Setiap Anak Adalah Juara: Catatan Kecil untuk Rekan Guru dan Segenap Orangtua

Setiap Anak Adalah Juara: Catatan untuk Para Guru dan Segenap Orangtua
Share this :

Artikel Ini Disajikankan dalam Rangka Memperingati Hari Anak Nasional 2025

“Siapa yang bisa menjawab, berapa jumlah empat ditambah lima?” tanya seorang guru dengan penuh semangat kepada murid-muridnya.
“Tujuuuuuh!” jawab Steven, bukan nama sebenarnya, spontan dari bangku paling belakang.
“Salaahh!” sahut sang guru cepat, lalu segera menunjuk siswa lain.
“Sembilan, Bu!” jawab Merry, bukan nama sebenarnya, sambil mengacungkan tangan.
“Nah, itu baru benar! Jawabannya sembilan, bukan tujuh!”, ujar guru tersebut sembari menatap tajam Steven dari kejauhan.

Ilustrasi di atas menggambarkan suasana pembelajaran matematika di kelas 1 di suatu Sekolah Dasar (SD) saat materi penjumlahan. Dalam situasi seperti ini, tidak menutup kemungkinan muncul umpatan dalam hati guru, bahkan mungkin hanya sekadar mengumpat di dalam hati: “Uh, dasar geblek…, materi gampang saja tidak bisa!”

Reaksi semacam itu sangat mungkin membuat Steven merasa malu dan enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan lain di kemudian hari. Ia mengalami cognitive shut down, yakni kondisi ketika kepercayaan terhadap diri sendiri maupun terhadap guru mulai runtuh. Lalu, bagaimana seharusnya seorang guru merespons?

Seandainya Steven menjawab, “Tujuuuuuh!” untuk pertanyaan “Berapakah jumlah empat ditambah lima?”, guru bisa menanggapi dengan pendekatan reflektif: “Tujuh itu hasil dari tiga ditambah empat. Yang Ibu tanyakan tadi empat tambah lima. Ayo, coba pikir lagi, Steven!” Dengan cara ini, Steven diberi ruang untuk berpikir ulang tanpa merasa direndahkan. Tak ada kata-kata seperti “salah”, “bodoh”, “geblek”, atau ekspresi negatif yang menjatuhkan.

Ilustrasi seperti tersebut, tak menutup kemungkinan masih juga terjadi di jenjang Sekolah Menegah Pertama (SMP), di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) atau di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), atau bahkan masih terjadi di jenjang Perguruan Tinggi (PT). Untuk memahami cara belajar siswa memang hal yang tak mudah, dibutuhkan keterampilan guru.

Paradigma Negatif: Tembok Tak Kasat Mata antara Guru dan Siswa

Saat seorang guru masuk ke kelas, ia akan dihadapkan pada beragam karakter dan latar belakang siswa, seperti: ada yang ramai, sulit diatur, kurang fokus, hingga yang gemar mengganggu. Akan tetapi, jebakan yang perlu dihindari adalah menanam paradigma negatif sejak awal terhadap siswa tertentu.

Sebagai guru, hendaknya hindari terjebak dengan paradigma pikiran awal yang negatif terhadap siswa. Yang terjadi, pikiran awal yang negatif sering membangun tembok tak kasat mata yang menghalangi hubungan emosional dan pedagogis antara guru dan siswa. Penghalang itu bukan dibuat oleh siswa, namun justru oleh sang guru dengan melabelinya berbagai sebutan negatif.

Sebaliknya, seorang guru perlu menanamkan pola pikir positif bahwa setiap anak adalah manusia unik yang sedang tumbuh, dan setiap anak punya potensi untuk menjadi juara dalam jalurnya masing-masing. Inilah yang ditegaskan Munif Chatib dalam bukunya berjudul “Gurunya Manusia”, bahwa guru bukan sekadar pengajar, melainkan fasilitator pertumbuhan manusia.

Menjadi guru berkompeten bukan hanya soal mentransfer ilmu, melainkan menumbuhkan keberanian dalam diri siswa untuk berpikir, bertanya, dan tumbuh tanpa takut salah. Saat guru percaya bahwa setiap anak adalah juara, maka siswa pun akan percaya bahwa dirinya mampu mencapai sesuatu yang bermakna.

Mewarisi Semangat Sejak Asal Penciptaan

Jika kita mau telaah mundur pada proses tentang penciptaan manusia, maka kemenangan pertama seseorang terjadi saat pembuahan bahwa satu dari jutaan sel sperma berhasil mencapai dan membuahi sel telur. Artinya, setiap manusia adalah pemenang sejak awal kehidupannya.

Oleh karena itu, betapa pentingnya guru menyadari bahwa setiap anak yang hadir di kelas telah membawa potensi besar, sekalipun masih tersembunyi dan memerlukan proses panjang untuk ditumbuhkembangkan.

Maka, poin penting dalam hal ini bahwa tugas guru adalah menyalakan semangat, bukan memadamkan. Membimbing dengan kesabarannya, bukan menjatuhkan. Membangun kepercayaan siswa, bukan memupuk rasa takut salah.

Memahami Gaya Belajar: Tugas yang Menantang

Memahami cara belajar setiap siswa memang bukan hal yang mudah. Namun dengan memahami gaya belajar mereka, guru dapat menyusun strategi pembelajaran yang lebih inklusif. Seorang guru sejati ibarat dalang yang mengerti bagaimana memainkan berbagai karakter dengan harmoni.

Dalam “Quantum Learning”, Bobbi DePorter dan Mike Hernacki menyebut bahwa banyak faktor mempengaruhi cara siswa belajar, mulai dari aspek fisik, emosional, sosial, hingga lingkungan sosial di mana dan dengan siapa mereka menjalani hidup dalam keseharian.

Ada siswa yang belajar optimal dalam suasana terang, ada yang lebih nyaman dalam cahaya redup. Sebagian menyukai kerja kelompok, lainnya lebih efektif saat belajar sendiri. Gaya belajar juga dapat dilihat dari kecenderungan modalitas belajar, yakni: visual, auditorial, dan kinestetik (VAK).

Berikut gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik dirangkum dari buku “Quontum Learning” karya Bobbi DePorter & Mike Hernacki, yang barangkali bermanfaat bagi para guru dan atau bagi para orangtua untuk mengetahui bagaimana kecenderungan gaya belajar siswa atau anak mereka.

Gaya Belajar Visual

Gaya belajar visual adalah proses seorang anak atau siswa menerima informasi atau materi pembelajaran yang mengandalkan pengelihatan atau visual. Para siswa yang memiliki gaya belajar visual akan mudah menerima gagasan, konsep, data dan informasi yang dikemas dalam bentuk gambar.

Ciri-ciri gaya belajar seperti ini lebih mengedepankan alat indra mata untuk menangkap informasi yang disajikan. Beberapa ciri-ciri seseorang dengan gaya belajar visual ini, antara lain: memiliki memori kuat dari apa yang dilihat daripada yang didengar, lebih tertarik membaca dari pada dibacakan, pembaca cepat dan tekun, dan memiliki ketertarikan kepada seni.

Gaya Belajar Auditorial

Gaya belajar auditorial adalah proses seorang anak atau siswa menerima informasi yang mengandalkan pendengaran sebagai penerima informasi dan pengetahuan. Mereka yang dengan tipe belajar seperti ini lebih memfokuskan diri dengan mendengarkan pembicaraan guru atau informasi dari orangtua dengan baik dan jelas tanpa perlu tampilan visual saat belajar.

Ciri-ciri seorang anak atau siswa dengan gaya belajar auditorial ini, antara lain: mudah mengingat sesuatu dari apa yang didengar daripada yang dilihat, mudah terdistraksi dengan keramaian, senang membaca dengan mengeluarkan suara, dan mudah dalam mengingat nama saat berkenalan dengan orang baru.

Gaya Belajar Kinestetik

Gaya belajar kinestetik adalah proses seorang anak atau siswa menerima pembelajaran yang mengandalkan sentuhan atau rasa untuk menerima informasi dan pengetahuan. Seorang anak atau siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik cenderung suka melakukan, menyentuh, merasa, bergerak dan mengalami secara langsung.

Ciri-ciri individu anak atau siswa dengan gaya belajar kinestetik ini, antara lain: tertarik menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar, sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, simbol dan lambang, serta lebih menyukai pembelajaran praktik daripada teori.

Penutup

Pendidikan yang memanusiakan manusia tidak dimulai dari metode, tetapi dari cara pandang. Setiap anak hadir dengan kemenangan yang telah diwarisinya sejak lahir. Tugas guru bukan mencari siapa yang paling cepat menjawab benar, melainkan siapa yang berani mencoba meski salah. Sebab sejatinya, dari keberanian itulah belajar dimulai.

Mengenali gaya belajar tersebut akan dapat membantu guru dalam menyusun pendekatan yang variatif, agar tidak hanya mengandalkan metode satu arah. Kelas akan menjadi tempat yang ramah bagi keberagaman kecerdasan dan keunikan tiap siswa.

Pun bagi orangtua agar lebih memahami cara anaknya menyerap informasi dan mendampingi proses belajarnya secara lebih tepat. Dengan begitu, sinergi antara guru dan orangtua dalam mendukung perkembangan anak akan semakin kuat.

Referensi:

  1. Chatib, Munif. (2011). Gurunya Manusia. Bandung: Kaifa.
  2. DePorter, Bobbi & Hernacki, Mike. (1999). Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan (Terjemahan). Bandung: Kaifa.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *