Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia

Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia
Share this :

Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” karya Ady Setyawan diselenggarakan di NLC (National Lasik Center) Jalan Dharmahusada Indah Utara 41 Surabaya, Jawa Timur. Hadir sebagai narasumber selain Ady Setyawan sebagai penulis buku, juga Rachmad Priyandoko sebagai pembuat cover buku, dan Sahar Bawazeer MD yang mengunjungi dan memotret Replika Kapal Batavia di Lelystad – Belanda, Sabtu (26/3/2022).

Rachmad Priyandoko atau dikenal dengan panggilan ‘C4KM4D’ (baca : Cak Mad) menuturkan bahwa ketika menerima draft buku ‘Tragedi Batavia 1629’, tentu mengharuskannya membaca secara detail untuk mengetahui isi buku sehingga dapat menuangkannya dalam rancangan cover buku. Lantaran ketahanan membaca terbilang rendah, ‘C4KM4D’ menyerahkan draft buku kepada sang istri untuk membaca. Kebetulan sang istri pembaca tangguh.

“Saya akui membaca itu merupakan aktivitas yang terasa berat sekali, menangkap dan memahami sesuatu cenderung lebih cepat jika secara visual atau audio. Makanya saya minta tolong isteri untuk bercerita setelah dia membaca. Usai mendengar cerita istri saya yang tergambar adalah kematian,” tutur owner teamwork “Arek Mboyo”.

Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia
Sahar Bawazeer MD, Rachmad Priyandoko, dan Ady Setyawan
Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia
Ady Setyawan sedang memaparkan seputar isi buku ‘Tragedi Batavia 1629’

Lebih lanjut ‘C4KM4D’ menambahkan, ide dasarnya adalah kapal besar yang sedang mengarungi samudera pada malam hari dengan latar rembulan besar yang bersinar. Kemudiani ide tersebut dituangkan dengan gambaran bahwa kapal tersebut dibayangi oleh kematian. Gambaran itu lantas ‘C4KM4D’ wujudkan dengan mengganti rembulan tersebut dengan bentuk tengkorak sebagai background cover.

“Kapal berlayar penuh harapan namun berakhir dengan kenyataan yang sangat jauh dari harapan tersebut. Gelombang laut juga saya tampilkan sebagai simbol dari keguncangan, kegaduhan, kepanikan, ketidakseimbangan. Oleh karena itu, saya memilih menggunakan gambar yang menguatkan kesan kematian dalam pembuatan covernya,” tambahnya.

Dalam pandangan ‘C4KM4D’, tengkorak tersebut menganologikan suatu hal yang sangat mencekam, kengerian, berbahaya, penuh rintangan, atau bahkan simbol kematian. Sedangkan malam hari disimbolkan sebagai suasana kegelapan. Karena sepanjang perjalanan baik di laut maupun di daratan, perjalanan ini terasa gelap, lebih-lebih bagi para penumpang yang berada di dek kapal terbawah.

Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia
‘C4KM4D’ Rachmad Priyandoko menunjukkan cover buku
Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia
‘C4KM4D’ Rachmad Priyandoko memaparkan makna cover buku

“Jadi secara keseluruhan makna yang tersirat dalam cover buku, yakni sedari awal perjalanan kapal penuh dengan harapan, nyatanya terbayangi dengan risiko kematian setiap saat. Di samping tentang hal yang mengerikan lainnya, seperti pelecehan seksual, pembantaian massal, keserakahan manusia yang penuh dengan hasrat dan gejolak kegelapan nurani demi keuntungan pribadi,” pungkasnya.

Sementara itu, Tika Yulia Estuningtyas Widyastuti, istri ‘C4KM4D’, menuturkan pengalaman ketika membaca draft “Tragedi Batavia 1629” bahwa kesan pertama adalah takjub. Akhir-akhir ini dia sering membaca fan fiksi Boyband Korea dengan aneka genre, ketika disodori draft ini rasanya fan fiksi yang biasa dia baca naik beberapa kali lipat. Lantaran ini bukan fiksi tetapi cerita sejarah yang benar-benar terjadi, lengkap dengan data tertulis, baik bersumber dari jurnal, artifak dan sebagainya.

“Gaya penceritaan Mas Aset, demikian saya biasa memanggil Ady Setyawan, membuat saya terhanyut. Saya serasa berada di tengah tokoh dan karakter cerita itu, menyaksikan langsung beberapa kejadian yang menurut saya tidak menunjukkan bangsa yang beradab,” tuturnya.

Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia
Sahar Bawazeer MD
Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia
Sahar Bawazeer MD sedang menceritakan pengalaman ketika memotret Replika Kapal Batavia

Awalnya, lanjut Tika, merasa buku dokumenter akan terasa monoton dibaca dengan paparan data yang rumit, terinci, sistematis, atau catatan kaki berbaris-baris. Namun tidak, mas Aset menceritakannya dengan gaya bahasa yang dia pahami dan temui di fan fiksi. Seolah terhanyut, dirinya diajak berkenalan dengan karakter satu per satu, pun dengan kejadian yang mereka alami secara runtun.

Masih menurut Tika, yang paling membekas adalah bab kapal terdampar, aneka peristiwa di situ entah kenapa seperti menyedot energinya. Usai membacanya dada terasa sesak, dan perasaan tidak nyaman. Jadwal membaca yang rutin Tika lakukan sebelum tidur, bukannya membuat dia tidur nyenyak malah membuatnya makin tak bisa tidur.

Beberapa trigger warning atau konten warning, lanjutnya, yang biasa dia hindari ternyata ditemukannya dalam kisah ‘Tragedi Batavia 1629’ ini. Yakni penghianatan, pelecehan seksual, pembunuhan, pembantaian dan aneka rentengan konten dewasa lainnya dalam cerita ini. Sungguh, mendebarkan, menegangkan, serasa mengaduk-aduk emosi, dan sekaligus menyedihkan.

Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia
Aries Cervelo foto bersama Ady Setyawan (Foto : alisson.id)
Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia
Bagus Mohamad Ramadhan foto bersama Ady Setyawan (Foto : alisson.id)

Dalam kesempatan ini Tika mengapresiasi, empat jempol ke atas untuk mas Aset, mampu menceritakan ulang fakta ini dalam balutan narasi yang ciamik. Kalau Tolkien bercerita tentang Penguasa kegelapan pemilik cincin sakti berdasarkan pengalamannya semasa berperang. Mas Aset malah membawa nuansa fantasi itu dalam menceritakan ulang fakta sejarah. Benar benar keren.

“Selanjutnya, saya juga merasa senang, karena suami saya mampu memahami ketika saya bercerita ulang tentang isi draft buku tersebut, dan bisa menuangkannya dalam desain cover buku yang benar-benar menggambarkan perjalanan mengarungi lautan itu demi mencapai Nusantara,” pungkasnya.

Di sisi lain, Sahar Bawazeer MD yang mengunjungi dan memotret Replika Kapal Batavia di Lelystad – Belanda, menuturkan bahwa ketika masuk di dalam kapal Batavia langsung terbayang betapa penuh sesak kapal membawa 332 jiwa dan berbagai perbekalan. Tidak hanya barang-barang, namun juga hewan seperti babi dan lain-lain.

Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia
Sewog Group foto bersama Ady Setyawan (Foto by Crew NLC)
Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia
Foto bersama peserta Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” (Foto by Crew NLC)

Tampak jurang pemisah begitu dalam, lanjutnya, antara kelompok pimpinan, awak kapal, pekerja, dan para tenaga kasar lainnya ditandai oleh perbedaan ruang atau dek kapal. Sungguh sangat tak manusiawi, para pekerja yang menghuni di dek kapal paling bawah, mereka bercampur dengan berbagai hewan, kotoran hewan dan bahkan manusia, tikus, kecoa, dan lain-lain.

“Kebetulan saya masuk sendirian, memotret detail-detail kapal. Yang terbayang adalah perjalanan panjang melelahkan dalam kapal penuh sesak, melintas benua dan samudera dengan kondisi yang sangat tak beradab. Terbayang juga, kepada sesama bangsa sendiri saja dengan misi dan tujuan yang sama berlaku tak manusiawi. Kejam. Apalagi kepada bangsaku saat itu!’ pungkas perempuan berprofesi dokter.

Sebelum pemaparan peluncuran dan diskusi tentang buku “Tragedi Batavia 1629” dimulai, acara diawali dengan pengenalan selayang pandang tentang NLC (National Lasik Center). NLC adalah pusat bedah refraksi laser (pusat lasik) yang berkomitmen memberikan layanan lasik terbaik dengan dokter spesialis mata, ahli di bidang operasi bedah refraktif, dan didukung oleh teknologi modern. NLC sudah tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia
Paparan selayang pandang tentang NLC (National Lasik Center)

You may also like

4 thoughts on “Peluncuran dan Diskusi Buku “Tragedi Batavia 1629” : Cerita Di Balik Pembuatan Cover dan Foto Replika Kapal Batavia”

    1. Mas Santoso A.,
      Memang benar, cover buku yang menarik membuahkan daya pikat juga, selain mesti mampu menerjemahkan inti dari isi buku tersebut.
      Matur nuwun atas apresiasi Panjenengan.
      Tetap sehat selalu nggih.

Leave a Reply to Ali Muchson Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *