Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 – Fase 1

Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Share this :

Tugu Tegak di Langit Surabaya

Di bawah langit malam Surabaya
tegak sebuah tugu menjulang
bukan sekadar beton dan prasasti
tapi saksi nyawa dan darah
yang tumpah demi merdeka.

10 November 1945
dentuman mortir dan meriam
teriakan arek-arek Suroboyo
tak tunduk bayonet dan tembakan
meski maut mengintai mereka.

Surabaya saat menyala!
Api perlawanan bakar jiwa
satu kata, merdeka…!!!
meski tubuh rebah
meski nyawa gugur.

Wahai pahlawan!
jejakmu terpatri di tanah ini
di udara yang kami hirup
di nadi kebebasan
yang kini kami nikmati.

Tugu ini menjulang untukmu
menitip pesan bagi generasi kini
jangan biarkan semangat pudar
jangan biarkan tekad menyerah
sebab kemerdekaan telah ditebus
dengan darah dan air mata.

Malam Surabaya berbisik lirih,
“Terima kasih, pahlawan,
kami tetap ada
karena kau rela berkorban
kami tetap tegak
lantaran kau tak sudi ditundukkan.”

Nadi Surabaya berdenyut
di balik riuh kota
yang tak pernah tidur
gema bisu tugu itu
“Jangan lupa darah tlah mengalir
jangan sia-siakan merdeka.”

Demikian puisi berjudul “Tugu Tegak Di Langit Surabaya” karya Ali Muchson yang bacakan oleh Listyono, penyair Surabaya, sebagai pembuka drama teatrikal bertajuk “Pertempuran Surabaya 1945 Fase 1”. Dipentaskan oleh komunitas Roodebrug Soerabaia atas kerja sama dengan UPTD Tugu Pahlawan, Museum, Balai Pemuda, dan Taman Hiburan Rakyat – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, di pelataran Monumen Tugu Pahlawan Surabaya, Minggu (14/9/2025) pagi.

*

Pada tanggal 19 September 1945 pukul 16.00 sore dalam sebuah rapat raksasa di lapangan Tambaksari Surabaya, rakyat Surabaya berkumpul untuk mendengarkan pidato di tengah lapangan, sedangkan beberapa tentara Jepang berjaga di sekelilingnya. Setelah mendengarkan pidato Proklamasi 17 Agustus 1945, segenap Arek-Arek Suroboyo berkeliling kota meneriakkan yel-yel.

“Merdekaa…, merdekaaa…, merdekaaaa…!”, yel-yel segenap Arek-Arek Suroboyo tersebut sembari mengepalkan tangan-tangan mereka ke atas. Mereka adalah para pemuda, pelajar, kaum buruh, tukang becak, kaum perempuan hingga hampir seluruh rakyat Surabaya. Meski tentara Jepang berjaga di sekeliling Tambaksari dengan senjata lengkap, hal itu tak menyurutkan semangat mereka untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan.

Berkeliling kota meneriakkan kepada para pemuda, pelajar, kaum buruh, tukang becak, kaum perempuan hingga seluruh rakyat perihal berita kemerdekaan. Tentara Jepang berjaga di sekeliling Tambaksari dengan senjata lengkap. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat mereka dalam membela untuk mempertahankan kemerdekaan.

Gambaran suasana itu, sebagaimana ditulis pada sebagian yang dikupas dari buku karya Ady Setyawan, yakni “Surabaya di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu?” dan “Kronik Pertempuran Surabaya – Media Asing dan Historiografi Indonesia”

Satrio Sudarso, Ketua Roode Brug Soerabaia yang sekaligus sebagai Scenario Created, menuturkan bahwa saat Arek-Arek Suroboyo usai memdengarkan pidato kemerdekaan, mereka merasa yakin bahwa Indonesia sudah merdeka, kemudian mereka melakukan pelucutan senjata terhadap pasukan Jepang. Pada permulaan Oktober 1945 boleh dikatakan bahwa kekuatan Jepang telah menyerah pada Arek-Arek Suroboyo.

“Dimulai dari penyerbuan dan pendudukan markas Kenpetai, markas Angkatan Laut Jepang di Gentengkali, markas angkatan darat Jepang di Don Bosco, hingga penyerahan gudang mesiu di Kamal jatuh ke tangan rakyat. Selanjutnya terjadi pengambilalihan gedung-gedung, perusahaan negara dan tempat umum penting lainya,” tuturnya.

Dalam situasi revolusioner pada 25 Oktober 1945, lanjutnya, kapal tentara Inggris atas nama Sekutu merapat di Surabaya dari Brigade 49 di bawah pimpinan Brigadier A.W.S. Mallaby, yang terdiri atas sekitar 6000 orang dengan misi awal utamanya adalah mengevakuasi tawanan perang dan interniran, serta melucuti senjata dan memulangkan tentara Jepang.

“Esok harinya tentara sekutu mulai bergerak dari Penjara Kalisosok untuk membebaskan para tahanan NICA, lalu terus bergerak ke tempat-tempat tawanan Jepang dan interniran Belanda lainya,” lanjut Satrio Sudarso.

Pada awalnya misi pasukan Inggris datang ke Indonesia dengan tiga maksud, yakni membebaskan warga Eropa yang menjadi tawanan perang, melucuti dan memulangkan tentara Jepang, serta memulihkan tatanan di seantero Indonesia sampai Belanda dapat mengelola kembali bekas kawasan jajahannya itu, pungkas pria sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Dalam Catatan Ruslan Abdulgani, 100 Hari di Surabaya Yang Menggemparkan Indonesia (dalam Kronik Pertempuran Surabaya) bahwa pada 27 Oktober 1945, siang hari, beberapa pesawat Inggris menjatuhkan selebaran yang memerintahkan penduduk Surabaya dan Jawa Timur untuk menyerahkan kembali semua senjata dan peralatan Jepang yang dikuasainya kepada tentara Inggris dengan ancaman.

“Persons seen bearing arms and refusing to deliver them to the Allied Forces are liable to be shot.” (Orang-orang yang memegang senjata dan menolak memberikan senjata kepada pasukan Sekutu akan ditembak),” demikian kalimat ancaman tentara Sekutu.

Lantaran itu, Residen Sudirman, drg. Moestopo, dan lain-lain., berunding dengan Brigadier Mallaby sebagai pimpinan Sekutu di Surabaya. Indonesia menyampaikan bahwa selebaran yang dijatuhkan pesawat Sekutu bertentangan dengan kesepakatan antara pihak Sekutu dan pihak Indonesia pada 26 Oktober 1945.

Sementara itu, pada 28 Oktober 1945 pasukan Sekutu, Gurkha, menduduki lapangan terbang Morokrembangan dengan memberikan ultimatum kepada para pemuda untuk meninggalkan tempat dalam waktu empat Jam. Tindakan Sekutu tersebut kemudian disusul dengan menduduki gedung-gedung penting, dan merampas mobil serta senjata para pemuda.

Hal itu, membuat seluruh rakyat terkejut hingga membuat amarah yang membara. Seketika itu, di malam harinya mulai pecah pertempuran antara pasukan Inggris dengan senjata lengkap tersebar di dua ujung Kota Surabaya dengan pasukan Indonesia yang terdiri atas TKR, laskar PRI, dan laskar-laskar lainya dengan senjata ringan sampai berat, meriam dan tank rampasan dari Jepang.

Akibatnya markas dan perkemahan pasukan Inggris dikepung oleh pasukan pemuda dan rakyat, termasuk pengepungan di gedung Lindeteves dan Internatio, juga perebutan lapangan terbang Morokrembangan. Meski dengan persenjataan yang jauh lebih rendah kelasnya, namun tidak menyurutkan semangat juang pasukan Republik dengan tekad bulat “Merdeka atau Mati!”.

Di tengah berkecamuknya pertempuran, pada 29 Oktober 1945 Presiden Sukarno dan beberapa pejabat tinggi, disertai sejumlah perwira Inggris dan wartawan asing datang ke Kota Surabaya guna menyerukan gencatan senjata. Pada 30 Oktober 1945 Jendral Hawtorn tiba di Surabaya turut melangsungkan perundingan tingkat tinggi dengan ‘Biro Kontak’.

Untuk sementara waktu tembak menembak berhenti sejenak, lantaran utusan Indonesia
bersama pihak Inggris memasuki gedung untuk menghentikan tembakan dari dalam. Tak lama kemudian ada lemparan granat dari tentara Inggris yang menyebabkan gencarnya kembali pertempuran tersebut. Akhirnya diketahui Brigadir A.W.S. Mallaby tewas di dalam mobilnya terkena lemparan granat dan sejumlah tembakan pada 30 Oktober 1945.

Setelah Brigadier A.W.S Mallaby tewas, peperangan berangsur berhenti dan tentara Inggris merasa telah kalah telak dalam pertempuran tersebut. Pihak Inggris menyerah kepada para pejuang dengan mengangkat tangan dan mengibarkan bendera putih. Mereka tidak pernah belajar bahwa untuk menghancurkan sebuah kota seperti Surabaya, ribuan rakyat dapat mereka bunuh, namun rakyat punya tekad baja untuk merdeka.

Kegiatan aksi drama teatrikal di Tugu Pahlawan Surabaya, komunitas Roode Brug Soerabaia didukung pula oleh Karang Taruna Kedung Klinter – Surabaya, dan Karang Taruna Kelurahan Mulyorejo – Surabaya. Selain ucapan terima kasih dan apresiasi kepada kedua Karang Taruna tersebut, Roode Brug Soerabaia juga ucapkan terima kasih dan apresiasi atas kehadiran siswa Kelas 10 dan Kelas 12 dari SMA Negeri 22 Surabaya dalam rangka “Nonton Teatrikal di Tugu Pahlawan.”

Ini Kesan Mereka “Nonton Teatrikal di Tugu Pahlawan.”

Elsa Putri Ayu Agustina, Kelas /X-10/16 SMA Negeri 22 Surabaya

Surabaya nggak cuma punya panas, tapi juga semangat juang yang nggak pernah padam. Minggu pagi tadi saya berkesempatan nonton teatrikal Pertempuran Surabaya Fase 1 (28–30 Oktober 1945) di Tugu Pahlawan, dari jam 07.00 sampai 09.00 WIB. Walau masih pagi dan ngantuknya belum hilang, tapi semua itu langsung terbayar pas lihat pertunjukan dimulai, ucapnya.

“Suasana teatrikalnya benar-benar membuat merinding, seakan-akan balik ke masa perjuangan 1945. Dari adegan heroik, teriakan penuh semangat, sampai kostum reenactor, pelaku reka ulang yang super keren, semua detailnya membuat saya lebih bisa merasakan betapa hebat dan beratnya perjuangan arek-arek Suroboyo dulu,” tambah Elsa Putri Ayu Agustina.

Di samping itu, tak ketinggalan sebagai misi penting, yaitu foto bareng para reenactor, baik foto sendiri dengan mereka maupun foto bareng. Yang saya kejar, tentu harus bisa foto denga Pak Aris agar dapat poin lebih. Rasanya, serasa ikut jadi bagian kecil dari peristiwa sejarah, tapi dengan cara yang seru, asik, dan memorable banget, lanjutnya.

“Pokoknya pengalaman hari ini bukan sekadar nonton pertunjukan, tapi juga jadi pengingat kalau kemerdekaan yang kita nikmati sekarang itu hasil dari perjuangan luar biasa. Bangga bisa jadi arek Suroboyo dan ikut melestarikan semangat ’45! Merdeka!!!, pungkas Elsa Putri Ayu Agustina.

Dwi Shafa Salsabila, Kelas XII-5/13 SMA Negeri 22 Surabaya

Minggu, 14 September 2025 saya berhasil menyelesaikan tantangan seru dari pak Aries, guru Mata Pelajaran Sejarah, buat datang langsung ke Monumen Tugu Pahlawan. Tantangannya adalah nonton teatrikal Pertempuran Surabaya Fase 1. Meski tantangannya gak wajib, karena saya merasa tertantang, jadi gass aja nonton, sekalian cari kegiatan buat minggu pagi, ujarnya.

“Jujur awalnya mikir bakal kayak acara formal aja, tapi ternyata vibes-nya beda banget! Suasananya rame, semangat para pemainnya juga totalitas banget sampe bikin saya kebawa perasaan kayak lagi beneran ada di tengah-tengah pertempuran,” lanjut Dwi Shafa Salsabila.

Yang paling membuat berkesan itu, tambah Dwi Shafa Salsabila, saya bisa melihat langsung bagaimana arek-arek Suroboyo dulu berjuang dengan keberanian luar biasa. Dari teatrikal ini saya menjadi makin merasakan betapa besar pengorbanan mereka demi mempertahankan kemerdekaan.

“Selain itu, serunya lagi bisa foto-foto bareng pemain teatrikal dari komunitas Roode Brug Soerabaia yang sudah all out mengenakan kostum pejuang, terus sempet juga foto bareng Pak Aries. Hehehe…, rasanya kayak misi Mata Pelajaran Sejarah yang sukses terlaksana. Tepat juga sih yel-yel Roode Brug Soerabaia, “Kenali Kotamu, Cintai Negerimu!” pungkas Dwi Shafa Salsabila.

Biarkan Foto Bicara
Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 – Fase 1

Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1
Roode Brug Soerabaia: Aksi Drama Teatrikal Pertempuran Surabaya 1945 - Fase 1

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *