Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?

Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Share this :

Pertanyaan dilontarkan Ir. Andy Mappa Jaya, MT., “Mengapa Mayangkara disebut rumah Indis satu garis?”, saat mengawali peluncuran ulang buku berjudul “Mayangkara – Rumah Indis Satu Garis” oleh Bank Indonesia di Perpustakaan KPw Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Jalan Taman Mayangkara 6 Surabaya, Jumat (6/2/2026) pagi.

Hadir dalam peluncuran ulang buku tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Ibrahim beserta jajarannya, perwakilan Pemkot Surabaya, para akademisi, arsitek, pengelola museum, pemerhati bangunan peninggalan, komunitas sejarah yakni termasuk Roode Brug Soerabaia.

Ir. Andy Mappa Jaya, MT., Dosen Departemen Arsitektur ITS Surabaya, yang juga sebagai Ketua Tim Penulis buku “Mayangkara – Rumah Indis Satu Garis”, mengajukan pertanyaan itu tak muncul sekadar dari keinginan memberi label, melainkan dari upaya membaca sebuah bangunan secara perlahan-lahan, seperti halnya membaca wajah seseorang yang telah hidup lama.

Pun istilah itu bukan sebagai kesimpulan instan, melainkan sebagai ajakan untuk menelusuri konsistensi gagasan arsitektur yang bekerja diam-diam sejak bangunan ini didirikan pada 1921. Garis yang dimaksud bukan sekadar garis visual, namun garis pikir, garis sikap, dan garis kesetiaan pada iklim, konteks, dan kearifan Nusantara.

Mayangkara, yang berarti ‘sinar keberuntungan’, berdiri sebagai rumah dinas Kepala De Javasche Bank di Surabaya, sebuah posisi yang pada masanya menuntut wibawa, keteraturan, dan kenyamanan. Dirancang oleh biro arsitek Belanda ‘Architecten en engenieur bureau Job en Spreij’, bergaya sebagai Art Deco atau Amsterdam School.

Gaya bangunan ini tak sekadar meniru langgam Eropa. Ia memilih berdialog dengan tanah tempatnya berpijak. Dari awal, Mayangkara sudah memosisikan diri sebagai rumah Indis: sebuah pertemuan antara rasionalitas Barat dan kearifan lokal berdasar pada kondisi alam tropis Nusantara.

Nama Mayangkara sendiri perpaduan dua kata yang menyimpan harapan. Kata ‘mayang’ sebagai ‘keberuntungan’, dan kata ‘kara’ sebagai cahaya. Sebuah penanda bahwa rumah ini tak hanya dimaksudkan untuk dihuni, namun juga untuk menaungi. Kepemilikannya yang kini berada di bawah Bank Indonesia menegaskan keberlanjutan peran itu, yakni dari rumah dinas, rumah negara, hingga rumah pengetahuan.

Sepanjang hidupnya, Mayangkara telah berganti peran tanpa kehilangan makna. Ia pernah menjadi rumah militer, kantor kebudayaan, museum, lalu kembali ke pangkuan Bank Indonesia sebagai perpustakaan dan ruang edukasi publik. Fungsi boleh berubah, namun bangunan ini seperti memilih untuk tetap tenang, seolah menyadari bahwa waktu hanya menumpangkan peran sementara pada dirinya.

“Tahun 1950-1959 digunakan oleh TNI sebagai rumah dinas Komando Militer Kota Besar Surabaya, saat itu digunakan sebagai rumah tinggal Mayor Djarot Subiantoro. Djarot biasa menunggang kuda, ia beri nama kudanya dengan sebutan ‘mayangkara’. Barangkali nama kuda tersebut yang mengilhami nama Rumah Mayangkara,” ujar Andy Mappa Jaya.

Untuk memahami Mayangkara, kita perlu menarik mundur pandangan ke Surabaya awal abad ke-20. Kota ini sedang belajar menjadi modern, beralih dari kota sungai menjadi kota jalan. Mobil mulai menentukan arah pertumbuhan, dan kawasan Darmo–Diponegoro disiapkan sebagai wajah baru Surabaya. Dalam konteks inilah Mayangkara berdiri, bukan di pinggir, melainkan di simpul: persimpangan, pertemuan, dan penentu arah.

Letaknya strategis, sekaligus simbolis. Dari selatan, selepas melintasi Kali Jagir dan rindangnya Kebun Binatang, Mayangkara hadir sebagai kejutan visual. Ia memberi isyarat: ke mana seseorang akan melanjutkan perjalanan, ke pusat kota atau ke kawasan hunian elit Darmo?. Pada masanya, ia bukan hanya rumah, melainkan penanda kota, ‘tetenger’ yang mengabarkan bahwa Kota Surabaya telah dimasuki.

Kemodernan Mayangkara tak berisik. Ia tak menolak ornamen, namun juga tak tenggelam di dalamnya. Atapnya curam dan besar, menyerupai tradisi arsitektur Nusantara, sekaligus menggemakan bentuk atap neo-klasik Prancis. Ruang bawah atap yang lapang, sosoran yang rendah, dan orientasi terhadap matahari menunjukkan pemahaman mendalam terhadap iklim tropis. Bahkan, beberapa peneliti melihatnya sebagai pengembangan modern dari arsitektur tradisional Batak Karo, sebuah tafsir lintas budaya yang berani untuk zamannya.

“Di sinilah gagasan “satu garis” menemukan pijakannya. Garis itu diulang dengan setia, dari skala besar hingga detail terkecil: pada dormer, bubungan atap, bingkai pintu, lis dinding, hingga engsel. Tak ada bagian yang berdiri sendiri. Semua dirajut dalam kesatuan, seolah arsitek ingin memastikan bahwa bangunan ini tak kehilangan arah meski waktu terus bergerak,” ungkap Andy Mappa Jaya.

Masuk ke dalam Mayangkara, kesejukan menyambut tanpa perlu mesin pendingin. Plafon tinggi memberi ruang bagi udara untuk bergerak. Ventilasi kecil yang saling terhubung memungkinkan angin melintas dari satu ruang ke ruang lain. Dormer-dormer di atap menjadi saluran pernapasan bangunan, membuang panas dan mengundang udara segar. Kesejukan di sini bukan sekadar sensasi fisik, namun perasaan bahwa bangunan ini tahu caranya berdamai dengan alam.

Hujan pun diperlakukan dengan cara yang bijak. Air dibiarkan jatuh langsung dari atap ke tanah, lalu dialirkan menuju drainase kota. Tak disembunyikan, tak ditahan. Sebuah sikap arsitektur yang menerima alam sebagaimana adanya, bukan melawannya, pun tanpa merusak.

Secara spasial, Mayangkara memiliki skala yang tepat sebagai landmark. Ruang terbuka di depannya, kini Taman Mayangkara, memberi jarak yang cukup agar bangunan ini dapat dipandang utuh dari berbagai arah. Menariknya, sejak 1921 hingga hari ini, bentuk tubuh bangunan nyaris tak berubah. Yang berubah adalah lingkungan di sekitarnya, juga cara manusia memaknainya.

Mungkin di situlah kekuatan Mayangkara. Ia tak berteriak tentang sejarah, namun menyimpannya rapi di dalam dinding, garis, dan ruang-ruangnya. Sebuah rumah Indis yang memilih setia pada satu garis, dan justru karena itulah ia mampu bertahan, melampaui zaman, telah tak kurang dari 105 tahun berdiri tanpa kehilangan jati diri.

*

Bertahannya Rumah Mayangkara hingga hari ini sesungguhnya bukan semata karena tembok yang kuat atau atap yang dirawat, melainkan karena ada kesadaran bahwa bangunan seperti ini menyimpan ingatan kota. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu berarti mengganti yang lama dengan yang baru, melainkan merawat yang lama agar tetap relevan.

Karena itu, kepada para pengambil keputusan di kota ini, Mayangkara seolah berpesan: “Jangan tergesa memberi izin perubahan, apalagi perusakan, atas bangunan bernilai cagar budaya. Sekali sebuah rumah bersejarah diruntuhkan, yang hilang bukan hanya wujud fisiknya, namun juga kesempatan generasi mendatang untuk belajar memahami jati diri kotanya sendiri.”

Kota yang besar bukan kota yang paling cepat berubah, melainkan kota yang tahu apa yang layak dijaga, dan mengapa ia harus bertahan. Dan dari kesadaran itulah, masa depan kota seharusnya dibangun, bukan dengan melupakan jejaknya, namun dengan berdiri tegak di atas ingatan yang telah diwariskan. (Ali Muchson)

Referensi:
Mappajaya, Andy, dkk. (2025). “Mayangkara – Rumah Indis Satu Garis. Jakarta: Bank Indonesia.

Biarkan Foto Bicara
Mengapa Mayangkara disebut “Rumah Indis Satu Garis”?

Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?
Mengapa Mayangkara Disebut “Rumah Indis Satu Garis”?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *