Setiap kali seorang guru melangkah masuk ke ruang kelas, ia sesungguhnya tidak hanya membawa rencana pembelajaran, buku ajar, dan target kurikulum. Ia juga membawa harapan, kegembiraan, serta kegelisahan yang kerap tak terucap.
Sebagai mantan guru, perasaan campur aduk itu selalu hadir, baik pada jam pelajaran pertama maupun di jam-jam berikutnya: sedikit antusiasme, sedikit kecemasan, dan tak jarang terselip kekhawatiran yang manusiawi.
Harapan ideal setiap guru tentu sederhana: bertemu siswa-siswa yang berperilaku baik, mudah diarahkan, dan berprestasi secara akademis. Namun kenyataan di kelas kerap berkata lain. Di antara barisan siswa yang tertib, selalu ada beberapa anak yang dianggap ‘nakal’: sulit diatur, kurang terlibat, atau kerap menunjukkan perilaku yang mengganggu proses belajar. Kehadiran mereka acapkali menambah beban psikologis guru.
Seandainya semua siswa patuh, cerdas, dan berperilaku sempurna, mungkin mengajar akan terasa jauh lebih mudah dan menyenangkan. Namun justru di situlah paradoksnya: profesi guru bisa kehilangan maknanya. Sebab, siswa-siswa yang kerap membuat kesalahan, berisik, dan yang menantang kesabaran itulah yang memberi kedalaman pada panggilan seorang guru.
Kecemasan, kekhawatiran, bahkan kelelahan batin saat menghadapi siswa dengan perilaku sulit adalah pengalaman yang wajar. Hampir setiap guru pernah berada di titik itu, merasa sudah menasihati, berbicara baik-baik, mencoba berbagai pendekatan, namun perubahan yang diharapkan tak kunjung tampak.
Namun justru ketika emosi, nalar, dan kesabaran berada di titik terendah, sering muncul kesadaran penting: murid-murid yang kita labeli ‘nakal’ itu sejatinya adalah ‘guru istimewa’ bagi profesi seorang guru. Secara tak disadari, mereka mengajarkan kesabaran, perubahan, dan mengasihi.
Mengajarkan Kesabaran
Siswa yang berperilaku baik memang menghadirkan kegembiraan dan kebanggaan. Mereka membuat proses mengajar terasa lebih ringan, nyaris tanpa gesekan. Namun minim tantangan. Sebaliknya, siswa yang dianggap ‘nakal’ menghadirkan ujian sesungguhnya. Mereka memaksa guru untuk melatih kesabaran, mengasah empati, dan bertumbuh melampaui rutinitas teknis mengajar.
Mereka mengajari kita untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi, menarik napas lebih panjang sebelum berbicara, dan lebih banyak mendengarkan daripada menghakimi. Perlahan kita belajar bahwa di balik perilaku yang dianggap buruk, sering tersembunyi kebutuhan yang belum terpenuhi. Entah itu perhatian, rasa aman, atau pengakuan.
Pada merekalah kita diuji untuk berbicara lebih perlahan, bersikap lebih lembut, dan mencoba pendekatan yang beragam. Tatapan yang memberi semangat, pujian yang tulus, dan sikap penuh kasih acapkali jauh lebih bermakna daripada teguran keras. Mereka mengingatkan kita bahwa menjadi guru bukan sekadar soal keterampilan mengajar, namun juga tentang kelenturan hati.
Mengajarkan Perubahan
Tanpa kehadiran siswa-siswa ini, mungkin kita tak pernah sungguh menyadari keterbatasan diri sendiri: emosi yang mudah tersulut, kesabaran yang rapuh, atau metode mengajar yang perlu diperbarui. Melalui mereka, guru belajar bercermin: menilai ulang sikap, memperbaiki pendekatan, dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Siswa yang dilabeli ‘nakal’ sejatinya tak datang ke sekolah untuk mempersulit guru. Tanpa kita sadari, merekalah yang mendorong lahirnya versi guru yang lebih baik. Mereka membangkitkan potensi profesional yang mungkin tak pernah muncul jika kita hanya berhadapan dengan siswa-siswa yang mudah diarahkan.
Di titik kejenuhan itulah, guru belajar kerendahan hati. Kita menyadari bahwa tugas guru bukan membentuk siswa sesuai versi ideal dirinya sendiri, melainkan membimbing mereka menemukan jalan hidupnya masing-masing. Pendidikan bukan proses instan, melainkan perjalanan panjang menumbuhkan benih dengan kesabaran memberi waktu agar ia tumbuh dengan caranya sendiri.
Mengajarkan Mengasihi
Dari siswa-siswa inilah guru belajar mengasihi tanpa syarat: mempercayai, mendampingi, dan tak mudah menyerah. Setiap anak adalah individu yang unik, dengan latar belakang dan luka yang berbeda.
Di balik perilaku yang tampak bermasalah, sering tersembunyi kisah yang tak pernah mereka ceritakan: keluarga yang rapuh, pengasuhan yang kurang, trauma masa kecil, atau sekadar kerinduan akan perhatian, dan kasih sayang.
Ketika guru memandang siswa dengan mata penuh kedamaian, bukan penghakiman, perlahan tembok itu runtuh. Kita menyadari bahwa mereka bukan “’ulit diajar’, melainkan membutuhkan lebih banyak perhatian dan kasih sayang. Sebab, perhatian dan kasih sayang itulah kunci yang membuka pintu hati mereka.
Pada akhirnya, cahaya paling jujur dalam profesi guru tak selalu datang dari siswa terbaik atau paling berprestasi. Cahaya itu justru datang dari siswa-siswa yang paling menantang, yang menuntut guru untuk senyap sejenak, merenung, dan bertumbuh untuk selalu belajar.
Merekalah ‘anak-anak nakal’ yang diam-diam menjadi ‘guru istimewa’: mengajarkan kesabaran, perubahan, dan kasih yang tak bersyarat. Melalui mereka, profesi guru menemukan kembali maknanya, bukan sekadar mengajar, namun memanusiakan manusia, termasuk memanusiakan diri sendiri.
Penutup
Maka, jika semua proses itu dijalani oleh setiap guru dengan penuh keikhlasan, tanpa pamrih dan tanpa hitung-hitungan balas jasa, maka setiap kesabaran guru sejatinya menjelma sebagai ladang amal yang terus mengalirkan pahalanya.
Namun tak lantas otomatis, sebagaimana kata Drs. Irham Hosni, M.Pd., Pakar Pendidikan Khusus dan mantan dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) – Departemen Pendidikan Khusus UPI Bandung, “Guru baru mendapatkan hitungan pahala jika ilmu yang diajarkan itu diimplementasikan oleh para siswa dalam kehidupannya.”
Maka setiap nilai yang ditanamkan, setiap sikap yang dicontohkan, dan setiap kasih yang diberikan dengan tulus akan hidup lebih lama hingga di luar ruang kelas, tumbuh dalam kehidupan dan tindakan para siswa, yang akhirnya akan kembali kepada sang guru sebagai kebaikan yang tak terputus. (Ali Muchson)
Referensi:
- Báo Thanh niên – Pesan dari Kepala Sekolah: https://www.vietnam.vn/id/thong-diep-cua-mot-hieu-truong-hoc-cach-biet-on-nhung-hoc-sinh-chua-ngoan. Diunduh 10 Februari 2026, pukul 6:57 Pm.
- FGLSN Bangkit – Bincang dengan Pakar: https://www.youtube.com/watch?v=mzS75LO8Osc. Diunduh 10 Februari 2026, pukul 8:05 Pm.
