Maafkan dan Rendahkan Hati, Pesan Simbah Lanang Dulu

  • FIKSI
Ingat Pesan Simbah Lanang Dulu: Tentang Memaafkan dan Merendahkan Hati
Share this :

“Luwih Becik Disepuro, nanging Luwih Becik Maneh yen Awakmu sing Njaluk Sepuro.”

Sore di kampung selalu punya cara sederhana untuk menenangkan hati. Angin berembus pelan membawa aroma tanah basah, suara ayam bersahutan menjelang senja, dan cahaya matahari merambat turun di sela dedaunan, di teras rumah, di atas amben bambu, yang mulai reyot dimakan usia.

Di sana, Simbah Lanang duduk bersandar, mengusap peluh sepulang dari sawah memanen jagung. Di sampingnya, Sutrisno, cucu kesayangan yang menapak remaja, memainkan ujung sarungnya, sesekali menatap wajah tua yang selalu terasa teduh itu.

“Yen kowe dilarani atimu karo wong liyo, ora usah diwales,” ujar Simbah pelan, seolah berbicara pada angin.

Sutrisno mengernyit. “Lha nopo mboten angsal wales, Simbah? Lha, nggih loro ati!”

Simbah tersenyum tipis, matanya menerawang jauh. “Luwih becik disepuro, nanging luwih becik maneh yen awakmu sing njaluk sepuro.”

“Lho, kok ngaten, Simbah?” tanya Sutrisno, semakin tak mengerti.

Simbah menoleh, kali ini lebih dalam. “Yen kowe wales, opo bedane awakmu karo wong sing larani atimu?”

Dialog singkat itu mungkin terasa sederhana, bahkan membingungkan bagi seorang anak menapak remaja. Namun justru dari percakapan seperti itulah, benih sikap bijak ditanam diam-diam, perlahan, dan menunggu waktu untuk tumbuh dalam pengalaman hidup.

Ketika seseorang disakiti, reaksi paling alami adalah membalas. Itu refleks manusiawi. Dalam banyak situasi, membalas bahkan terasa seperti cara untuk memulihkan harga diri. Namun Simbah Lanang, dengan ketenangannya, seolah mengajarkan bahwa tak semua yang terasa benar harus dilakukan.

“Lha nek ora diwales, wong liya iso nganggep awake dhewe ringkih, Simbah!” guman Sutrisno saat itu, seakan ia berbicara dengan dirinya sendiri.

Simbah terkekeh ringan. “Sing kuwat kuwi dudu sing iso wales, Le, nanging sing iso nahan nafsu.”

Maka di situlah letak perbedaan antara reaksi dan pilihan. Membalas mungkin memberi kepuasan sesaat, namun acapkali memperpanjang konflik. Satu luka dibalas luka lain, lalu terus berulang hingga tak ada yang benar-benar selesai.

Sebaliknya, menahan diri adalah bentuk kendali, kemampuan untuk berhenti sebelum luka itu membesar. Lebih dalam lagi, Simbah Lanang mengajarkan tentang memaafkan, sesuatu yang kerap disalahpahami.

“Sepuro kuwi dudu kanggo wong liya wae,” kata Simbah suatu sore itu. “Nanging kanggo atimu dhewe.”

Memaafkan bukan sekadar memberi ruang bagi orang lain untuk lepas dari kesalahan, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk bebas dari beban. Dendam tak pernah benar-benar diam; ia mengendap, menggerogoti, dan perlahan mencuri ketenangan.

Maka dengan memaafkan, seseorang sedang memilih untuk tak terus hidup dalam bayang luka yang sama. Namun, bagian yang paling sulit diterima oleh Sutrisno adalah satu hal, yakni meminta maaf lebih dulu.

“Lha nek awake dhewe sing dilarani, kok malah kudu njaluk sepuro, Simbah?” protesnya.

Simbah tersenyum, lalu menjawab lirih, “Mergo sing luwih penting kuwi tentrem, dudu menang-menangan.”

Kalimat itu sederhana, namun mengandung kedalaman makna. Meminta maaf lebih dulu tak mesti berarti mengakui klaim atas kesalahan milik kita. Itu adalah cara untuk membuka pintu damai, ketika ego masing-masing saling mengunci. Dibutuhkan keberanian untuk merendahkan hati, namun justru di sanalah letak kearifannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai ini menemukan bentuknya yang nyata. Seseorang yang memilih tak membalas hinaan di tempat kerja, misalnya, mungkin hanya diam. Namun di balik diam itu, ada keputusan sadar untuk tak memperpanjang konflik. Ia tetap fokus pada pekerjaannya, tak terjebak dalam emosi sesaat, dan pulang dengan hati yang lebih ringan.

Dalam keluarga, ketika terjadi kesalahpahaman, satu kalimat sederhana seperti, “Mungkin aku juga kurang tepat menyampaikan.”, bisa menjadi jembatan yang meredakan ketegangan. Hubungan yang nyaris retak bisa kembali utuh hanya karena ada satu pihak yang berani menurunkan ego.

Dalam pertemanan, kedewasaan emosional terlihat ketika seseorang tak langsung bereaksi saat disalahpahami. Ia memilih memahami situasi, menunggu waktu yang tepat, atau menjelaskan dengan tenang. Ia tak lagi dikendalikan oleh emosi, namun mampu mengelola emosi itu sendiri.

Bahkan di ruang publik seperti media sosial, sikap ini menjadi semakin relevan. Ketika menerima komentar negatif, seseorang bisa saja membalas dengan nada yang sama. Namun memilih untuk merespons dengan bijak, atau bahkan tak merespons sama sekali, menunjukkan bahwa ia memiliki kendali atas dirinya. Ia tak membiarkan orang lain menentukan bagaimana ia bersikap.

Perlahan, sikap-sikap seperti ini membentuk pribadi yang menenangkan. Orang-orang merasa nyaman berada dengan keberadaannya. Ia tak memperkeruh suasana, tak mudah tersulut, dan justru sering menjadi peneduh ketika konflik muncul.

Sore itu entah berapa bulan lamanya bulan purnama berlalu. Sutrisno dewasa kini sepenuhnya memahami pesan Simbah Lanang. Pun waktu memiliki caranya sendiri untuk menjelaskan apa yang kini terasa ‘gamblang’. Dalam perjalanan hidup, di tengah konflik, kekecewaan, dan pertemuan dengan berbagai karakter manusia, nasihat itu kembali hadir, menemukan maknanya.

Pun pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling benar, justru yang lebih penting adalah siapa yang cukup bijak untuk memilih damai. Barangkali, di suatu sore yang lain, ketika kita duduk sendiri dalam hening, kita akan teringat kembali suara lirih Simbah Lanangnya Sutrisno, “Sing luwih penting kuwi tentrem….”

Sebuah pengingat bahwa memaafkan adalah kekuatan, dan meminta maaf lebih dulu adalah bentuk keberanian yang bernyali besar. Sedangkan yang paling dalam maknanya adalah yang justru membuat hidup terasa lebih ringan, tanpa beban, dan seseorang menjadi dirinya sendiri tanpa dikendali emosi. (Ali Muchson)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *