Dalam riuhnya dunia modern yang kerap mendikte kita dengan gemerlap warna dan distorsi visual, seni sering kali hadir sebagai oasis untuk menenangkan jiwa. Ketika mata mulai lelah menangkap jutaan spektrum warna yang bising, kesederhanaan justru menawarkan kemewahan tersendiri. Sebuah ruang jeda yang kontemplatif inilah yang coba dihadirkan oleh sebuah komunitas seni rupa melalui sebuah perhelatan estetis yang sarat makna.
Komunitas Seni Rupa Garis Gathuk menggelar pameran lukisan bertajuk “Monochrome”. Pameran ini tak sekadar presentasi hitam di atas putih biasa, melainkan sebuah pernyataan artistik tentang minimalis yang maksimal. Melalui keterbatasan palet, para seniman justru ditantang untuk menyuarakan rasa yang paling dalam.
Sebanyak 62 seniman rupa dari tujuh kota, mulai dari Surabaya, Lamongan, Gresik, Sidoarjo, Malang, Madura, hingga Yogyakarta, turut ambil bagian dalam pameran ini. Perhelatan yang berlokasi di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya ini, dibuka secara resmi oleh Made Agus Sumantra, seorang Art Enthusiast. Pameran yang mengugah rasa ini berlangsung mulai tanggal 15 Mei hingga 20 Mei 2026.
“Mengapa Monokrom?” Pertanyaan retoris tersebut dilontarkan oleh Ami Tri, ketua penyelenggara pameran, di sela-sela acara. “Dalam dunia yang terlalu bising dengan distraksi, ‘Monochrome’ hadir untuk mengajak kita masuk ke ruang jeda. Sebuah sunyi nan indah,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Ami Tri menjelaskan bahwa pameran ini esensinya adalah tentang meninggalkan keriuhan warna untuk mendalami dan mengeksplorasi karya secara lebih intim. Format ini membiarkan rasa berbicara tanpa perlu banyak warna. Meski beberapa karya menyisipkan warna senada (tonal), bukan murni monokrom, hal tersebut justru mempertegas narasi bahwa emosi seorang pelukis memiliki gradasi dan tidak pernah datar (flat).
“Hal itu seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar hitam. Karena terkadang, warna senada justru bisa menceritakan sejuta rasa yang tidak mampu diungkapkan oleh pelangi,” tambah Ami Tri puitis.
Ke-62 karya yang digelar menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan palet justru melahirkan kreativitas tanpa batas. Visual dan pesan yang dihasilkan tetap istimewa serta unik, siap berkomunikasi langsung dengan imajinasi pengunjung.
Menatap Jiwa Lewat “Mata Hati”
Di antara puluhan karya memikat tersebut, salah satu yang mencuri perhatian adalah lukisan berjudul “Mata Hati” karya Anang Tri. Lukisan ini tak sekadar goresan tinta di atas kertas, melainkan sebuah cermin besar bagi jiwa kita. Melalui visualisasi wajah yang samar dengan satu sorot mata yang tajam dan jernih, karya ini berkembang menjadi sebuah refleksi mendalam mengenai cara kita memandang sesama.
Dalam hiruk-pikuk kehidupan sosial, kita sering kali terjebak dalam kacamata prasangka membabi buta. Melalui guratan jemarinya, Anang Tri menangkap fenomena getir yang kerap menghinggapi masyarakat modern, yakni kecenderungan untuk menghakimi seseorang hanya dari apa yang tertangkap oleh pandangan sekilas.
Kita kerap begitu tergesa menyimpulkan dan begitu cepat menjatuhkan vonis, seolah-olah permukaan adalah keseluruhan dari kebenaran yang ada. Namun, Anang mengingatkan kita melalui sentilan sebuah kontradiksi visual yang subtil. Ia seolah berbisik bahwa apa yang tampak di luar hanyalah fragmen kecil yang sering kali menipu.
“Andaikan sesuatu itu mau dikaji dan ditelaah lebih dalam dengan ‘”mata hati”, niscaya seseorang tidak akan begitu mudah melontarkan penghakiman. Kedalaman batin akan menuntun kita untuk lebih berhati-hati dalam berucap, menjaga lisan agar tidak melukai, dan justru menumbuhkan benih-benih empati yang tulus terhadap sesama,” tutur Anang Tri yang kontemplatif di sela-sela pameran.
Goresan sketsa yang tampak rumit namun terfokus pada satu tatapan mata ini mengajak kita untuk berhenti sejenak. Mata dalam lukisan tersebut merepresentasikan sebuah instrumen spiritual yang mampu menembus selapis demi selapis realitas, hingga menyelami akar nurani seseorang yang paling murni.
Melalui lukisan ini, pengunjung diajak untuk melakukan refleksi diri. Karya ini menggugah kesadaran bahwa setiap manusia memiliki narasi perjuangannya masing-masing yang tak selalu terbaca oleh mata telanjang. Ketika kita memilih untuk melihat dengan empati, dunia tak lagi tampak sebagai kumpulan kesalahan orang lain, melainkan sebuah ruang luas untuk saling memahami.
Pada akhirnya, lukisan ini adalah sebuah undangan terbuka bagi kita semua, yakni sebuah ajakan untuk menanggalkan jubah hakim kita yang penuh prasangka, dan mengenakan kembali pakaian kemanusiaan kita yang paling mendasar. Sebab pada titik itulah, sejatinya manusia tak lagi hanya dinilai dari warna yang tampak di permukaan, melainkan dari ketulusan rasa yang memancar dari dalam jiwa. (Ali Muchson)
Featured image by: Anang tri
Biarkan Foto Bicara
Menemukan Kedalaman Sunyi dalam Pameran “Monochrome”
