstrem seorang ibu, hingga bahaya predator dan eksploitasi anak. Semua itu dibungkus dalam kisah yang lembut, penuh empati, dan sesekali diselingi humor ringan.
Kadang, orangtua biologis tak selalu hadir sebagai sosok yang ideal. Ada yang justru lalai, bahkan meninggalkan luka dan kekosongan. Namun, secara tak terduga kehidupan sering menghadirkan sosok lain yang tanpa ikatan darah, justru mampu memberi kasih, tanggung jawab, dan rasa aman yang tulus.
Pada akhirnya, keluarga bukanlah semata tentang siapa yang melahirkan, melainkan siapa yang benar-benar merawat, mendampingi, dan mencintai tanpa syarat. Kasih sayang dan kepercayaan itulah yang menjadikan sebuah ikatan terasa justru lebih tulus menjaga dan mencinta, meski tak ikatan sedarah.
Komentar dari beberapa anggota PSL setelah menonton “Panggil Aku Ayah”
May
Aku kira aku kuat, dan gak bakalan ‘mewek’, tetapi ternyata aku lemah ketika cerita film “Panggil Aku Ayah” menyangkut sosok tentang ayah,” May, berprofesi sebagai guru.
Wiwied
Film ini menyuguhkan kombinasi emosi yang sangat kuat, penonton diajak tertawa dan menangis dalam satu perjalanan. Banyak yang menyebut film ini seperti roller coaster emosi: sedih namun menghibur. Figur ayah tak selalu lahir dari hubungan biologis, ujarnya.
“Dedi menunjukkan kasih sayang dan keterlibatan yang utuh dalam kehidupan Intan, mulai dari merayakan ulang tahun, menemeni tidur, hingga mengantar sekolah. Ini menjadi pesan peran ayah dalam keluarga. Makanya, kini ada anjuran agar ayah mengantar anak ke sekolah,” pungkas Wiwied, GM Kokoon Hotel Surabaya
Citra
“Panggilan Ayah, tidak melulu berarti Ayah secara biologis. Sosok Ayah, bisa kita temukan pada siapa pun. Bahkan pada seorang preman atau debt collector pun ada kelembutan hati sebagai sosok ayah meski tak berikat hubungan darah,” Citra, karyawan perusahaan bidang travel.
Lala
“Aku alah fokus sama pemain utamanya, si Tissa Biani Azzahra, yang berperan sebagai karakter dewasa dalam alur cerita yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Tissa Biani, yang di semua filmnya, gak mau make up, menyesuaikan perannya. Pokok gak boleh jelek, atau biasa aja,” Lala, berprofesi sebagai dosen.
“Bisa jadi, keluarga sejati itu bukan yang memberi kita nama, melainkan yang memberi kita kepercayaan, rasa aman, penuh kasih, tulus, dan merawat yang tak pernah lelah menjaga, serta tanpa tapi.” – (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
“Panggil Aku Ayah”: Bikin Tertawa sekaligus Nyesek di Hati






Hidupkan UMK, Lesesan dengan Menu Kuliner Kearifan Lokal



