Ketika Sejarah Bangkit di Jalan Tunjungan
Pagi di Jalan Tunjungan, Surabaya, Sabtu, 19 September 2026, terasa berbeda. Di antara denyut kota yang mulai menggeliat, sejarah seakan kembali mengetuk memori kolektif masyarakt Surabaya. Jalan yang biasanya dipenuhi kendaraan dan aktivitas warga itu berubah menjadi panggung terbuka.
Di sana, manusia, kain putih tergelar, musik, puisi, tari, dan teatrikal berpadu untuk menghadirkan kembali sebuah peristiwa yang 81 tahun silam mengguncang keberanian Arek-Arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan melawan kolonial Belanda.
Pertunjukan itu bertajuk âMerah Putih Bertanyaâ, sebuah opera kolosal yang merefleksikan peristiwa Perobekan Bendera Belanda pada 19 September 1945 di Hotel Yamato, yang kini dikenal sebagai Hotel Majapahit Surabaya â MGallery Collection, Jalan Tunjungan 65 Surabaya.
Tak sekadar menjadi pertunjukan sejarah, opera kolosal yang naskahnya ditulis oleh Ady Setyawan, founder Roode Brug Soerabaia, dan disutradarai oleh Heri Lentho, founder Yayasan Surabaya Juang, ini mengajak penonton menengok kembali masa lalu untuk menemukan makna perjuangan yang relevan dengan kehidupan hari ini.
Melalui perpaduan teatrikal, puisi, tari, musik, serta skenografi berupa performer manusia patung, para pahlawan seolah bangkit dari keheningan untuk kembali menyapa ingatan penonton. Dengan pendekatan tersebut, sejarah tak ditempatkan sebagai sesuatu yang beku dan berhenti di masa lalu, melainkan dihadirkan sebagai energi yang terus hidup, bergerak, dan menemukan maknanya dalam setiap zaman.
Pertunjukan yang berlangsung pukul 07.00â10.00 WIB itu menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam rangka meneguhkan karakter Surabaya sebagai Kota Pahlawan sekaligus menguatkan nilai manusia Surabaya yang berkepribadian dalam kebudayaan.
Sejarah Bangkit dari Balik Kain Putih
Pertunjukan diawali suasana kontemplatif. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memimpin mengheningkan cipta untuk mengenang para pahlawan yang telah mempersembahkan hidupnya bagi Merah Putih.
Sesaat kemudian, para pemain bergerak perlahan memasuki area pertunjukan. Sebentang kain putih sepanjang sekitar 50 meter dibentangkan dari sisi utara dan selatan jalan. Di balik kain tersebut, para pemain yang memerankan pejuang dan tokoh perjuangan telah bersiap.
Ketika kain perlahan membuka ruang pandang, mereka muncul satu demi satu. Seolah-olah dari balik keheningan masa lalu, para pejuang itu bangkit kembali. Bukan untuk mengulang perang, melainkan untuk mengingatkan bahwa kemerdekaan selalu memiliki harga yang harus dibayar dengan keberanian, pengorbanan jiwa raga, dan gotong royong.
Kisah kemudian bergerak menuju suasana Surabaya setelah Proklamasi Kemerdekaan. Selebaran yang menyerukan pengibaran bendera Belanda berjatuhan dari angkasa. Di Hotel Yamato, para interniran Belanda bersama pasukan Belanda mencabuti pamflet-pamflet bertuliskan Indonesia Merdeka.
Situasi semakin memanas ketika wartawan M. Wahab dan Bung Tomo yang tengah meliput peristiwa tersebut mengalami tindakan kekerasan. Kamera dirampas dan film foto dikeluarkan. Kabar mengenai tindakan itu menyebar dan menambah bara kemarahan rakyat. Hal itu menjadikan Surabaya bersiap.
Seruan Merah Putih menggema di Jalan Majapahit. Semangat rakyat bangkit. Pemuda berkumpul, menulis dan mencoretkan berbagai pesan âIndonesia Merdekaâ, âMerdeka atau Matiâ, dal lain-lain. Jalan Tunjungan mulai dipenuhi manusia. Ketegangan perlahan berubah menjadi keberanian yang tak terbendung.
Ketika Keberanian Memanjat Hotel Yamato
Adegan berikutnya membawa penonton pada suasana Surabaya wani, atau Surabaya yang berani. Arek-Arek Suroboyo yang melintas di depan Hotel Yamato melihat bendera Belanda berkibar. Mereka memprotes keberadaan bendera tersebut. Ketegangan dengan tentara Jepang dan para interniran Belanda tak terhindarkan. Massa semakin banyak. Dorong-mendorong terjadi.
Residen Sudirman, yang diperankan Wali Kota Cak Eri, tiba bersama ajudannya, Cak Sidik dan Hariono, berusaha meredakan keadaan. Namun, perundingan dengan Mr. Ploegman berlangsung tegang. Ketika pistol diarahkan kepada Residen Sudirman, Cak Sidik menendangnya hingga terjadilah perkelahian. Letusan senjata kemudian memecah suasana.
âTurunkan bendera Belanda!â Teriakan itu menggema. Tangga dibawa. Beberapa pemuda mulai memanjat Hotel Yamato. Hariono berhasil mencapai puncak dan menurunkan bendera Belanda. Bersama Kusno Wibowo, warna biru pada bendera tersebut dirobek. Yang tersisa adalah Merah Putih.
âIndonesia Merdeka!â Pekik itu membelah ruang pertunjukan. Merah Putih kemudian dikibarkan dengan khidmat. Atas aba-aba Wali Kota Surabaya, pemain dan penonton berdiri memberikan penghormatan. Lagu Indonesia Raya mengalun. Namun, suasana khidmat itu tiba-tiba pecah oleh suara tembakan. Dooor!
Hariono yang berada di puncak menara tertembak dan roboh. Jasadnya kemudian dibawa turun bersama jasad Cak Sidik oleh rekan-rekannya. Prosesi itu bergerak menuju kain putih, diiringi pembacaan puisi âSurabaya Merah Putihâ oleh Rini Indriyani Eri Cahyadi, atau lebih dikenal dengan sapaan Bunda Rini.
Di saat yang sama, Paskibra membawa Bendera Merah Putih melintas. Adegan itu menghadirkan satu pesan sederhana namun sangat dalam maknanya: kemerdekaan tak lahir dari kenyamanan. Ada keberanian, air mata, bahkan nyawa yang dipertaruhkan.
Ketika Merah Putih Bertanya
Puncak pertunjukan ditandai pembacaan Seruan Merah Putih oleh Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Kota Surabaya. Hari itu, Merah Putih seolah tak lagi sekadar berkibar di tiang. Ia hadir menjelma sebagai sebuah pertanyaan.
Apakah kemerdekaan telah kita isi dengan kerja keras, kejujuran, persatuan, dan kepedulian kepada sesama? Pertanyaan itu terasa relevan. Perjuangan hari ini memang tak lagi dilakukan dengan senjata. Musuh yang dihadapi bukan lagi penjajahan dalam bentuk lama, melainkan kebodohan, kemiskinan, korupsi, perpecahan, serta lunturnya rasa kemanusiaan.
Merah dapat dimaknai sebagai keberanian untuk berkarya. Putih sebagai ketulusan untuk mengabdi. Karena itu, menjadi Kota Pahlawan bukan sekadar merawat kebanggaan atas masa lalu. Surabaya dituntut terus melahirkan pahlawan-pahlawan baru: melalui pendidikan, kebudayaan, lingkungan, teknologi, dan kemanusiaan.
Pertunjukan ditutup dengan lagu âApi Merah Putihâ dan âLagu Soerabaiaâ yang dibawakan oleh Higayon Singers, dengan latar gerak tari yang dinamis oleh sanggar tari dan Amadeus Orchestra. Dan Ketika musik perlahan berakhir, mungkin sejarah belum benar-benar selesai berbicara.
Sebab Merah Putih masih bertanya. Bukan kepada mereka yang telah gugur di medan pertempuran Surabaya 1945, melainkan kepada kita yang hidup setelah kemerdekaan, hidup di hari ini. Apa yang telah kita lakukan untuk Indonesia?
Dan barangkali, jawaban terbaik bukanlah kata-kata, melainkan karya, yakni sesuatu yang kita lakukan dengan keberanian, ketulusan, persatuan, dan cinta kepada negeri. Sekali Merdeka, tetap Merdeka. Surabaya, Merah Putih berkibar! Indonesia tetap Merdeka! (Ali Muchson)
Pemain dan Tim Artistik
Tokoh Residen Sudirman: Walikota Surabaya
Tokoh Pertiwi: Bunda Rini
Tokoh Mr. Ploegman: Hengki Kusuma
Tokoh Ajudan Hariyono: Cak Heri Purwadi
Tokoh Sidik: Yudo
Tokoh Bung Tomo: Khotib
Tokoh Abdul Wahab: Rofiq
Tokoh Arek Suroboyo: Farid
Pasukan Penerjun: Komunitas Begandring Surabaya
Interniran Belanda; Komunitas Roode Brug Surabaya
Pasukan Jepang: Komunitas Roode Brug Surabaya
Mahasiswa Mata-mata: Teater Arek Suroboyo
Pemain Patung: Komunitas Surabaya Juang
Pasukan Tangga: Teater Klompen
Warga Tunjungan: Komunitas Sepeda Kuno SENOPATI Surabaya
Rakyat Penari: Komunitas Surabaya Menari
Band & Orkestra: Amadeus
Penyanyi Lagu Soerabaja: Higayon Singers (Pritta Kartika Cs.)
Penulis Naskah: Adi Setyawan
Sutradara: Heri Lentho
Penata Tari: Farida, Agus, Ayu, Dini Ariati,
Penata musik: Nasir & Patrisna Mey Widuri
Tim Artistik: Komunitas Surabaya Juang
Daftar Pendukung
- Hotel Majapahit Surabaya â MGallery Collection
- Satuan Veteran RI
- Paduan Suara Pelajar Surabaya
- Komunitas Fotografi Surabaya
- Komunitas Teater Kampus Surabaya
- Sanggar Tari Surabaya
- Pecinta Sejarah Surabaya
- Komunitas Sepeda Kuno Surabaya
- Komunitas Teater Surabaya
- Higayone Singers
- Amadeus Orchestra
- Paskibra Surabaya
- Komunitas Sejarah Roode Brug Soerabaia dan Begandring Soerabaia
Beberapa Kesan dan Pesan
Alan Davian, Kelas VI SD Dapena Surabaya
Sebagai pengagum Bung Karno, Bung Hatta, dan tokoh-tokoh besar lainnya, ia senang membaca kisah perjuangan mereka di luar buku pelajaran. Karena itu, ketika mendapat kesempatan terlibat dalam Teatrikal Perobekan Bendera, ia merasa sangat senang dan antusias, terlebih mendapat dukungan penuh dari keluarga.
âMelalui kegiatan ini, saya semakin memahami secara lebih dekat perjuangan dan semangat pantang menyerah arek-arek Suroboyo,â katanya.
M. Manius Tabuni, Kelas XI-9/18 SMA Negeri 22 Surabaya
Menjadi reenactor dan berperan sebagai rakyat dalam Teatrikal Perobekan Bendera merupakan pengalaman luar biasa baginya. Dengan memerankan tokoh tersebut, ia dapat merasakan emosi, kesedihan, keberanian, dan semangat perjuangan yang membuatnya semakin kagum kepada para pejuang, khususnya arek-arek Suroboyo.
âSaya juga berterima kasih kepada Pak Aries Prasetyo, Guru Sejarah, yang telah memberi kesempatan untuk belajar sejarah melalui pengalaman langsung. Dari kegiatan ini saya belajar tentang perjuangan, kekompakan, penghayatan, dan keberanian untuk terus maju tanpa rasa takut,âungkapnya.
Djavier Yudha Prasetya, Kelas XII-5/12 SMA Negeri 22 Surabaya
Mengikuti Teatrikal Perobekan Bendera sebagai aktor menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Selama latihan, ia tidak hanya belajar memerankan tokoh, tetapi juga memahami sejarah melalui dialog dengan guru, sutradara, veteran, dan warga lokal.
âBagi saya, belajar sejarah dengan cara seperti ini terasa lebih hidup dan menyenangkan. Kegiatan ini mengubah pandangan saya bahwa sejarah bukan sesuatu yang sulit dan membosankan, melainkan kisah yang menarik untuk dipahami, dihayati, dan diwariskan,â ujarnya
Belva Jacinda Anindita Suprianto, Kelas XI-8/13 SMA Negeri 22 Surabaya
Menurutnya, ia senang dan antusias mendapat kesempatan terlibat dalam momen penting ini, terlebih dapat merasakan bagaimana menjadi seorang nonik Belanda. Akunya, ia berusaha menghayati karakter yang diperankan, termasuk membangun interaksi dengan pemain lain, terutama pasangan dansanya.
âDari pengalaman ini, saya banyak belajar bahwa sebuah pertunjukan sejarah tidak cukup hanya dimainkan, tetapi juga perlu dihayati bagaimana peran yang diembang agar pesan dan suasana zamannya dapat terasa,â katanya.
Seorang ibu, salah seorang penonton yang tak mau disebutkan namanya
âSalut kepada Pemkot Surabaya yang terus menghidupkan kembali peristiwa Perobekan Bendera. Menurutnya, melalui kegiatan seperti ini masyarakat Surabaya dan sekitarnya tidak sekadar mengenang sejarah, tetapi juga diajak memahami nilai keberanian, persatuan, dan semangat perjuangan para pendahulu.
“Sejarah pun menjadi lebih dekat, hidup, dan relevan bagi generasi sekarang, anak-anak Millenial dan Gen Zâ ungkapnya di sela kerumunan penonton.
Biarkan Foto Bicara





































































































