Gerbong Kehidupan seperti Perjalanan Kereta Api
Tulisan ini didedikasikan untuk ulang tahun “Engkong” Hartono Widjaja
Ada sesuatu yang selalu menarik dari sebuah perjalanan kereta api. Kereta bergerak perlahan meninggalkan stasiun. Sesaat kemudian, peron, orang-orang yang melambaikan tangan, dan bangunan-bangunan di sekitar stasiun perlahan menjauh.
Di balik kaca jendela, pemandangan pun berganti: rumah-rumah, sawah, pepohonan, jalan raya, lalu kembali menjadi hamparan yang tak kita kenal. Kita duduk di dalam gerbong, menikmati perjalanan.
Kadang perjalanan terasa begitu cepat. Kadang terasa panjang melelahkan. Ada saat ketika mata tertuju pada pemandangan di luar jendela, ada pula ketika kita tertidur dan baru terbangun setelah kereta melewati beberapa stasiun.
Begitu pun kehidupan.
Kita berangkat dari sebuah titik yang tak pernah kita pilih sendiri. Kemudian perjalanan membawa kita melewati begitu banyak stasiun: masa kanak-kanak, remaja, keluarga, pekerjaan, keberhasilan, kebahagiaan, persahabatan, kehilangan, pun kesedihan.
Tak terasa, tahun demi tahun berlalu. Suatu ketika, kita baru tersadar bahwa perjalanan sudah begitu jauh. Dan kini, bagi “Engkong” Hartono Widjaja telah menapaki perjalanan usianya yang ke-76 tahun.
Tujuh puluh enam tahun.
Angka itu mungkin sederhana ketika ditulis di atas kertas. Namun, di baliknya tersimpan perjalanan yang tak sederhana. Ada ribuan pagi yang telah dilewati, ribuan malam yang pernah datang, serta begitu banyak peristiwa yang membentuk menjadi dirinya seperti hari ini. Usia 76 tahun tak sekadar pertambahan angka. Ia adalah jejak waktu.
Di sepanjang perjalanan itu, tentu telah banyak asam dan garam kehidupan yang dirasakan. Ada hari-hari yang berjalan sesuai harapan. Namun, ada pula hari ketika kehidupan membawanya ke arah yang sama sekali tak diduga. Ada keberhasilan yang membuat hati bersyukur, namun ada pula kegagalan yang diam-diam mengajarkan ketabahan.
Pasang surut kehidupan pernah datang. Liku-liku perjalanan pernah dilalui. Gelombang kehidupan pernah mengguncang. Namun, seperti kereta yang tetap melaju meski melewati jalur berliku, perjalanan pun terus berlangsung.
Sebagian orang yang dahulu duduk bersama mungkin sudah turun di stasiun yang berbeda. Sebagian lainnya masih menemani perjalanan. Ada wajah-wajah yang kini hanya tinggal kenangan, namun ada pula wajah baru yang kemudian menjadi bagian dari cerita.
Waktu bekerja. Ia tak pernah benar-benar berhenti.
Karena itu, ulang tahun sesungguhnya tak hanya tentang meniup lilin, menerima ucapan selamat, menikmati perayaan bersama, atau hanya sekadar menambah satu angka dalam catatan usia. Sejatinya, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perayaan.
Ulang tahun adalah kesempatan untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menghentikan waktu, lantaran waktu tak pernah bersedia berhenti, melainkan untuk menoleh ke belakang. Melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh. Mengingat orang-orang yang pernah hadir. Mensyukuri apa yang masih dimiliki. Pun berdamai dengan suatu hal yang dahulu belum sempat dipahami.
Pada titik itu ulang tahun menjadi ruang untuk bersyukur.
Bersyukur kepada Tuhan karena perjalanan masih berlanjut. Karena masih diberi kesempatan menyaksikan matahari terbit, menikmati kebersamaan, berbincang dengan keluarga dan sahabat, serta merasakan bahwa hidup dengan segala kesederhanaannya, tetap merupakan anugerah.
Namun, semakin panjang perjalanan, barangkali semakin kita menyadari bahwa setiap perjalanan memiliki batas, dan karena itu setiap langkah yang masih diberi kesempatan untuk dijalani patut diterima dengan syukur, dijalani dengan tulus, dan diisi dengan kebaikan.
Kereta kehidupan pun demikian.
Ia tak berhenti pada satu stasiun. Dari satu stasiun menuju stasiun berikutnya, perjalanan terus berlangsung. Kita tahu waktu stasiun keberangkatan, namun kadang ketepatan waktu sampai di stasiun terakhir bisa tak sesuai dengan prakiraan. Di tengan perjalanan ada risiko yang mungkin harus dihadapi.
Di usia 76 tahun, kesadaran semacam itu terasa jujur adanya. Bukan untuk menjadi galau, apalagi membuat seseorang bersedih. Justru sebaliknya. Kesadaran bahwa perjalanan memiliki batas, semestinya membuat setiap kilometer kehidupan menjadi lebih berarti. Sebab, kita tak pernah tahu berapa waktu lagi perjalanan ditempuh hingga sampai stasiun akhir kehidupan.
Maka, selama kereta kehidupan masih berjalan, mungkin yang terbaik adalah menikmati perjalanan dengan sebaik-baiknya. Menjadi lebih ringan dalam memaafkan. Lebih mudah mengucapkan terima kasih. Lebih sering berbagi. Lebih banyak memberikan waktu kepada orang-orang yang kita cintai.
Dan yang terpenting, semakin bersungguh-sungguh menyiapkan bekal mumpung masih diberi kesempatan. Sebab ada satu perjalanan yang tak dapat ditempuh bersama dengan koper, uang, jabatan, maupun benda-benda yang selama ini kita kumpulkan. Ketika tiba waktunya turun dari kereta kehidupan, semua itu akan tertinggal di peron dunia. Semua selesai.
Yang ikut bersama kita hanyalah apa yang telah kita tanam sepanjang perjalanan. Kebaikan yang pernah diberikan. Pertolongan yang pernah dilakukan. Kasih sayang yang pernah dibagikan. Keikhlasan yang pernah dijalani. Doa-doa yang pernah dipanjatkan. Dan amal yang mungkin tak pernah diketahui orang lain.
Barangkali itu “tiket” yang sesungguhnya.
Tiket. Bukan tiket yang dibeli di loket stasiun, melainkan bekal yang perlahan dipersiapkan sepanjang perjalanan kehidupan. Kita tak tahu kapan kondektur kehidupan akan datang dan berkata bahwa perjalanan segera berakhir. Karena itu, tak ada salahnya memeriksa kembali bekal yang akan kita bawa kelak. Apakah sudah cukup?
Pertanyaan itu bukan hanya milik seseorang yang berusia 76 tahun. Ia milik kita semua. Sebab, tak ada seorang pun yang tahu kapan dan di mana stasiun akhir perjalanan kehidupannya. Hari ini mungkin kereta kehidupan masih melaju. Besok, entah.
Maka, usia 76 tahun bagi “Engkong” Hartono Widjaja bukan semata-mata tentang perjalanan yang sudah panjang, melainkan ia adalah sebuah jeda untuk mengucap syukur sekaligus menata kembali arah perjalanan.
Menoleh ke belakang tanpa harus hidup di masa lalu. Memandang ke depan tanpa harus takut kepada sesuatu yang belum terjadi. Dan menjalani hari ini dengan kesadaran bahwa setiap hari yang diberikan Tuhan sesungguhnya adalah hadiah berupa anugrah.
Pada akhirnya, kelak setiap kereta akan sampai pada stasiun terakhir.
Lampu-lampu di sepanjang rel perlahan menghilang. Suara roda yang beradu dengan rel pun berhenti. Pintu gerbong terbuka. Kita turun membawa sesuatu yang jauh lebih sederhana daripada ketika pertama kali naik: sebuah perjalanan.
Di stasiun terakhir itu, tak ada lagi yang penting selain apa yang telah kita bawa sebagai amal kebaikan. Semoga ketika waktunya tiba, perjalanan panjang itu telah meninggalkan cukup banyak kebaikan, kesalehan, sehingga cukup banyak bekal.
Semoga orang-orang yang pernah duduk dalam satu gerbong kehidupan dapat mengenangnya dengan senyum. Semoga Tuhan menerima segala kekurangan, mengampuni segala kesalahan, dan mencatat setiap kebaikan yang pernah dilakukan.
Pun semoga, ketika kereta itu benar-benar berhenti di stasiun terakhir, “Engkong” Hartono Widjaja tak perlu lagi bertanya ke mana harus pergi. Sebab, tiket dan bekal terbaik telah dipersiapkan jauh sebelum perjalanan berakhir.
Ada sebuah kehidupan lain yang menanti di balik stasiun itu. Kehidupan yang tak lagi mengenal jadwal keberangkatan dan kedatangan, tak mengenal usia, tak mengenal perpisahan. Sebuah perjalanan menuju keabadian. Dan semoga, dengan segala kasih dan kemurahan Tuhan, stasiun terakhir itu adalah Surga.
“Selamat menapaki usia ke-76 tahun, “Engkong” Hartono Widjaja!”
“Semoga kereta kehidupan masih diberi perjalanan yang masih panjang, dengan gerbong yang dipenuhi syukur, jendela yang menghadap pemandangan indah, dan hati yang semakin bersih. Sampai kelak tiba waktunya turun di stasiun terakhir. Bukan sebagai akhir dari segala perjalanan, melainkan awal dari perjalanan yang sesungguhnya.” (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara



















