Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)

  • EDUKASI
Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)
Share this :

Sarasehan Pengenalan Histori SMK Negeri 2 Patuah, yang dikenal saat ini sebagai SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP), digagas oleh Generasi Ke-2 TGP, dan dilaksanakan atas kerja sama Ikatan Keluarga Besar Ex. Tentara Genie Pelajar Brigade XVII Jawa Timur, di SMK Negeri 2 Surabaya, Jalan Tentara Genie Pelajar 26 Surabaya, Selasa (11/11/2025) pagi.

Kegiatan dengan topik “Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan . Genie Pelajar (TGP)” dihadiri oleh Kepala UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (TIKP) Dinas Provinsi Jawa Timur, Dr. Mtusakim, S.S., M.Si.; Kepala SMK Negeri 2 Surabaya, Endang Tri Bawani, M.Pd.; para guru, dan segenap siswa SMK Negeri 2 Surabaya.

Hadir sebagai pembicara sarasehan Pengenalan Histori SMK Negeri 2 Patuah, yang dikenal saat ini sebagai SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP), yakni: Kangko B. Prasetyo, Pengurus IKB Ex. Brigade XVII Daerah Solo; Satrio Sudarso, Ketua Roode Brug Soerabaia; dan Rosi Hanafi, S.Pd., guru mata pelajaran Sejarah SMK Negeri 2 Surabaya.

Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)

Salah satu markas TGP yaitu di SMK Negeri 2 Surabaya. TGP adalah organisasi militer resmi binaan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) . Anggota dari TGP merupakan para pemuda belasan tahun yang yang sedang belajar bidang teknik, khususnya para pelajar Kogyo Senmon Gakko (sekarang SMK Negeri 2 Surabaya).

Mereka bertugas untuk merakit bom atau bahan peledak, memasang dan meledakkannya. Tentunya dalam merakit bahan peledak dan cara meledakannya, para pelajar ini mendapat bimbingan dari para guru yang mengajar di sekolah. Salah satu guru yang gugur dalam perjuangan pada saat itu adalah bapak Hasanuddin Sidik.

Tentu, pada saat ini para pelaku sejarah tersebut sudah berpulang kehadirat-NYA, tinggallah putra-putri para pahlawan TGP. Untuk selalu menghidupkan ruh semangat perjuangan dari orangtua mereka yang telah meletakkan dasar-dasar kerja keras dan cinta pada Ibu Pertiwi, setiap tahun diadakan acara untuk meperingati hal tersebut. Semoga semangat tersebut menjadi warisan untuk para siswa SMK Negeri 2 Surabaya agar tidak pernah padam sampai kapan pun.

Sekilas Sejarah SMK Negeri 2 Surabaya

Sekolah ini pada zaman kolonial Belanda, kira-kira sekitar tahun 1912-1942, bernama Koningen Emma School (KES) pada zaman Belanda kira-kira sekitar tahun 1912-1942. Kemudian pada zaman pendudukan Jepang bernama Kogyo Ghakko/Kogyo Senmon Ghakko, atau setingkat Sekolah Teknologi Menengah (STM). Setelah Indonesia Merdeka sampai datangnya Tentara Sekutu/NICA di Surabaya sekolah ini tidak jelas bernama apa.

Pada saat Belanda menguasai kembali Indonesia sekolah ini bernama Middlebare Technische School (MTS). Setelah pengakuan Kedaulatan, baru bernama Sekolah Teknologi Menengah (STM 1 Surabaya) dan sekarang berubah nama menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK Negeri 2 Surabaya).

Sebagai catatan, pada tahun 1950-1974, selain STM juga ada sekolah lain di kompleks Tentara Genie Pelajar (Patua) nomor.26 ini, seperti : SPGT, KDPT, ST 1, ST 2 dan IKIP bagian Teknik. Pada zaman Belanda murid sekolah ini adalah anak Belanda, dan ada satu dua anak orang pribumi, paling rendah anak lurah atau anak pegawai Belanda.

Seetelah masa kemerdekaan sampai datangnya Tentara Sekutu NICA di Surabaya, informasi sekolah ini sulit diperoleh. Pada masa perjuangan mempertahanankan Kemerdekaan Indonesia, sekolah ini pernah digunakan sebagai Markas Tentara Pelajar.

Peristiwa 10 November dan Lahirnya Tentara Genie Pelajar (TGP)

Peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya tidak hanya menjadi simbol keberanian arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga menjadi titik tolak lahirnya berbagai kesatuan pelajar yang berjuang di garis depan.

Di tengah kobaran api pertempuran dan deru meriam yang mengguncang langit kota, muncul sekelompok pelajar yang tak hanya mengandalkan semangat, tetapi juga ilmu pengetahuan dan kecerdasan teknis. Mereka menamakan diri Tentara Genie Pelajar (TGP).

Yakni, pasukan muda yang memadukan semangat belajar dan perjuangan dengan semboyan abadi: “Berjuang Sambil Belajar.” Kisah mereka menjadi bagian penting dalam mozaik perjuangan bangsa Indonesia yang tak lekang oleh waktu.

Sejarah Singkat TGP – Tentara Genie Pelajar (A Student Army)

Di tengah kobaran perjuangan itu, semangat juang tak hanya lahir di kalangan rakyat biasa, tetapi juga di kalangan pelajar. Dari ruang-ruang kelas yang porak-poranda dan bengkel-bengkel sekolah teknik yang berubah menjadi markas, muncul sekelompok pelajar yang memutuskan untuk menggabungkan ilmu dengan perlawanan. Mereka menamakan diri Tentara Genie Pelajar (TGP).

TGP merupakan kesatuan militer pelajar yang terbentuk secara sukarela, mereka bukan pasukan berseragam lengkap atau berlatih di akademi militer, melainkan siswa-siswa teknik yang memiliki semangat baja dan kemampuan teknis luar biasa. Dengan semboyan “Berjuang Sambil Belajar”, mereka membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi senjata pertahanan bangsa.

Kesatuan pelajar ini berdiri sejajar dengan pasukan pelajar lainnya, yaitu Tentara Pelajar (TP), Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), dan Corps Mahasiswa (CM). Namun, TGP memiliki ciri khas: mereka adalah para zeni — ahli konstruksi, bahan peledak, dan perbentengan.

Awal Mula TGP

TGP berawal pada 1 Oktober 1945 di Surabaya. Dua puluh siswa Sekolah Teknik Negeri (STN/SMTT) di bawah bimbingan guru mereka, Hasanuddin Sidik, membentuk satuan kecil bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Teknik. Ujian pertama mereka datang cepat: menyerbu tangsi militer Jepang Don Bosco untuk dijadikan markas.

Sejak saat itu, mereka tak lagi sekadar pelajar, melainkan pejuang muda yang siap pertaruhkan hidup. Ketika Jepang resmi menyerah, senjata-senjata mereka melimpah ruah dan dibagikan kepada para pemuda Surabaya, termasuk para pelajar. Dari sinilah lahir empat staf pelajar yang kelak menjadi tulang punggung TGP:

  1. Staf I, dari SMT Darmo, dipimpin Isman
  2. Staf II, dari SMTT dan ST, dipimpin Sunarto
  3. Staf III, dari SMP Praban dan Ketabang, Surabaya
  4. Staf IV, dari kelompok pelajar di Heeren Straat (Jalan Rajawali sekarang)

Pada 25 Oktober 1945, Mayor Jendral Sungkono membentuk BKR Pelajar. Dalam pertempuran 28 Oktober dan 10 November 1945, mereka bertempur habis-habisan hingga mundur ke Karangpilang. Di sanalah Komandan Hasanuddin Sidik gugur akibat ledakan yang disiapkannya sendiri. Dari Karangpilang, mereka beringsut ke Krian, lalu ke Pabrik Gula Cukir, Jombang, untuk berkonsolidasi dan menyusun kekuatan baru.

Dari konsolidasi itulah, Staf II kemudian memisahkan diri dan membentuk TKR Pelajar Dinas Genie Pertahanan Surabaya. Mereka berpindah-pindah markas: dari Lawang hingga Malang, sebelum akhirnya, di SMP Kristen Jalan Semeru 42 Malang, pada 2 Februari 1947, berdirilah secara resmi Tentara Genie Pelajar (TGP) di bawah pimpinan Sunarto.

Dengan semboyan yang sama, Berjuang Sambil Belajar,” mereka memadukan disiplin, kecerdasan, dan nasionalisme dalam satu kesatuan. Latihan militer mereka bahkan dibimbing oleh Sekolah Kadet Angkatan Laut Malang. Struktur organisasinya terbagi rapi menjadi empat kompi yang tersebar di berbagai daerah:

  1. Kompi I, daerah Malang, Blitar, dan Pare
  2. Kompi II, daerah Madiun, Bojonegoro, dan Pati
  3. Kompi III, daerah Solo
  4. Kompi IV, daerah Yogyakarta

Aksi Militer TGP

Peran TGP mencapai puncaknya pada masa Agresi Militer Belanda I, 21 Juli 1947. Kala pasukan Belanda mulai menyerang, TGP bergerak cepat menjaga pertahanan di jalur Pandaan–Lawang. Mereka menyiapkan taktik bumi hangus di Malang dan Lapangan Terbang Bugis, agar fasilitas penting tak jatuh ke tangan musuh.

Beberapa hari kemudian, mereka melakukan aksi berani: menghancurkan jembatan-jembatan strategis seperti Jembatan KA Kendalpayak dan Sempal Wadak, serta menyelamatkan lima gerbong mesin dan uang dari Percetakan Uang Negara Kendalpayak. Mereka juga memimpin peledakan sejumlah tempat penting seperti RRI Malang, Lapangan Terbang Bugis, dan Gedung KNI.

Saat Kota Malang akhirnya jatuh pada 31 Juli 1947, mereka tidak menyerah. Sebaliknya, TGP melancarkan operasi penyusupan yang dikenal sebagai “Gerakan Wingate”, menembus wilayah pendudukan Belanda di Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Malang Selatan. Bayangkan, para pelajar belasan tahun bergerak di hutan dan pegunungan dengan senjata di tangan, menjalankan misi layaknya pasukan khusus. Itulah wujud nyata dari keberanian tanpa batas.

Pembubaran dan Warisan

Ketika perang usai dan Konferensi Meja Bundar pada 1949 menghasilkan pengakuan kedaulatan, perjuangan para pelajar TGP pun berakhir secara resmi. Namun, semangat mereka tidak pernah padam. Pada 27 Desember 1949 di Madiun, digelar Apel Besar TGP sebagai penghormatan kepada rekan-rekan yang gugur.

Berdasarkan Instruksi KSAD No. 156/KASAD/PUT/1950, para anggota TGP diberi empat pilihan masa depan: tetap menjadi anggota TNI, menjadi pegawai negeri, melanjutkan pendidikan, atau bekerja dengan bekal keterampilan praktis yang mereka miliki. Anggota yang menjadi anggota TNI di reorganisasi ke Corps Zeni AD (ZIAD), Peralatan AD (PALAD), Dinas Teknik Tentara, Kavaleri AD dan Perhubungan AD (HUBAD)

Adapun rerasionalisasi pangkat mereka di TNI adalah sebagai berikut: yang belum lulus pendidikan tingkat atas diberi pangkat Sersan dan Sersan Mayor, yang lulus pendidikan tingkat atas diberi pangkat Letnan Muda, Komandan Peleton diberi pangkat Letnan Dua, Komandan Kompi diberi pangkat Letnan Satu, dan Komandan Batalyon diberi pangkat Kapten.

Warisan TGP bukan hanya kisah masa lalu, melainkan teladan abadi: bahwa ilmu pengetahuan dan keberanian dapat berjalan seiring. Meski masih pelajar, mereka membuktikan bahwa kemerdekaan bukan hanya dipertahankan dengan senjata, tetapi juga dengan pikiran, keterampilan, dan semangat belajar tanpa henti.

“Dari ruang kelas yang berubah menjadi turun di medan tempur, para pelajar TGP telah menulis babak gemilang dalam sejarah bangsa, sebuah kisah yang mengajarkan bahwa belajar pun bisa menjadi bentuk perjuangan.” (Ali Muchson)

Sumber:

  1. Paparan Materi dari Satrio Sudarso, Ketua Roode Brug Soerabaia, “Peristiwa 10 November & TGP.pptx”
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/SMK_Negeri_2_Surabaya
  3. https://vredeburg.id/id/post/lumpang-batu-saksi-sejarah-perjuangan-tentara-genie-pelajar-tgp-di-yogyakarta
  4. https://web.smkn2sby.sch.id/read/26/menepis-lupa-akan-sejarah-tgp-dengan-memperingati-hut-ke-75-tgp-di-smkn-2-surabaya

Feature image dan foto-foto lain, resource: dari Satrio Sudarso

Biarkan Foto Bicara
Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya
dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)

Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)
Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)
Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)
Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)
Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)
Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)
Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)
Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)
Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)
Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)
Roode Brug Soerabaia: Benang Merah SMK Negeri 2 Surabaya dengan Tentara Genie Pelajar (TGP)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *