Tak Semua Warna Baju Cocok untuk Hari Ini

  • FIKSI
Tak Semua Warna Baju Cocok untuk Hari Ini Pendek oleh Ali Muchson
Share this :

Cerita Pendek oleh Ali Muchson

Rumah yang Menunggu

Sudah sekian tahun aku tidak menjejakkan kaki di rumah itu. Rumah Pak K. Rumah yang dulu bagiku seperti rumah sendiri, tempat aku pulang di rumah orangtua angkatku. Pun tempat aku makan tanpa merasa menjadi tamu, dan tempat aku belajar arti kesabaran dari seorang lelaki sepuh yang tak pernah sekalipun meninggikan suaranya.

Petang itu aku berdiri di ujung jalan yang dulu terasa panjang, tapi kini pendek sekali. Barangkali karena pohon kelapa gading, dan pohon ketapang yang dulu rimbun kini tinggal batang-batang tua yang bengkok. Angin dari arah timur berhembus perlahan, membawa aroma tanah basah. Aku memandang rumah itu dari luar pagar: cat kuning gading sudah pudar, dindingnya retak halus seperti kulit keriput.

Rumah model jengki, kata orang-orang arsitektur. Gaya tahun lima puluhan. Atapnya miring tajam, tak simetris, terasnya luas dengan dua pilar pendek yang dulu sering kupakai bersandar sambil menunggu Pak K pulang dari kantor untuk membukakan pintu. Dua rumpun palm merah di kiri kanan tangga teras masih berdiri tegak, meski batangnya sudah menua dan mengering sebagian.

Entah kenapa langkahku berhenti lama di depan pagar itu. Hanya berdiri. Hanya menatap. Mungkin karena aku rindu, atau karena aku takut. Angin petang membawa bau kayu tua dan debu jalanan, membuat dada terasa sesak oleh sesuatu yang tak bisa disebutkan.

Seperti ada sesuatu yang masih tertinggal di udara halaman itu, napas masa lalu yang enggan pergi. Angin sore berembus pelan, membawa aroma cat lama dan kenangan yang belum sepenuhnya lapuk.

Aku sendiri agak bingung, tidak tahu apa yang menghantaui pikiranku petang itu. Tapi entah dari mana datangnya, ada semacam bisikan lembut di telingaku.

“Masuk saja, rumah itu masih menunggumu!”

Aku dorong pagar itu perlahan. Suaranya berderit serak, seperti suara seseorang yang berusaha mengucapkan sesuatu tapi tertahan. Di dalam, halaman itu masih berlantai semen kasar. Beberapa daun kering berserakan. Aku melangkah pelan ke arah teras, lalu mengetuk pintu kayu jati yang warna peliturnya sudah pudar.

“Tok…, tok…, tok…!” ketukku.

Sunyi. Hanya detak jam dinding kuno dari dalam yang samar-samar terdengar.

Aku hendak berbalik ketika suara dari dalam menyahut, suara bernada berat yang akrab di telingaku.

“Masuk saja!” suruhnya.

Aku terpaku. Itu suara yang kukenal betul. Suara berat dan penuh wibawa, suara bapak angkatku.

Pintu berderit pelan, terbuka, dan di ambangnya berdiri Pak K. Rambutnya memutih bersih, kacamata minusnya bertengger di ujung hidung, dan senyumnya, oh, senyum itu masih sama seperti dulu: teduh, penuh ikhlas.

“Assalamualaikum, Bapak…,” suaraku tercekat.

Beliau tersenyum, menepuk bahuku pelan sembari menjawab salamku.

“Sudah lama, Nak. Kau tambah gemuk, ya?”

Aku tertawa kecil. “Tapi, Bapak ini justru yang masih tampak lebih muda, dan wajah makin berseri-seri.”

Kata-kataku menggantung. Entah kenapa, ada rasa hangat menjalar di dada. Rasanya seperti pulang ke masa di mana segala hal terasa sederhana, dan dunia belum seberat hari ini.

Ada cahaya lembut di matanya yang membuat hatiku hangat, seolah waktu berhenti di tengah senyum itu. Dan dalam sekejap, aku tahu, rumah ini masih menyimpan kebahagiaan yang dulu pernah tumbuh, kini mekar kembali bersama kedatanganku.

“S, ayo masuk! Jangan di luar terus. Rumah ini sepi kalau tak ada tamu,” ajak bapak. Sebutan S adalah panggilan nama inisial dari namaku.

Bapak melangkah lebih dulu, dan aku mengikutinya seperti dulu-dulu, seperti seorang anak yang diajak ayahnya pulang, usai bepergian.

Tak Berubah

Aroma kayu jati langsung menyeruak ketika aku masuk. Ruang tamu itu masih seperti dulu: kursi kayu dengan ukiran bunga beralas menjalin, meja jati berkaca dengan taplak renda, almari hias berisi piala dan foto-foto lawas.

Pun di dinding tergantung foto keluarga: Pak K mengenakan seragam PNS salah satu departemen, berdiri di samping almarhumah istrinya, Bu W, dan anak-anak mereka: Mbak N, Mbak Y, dan si bungsu laki-laki, yakni Dik T.

“Duduk dulu, Nak,” katan bapak.

Aku duduk untuk sekian waktu, sambil bersandar di kursi. Tapi seiring waktu, lantas tiba-tiba bapak malah berkata, “Ah, tidak usah di sini. Ayo ke kamar. Bapak ada sesuatu untukmu.”

Kamar itu berada di sisi kanan bagian dalam rumah, dekat dengan dapur. Aku dulu sering membersihkan kamar itu, menyapu dan mengepel, serta merapikan tempat tidur. Dan ketika pintu kamar itu dibuka, rasanya waktu berhenti.

Malam itu udara kamar terasa lembap. Lampu meja berpendar kuning redup, memantul di kaca almari tempat baju-baju itu tergantung rapi. Aku duduk di kursi jati, menatap ruang, seolah menunggu sesuatu muncul dari balik pintu almari. Saat mataku mulai berat dan napas melambat, dunia di sekitarku mengabur, dan tiba-tiba.

Segalanya masih sama: ranjang besi dengan empat tiang penyangga kelambu, almari besar dari kayu jati, meja kerja dengan tumpukan buku dan tinta hitam, serta kaca rias tergantung di dinding di atas meja kecil. Semuanya seolah membeku dalam masa.

Aku mendekati meja kerja itu. Di sana masih ada pena Parker tua yang dulu sering dipakai bapak menulis saat lembur pekerjaan kantor. Ada juga kacamata plus, jam tangan rusak, dan dua lembar foto saat rapat di kantor yang sudah menguning.

“Bapak, barang-barang ini semua masih Bapak rawat?” tanyaku pelan.

Beliau tersenyum. “Benda-benda ini bukan sekadar barang, Nak. Mereka saksi. Selama masih ada saksi, seseorang belum benar-benar hilang.”

Aku terdiam. Kata-katanya menelusup jauh ke dalam dada. Ada sesuatu yang bergetar di antara udara dalam ruang itu, antara debu yang menari di cahaya dan kenangan yang tak pernah benar-benar mati.

Udara di ruang kamar tiba-tiba terasa pekat oleh kenangan, seolah setiap benda di sana ikut menatapku, mengenali langkah yang lama pergi. Dan tanpa kusadari, mataku mulai membasah, bukan karena sedih, tapi karena rasa rindu yang akhirnya menemukan tempat pulang.

Tiba-tiba beliau berdiri dan membuka almari besar itu. Engselnya berderit pelan, mengeluarkan aroma kamper yang menua dan menyengat. Dari dalam, Pak K mengambil satu gantungan baju dan menatapku dengan mata yang seperti menyimpan sesuatu.

Baju Hitam

“Coba kenakan baju ini,” katanya, menyerahkan baju panjang berwarna hitam legam. Modelnya jas, tapi kerahnya bisa dilepas pasang, tidak berkancing tapi pakai zipper atau resleting. Jadi, semacam jasket, perpaduan jas dengan jacket.

Aku menatapnya ragu. “Untuk apa, Pak?”

“Coba saja. Masih muat, mungkin,” jawabnya.

Aku menanggalkan jaket, mengenakan baju itu perlahan. Kainnya tebal dan dingin, tapi nyaman. Saat menatap ke kaca, aku melihat diriku tampak lain, lebih tegak, lebih berwibawa.

“Pas sekali tampaknya,” kata Pak K.

Aku tersenyum. “Baju ini bagus, Pak. Tapi mengapa modelnya koq begini?”

Bapak menyahut, “Itu kan variasi, sama halnya hidup kita itu penuh bervariasi!”

Aku cuma mengangguk, yang aku sendiri sebenarnya tak sepenuhnya memahami dari arah apa yang dikatakan bapak.

“Supaya kau ingat, kadang yang menutupi tubuh tak hanya kain, tapi juga tanggung jawab. Baju ini dulu Bapak pakai waktu pertama kali jadi kepala seksi di kantor. Bukan kebanggaan yang Bapak kenang, tapi beban yang harus dijaga.” lanjut kata Pak K lirih.

Aku terdiam. Beliau melanjutkan berkata, suaranya pelan seperti nasihat yang dititipkan lewat angin.

“Sekarang kau guru. Di hadapan murid-muridmu, kau bukan hanya pengajar, tapi cermin. Jangan biarkan cerminmu retak. Ketegasan bukan berarti keras. Lembut bukan berarti lemah,” lanjutnya.

Aku menatap baju itu lagi. Ada sesuatu yang hangat mengalir di dadaku.

“Terima kasih, Bapak,” kataku.

Bapak hanya tersenyum. “Nanti ada dua lagi yang Bapak simpan untukmu.”

Baju Batik Coklat

Bapak kembali membuka almari, menggeser beberapa gantungan baju yang sudah mulai kusam. Dari dalam, ia mengeluarkan baju kain batik berwarna coklat tua dengan motif abstrak seperti pusaran akar dan aliran air.

“Yang ini, coba juga, Nak!” pintanya.

Begitu kukenakan, baju itu terasa ringan, lembut di kulit. Aromanya samar seperti kayu cendana yang lama disimpan.

“Cocok juga, kan!” katanya sambil tersenyum kecil. “Kau tahu, ini baju yang dulu Bapak kenakan saat mengantarkanmu berangkat kuliah ke IKIP.”

Aku tertegun. Ingatan itu muncul begitu jelas: sore menjelang magrib di stasiun, beliau berdiri di peron, melambaikan tangan, sementara aku di kereta menahan air mata. Aku baru sadar, bahkan sampai hari ini aku belum merasa benar-benar berterima kasih atas semua pengorbanannya.

Pak K menatapku dalam-dalam.

“Baju batik ini bukan sekadar kain. Coklat itu warna tanah, tempat kita berpijak, tempat semua orang sama rendah, sama tingginya. Motifnya acak, seperti hidup: meski tak selalu indah, tapi selalu punya arah,” katanya.

Aku mendengarkan tanpa berani menyela. Setiap katanya terasa seperti benang yang menjahit kembali bagian-bagian diriku yang sempat koyak oleh waktu. Ada kedamaian yang pelan-pelan merambat, seperti sinar pagi yang menyelinap melalui tirai.

Setiap katanya terasa seperti butir hujan yang jatuh perlahan ke tanah kering dalam diriku. Dan dalam diam itu, aku sadar, nasihat Pak K bukan hanya tentang kain, melainkan tentang bagaimana manusia seharusnya berdiri di atas hidupnya sendiri.

“Kau pakai ini ketika hatimu mulai dingin. Supaya ingat, mengajar itu bukan pekerjaan, tapi ibadah,” nasihatnya.

Aku menarik napas panjang. Rasanya seperti baru pulang setelah sekian lama tersesat, tak tahu dari mana arah aku harus pulang.

“Bapak masih seperti dulu, nasihatnya menembus ke dalam,” kataku sambil tertawa kecil.

Bapak ikut tertawa. “Ah, yang berubah cuma umur, Nak. Isi hati mestinya tetap.”

Kami terdiam cukup lama. Dari jendela, cahaya gelap tampak di pekarangan, hanya cahaya memendar dari lampu penerang menembus tirai tipis, angin sepoi menembus kulit, menambah gigil suasana malam.

Baju Putih Polos

Akhirnya, Pak K mengambil satu baju lagi dari dalam almari. Kali ini, baju itu sederhana sekali: putih polos, berlengan panjang, tanpa hiasan sedikit pun. Kainnya halus tapi tampak baru, masih rapi lipatannya.

“Yang ini terakhir,” katanya. “Coba kamu pakai juga!” lanjutnya.

Aku memandang baju itu dengan perasaan aneh. Ada rasa segan, juga enggan yang tak bisa aku jelaskan.

“Putih sekali, Pak,” kataku pelan.

Bapak mengangguk pelan. “Ya. Putih itu warna paling jujur. Tak ada noktah, tak ada tempat bersembunyi di dalamnya.”

Aku mulai mengenakannya. Baju itu menempel di kulit terasa lembut, seperti embun dini hari ini yang menyentuh nadi. Saat kuhela napas, tercium samar aroma kapur barus dan kayu jati tua dari almari di belakangku, aroma yang dulu, yang khas menandai rumah ini.

Namun sebelum sempat kukancingkan seluruhnya, suara perempuan datang dari balik pintu yang tiba-tiba memecah keheningan.

“Lho, itu gak cocok, gak pantas buat kamu. Lagian…, kamu belum waktunya pakai baju warna itu!” tegurnya.

Aku menoleh cepat. Mbak Y berdiri di pintu dengan senyum renyah yang masih sama seperti dua puluh tahun lalu. Ia mengenakan daster bunga-bunga, rambutnya kecoklatan dikuncir, wajahnya bersinar tenang.

“Mbak Y…!” suaraku nyaris tak keluar.

“Iya, aku. Kamu kaget, ya?” katanya tertawa. “Bapak ini suka sekali kasih baju aneh-aneh. Tapi yang putih itu belum waktunya.”

Aku terpaku. “Belum waktunya?” tanya dalam benakku.

“Ya. Belum pantas. Itu baju paling sederhana, tapi paling berat maknanya, sakral,” kata Mbak Y, menatapku lembut.

Pak K berdiri di sampingnya, dan menatapku lama. Cahaya di sekitar mereka perlahan meredup, namun bukan kegelapan yang datang, melainkan keheningan yang hangat, seperti pelukan dari masa lalu. Saat itu aku tahu, mungkin aku sedang bermimpi, atau mungkin juga sedang dipanggil pulang sejenak untuk menguak kenangan.

Tatapan itu tenang, namun dalamnya seperti memantulkan sesuatu yang tak terucap, antara restu dan peringatan. Dan di antara cahaya gelap yang menyusup lewat jendela, aku merasa seolah waktu berhenti, menimbang apakah aku sudah siap memahami makna dari putih yang sesungguhnya.

“Nak, kalau tiba waktunya, kau tak perlu mencari baju warna putih itu. Dia akan menemukanmu sendiri,” bisik Pak K lirih

Aku tak mengerti. Tapi sebelum sempat bertanya, cahaya di kamar itu tiba-tiba meredup. Suara jam dinding berdetak cepat, lalu berhenti sama sekali.

Mbak Y melangkah ke arahku, menepuk bahuku cukup keras, hingga aku jadi ‘jingkat’. Kaget.

Pagi yang Tak Biasa

Aku terperanjat. Cahaya putih menyilaukan mataku. Keringat dingin menetes di pelipis. Aku duduk di tepi ranjang, menatap sekeliling. Kamarku sendiri. Bukan rumah Pak K. Di luar jendela, fajar baru saja menembus tirai. Suara azan subuh dari musala di ujung gang terdengar keras. Aku memegang dadaku, degupnya masih cepat.

Beberapa saat aku hanya duduk diam, mencoba menenangkan diri. Lalu perlahan, seperti kabut yang tersibak, ingatan itu datang: Pak K sudah meninggal 30 tahun silam saat usianya 64 tahun, sedangkan Mbak Y telah berpulang 4 tahun lalu karena Covid-19 saat usianya 62 tahun. Tapi tadi malam…, aku bertemu mereka. Aku berbicara dengan mereka. Aku mengenakan baju-baju itu.

Aku berdiri, berjalan ke arah almari bajuku. Entah kenapa aku ingin memeriksanya. Dan di sana, di antara baju tergantung, ada satu hitam lengan panjang, satu baju warna coklat, dan satu baju putih polos yang belum pernah kupakai, masih terlipat rapi dalam plastik bening.

Aku mengangkat baju putih itu pelan-pelan, menatapnya lama. Kainnya lembut. Aromanya seperti masih berbau dari toko. Aku tersenyum melambat.

Lalu dalam pikirku, mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Barangkali Pak K datang hanya untuk menegur lembut, bahwa hidup ini memang serangkaian pakaian yang kita kenakan satu per satu: baju tanggung jawab, baju kasih, dan baju peralihan. Dan mungkin, yang putih itu adalah baju yang belum waktunya kupakai. Belum saatnya.

Aku melipat baju itu hati-hati, menaruhnya kembali di almari. Burung murai yang sangkarnya kugantung di dekat tangga lantai dua sudah berceloteh, barangkali ia sedang berzikir kepada sang Pemberi Hidup dengan kicaunya. Aku menatap keluar jendela, dan bergegas ambil wudhu untuk Salat Subuh.

Di akhir doaku, aku mengucap pelan, “Terima kasih, Pak K dan Mbak Y. Saya akan ingat pesan-pesan itu. Al Fatihah….”

Epilog

Hari-hari setelah mimpi itu terasa lain. Entah kenapa, setiap kali berdiri di depan murid-muridku, aku merasa seolah Pak K sedang duduk di barisan belakang, mengamati dengan senyum sabarnya. Kadang ketika aku mulai lelah atau marah, aku teringat baju hitam panjang itu, dan tiba-tiba aku menurunkan nada suaraku.

Kadang, ketika ada murid yang kecewa karena nilai ulangannya tak bagus, aku teringat baju batik coklat itu, dan aku tahu, tugas guru bukan hanya mengajar, tapi mendengarkan.

Dan setiap kali aku membuka almari, baju putih itu seperti menatapku diam-diam dari lipatannya. Ia tak bicara, tapi aku tahu pesannya: “Tak semua warna kain cocok untuk hari ini.”

Ada warna yang harus dipakai ketika kita sedang menanggung beban, ada yang hanya layak ketika hati sedang lapang, dan ada warna yang menunggu saat jiwa sudah benar-benar bersih.

Sejak saat itu, aku belajar memilih warna setiap hari bukan hanya untuk tubuh, tapi juga untuk hati. Kadang hitam, ketika aku perlu teguh. Kadang coklat, ketika aku ingin hangat. Dan kelak, entah kapan, putih itu akan menemukanku sendiri, di hari yang tak bisa kutentukan, tapi pasti akan datang.

Aku mulai lebih rajin menata rumah, menyiram bunga, menunaikan kewajiban sebagai hamba, dan menulis catatan kecil tentang murid-muridku, serta sesekali menulis surat; surat yang tak pernah kukirim kepada Pak K. Dalam salah satu surat itu, aku menulis:

“Bapak, terima kasih karena Bapak masih mau datang, meski lewat mimpi. Saya tahu sekarang, hidup ini memang seperti kain yang dijahit waktu. Dan tak semua warna harus dipakai sekaligus, sebab setiap warna punya waktunya sendiri.”

Surat itu kusimpan di laci meja kerja, tepat di bawah tumpukan buku catatan tentang siswa. Dan setiap kali kubuka, aku mencium aroma samar kayu jati dan kamper tua. Aroma rumah Pak K. Aroma masa lalu yang tak sepenuhnya pergi. Mimpi sebuah perjumpaan lintas batas: antara hidup dan mati, antara warna dan waktu, antara kain dan jiwa yang terus dijahit maknanya.

Surabaya – Hari Santri, 22 Oktober 2025

Catatan

jingkat (Jw): loncat atau meloncat karena kaget.
warna hitam: simbol tanggung jawab, wibawa, dan ketegasan moral.
warna coklat: simbol kasih, kearifan, dan kehangatan dalam relasi antarmanusia.
warna putih: simbol kesucian, peralihan, dan keabadian: simbol kain kafan.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *