“Tadabbur dengan Alam”

  • FIKSI
Tadabbur dengan Alam
Share this :

Menikmati senja tak sekadar memandang surutnya cahaya di cakrawala, melainkan membaca ayat-ayat semesta yang terhampar tanpa huruf.

Di tepian Bengawan Solo, ketika matahari mulai merunduk di balik pepohonan, waktu seolah melambat. Langit jingga menjadi kitab terbuka, mengajak jiwa merenungi arti keberadaan yang fana.

Alam mengajarkan bahwa segala yang indah tidak datang untuk menetap. Seperti mentari yang perlahan tenggelam, ia meninggalkan pelajaran tentang kerelaan, tentang tunduk, tentang kembali kepada Sang Pemilik Cahaya.

Di sanalah tadabbur menemukan rohnya, bukan sekadar kekaguman pada ciptaan-NYA, namun pada kesadaran yang mengalir lembut menjadi zikir dalam sanubari.

Kiringan, Bojonegoro
9/10/2025

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *