Antrean mengular para penonton saat pintu Petra Performance Hall, Petra Christian University (PCU) Surabaya, akan dibuka menjelang konser bertajuk “New Year Concert – Classical Music Goes to Campus”. Konser menghadirkan Toru Oyama (Piano), musisi dari Jepang dan Giovani Biga (Violin) dari Indonesia, Jumat (30/1/2026) malam.
Konser “New Year Concert – Classical Music Goes to Campus” ini terselenggara atas kolaborasi: Jakarta Conservatory of Music, Church Music Development Program – Petra Christian University (PCU), dan Amadeus Enterprise Surabaya.
Patrisna May Widuri, founder Amadeus Enterprise, mengatakan bahwa konser ini dirancang bukan semata sekadar pertunjukan, melainkan sebagai ruang edukasi dan inspirasi bagi generasi muda Surabaya dan sekitarnya. “Kami ingin membawa musik klasik lebih dekat ke lingkungan kampus, agar anak-anak muda tidak hanya melihatnya sebagai musik yang ‘jauh’ atau elitis, tetapi sebagai bahasa ekspresi yang hidup, relevan, dan bisa mereka tekuni secara serius”.
Ia menambahkan, sasaran utama konser ini adalah pelajar, mahasiswa, serta komunitas muda yang memiliki minat dan potensi dalam pengembangan talenta musik klasik. Melalui perjumpaan langsung dengan musisi kelas dunia dan nasional, generasi muda diharapkan memperoleh gambaran nyata tentang disiplin, dedikasi, serta kemungkinan masa depan dalam dunia musik klasik, baik sebagai performer, pendidik, maupun bagian dari ekosistem kreatif yang lebih luas.
“Konser ini sekaligus menjadi upaya menumbuhkan keberanian bermimpi dan kepercayaan diri bahwa panggung musik klasik juga terbuka bagi talenta muda Indonesia,” lanjutnya.
Selain Toru Oyama (Piano) dan Giovani Biga (Violin), konser pun dimeriahkan dengan featuring bersama Fransiskus Wendyanto (Piano); serta kolaborasi dengan Winners of Kompetisi Piano Nusantara 2025 & Festival Indonesiana 7 String Category, yakni: Annisa Meiliasari, mezzo-soprano; Catherine Sutandya, soprano; Christian Kyocera, tenor; dan Jason Suryaatmaja, baritone, pungkas Patrisna sebelum konser dimulai.
Memasuki Petra Performance Hall disambut cahaya lampu lembut menerangi panggung, suasana terasa tenang dan penuh khidmad, meski penonton yang hadir tak kurang dari 300 orang. Mereka duduk dengan santai di kursi masing-masing, menunggu dengan sabar momen yang ditunggu-tunggu, tanpa ada suara berisik. Rupanya mereka telah beradaptasi dengan jenis musik apa yang hendak mereka nikmati.
Ketika Toru Oyama dan Giovani Biga memasuki panggung, aplaus tepuk tangan penonton pun mulai memecah suasana ruang yang tadinya tenang menjadi lebih semarak hidup. Saat mereka akan memilkan piano dan mengesek biola, cahaya lembut menyorot menambahkan sentuhan suasana dramatis, suasana Performance Hall menjadi beku. Penampilan mereka yang elegen, dan penuh percaya diri, memancarkan aura kepiawaian.
Sepanjang konser “New Year Concert – Classical Music Goes to Campus” suasana jadi hening, seakan ruangan membisu turut mendengarkan nada demi nada yang dilantunkan dari atas panggung. Tak ada saling bercakap antarpenonton, tak ada berisik, tak ada gerakan tubuh penonton, yang diizinkan bergerak kecuali kebutuhan menghirup udara.
Namun, suasana mendadak berubah dari hening menjadi gegap gempita: aplaus, dan tepuk tangan menggema di setiap sudut ruangan Petra Performance Hall PCU Surabaya dari ratusan penonton. Mereka mengapresiasi atas kekaguman mereka setelah menikmati setiap akhir dari salah satu bagian repertoar yang ditampilkan para musisi.
Secara berurutan “New Year Concert – Classical Music Goes to Campus” menampilkan musisi sebagai berikut:
- Catherine Sutandya (Winner of KPN 2025, Tembang Puitik Category & Winner of Festival Indonesia Clssical Singing Category), dengan diringi piano yang dimainkan oleh Fransiskus Wendyanto (piano), ia melantunkan “Sailor Song (Joseph Haydn)”.
- Jason Suryaatmaja (Winner of KPN 2025, Tembang Puitik Category) dengan diirngi piano yang dimainkan oleh Hartanti Irwanto (piano), ia membawakan “Frondi Tenere… Ombra Mai Fu (from opera Serse-Georg Friedrich Händel)”.
- Kolaborasi Toru Oyama (piano) dengan Giovani Biga (violin), mereka membawakan “Mozart: Sonata K. 376 (I. Allegro, II. Andante, III. Rondo Allegretto grazioso).
- Kolaborasi Toru Oyama (piano) dengan Giovani Biga (violin), mereka membawakan “Bloch: Baal Shem” (1. Vidui, 11. Nigun, 111. Simchas Torah).
- Christian Kyocera Prasetyo, tenor (Winner of KPN- 2013 Tembang Puitik Category), dengan diiring piano yang dimainkan oleh Fransiskus Wendyanto, ia membawakan “Una Furtiva Lagrima from opera L’elisir d’amore (Gaetano Donizetti)”.
- Annisa Meiliasari, mezzo-soprano (Winner of KPN 2015 Tembang Puitik Category & Talera of Surabaya Opera Academy, Gianni Schicchi cast.), diiringi piano yang dimainkan oleh Fransiskus Wendyanto, ia membawakan “Amour! Viens Aider ma Faiblesse from opera Samson et Dalila (Camille Saint-Saëns)”.
- Kolaborasi Toru Oyama (piano) dengan Giovani Biga (violin), mereka membawakan “Fauré: Dolly op. 56 (for Piano Duet)”: No. 3 Le jardin de Dolly dan No. 4 Ketty-Valse.
- Kolaborasi Toru Oyama (piano) dengan Giovani Biga (violin), mereka membawakan “Fauré: Violin Sonata No. 1, Op. 13”: I. Allegro molto, II. Andante, III. Scherzo: Allegro vivo, dan IV. Finale: Allegro quasi presto.
- Giovani Biga (Violin) collaboration with Winners of Kompetisi Piano Nusantara Plus 2025 and Festival Indonesiana 7 String Category, yakni: Alexander Kyle Hudyana – Arthur Amadeo Adimulia – Avelina Swastika Dharma – Catheleen Sophia Hsu Chloe Adeline Sentono – Claire Sonia Hsu – Clift Richard – Elaine Isabelle Jie – Emily Louisa Haryono Emily Yongnardi – Isabella Nikita Sumargo – M. Wishnu Sutta Wiriya – Nyrelle Elena Kanasut – Sean Kenneth Hudyana – Steven Ongkomihardjo – Tavia Conchietta Widjojo – Yosefin J.G. Panggabean. Seniors: Elizabeth Suryani Ongko – Hartanti Irwanto – Kenno Richie, membawakan “Mozart: Eine Kleine Nachtmusik, I. Allegro.
Sekitas Profil para Artis
Toru Oyama (Piano)
Toru Oyama adalah pianis Jepang dengan reputasi internasional, dikenal atas perpaduan penguasaan teknik, kepekaan puitis, dan kejelasan musikal. Ia tampil luas di Eropa, Asia Tenggara, Amerika Serikat, Meksiko, dan Jepang, baik dalam resital solo, chamber music, maupun sebagai solis orkestra, di kota-kota seperti London, Amsterdam, Frankfurt, Lucerne, Tokyo, Jakarta, dan Mexico City.
Kritikus Eropa dan Indonesia secara konsisten memuji ekspresinya yang halus namun bertenaga, serta kemampuannya menghadirkan dialog musikal yang hidup dengan ansambel dan orkestra. Ia kerap tampil dalam format chamber music, termasuk resital duo dengan pemain biola Elisabeth Perry, serta bersama Rietveld Ensemble.
Toru menempuh pendidikan Sastra Inggris di Universitas Keio, Tokyo, sebelum melanjutkan studi musik di Royal College of Music London dan Hogeschool voor de Kunsten Utrecht, Belanda. Selain sebagai performer, ia juga pendidik berpengalaman; pada 2014–2015 menjabat sebagai Artist in Residence di Konservatorium Musik Jakarta dan aktif memimpin kelas master di Asia Tenggara, dengan pendekatan pedagogi yang holistik dan kontekstual.
Giovani Biga (Violin)
Giovani Biga adalah pemain biola Indonesia berusia 29 tahun yang dikenal sebagai salah satu musisi muda paling menonjol di generasinya. Ia memulai studi biola sejak usia 9 tahun dan melakukan debut solo orkestra pada usia 14 tahun. Lulusan Summa Cum Laude, Giovani meraih gelar Sarjana dan Magister Pertunjukan Biola dari Hochschule für Musik Detmold, serta melanjutkan pendalaman di Hochschule für Musik “Hanns Eisler” Berlin.
Ia pernah menjabat sebagai Concert Master dan solis di sejumlah orkestra terkemuka Indonesia, serta tampil bersama ansambel internasional seperti Hamburger Camerata dan Detmolder Kammerorchester. Giovani juga mewakili Indonesia di Asian Youth Orchestra dan tampil di panggung prestisius seperti Seoul Arts Center.
Prestasinya mencakup penghargaan utama dari Kompetisi Biola Internasional Stockholm, Kompetisi Musik Internasional Arnuero (Spanyol), dan Auryn Kammermusik Wettbewerb (Jerman). Selain aktif mengajar, ia merupakan anggota Jakarta Trio dan menaruh perhatian khusus pada pengembangan chamber music. Ia memainkan koleksi biola karya Kurt Brandt (Markneukirchen, Jerman 1945).
Fransiskus Wendyanto (Piano)
Fransiskus Wendyanto menyelesaikan studi piano di Het Utrechts Conservatorium, Belanda, di bawah bimbingan Prof. Martijn van den Hoek dan Prof. Henry Kelder. Bersama soprano Bernadeta Astari dan klarinetis Eric Man, ia memenangkan Utrecht Chamber Music Marathon 2011 dan tampil di Concertgebouw Amsterdam dalam siaran Radio 4 Nederland.
Ia juga berpartisipasi dalam Schumann Festival Zaltbommel dan melakukan tur konser di Belanda bersama soprano Channa Malkin. Aktivitasnya mencerminkan ketertarikan kuat pada repertoar vokal dan chamber music.
*
Pada akhirnya, “New Year Concert – Classical Music Goes to Campus” bukan sekadar pertunjukan musikal, melainkan pengalaman batin. Musik klasik hadir sebagai bahasa sunyi yang mampu melembutkan hati, meredakan emosi, dan mengajak pendengarnya kembali berdamai dengan dirinya sendiri. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba cepat dan bising, konser ini menghadirkan jeda—ruang hening tempat manusia belajar mendengar dengan penuh kesadaran.
Nada-nada piano dan gesekan biola tidak hanya menyusun harmoni, namun juga menatarapikan perasaan yang mungkin tercerai-berai. Di kampus, ruang belajar intelektual, musik klasik menemukan rumahnya sebagai pengingat bahwa pendidikan sejati tidak hanya membentuk pikiran, tetapi juga kepekaan rasa. Dari Petra Performance Hall, musik berbicara pelan namun dalam: bahwa keindahan, ketika dihayati bersama, mampu menumbuhkan empati dan memperhalus kemanusiaan kita. (Ali Muchson)
Sumber:
Amadeus Enterprise
Biarkan Foto Bicara
New Year Concert – Classical Music Goes to Campus
















































