Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”

  • EDUKASI
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Share this :

“Di sudut-sudut kampung, di antara gang-gang sempit, dan rumah-rumah sederhana Kota Surabaya, sejarah pernah berdenyut bukan hanya lewat dentuman senjata, namun lewat denting piring, sendok, dan sotil. Di sanalah nama Bu Dar Mortir tumbuh, bukan sebagai legenda yang dibangun di medan tempur, melainkan oleh asap dapur yang tak pernah padam di tengah kobaran perang.”

Setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada Agustus 1945, rakyat menyambutnya dengan haru dan harap. Namun euforia itu tak berlangsung lama. Pasukan Sekutu mendarat di Tanjung Perak. Kota menjadi tegang. Desas-desus kembalinya kekuasaan Belanda menyusup dalam percakapan warga. Di balai desa, seruan untuk mempertahankan kemerdekaan menggema. Laki-laki mengangkat senjata, pemuda-pemuda bersiap di garis depan.

Dan para perempuan? Mereka tidak tinggal diam. Bu Dar berdiri di antara mereka, bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan keyakinan bahwa perjuangan tak selalu berbentuk peluru. Ia memahami satu hal sederhana namun menentukan: pejuang yang lapar tak akan mampu bertahan. Maka dari dapur rumahnya, lahirlah sebuah gerakan sunyi yang kelak menjadi tulang punggung logistik perlawanan.

Demikian cuplikan dari sebagian kisah reka ulang dalam teatrikal bertajuk “Bu Dar Mortir: Suara Dapur di Balik Pertempuran Surabaya”, yang diperankan oleh komunitas Roode Brug Soerabaia di Lapangan Tugu Pahlawan Surabaya, Minggu (15/2/2026) pagi.

Siapa Bu Dar Mortir itu?

Dariyah Soerodikoesoemo, atau Bu Dar Mortir, lahir di Purwokerto tahun 1908. Ia menikah dengan seorang dokter dari Bali, duda dua anak. Bu Dar tak mempunyai anak biologis. Rumah di Jalan Pacar Nomor 1 Surabaya, hadiah dari pemerintah Hindia Belanda. Setelah masa kemerdekaan, Bu Dar dipanggil Moestopo untuk mendirikan CWB, kini menjadi Panti Werdha Hargo Dedali, di Jalan Manyar Kartika IX/22-24 Surabaya.

Sematan nama “Mortir” di belakang panggilan Bu Dar, bermula dari proses pengambilan ransum makanan yang kadang-kadang tidak tertib. Kebiasaan Bu Dar selalu menertibkan para prajurit ketika menerima ransum makanan. Jika ditemukan tidak tertib, Bu Dar akan melemparkan kunyahan daun sirih dan ‘susur’ kepada prajurit yang membandel, jelas Bambang Priambodo, anak Bu Dar.

“Kunyahan daun sirih dan ‘susur’ yang dilemparkan kepada prajurit itulah kemudian disebut “mortir”. ‘Susur’ bentuknya bulat seperti mortir. Lantaran seringnya sebutan “mortir” yang disematkan di belakang nama Bu Dar, namanya lebih populer dipanggil Bu Dar Mortir,” lanjutnya saat kajian koleksi bertajuk “Benda Sejarah Peninggalan Almarhumah Ibu Dariyah Soerodikoesoemo (Bu Dar Mortir), Pelaku Pertempuran 10 November 1945 Divisi Dapur Umum”, di Auditorium Museum 10 Nopember, Selasa (24/5/2022).

Dilansir dari roodebrugsoerabaia.com, Ady Setyawan merangkum dari artikel majalah Panjebar Semangat Nomor 16 tanggal 21 April 1971 hasil wawancara dan foto oleh Sudi Suyono yang berjudul “Tetepangan Bu Dar Mortier”. Bagi warga Surabaya, terutama Angkatan 45, juga Kodam V Brawijaya, nama Bu Dar Mortir tak asing. Kiprah Bu Dar ketika Inggris menyerbu Surabaya adalah orang yang pertama menginisiasi pendirian dapur umum.

Di samping mendirikan dapur umum, Bu Dar juga mendirikan dan mengorganisir pos-pos PMI untuk merawat para pejuang yang terluka. Bu Dar senantiasa mengawasi dengan ketat distribusi nasi-nasi bungkusnya, jangan sampai diterima para pemuda dalam keadaan sudah basi. Total terdapat 100 dapur umum yang tersebar di antara Gresik dan Sidoarjo.

Beberapa perempuan: Ibu dr. Angka Nitisastro, Ibu Soemantri, Ibu Dirdjo/Ibu Moenandar (istri dari dr. Samsi ), Ibu Soepeno, dan masih banyak lagi adalah kawan-kawan seperjuangan Bu Dar pada masa itu. Ketika kota Surabaya telah jatuh total ke tangan Inggris, Bu Dar diminta untuk mengurusi dapur umum markas pertahanan COPP VI di bawah pimpinan Letkol Latif Hadiningrat.

Ketika gerakan mundur dari Surabaya ke kota Jombang di akhir tahun 1945, ketika sampai kota Jombang ternyata kota ini sudah kosong ditinggalkan sebagian besar penduduknya. Karena para pejuang sangat kelaparan, Bu Dar mendatangi sebuah toko China. Kemudian melepaskan gelang dan kalung emasnya seberat 100 gram untuk ditukarkan dengan bahan makanan bagi para pejuang.

Di samping itu, pada Mei 1948 Bu Dar beroperasi di kawasan Kediri, tinggal di rumah Ibu Soewono. Saat di Kediri ia pernah hampir diculik oleh gerombolan Sabarudin. Atas kejadian ini Bu Dar melaporkan kepada Komandan Divisi bahwa pasukan Sabarudin berbuat onar dan terjadi kerenggangan antara pimpinan-pimpinan lapangan.

Berlanjut Agustus 1948, Bu Dar bergerak ke kawasan Ploso dan Karangrejo. Dalam perjalanan antara Karangrejo menuju Mojo, beliau bertemu dengan rombongan pasukan CPM (Corps Polisi Militer), para pengawal Panglima Besar Soedirman. Di situ, Bu Dar melaporkan bahwa desa Mojo tidak aman, maka pasukan tersebut berpindah ke desa lain yang berjarak 3 km dari desa Mojo.

Sedangkan pada tahun 1949, Bu Dar kerap masuk kota yang telah dikuasai musuh untuk mempersiapkan keperluan logistik TNI dengan menyamar menjadi pedagang. Selain itu, juga mengamati keadaan dan situasi dalam kota, setiap hal penting dilaporkan kepada Komanda Divisi. Termasuk juga mengawasi sepak terjang anggota pasukan Sabarudin.

Selain jalan umum, Bu Dar pun sering keluar masuk melalui jalur hutan. Februari 1949 beliau berjalan melewati kawasan hutan Bajulan, Ngliman, Gunung Wilis hingga Trenggalek. Saat di kota Trenggalek terjadi perseteruan antara pasukan TRIP melawan Kompi Zainal. Hal ini memudahkan Belanda menundukkan kota Trenggalek dan melakukan ‘pembersihan’ ke desa-desa sekitarnya.

Kemudian pada 30 April 1949, Bu Dar berjalan menuju Tengger melewati Campurdarat. Perjalanan ini Bu Dar ditemani dua perwira, Letnan Pramudji dan Letnan Parjadi. Sejak awal meletusnya Perang Surabaya 1945 hingga masa Perang Kemerdekaan ia tak pernah absen. Bahkan Bu Dar juga menyaksikan peristiwa genting aksi PKI Madiun pada tahun 1948. Bu Dar aktif dalam Brigade S.

Dalam operasi penumpasan PKI dipimpin oleh Jonosewojo yang menggerakkan pasukan S dari arah Kediri, dan Ali Sadikin yang memimpin pasukan Siliwangi bergerak dari arah barat. Pasukan Siliwangi menduduki kota Madiun lebih awal. Para pimpinan RI yang menjadi tawanan PKI di desa Doengoes tak berhasil diselamatkan, semuanya ditembak oleh pasukan PKI.

Satrio Sudarso, Ketua Roode Brug Soerabaia, mengatakan bahwa semasa hidupnya, Bu Dar Mortir tak sekadar sebagai perempuan ‘konco wingking’, melainkan perempuan yang mempunyai peran penting, khususnya masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Kiprah Bu Dar hendaknya dapat membangunkan memori kolektif masyarakat Surabaya, khususnya kalangan muda, dan menjadikan beliau sebagai sosok inspiratif, sosok berjiwa ‘ngopeni’.

Mengingat kiprah Bu Dar Mortir sangat gigih perannya, turut turun tangan dalam mempertahankan kemerdekaan. Berbagai lencana penghargaan maupun benda-benda bersejarah lainnya sebagai bukti tak terbantahkan. Selayaknya almarhumah Ibu Dariyah Soerodikoesoemo, atau Bu Bar Mortir, memperoleh anugerah sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia, pungkas dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Ini Kata Mereka!

M. Manius Tabuni, Kelas X-10/27 SMAN 22 Surabaya, mengatakan bahwa turut main teatrikal “Bu Dar Mortir” cukup merasa puas, karena bisa lancar mengikuti tiap scene cerita meskipun latihan hanya satu kali. Berkat ikuti setiap arahan sutradara dan kekompakan para pemain, hasilnya drama teatrikal berlangsung lancar.

“Sebagai anak-anak remaja, kita tidak boleh melupakan sejarah perjuangan para pahlawan. Tidak hanya laki-laki, para perempuan pun turut berjuang, salah satunya Bu Dar Mortir. Ia tidak turut mengangkat senjata bertempur turut perang, tapi medannya di dapur, menyediakan makanan. Bagaimana bisa berjuang, dan angkat senjata jika perut lapar? Kisah Bu Dar Mortir harus menginspirasi kita belajar lebih baik,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Bilqis Shazneen Aleesha As’ad, Kelas X-10/36 SMAN 22 Surabaya, menmbahkan bahwa mengikuti kegiatan teater ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Teater ini merupakan jembatan edukasi yang bagus baik tentang sejarah Indonesia maupun bagaimana cara bereka adegan dengan percaya diri dan improvisasi yang mungkin tidak bisa saya dapatkan selain disini.

“Banyak hal baik yang saya dapatkan dari ikut main teatrikal Bu Dar Mortir ini. Menunjukkan bahwa belajar sejarah tak hanya lewat buku, namun juga dengan berdrama. Kita bisa merasakan vibes dan mengingatkan kembali betapa di belakang perjuangan prajurit prajurit garda depan, terdapat perempuan-perempuan hebat di dapur untuk mengisi energi mereka, para pejuang,” tambahnya.

Sementara Muhammad Dimas Prasojo, Kelas X-7/23 SMAN 22 Surabaya, mengatakan bahwa ikut main teatrikl ini berawal dari ajakan guru saya, Pak Aries Eka Prasetya. Ternyata pengalaman ini menjadi sesuatu yang tidak terlupakan. Saya berperan sebagai rakyat yang ikut berjuang, ketika masuk ke adegan perang suasananya terasa hidup dan menegangkan, membayangkan situasi perjuangan saat itu. Ini, membuat saya lebih memahami pelajaran sejarah daripada sekadar membaca di buku.

“Hal yang lebih seru, setelah pementasan selesai, diberi kesempatan dengan seluruh pemeran untuk berfoto bersama teman-teman satu SMAN 22 yang datang menonton. Momen itu terasa hangat karena mereka ikut mendukung dari awal sampai akhir. Teatrikal ini membuat saya sadar bahwa belajar sejarah bisa terasa lebih dekat dan menyenangkan ketika dialami secara langsung lewat jadi pemeran,” katanya.

Biarkan Foto Bicara
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok,
dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”

Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”
Roode Brug Soerabaia dalam Teatrikal, “Bu Dar Mortir: Sendok, dan Sutil Jadi Simbol Perlawanan.”

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *