Totto-chan: Kisahnya sebagai Kritik terhadap Sekolah yang Tidak Memanusiakan Anak

  • EDUKASI
Totto-chan: Kisahnya sebagai Kritik terhadap Sekolah yang Tidak Memanusiakan Anak
Share this :

Ada anak yang sering mondar-mandir di kelas, tidak bisa duduk diam. Ada yang terlalu banyak bertanya. Ada pula yang lebih tertarik melihat apa yang terjadi di luar jendela daripada mendengarkan penjelasan guru di depan kelas.

Dalam kehidupan di sekolah, perilaku seperti itu kadang segera diberi label atau nama: nakal, mengganggu, sulit diatur, atau tidak disiplin. Padahal, boleh jadi anak-anak itu bukan tidak mampu belajar. Mereka hanya membutuhkan cara belajar yang berbeda.

Di tengah tantangan pendidikan modern dan masih munculnya berbagai persoalan, termasuk perundungan (bullying) di lingkungan sekolah, Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela masih tetap layak menjadi bacaan yang relevan. Judul aslinya Totto-chan: The Little Girl at the Window, penulis: Tetsuko Kuroyanagi

Novel karya Tetsuko Kuroyanagi kali pertama diterbitkan di Jepang pada 1981 dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama, alih bahasa oleh Widya Kirana itu bukan sekadar kisah masa kanak-kanak. Ia menyimpan kritik terhadap pendidikan yang terlalu cepat memberi label, namun terlalu sedikit menyediakan ruang untuk mendengarkan.

Kisah Totto-chan berangkat dari pengalaman masa kecil Kuroyanagi. Totto-chan merupakan nama panggilan masa kecil Tetsuko Kuroyanagi, yang dalam buku tersebut menceritakan pengalaman pendidikannya dan sosok Sosaku Kobayashi, kepala sekolah Tomoe Gakuen. Edisi revisi bahasa Indonesia diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2019.

Ia digambarkan sebagai anak yang aktif, penuh rasa ingin tahu, dan sulit menyesuaikan diri dengan pola pembelajaran. Kebiasaannya berdiri di dekat jendela, menunggu kelompok pemusik jalanan, serta berbagai perilaku lain yang muncul dari rasa ingin tahunya membuat guru di sekolah pertamanya kewalahan.

Totto-chan dikeluarkan dari sekolah tersebut dan ibunya diminta mencarikan sekolah lain. Di sinilah kisah Totto-chan mulai mengajukan pertanyaan penting: Apakah anak yang tidak sesuai dengan sistem harus dianggap sebagai masalah? Ataukah sistem pendidikan yang perlu belajar memahami anak?

Pertanyaan itu terasa semakin relevan ketika pendidikan hari ini berhadapan dengan keberagaman karakter, kemampuan, minat, dan cara belajar anak. Anak yang berbeda dari kebanyakan teman sekelasnya acap kali lebih mudah dianggap sebagai sumber persoalan daripada dilihat potensi yang ada di balik perbedaannya. Ironisnya, perbedaan itu bahkan menjadi pintu masuk bagi stigma dan perundungan.

Untungnya, perjalanan Totto-chan tidak berhenti di sekolah pertamanya. Sang ibu kemudian membawanya ke Tomoe Gakuen, sekolah yang dipimpin Sosaku Kobayashi. Sekolah itu jauh dari kesan mewah.

Ruang kelasnya menggunakan gerbong kereta api bekas. Namun, justru di tempat sederhana itulah Totto-chan menemukan sesuatu yang sangat berharga: kesempatan untuk diterima sebagai dirinya sendiri.

Setelah berbicara dengan Totto-chan, Kobayashi menerimanya sebagai murid. Ia tidak menjadikan pengalaman buruk di sekolah sebelumnya sebagai alasan untuk menghakimi. Sebaliknya, ia memberikan ruang bagi anak itu untuk berbicara dan didengarkan. Bagi seorang anak yang baru saja mengalami penolakan, penerimaan itu tentu bukan perkara kecil.

Kobayashi bahkan berulang kali memberikan peneguhan kepada Totto-chan: “Kamu benar-benar anak yang baik.” Kalimat sederhana itu menjadi bagian penting dari pengalaman pendidikan Totto-chan di Tomoe Gakuen.

Pada kesempatan itu, Kobayashi tidak sekadar mengatakan bahwa ia pintar, berbakat, atau berprestasi, namun Kobayashi lebih meneguhkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: Totto-chan, dirinya sebagai manusia tetap berharga.

Barangkali di situ kekuatan pendidikan yang sesungguhnya. Anak tidak selalu membutuhkan orang dewasa yang segera memperbaiki dirinya. Kadang-kadang mereka lebih dahulu membutuhkan seseorang yang percaya bahwa dirinya baik, berharga, dan memiliki potensi untuk berkembang.

Di Tomoe Gakuen, pendidikan tidak dibangun terutama melalui gedung yang megah atau teknologi yang canggih. Kobayashi menghadirkan ruang belajar yang lebih lentur. Murid-murid memiliki kesempatan memilih pelajaran yang hendak mereka kerjakan lebih dahulu. Belajar tidak selalu berlangsung dengan duduk diam berjam-jam di dalam kelas.

Lingkungan dan alam menjadi bagian dari pengalaman belajar. Gambaran tentang Tomoe Gakuen tersebut juga menjadi salah satu ciri penting buku ini dalam berbagai pengenalan resmi terhadap karya Kuroyanagi.

Gerbong kereta api yang menjadi ruang kelas pun seolah menyampaikan pesan simbolis: ruang pendidikan tidak harus selalu dibatasi oleh empat dinding. Dunia di luar sana juga merupakan ruang dan buku yang terbuka.

Lebih dari itu, Tomoe Gakuen mengajarkan penghargaan terhadap keberagaman. Anak-anak dengan kondisi dan latar belakang berbeda diterima sebagai bagian dari komunitas sekolah. Mereka belajar menolong, memahami, dan menghargai sesama.

Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada upaya membuat anak mengetahui atau cakap tentang sesuatu. Pendidikan juga membentuk cara anak memandang dirinya sendiri dan memperlakukan orang lain dengan penuh rasa empati.

Gagasan tersebut sejalan dengan semangat pendidikan inklusif yang kemudian berkembang dalam wacana pendidikan internasional. The Salamanca Statement and Framework for Action on Special Needs Education (UNESCO, 1994) menegaskan bahwa setiap anak memiliki karakteristik, minat, kemampuan, dan kebutuhan belajar yang unik. Sistem pendidikan karena itu perlu dirancang untuk merespons keberagaman tersebut.

Tomoe Gakuen berdiri pada 1937 dan kemudian hancur dalam serangan udara pada 1945, menjelang berakhirnya Perang Dunia II. Puluhan tahun kemudian, Kuroyanagi menuliskan kembali pengalaman masa kanak-kanaknya. Buku tersebut kemudian menjadi salah satu karya penting yang memperkenalkan pengalaman pendidikan Tomoe Gakuen kepada pembaca luas.

Waktu telah berubah. Teknologi pendidikan berkembang pesat. Kurikulum berganti. Gedung sekolah semakin modern. Namun, pertanyaan paling mendasar dalam pendidikan ternyata tetap sama: Apakah sekolah membuat anak merasa diterima dan dihargai sebagai manusia?

Dalam konteks tersebut, kisah Totto-chan menawarkan sedikitnya lima pelajaran penting bagi dunia pendidikan, yakni:

Pertama, pendidikan harus inklusif dan bebas stigma. Anak tidak seharusnya dicap sebagai “nakal” atau “bodoh” hanya karena memiliki perilaku atau cara belajar yang berbeda. Prinsip pendidikan inklusif pada dasarnya menempatkan keberagaman peserta didik sebagai sesuatu yang harus direspons oleh sistem pendidikan, bukan disingkirkan darinya.

Kedua, proses belajar perlu fleksibel dan menyenangkan. Belajar tidak harus selalu berlangsung dalam suasana kaku. Anak perlu diberi ruang untuk mengeksplorasi, bertanya, bergerak, dan menemukan pengetahuan melalui pengalaman.

Ketiga, pendidikan harus membangun kepercayaan diri. Kata-kata seorang guru dapat menjadi beban yang dibawa anak bertahun-tahun, namun juga dapat menjadi cahaya yang menyelamatkan harga dirinya.

Keempat, lingkungan adalah bagian dari ruang belajar. Alam, masyarakat, dan kehidupan sehari-hari dapat menjadi sumber pengetahuan yang kaya.

Kelima, pendidikan harus menumbuhkan empati sosial. Perbedaan fisik, kemampuan, dan latar belakang bukan alasan untuk menjauhkan seseorang. Justru dari keberagaman itu anak belajar memahami sesama.

Jika ditarik ke konteks Indonesia, gagasan tersebut menemukan relevansinya dalam perkembangan pendidikan inklusif nasional. Indonesia mendeklarasikan komitmen menuju pendidikan inklusif melalui Deklarasi Bandung pada 2004.

Perkembangan itu kemudian diperkuat melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa. Peraturan tersebut menjadi salah satu landasan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Indonesia.

Namun, regulasi itu hanya salah satu bagian dari perjalanan panjang pendidikan inklusif. Yang lebih penting adalah bagaimana semangatnya hadir dalam keseharian sekolah: dalam cara guru berbicara kepada murid, cara teman memperlakukan temannya, dan cara orang dewasa memahami perilaku anak.

Sebab, pada ujungnya, sekolah bukan sekadar tempat anak memperoleh nilai dan mengejar prestasi. Sekolah adalah ruang tempat seorang anak belajar mengenali dirinya, memahami dunia, dan menemukan keyakinan bahwa dirinya memiliki tempat di tengah kehidupan.

Totto-chan mengingatkan kita bahwa anak bukan benda yang harus dibentuk sesuai cetakan orang dewasa. Anak adalah manusia. Karena itu, pendidikan yang sejati bukan hanya bertanya, “Apa yang sudah bisa dilakukan anak?” namun juga, “Sudahkah kita benar-benar mendengarkan anak?”

Mungkin di situ makna terdalam Tomoe Gakuen. Sekolah yang baik tidak selalu sekolah dengan gedung paling megah, teknologi paling mutakhir, atau prestasi akademik paling tinggi. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu membuat seorang anak pulang dengan perasaan: “Aku diterima, aku dihargai, dan aku punya kesempatan untuk tumbuh.”

Dan barangkali, itu sebagai inti pendidikan: bukan sekadar membuat manusia menjadi pintar, melainkan terlebih dahulu memanusiakan anak. Pun di tangan mereka kelak tongkat estafet peradaban akan diterima dari generasi sebelumnya, generasi para pendahulu bangsa maupun generasi kita saat ini. (Ali Muchson)

Daftar Referensi

  1. Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia. (2009). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 tentang Iendidikan inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.
  2. Kuroyanagi, T. (2019). Totto-chan: Gadis cilik di jendela (W. Kirana, Penerj.; ed. revisi). Gramedia Pustaka Utama.
  3. Lokakarya Nasional Pendidikan Inklusif. (2004). Deklarasi Bandung: Indonesia Menuju Pendidikan Inklusif. Bandung.
  4. UNESCO. (1994). The Salamanca Statement and Framework for Action on Special Needs Education. UNESCO.

Featured image: Foto Istimewa

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *