Peringatan Hari Ibu ke-97 Tahun 2025: Refleksi dan Apresiasi Peran Ibu dalam Keluarga dan Pengasuhan

  • EDUKASI
Peringatan Hari Ibu ke-97 Tahun 2025: Refleksi dan Apresiasi Peran Ibu dalam Keluarga dan Pengasuhan
Share this :

“Ibu”
D. Zawawi Imron

…………………………………………………
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
…………………………….

Cuplikan bait dari puisi karya D. Zawawi Imron berjudul “Ibu” ini bukan sekadar ungkapan kasih seorang anak kepada sosok yang melahirkannya, melainkan penegasan nilai luhur tentang peran ibu sebagai “pahlawan” paling awal dan utama dalam kehidupan manusia.

Yakni, pahlawan yang tidak lahir dari medan tempur atau lembar sejarah resmi, namun dari ruang domestik yang sunyi, dari dapur, kamar tidur, ruang belajar, dan pelukan yang sering luput dari sorotan.

Ibu hadir bukan dengan sorak-sorai kemenangan, melainkan melalui pengorbanan yang senyap, ketekunan yang tak tercatat, dan cinta kasih yang bekerja tanpa jeda dalam keseharian. Dari rahim dan pelukannya, tumbuh manusia-manusia yang kelak membentuk watak, nilai, dan arah peradaban bangsa.

Pun di rumah, jauh sebelum anak mengenal dunia luar, ibulah yang bersama dengan ayah telah menjadi guru sekolah pertama dan utama tentang empati, keteguhan, dan kemanusiaan. Rumah sejatinya bukan sekadar bangunan fisik, namun ruang batin tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan, dilatih, dan diwariskan secara perlahan.

Di sanalah anak belajar mengenal benar dan salah, memahami makna tanggung jawab, serta merasakan arti dicintai tanpa tapi, sebuah fondasi sunyi yang kelak menentukan cara ia memandang diri, sesama, dan dunia.

Maka, ketika nama ibu disebut sebagai pahlawan pertama, sesungguhnya kita sedang mengakui satu hal mendasar bahwa perjuangan bangsa berakar dari rumah. Dari pengasuhan yang penuh kesadaran tanpa minta balasan.

Pun dari nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini, dari relasi yang sehat antara kasih dan tanggung jawab. Kesadaran inilah yang menjadi ruh terdalam Peringatan Hari Ibu di Indonesia, bukan sekadar seremoni, melainkan ajakan untuk merenungi kembali fondasi kehidupan berbangsa.

Berangkat dari pemahaman tersebut, Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-97, tanggal 22 Desember 2025 di Indonesia memiliki makna yang berbeda dengan World Mother’s Day yang secara internasional diperingati setiap Minggu kedua bulan Mei.

Jika World Mother’s Day lebih menekankan ungkapan kasih sayang personal kepada ibu, maka PHI berakar kuat pada sejarah perjuangan perempuan Indonesia dalam memperjuangkan martabat, kesetaraan, serta peran strategis perempuan dalam kehidupan sosial, budaya, dan kebangsaan. Meski sama-sama penting dan saling melengkapi, namun tidak dapat disamakan.

PHI mengajak para ibu, keluarga, dan masyarakat untuk kembali memaknai rumah sebagai ruang yang aman, hangat, dan menumbuhkan. Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak-anak, ruang pertama di mana mereka belajar merasa diterima, didengar, dan dihargai.

Dari keluargalah anak mengenal empati, komunikasi yang sehat, serta rasa aman yang kelak membentuk ketahanan mental dan sosialnya. Dalam konteks ini, penguatan peran ibu menjadi kunci penting dalam membangun ketahanan keluarga sekaligus ketahanan bangsa.

Lebih jauh, PHI mengingatkan bahwa tanggung jawab pengasuhan bukan semata urusan ibu seorang diri. Ia adalah kerja kolektif keluarga dan masyarakat. PHI mengajak seluruh elemen untuk bersama membangun lingkungan yang aman, setara, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Dalam dinamika zaman yang terus bergerak, tak sedikit ibu yang menjalani peran ganda, yakni merawat kehidupan di rumah sekaligus bekerja di ruang publik. Peran ini bukan sekadar soal ekonomi atau pilihan personal, melainkan cerminan ketangguhan perempuan dalam merespons tuntutan zaman.

Namun, di balik itu tersimpan pertanyaan moral yang lebih dalam: sudahkah sistem sosial, budaya kerja, dan relasi keluarga benar-benar berpihak dan adil kepada ibu? Sebab peran ganda kerap menuntut energi berlipat, sementara pengakuan dan dukungan belum selalu seimbang.

Di sinilah PHI menemukan relevansinya, sebagai pengingat bahwa memuliakan ibu berarti menghadirkan kebijakan, empati, dan pembagian peran yang manusiawi, agar ibu tidak dipaksa menjadi kuat sendirian dalam sunyi.

Sekilas tentang PHI

Dilansir dari laman Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (kemenpppa.go.id), bibit kebangkitan perjuangan perempuan Indonesia telah tumbuh jauh sebelum masa kemerdekaan. Jejaknya tampak dari perjuangan para pendekar perempuan di berbagai daerah, seperti Cut Nyak Dien di Aceh, Nyi Ageng Serang di Jawa, R.A. Kartini di Jawa Tengah, dan banyak tokoh perempuan lainnya yang berani melampaui batas zamannya.

Setelah kelahiran Budi Utomo pada tahun 1908, kesadaran kolektif perempuan semakin menguat melalui lahirnya berbagai perkumpulan perempuan di berbagai daerah, seperti Aisyiyah, Wanita Katolik, Putri Merdeka, dan organisasi lainnya.

Perempuan tidak lagi sekadar menjadi objek sejarah, namun mulai menempatkan diri sebagai subjek perubahan. Hal ini kian ditegaskan dalam Kongres Pemuda Indonesia pertama pada 30 April hingga 2 Mei 1928, yang menempatkan isu kedudukan perempuan sebagai salah satu pembahasan penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Peringatan Hari Ibu kemudian ditetapkan secara nasional setiap tanggal 22 Desember melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959, yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 16 Desember 1959. Penetapan ini merujuk pada peringatan 25 tahun Kongres Perempuan Indonesia pertama yang diselenggarakan pada 22–25 Desember 1928.

Kongres bersejarah tersebut dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra. Organisasi-organisasi ini terinspirasi oleh perjuangan para pahlawan perempuan Indonesia pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, seperti Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, hingga Rasuna Said.

Kongres tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya meningkatkan hak-hak perempuan, khususnya di bidang pendidikan dan pernikahan, sekaligus menegaskan peran perempuan sebagai penentu arah masa depan bangsa.

Penutup

Di tengah riuh perayaan dan ungkapan seremonial, Peringatan Hari Ibu sejatinya mengajak kita untuk sejenak hening untuk merefleksi dan mengapreasiasi. Untuk mengingat kembali bahwa di balik kokohnya bangsa, ada ibu-ibu yang bekerja dalam diam, merawat tanpa pamrih, dan mendidik tanpa tepuk tangan.

Meski nama mereka tak tercatat dalam buku sejarah, namun jejaknya hidup dalam nilai yang kita pegang, dalam cara kita memperlakukan sesama, berempati, dan dalam pilihan-pilihan kecil yang menentukan arah hidup kita.

Pada akhirnya, menghormati ibu bukanlah perkara satu hari dalam setahun, melainkan kesediaan untuk terus menjaga rumah sebagai ruang cinta, merawat pengasuhan sebagai amanah kemanusiaan, dan meneruskan nilai-nilai kehidupan yang pernah ditanamkan dengan sabar oleh seorang ibu: dalam doa, dalam diam, dan dalam kasih yang tak pernah benar-benar usai. (Ali Muchson)

Featured image by Gemini AI

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *