Sejarah acap kali dipahami sebagai sesuatu yang telah selesai. Ia berada di belakang kita, tersimpan dalam buku, arsip, foto, monumen, atau cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun, bagi orang-orang yang menjalaninya, sejarah sesungguhnya tak pernah benar-benar berhenti. Ia terus bergerak, menemukan makna baru, bahkan kadang mempertemukan orang-orang dalam sebuah perjalanan yang tak pernah mereka rencanakan.
Barangkali itulah salah satu kisah menarik yang tumbuh di Roode Brug Soerabaia. Komunitas kesejarahan yang lahir dari kecintaan terhadap sejarah perjuangan Surabaya itu ternyata tak hanya mempertemukan orang dengan masa lalu. Di dalamnya, empat pasangan anggota justru menemukan teman seperjalanan untuk membangun masa depan.
Roode Brug Soerabaia merupakan salah satu komunitas kesejarahan di Surabaya yang memberikan perhatian khusus pada sejarah Pertempuran Surabaya 1945. Sejak berdiri pada 10 November 2010, komunitas ini konsisten menjadikan sejarah sebagai ruang belajar sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.
Para anggotanya memiliki visi dan misi yang sama: belajar, memahami, dan menyebarluaskan pengetahuan sejarah. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan, antara lain aksi teatrikal, diskusi, kunjungan kesejarahan, maupun kegiatan lain yang memungkinkan sejarah hadir lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Bagi Roode Brug Soerabaia, sejarah tak sekadar rangkaian tanggal dan nama tokoh. Ada nilai yang hendak diwariskan di balik setiap peristiwa, terutama tentang keberanian, pengorbanan, persatuan, dan semangat para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Karena itu, membangunkan memori kolektif menjadi salah satu tujuan penting komunitas ini. Masyarakat diajak untuk kembali mengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini lahir dari perjuangan panjang.
Dengan mengenang masa lalu, masyarakat, khususnya kaum muda, diharapkan tumbuh penghargaan terhadap jasa para pejuang sekaligus kesadaran untuk merawat nilai-nilai perjuangan tersebut dalam kehidupan masa kini.
Namun, ada kisah lain yang berjalan diam-diam di antara aktivitas itu. Pertemuan yang berlangsung intens membuat para anggota semakin mengenal satu sama lain. Kebersamaan dalam kegiatan melahirkan keakraban. Percakapan yang semula berkisar pada sejarah perlahan berkembang menjadi komunikasi yang lebih personal. Dari sana tumbuh kecocokan, rasa saling memahami, dan kedekatan emosional yang positif.
Tak ada yang benar-benar tahu kapan sebuah perasaan mulai tumbuh. Bisa jadi bermula dari obrolan sederhana setelah kegiatan, perjalanan bersama menuju sebuah lokasi bersejarah, diskusi yang berlangsung lebih lama dari biasanya, atau sekadar kebiasaan saling membantu ketika komunitas sedang menyelenggarakan sebuah kegiatan.
Kesamaan visi dan pengalaman sebagai bagian dari komunitas kemudian menjadi ruang yang mempertemukan hati. Mereka tak hanya berbagi kecintaan terhadap sejarah, namun juga belajar memahami karakter, kesibukan, harapan, dan kehidupan masing-masing.
Sejak berdiri pada 10 November 2010 hingga kini, Roode Brug Soerabaia telah mempertemukan empat pasangan hidup dari kalangan anggotanya sendiri. Mereka adalah Satrio Sudarso (Ketua Roode Brug Soerabaia) menikah dengan Aulia pada 16 Juli 2016, Titta dengan Rizky pada 28 November 2021, Fatma dengan Ricky menikah pada 24 April 2024, dan Hestika dengan Raul melangsungkan pernikahan pada 29 Agustus 2026.
Empat pasangan tersebut menjadi bagian dari cerita unik perjalanan Roode Brug Soerabaia. Sebuah komunitas yang pada awalnya dibangun untuk belajar dan merawat sejarah, ternyata juga menghadirkan sejarah baru dalam kehidupan para anggotanya.
Di titik ini, makna komunitas menjadi jauh lebih luas. Ia bukan hanya tempat berkumpulnya orang-orang dengan minat yang sama, namun juga ruang untuk saling mengenal dan bertumbuh. Sejarah yang dipelajari bersama akhirnya melahirkan pengalaman hidup yang akan dikenang oleh masing-masing pribadi.
Ada sesuatu yang indah dari perjumpaan semacam itu. Orang-orang datang karena sejarah, kemudian bertahan karena persaudaraan, dan sebagian di antaranya menemukan cinta dalam perjalanan tersebut.
Semoga empat pasangan yang dipertemukan melalui Roode Brug Soerabaia senantiasa memperoleh keberkahan dalam kehidupan rumah tangganya. Semoga cinta yang tumbuh dari kebersamaan terus dirawat dengan kesetiaan, kesabaran, dan saling pengertian. Hingga kelak mereka mencapai usia “kaken ninen”, menjadi pasangan yang menua bersama dalam kasih dan kesetiaan; sakinah, mawaddah, warahmah.
Sebab, pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang apa yang telah terjadi. Sejarah juga tentang bagaimana sebuah peristiwa melahirkan perjumpaan, dan bagaimana sebuah perjumpaan dapat melahirkan kisah baru.
Roode Brug Soerabaia telah membantu merawat memori kolektif tentang perjuangan masa lalu. Namun tanpa disadari, komunitas itu juga sedang menulis tentang sejarahnya sendiri.
Yakni, sejarah tentang persahabatan, persaudaraan, kebersamaan, dan empat pasangan hidup yang menemukan kisah cintanya di “rumah” Roode Brug Soerabaia, di tengah perjalanan merawat ingatan tentang Surabaya. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara






