Masih dalam hangatnya suasana Syawal 1447 Hijriyah, ketika gema saling memaafkan belum sepenuhnya reda, di sebuah ruang di kawasan timur Kota Surabaya menghadirkan cara lain untuk merayakan kebersihan hati.
Bukan lewat kata-kata, melainkan melalui warna, garis, dan komposisi yang berbicara lirih, namun dalam. Sebuah pameran lukisan bertajuk “Medhar Rasa” hadir sebagai ruang perjumpaan antara rasa dan rupa, antara batin dan kanvas.
Sebanyak 23 pelukis ambil bagian dalam pameran ini. Mereka datang dari berbagai kota: Surabaya, Kediri, Lamongan, Gresik, Pamekasan, Sampang, Surakarta, hingga Banjarbaru. Mereka membawa serta jejak pengalaman, latar budaya, dan pergulatan batin masing-masing. Keberagaman ini menjadi denyut utama yang menghidupkan ruang pamer.
Pameran digelar di Lobby La Lisa Hotel Surabaya, Jalan Raya Nginden 82 Surabaya, berlangsung satu bulan, dan akan menyapa publik hingga 2 Mei 2026. Rentang waktu cukup panjang untuk memberi kesempatan bagi siapa saja yang ingin singgah, tak sekadar melihat, pun merasakan. Dibuka oleh Saiful Mujib, Ketua Umum Koperjati, pada Sabtu (4/4/2026) malam.
Judul “Medhar Rasa” sendiri berasal dari bahasa Jawa. Secara harfiah, medhar berarti membuka, menyampaikan, atau mengungkapkan; sementara rasa (baca “roso” bahasa Jawa) merujuk pada perasaan, batin, atau isi hati. Dalam pengertian yang lebih luas, medhar rasa adalah upaya menuturkan apa yang tersembunyi di dalam diri, baik melalui kata, tulisan, maupun karya seni seperti lukisan.
Dalam konteks seni rupa, proses medhar rasa bukan sesuatu yang sederhana. Seorang pelukis tak hanya memindahkan objek ke atas kanvas, namun juga mengolah pengalaman batin, kehalusan budi, serta tata krama estetik, yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai trapsila.
Semua itu kemudian menjelma menjadi bentuk bahasa visual, yakni: garis yang tegas, tipis, atau samar, warna yang berani atau sendu, tekstur yang kasar atau halus, serta komposisi yang mengalir atau penuh ketegangan.
Berangkat dari semangat tersebut, para peserta pameran diberi kebebasan penuh dalam menampilkan karya. Tak ada batasan tema maupun objek. Kebebasan ini justru membuka ruang eksplorasi yang luas, sehingga karakter khas tiap pelukis dapat tampil secara otentik.
Setiap sapuan kuas menjadi jejak identitas, setiap pilihan warna menjadi cerminan emosi, dan setiap objek menjadi simbol dari narasi personal yang ingin disampaikan. Tak heran, ruang Lobby La Lisa Hotel Surabaya pun berubah menjadi lanskap visual yang kaya.
Lantaran beragam karya dengan teknik dan gaya yang berbeda saling berdialog, mulai dari lukisan lanskap yang menenangkan, flora dan fauna yang hidup, hingga eksplorasi tema seni, budaya, etnik, dan tradisi. Semua itu, membentuk mozaik harmoni rasa yang saling melengkapi.
Edy Marga, ketua pelaksana pameran, menegaskan bahwa terselenggaranya kegiatan ini tak lepas dari komitmen dan kepedulian pihak La Lisa Hotel Surabaya terhadap para pelaku seni. Dukungan tersebut diwujudkan dengan menyediakan ruang representatif bagi para seniman untuk berkarya dan menggelar hasil karya mereka.
“Support penuh dari pihak La Lisa Hotel juga diwujudkan melalui kebijakan penjualan karya. Jika ada lukisan yang terjual, maka 100% hasilnya untuk seniman,” ungkap anggota Roode Brug Soerabaia.
Senada dengan itu, Vida Frans, General Manager La Lisa Hotel Surabaya, menyampaikan bahwa konsep dekorasi lobby hotel yang sarat dengan elemen seni etnik menjadi selaras dengan kehadiran pameran ini.
“Lukisan-lukisan yang dipajang tak hanya memperindah ruang, namun juga memperkuat identitas estetik yang ingin dihadirkan. Jadi, kami, pihak hotel, dan para seniman mempunyai cita rasa yang selaras,” pungkasnya.
Salah satu peserta pameran, Kolonel Laut (T) Toedi, Kasubdis Museum dan Monumen Tradisi (Musmontrad) TNI AL, terkait makna lukisan “Himalaya 3” karyanya, ia menuturkan bahwa Himalaya merupakan pegunungan indah di Asia Selatan yang insya-Allah masih terjaga keaslian dan keasriannya. dengan segala keindahan di sekitarnya.
Himalaya, lanjutnya, menunjukkan kejujuran alam yang sepanjang waktu memberikan rasa damai kepada siapa pun tanpa menuntut apa pun kepada pengagumnya. Pesan moral yang begitu dalam bahwa apa adanya kita, atau dengan kejujuran, insya-Allah akan hadirkan keindahan untuk semesta.
“Pameran bersama para pelukis insya-Allah membentuk silaturahmi yang berkelanjutan, persaudaraan yang lahir dari keindahan dalam berkesenian. Barangkali juga, di antara sapuan warna yang terpajang, kita menemukan serpihan rasa kita sendiri, yang selama ini belum sempat kita ungkapkan,” pungkasnya.
Pada akhirnya, “Medhar Rasa” tak sekadar pameran lukisan. Ia adalah ruang perjumpaan antara seniman dan penikmat, antara karya dan makna, antara yang tampak dan yang tersembunyi. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang sering kali bising oleh kata-kata, pameran ini justru mengajak kita untuk sejenak diam, menatap, dan merasakan. (Ali Muchson)
Biar Foto Bicara
“Medhar Rasa”: Ketika Lukisan Menjadi Bahasa Batin Pengungkap Rasa
Foto oleh Ali Muchson





















Note:
Semua foto yang dipamerkan bagus-bagus. Tidak mengurangi rasa hormat,
mohon maaf tak semua lukisan saya tampilkan artikel ini.
