Ramadan selalu menghadirkan dua wajah sekaligus: keheningan yang mengajak jiwa menunduk, dan kehangatan yang mengundang tangan-tangan untuk saling menggenggam berjabat. Di bulan suci inilah nilai kepedulian menemukan momentumnya. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, namun juga melatih hati agar peka terhadap sesama.
Semangat itulah yang dihidupkan oleh komunitas Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL) melalui kegiatan bakti sosial dan buka puasa bersama. Kegiatan mempertemukan anak-anak dari Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah As-Sa’adah Jalan Peneleh IX/59 Surabaya dan anggota Komunitas Mata Hati (KMH) Jalan Rungkut Asri XIII/16 Surabaya, bersama keluarga besar PSL, di Aula Lantai 4 RSIA Kendangsari MERR Jalan Dr. Ir. H. Soekarno 2 Surabaya, Minggu (22/2/2026) petang.
Hadir salah satu owner RSIA Kendangsari MERR, yang sekaligus anggota PSL dr. Agustini R. Dhiniharia, founder PSL Chrisyandi Tri Kartika, perwakilan pengurus beserta anak-anak panti asuhan, relawan KMH Dian Eka Riani dan Ani Damari beserta sejumlah anggota KMH, serta anggota PSL yang dapat meluangkan waktu. Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan menyatukan niat dalam satu simpul kebersamaan.
Chrisyandi Tri Kartika menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang interaksi langsung antara anggota PSL dengan anak-anak panti asuhan dan teman-teman KMH. “Kami ingin membaur, menciptakan suasana hangat yang penuh keceriaan dan keakraban. Interaksi ini bukan hanya tentang memberi bantuan materi, namun juga menghadirkan perhatian, berbagi cerita, serta menumbuhkan momen kebahagiaan bersama,” ujarnya.
Sebagai pustakawan di Universitas Ciputra Surabaya, ia menegaskan bahwa kepedulian sosial tak boleh dipandang sebagai beban satu pihak saja. “Kegiatan bakti sosial dan berbuka puasa bersama ini adalah bentuk dukungan nyata. Kepedulian terhadap sesama adalah tanggung jawab kolektif. Komunitas sekecil apa pun bisa menjadi jembatan kebaikan,” pungkasnya.
Sementara itu, dr. Agustini R. Dhiniharia menyampaikan rasa terima kasih dan kebanggaannya kepada anak-anak panti asuhan dan anggota KMH. Ia menuturkan bahwa semangat mereka untuk tetap belajar, berkarya, dan berbagi inspirasi di tengah keterbatasan merupakan pelajaran berharga.
“Kehadiran adik-adik dan teman-teman hari ini bukan hanya menerima, namun juga mengajarkan kami tentang ketulusan, kekuatan hati, dan arti syukur yang sesungguhnya,” tuturnya dengan penuh kehangatan.
Acara dilanjutkan dengan penyerahan bantuan secara simbolis. dr. Agustini R. Dhiniharia menyerahkan bantuan kepada perwakilan pengurus Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah As-Sa’adah, kemudian Stefanus Nuradhi menyerahkan bantuan kepada Ketua KMH, Dani Heru. Tepuk tangan yang mengiringi prosesi tersebut menjadi penanda bahwa kebahagiaan dapat tumbuh dari kesederhanaan berbagi.
Menjelang waktu berbuka, suasana diisi lantunan lagu-lagu religi yang dibawakan oleh band KMH, dengan personel Dani Heru, Prana Carenza, Fadhlakal Jamal, dan Syirin Salsabila. Alunan musik yang sederhana namun sarat makna menjadikan ruang aula terasa lebih hidup. Pun tepuk tangan Immanuel Arya, Apriliyanti, dan Ryan turut menyemangati. Syair-syair tentang cinta Ilahi dan pengharapan mengalir lembut, menyentuh relung hati para hadirin.
Suasana menjadi kian khidmat sekaligus hangat, sebuah pertemuan antara kegembiraan dan perenungan. Beberapa anak tersenyum malu-malu, sebagian lain larut dalam tepuk tangan mengikuti irama. Di sudut ruangan, para relawan dan anggota komunitas saling berbagi cerita. Ramadan seakan menemukan wujudnya yang paling sederhana. Kebersamaan.
Ketika azan Maghrib berkumandang, seluruh hadirin terdiam dalam hening yang syahdu. Doa berbuka puasa dipandu oleh salah seorang perwakilan anak-anak panti asuhan. Dalam lantunan doa yang lirih itu, tersimpan harapan tentang kesehatan, masa depan yang lebih baik, serta keberkahan hidup bagi semua yang hadir.
Acara ditutup dengan berbuka puasa bersama dan dilanjutkan Salat Maghrib. Di atas hidangan sederhana, tersaji pula rasa syukur yang tak ternilai. Tak ada perbedaan status, profesi, maupun latar belakang, yang ada hanyalah kesadaran sebagai sesama manusia yang berbagi rahmat di bulan penuh ampunan.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum memperluas makna kemanusiaan. Dari ruang aula RSIA Kendangsari MERR, cahaya kecil kepedulian itu menyala, tak perlu gemerlap, sebab kehangatannya telah cukup menerangi hati yang hadir.
Dan barangkali, di situlah esensi Ramadan menemukan maknanya: ketika kebersamaan melampaui batas-batas formalitas, ketika memberi dan menerima sama-sama menjadi jalan menuju keberkahan. Sebab pada akhirnya, yang abadi bukanlah besarnya bantuan yang diberikan, melainkan jejak kebaikan yang tertinggal dalam ingatan dan doa-doa yang diam-diam dilangitkan. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
Hangatnya Ramadan di RSIA Kendangsari MERR























































