Renungan Hari Jumat: Ketika Badai Hidup Menghantam Tiba-Tiba, Jangan Hilang Pegangan

Renungan Hari Jumat: Ketika Badai Hidup Menghantam Tiba-Tiba, Jangan Hilang Pegangan
Share this :

Dalam perjalanan hidup, kita acapkali merasa yakin telah berencana segalanya dengan begitu rapi. Kita merancang sesuatu, menetapkan langkah-langkah, dan menanam harapan. Namun, kenyataannya tak selalu seindah skenario yang kita reka-reka sendiri. Ada kalanya hidup berbelok secara tiba-tiba. Mengejutkan, menggoncangkan, melukai, dan bahkan meruntuhkan segalanya.

Musibah, cobaan, badai hidup, maupun ujian kehidupan bisa datang kapan saja. Entah siang atau malam, tak menunggu kita siap atau tidak. Datangnya bisa dari arah yang tak terduga, melalui siapa saja, atau bahkan datang dari diri sendiri. Lantas orang-orang sekitar hanya bisa menyalahkan, mencibirkan, dan mencemooh dari cara pandang pikirnya tanpa ada rasa empati.

Namun, satu hal yang patut kita renungkan dalam-dalam, jika badai hidup atau ujian kehidupan itu memang suatu takdir yang telah digariskan oleh Allah, maka seberapa hati-hati kita, dan sekuat apa pun usaha kita untuk mencegah, menghalangi, atau menghindarinya, kita tetap tak akan mampu melawan kuasa-NYA.

“Aku mengalami masa ketika pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam hati. Mengapa ini terjadi padaku? Apa aku sebodoh itu hingga pantas mendapat cobaan hidup secara tiba-tiba yang mengoncangkan pikiran. Meski tak seberat Dahlan Iskan yang dipolisikan oleh Jawa Pos, koran yang ia besarkan?”

Namun, dengan perlahan, dan dalam perenungan yang panjang, serasa aku menemukan jawaban yang entah dari mana dihembuskan ke dalam jiwa. Bukan karena aku bodoh, bukan aku tak baik, bukan pula lantaran aku tak layak. Namun, karena Allah sedang menyiapkan cerita yang tak biasa, cerita yang luar biasa, meski untuk sementara terasa sangat getir dan menyesakkan dada.

Inilah yang acapkali luput dari kesadaran kita. Kita ingin segala hal berjalan sesuai keinginan, sesuai kebutuhan, sesuai doa-doa yang kita langitkan dengan penuh harap. Namun, rencana Allah tak selalu sejalan dengan rencana kita. Ia Maha Tahu, dan Ia menata segalanya dengan kebijaksanaan yang melampaui nalar atau logika manusia.

Ada masa-masa ketika kita merasa jatuh, ketika usaha tak membuahkan hasil, ketika doa seolah tak kunjung dijawab. Namun, siapa sangka, justru dari kegagalan itu, kita dipertemukan dengan hikmah paling berharga. Dari kehilangan, kita belajar tentang ikhlas. Dari penantian, kita belajar tentang sabar. Dan dari kehancuran, kita belajar membangun ulang diri dengan lebih kuat.

Kini membuat tersadar, hidup ini jangan hanya berjalan menurut rencana diri sendiri, namun libatkan serta rencana Allah di dalamnya. Sejatinya, ketika kita melibatkan-NYA dalam setiap langkah, kita akan lebih siap menerima apa pun hasilnya. Entah itu sesuai harapan, atau justru kebalikannya. Kita yakin, apa pun itu pasti ada hikmah, dan tak ada yang sia-sia bersama-NYA.

Maka, jika saat ini kita sedang dalam masa sulit, sedang diuji, sedang dihantam badai hidup, tenanglah. Jangan buru-buru mengutuk keadaan atau menyalahkan diri sendiri, atau orang lain. Barangkali, itulah jalan yang sedang Allah buka untuk menjadikan versi terbaik dari diri sendiri. Bertahan, dan satu langkah kecil menata hidup sudah cukup untuk membuktikan bahwa kita tak menyerah.

Kita perlu meyakini, rencana Allah selalu lebih baik, meski tak selalu mudah dimengerti di awal. Pada waktunya nanti, kita akan mengerti bahwa ternyata semua luka itu memang bagian dari kasih sayang-NYA. Tetap terus melangkah. Jangan lelah melangitkan doa, sebab Allah tak pernah tidur dalam menjaga dan menata hidup kita. Bersandar dan berpeganglah kepada-NYA, Allah senantiasa akan menuntun dan menjaga kita.

“Hasbunallah wa ni’mal wakiil. Ni’mal maula wa ni’man nasiir. (Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baiknya wakil. Dan Dia adalah sebaik-baiknya pelindung, dan Dia adalah sebaik-baiknya penolong.)”

Apa yang menurut pandangan kita itu baik, belum tentu baik menurut pandangan Allah. Namun, apa yang baik menurut pandangan Allah, itu pasti baik untuk kita, meski kita belum mampu memahaminya barangkali hingga hari ini dan saat ini.” (Ali Muchson).

Featured image: by chatgpr/OpenAI

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *