Oleh
Wahyu D. dan Ali Muchson
“Njenengan dua tahun lebih tua, tetapi pada umur saya yang hampir 51 ini, saya sampai pada kesimpulan begini, orang-orang seumuran kita ini seharusnya sudah humbled down, sudah lebih kalem, lebih sabar, lebih banyak maklum dengan perilaku orang lain.
Why? Karena perjalanan hidup 50 tahun itu berisi pelajaran-pelajaran hidup yang saya yakin sudah membuat kita cukup babak belur dan membuat kita belajar, ‘sakjane urip kuwi arep ngopo to?’ (Sebenarnya hidup itu mau mengapa?)
Kesimpulan berikutnya, hidup itu sudah memberi kita begitu banyak pelajaran yang membuat kita berpikir dan merasa, meluruhkan kesombongan, arogansi, dan keinginan-keinginan daging kita, SEHARUSNYA.
Maka, jika ternyata pada usia kita yang sudah melewati 50 tahun ini kita masih belum bisa bersikap rendah hati, damai sejahtera, sabar, dan maklum, kemungkinan besarnya kita tidak pernah belajar dari kejadian-kejadian hidup kita.
Maka umur segini masih meledak-ledak, masih on fire terus. Pertanyaannya: ‘njur kapan mau belajar humbled down?’ (‘Terus kapan mau belajar humbled down?’) Kapan mau belajar kalem? Ndakyo, semesta gak capek ngajar kita?”
Surabaya – Membaca tangkapan layar penggalan unggahan thread dari @sebo.sore yang ditujukan kepada @ari_lasso, yang dikirimkan oleh seorang kawan, saya merasa tergelitik sekaligus tersentuh. Kalimat-kalimatnya sederhana, namun menghantam ruang refleksi yang jarang kita kunjungi dengan jujur. Ia bukan sekadar komentar personal, melainkan cermin yang diam-diam diarahkan kepada kita semua.
Tulisan itu mengingatkan satu hal penting, usia biologis tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan batin. Bertambahnya angka umur tidak otomatis menjadikan seseorang lebih bijak, lebih tenang, atau lebih lapang dalam memaklumi orang lain. Ada orang yang menua secara fisik, tetapi berhenti bertumbuh secara emosional.
Secara ideal, pertambahan usia berjalan seiring dengan kematangan emosi. Pengalaman hidup seharusnya membentuk kemampuan seseorang dalam mengelola konflik, menerima perbedaan, dan mengambil tanggung jawab atas pilihan-pilihannya. Namun kenyataannya, usia kronologis tidak selalu sejalan dengan usia psikologis.
Fenomena inilah yang sering menimbulkan kegelisahan sosial: orang-orang yang secara umur telah matang, tetapi masih menunjukkan perilaku impulsif, defensif, dan minim refleksi diri. Mereka mudah tersinggung, sulit menerima kritik, dan cenderung menyalahkan keadaan atau orang lain.
Secara umum, kita meyakini bahwa proses pendewasaan berjalan seiring dengan waktu. Pengalaman hidup: jatuh bangun, gagal dan berhasil, kehilangan dan penerimaan, seharusnya membentuk kedewasaan sikap dan pengendalian emosi.
Namun realitas tidak selalu demikian. Ada orang-orang yang, meski telah memasuki usia paruh baya, masih mudah meledak-ledak, enggan bertanggung jawab, dan sulit bercermin pada diri sendiri. Dalam psikologi, salah satu gambaran perilaku semacam ini dikenal dengan istilah Sindrom Peter Pan.
Apa Itu Sindrom Peter Pan?
Mengutip artikel dari Siloam Hospitals, Sindrom Peter Pan adalah kondisi ketika orang dewasa tidak bersikap sesuai dengan usia dan perannya, sehingga tampak kekanak-kanakan dan dalam beberapa kasus menunjukkan kecenderungan narsistik. Meski bukan termasuk gangguan mental resmi, kumpulan perilaku ini dapat berdampak serius pada hubungan sosial, kehidupan profesional, dan kualitas relasi personal seseorang.
Pengidap sindrom ini cenderung menghindari tanggung jawab, kesulitan berkomitmen dalam hubungan jangka panjang, serta sering memprioritaskan kepuasan diri tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Menjadi dewasa dipersepsikan sebagai beban, bukan sebagai proses bertumbuh.
Mengapa Seseorang Bisa Terjebak dalam Sindrom Ini?
Hingga kini, belum ada penyebab tunggal yang pasti. Namun, pola asuh orang tua memainkan peran besar. Pola asuh permisif yang terlalu longgar dapat membuat anak tumbuh tanpa batasan, tidak terbiasa bertanggung jawab atas kesalahan, dan merasa selalu benar. Sebaliknya, pola asuh yang terlalu protektif justru membuat anak takut mengambil keputusan, kurang percaya diri, dan memandang dunia dewasa sebagai sesuatu yang menakutkan.
Di luar faktor keluarga, tekanan ekonomi juga bisa menjadi pemicu. Ketika realitas hidup dewasa terasa berat: pendapatan minim, karier stagnan, dan tuntutan hidup semakin besar, sebagian orang memilih “mundur” secara psikologis. Menghindari tanggung jawab menjadi mekanisme bertahan, meski pada akhirnya justru merugikan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Ciri-Ciri yang Perlu Disadari
Beberapa tanda umum Sindrom Peter Pan antara lain:
- Pola pikir dan perilaku cenderung kekanak-kanakan, suka jalin pertemanan dengan usia lebih muda.
- Sulit mempertahankan hubungan jangka panjang.
- Enggan bertanggung jawab dalam pekerjaan dan keuangan.
- Ketergantungan tinggi pada orang lain.
- Sulit menerima kritik dan enggan mengakui kesalahan.
- Tidak memiliki rencana masa depan dan minim dorongan pengembangan diri.
Ciri-ciri ini sering kali tidak disadari oleh pelakunya, tetapi sangat terasa dampaknya bagi lingkungan sekitar.
Refleksi: Kapan Kita Mau Belajar Rendah Hati?
Di titik inilah kutipan di awal tulisan menjadi relevan dan menggugah. Jika pada usia matang kita masih mudah tersulut, masih keras kepala, masih merasa paling benar, barangkali persoalannya bukan pada dunia yang tidak adil, melainkan pada diri kita yang enggan belajar.
Hidup, sebagaimana disampaikan dalam kutipan tersebut, sejatinya telah berkali-kali “mengajar” kita, dengan cara yang lembut maupun keras. Pertanyaannya bukan lagi kapankah pelajaran itu datang, melainkan apakah kita bersedia belajar darinya?
Menjadi dewasa bukan soal kehilangan semangat lantaran usia bertambah, tetapi tentang menemukan ketenangan. Bukan tentang memadamkan api, melainkan mengubahnya menjadi cahaya yang menghangatkan, bukan membakar.
Masalah utama dari kondisi ini adalah minimnya insight, kemampuan untuk mengenali peran diri dalam setiap konflik. Tanpa refleksi diri, seseorang akan terus mengulang pola yang sama, menyalahkan lingkungan, dan merasa menjadi korban keadaan.
Sebab, belajar rendah hati, kalem, dan humbled down bukan tanda kelemahan, melainkan puncak dari proses pendewasaan manusia. Jika seseorang di usia yang sudah dalam kategori dewasa belum mencapai kondisi demikian, maka diperlukan pendampingan profesional, seperti psikolog atau psikiater, agar dapat menjadi langkah awal untuk mengenali dan mengurai pola perilakunya.
Referensi:
https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-sindrom-peter-pan

terimakasih pak, saya baru tahu soal sndrom peter pan