Saya turut tergelitik membaca opini Ananda Sukarlan berjudul “Fenomena Surabaya: Mitos atau Fakta?” di situs Selingkar Wilis, tanggal 11 Desember 2025. Sebuah opini yang patut kita renungkan bersama, terutama bagi para pengambil kebijakan dan pemerhati dunia pendidikan di negeri tercinta ini.
Dalam hal ini, tak hanya lantaran isu bahwa eksistensi musik klasik jarang terangkat secara serius. Menurut saya, karena secara implisit Ananda menyingkap akar persoalan yang lebih besar: arah pendidikan kita yang kian menjauh dari pendalaman keahlian dan pembentukan karakter.
Ananda dikenal sebagai pianis, komponis, pendidik, penulis, dan aktivis kebudayaan Indonesia. Namanya telah lama mewarnai lanskap seni musik dunia. Ia bahkan menjadi satu-satunya orang Indonesia yang tercatat dalam buku The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century, yang memuat 2.000 tokoh dengan dedikasi luar biasa di bidang musik.
Maka, ketika ia mengangkat sebuah fenomena dari Surabaya, tentu ada bobot kesaksian dan pengalaman panjang yang dapat kita pelajari. Pengamatannya tidak lahir dari jarak, melainkan dari keterlibatan langsung dalam kompetisi, pendidikan, dan interaksi panjang dengan para musikus muda.
Dalam opininya, Ananda menyebut bahwa fenomena Surabaya layak diapresiasi sebagai pengecualian positif di tengah merosotnya kualitas dan kuantitas pelaku musik klasik di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Temuan dari Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) 2025, di mana Surabaya memecahkan semua rekor baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.

Ini menjadi bukti kuat, dari 83 peserta asal Surabaya, 57 berhasil menembus babak final, angka fantastis 68%, yang jelas tidak muncul dari ruang hampa. Angka ini menggambarkan sebuah ekosistem yang hidup, terarah, dan penuh kesadaran akan pentingnya pendalaman seni, bukan sekadar ikut arus.
Pada saat sekolah di negeri ini terjebak dalam kurikulum sekolah umum yang sangat padat, baik materi dan waktu, yakni dari pagi hingga menjelang sore anak-anak baru pulang. Surabaya justru mampu memberi ruang bagi tumbuhnya musikus-musikus muda.
Ini menegaskan bahwa problem utama kita bukan kurangnya talenta, melainkan kurangnya ruang, waktu, dan perhatian untuk mengembangkan talenta tersebut. Anak-anak yang pulang jam tiga atau empat sore, ditambah pekerjaan rumah yang menumpuk, jelas tak memiliki energi tersisa untuk berlatih instrumen dengan serius.
Di sisi lain, fenomena “generalis ekstrem” yang disebut Ananda juga terasa tak relevan dengan kondisi zaman. Banyak orangtua berharap anaknya menguasai segala hal: coding, desain, public speaking, bahasa asing, dan bermacam aktivitas lain, semua dalam satu waktu.
Alih-alih kaya pengalaman, anak justru berakhir dengan wawasan dangkal yang tak mengantarkan mereka pada keahlian utuh. Kurikulum kita sudah seperti gado-gado: kelihatan penuh, tetapi kehilangan rasa. Padahal, di dunia modern, nilai tertinggi justru lahir dari kedalaman, yang spesifik, bukan keragaman dangkal.

Surabaya menunjukkan arah yang berbeda. Sebagian orangtua tampaknya memilih strategi yang lebih realistis dan manusiawi: mengenali minat anak, lalu mengarahkan fokus secara konsisten. Mereka tidak lagi terjebak pada obsesi menjadikan anak “serba bisa”, melainkan menuntun mereka untuk benar-benar mendalami apa yang ia dicintai.
Ketika sebuah keluarga berani mengambil keputusan jangka panjang bahwa musik adalah jalan yang ingin ditempuh anak, maka ruang tumbuhnya terbuka, dan prestasi pun menyusul. Tidak hanya kemenangan kompetisi, namun pertanda lahirnya musisi yang benar-benar matang dan mumpuni.
Analogi dokter spesialis bedah saraf atau programmer spesialis menegaskan bahwa dunia modern memberi penghargaan tertinggi kepada mereka yang memiliki mastery, bukan sekadar familiarity. Keahlian spesifik yang ditekuni dengan kesabaran dan jam latihan panjang sering kali jauh lebih bernilai daripada ketidakjelasan identitas akibat terlalu banyak mencoba hal tetapi tak mendalaminya.
Kritik Ananda terhadap kurikulum sebagai momok pendidikan juga bukan tanpa dasar. Kurikulum yang semakin padat bukan hanya beban akademik, tetapi penghambat besar bagi pengembangan skill yang seharusnya disesuaikan dengan minat dan bakat anak.
Fakta bahwa para pemenang Ananda Sukarlan Award (ASA) terbaru justru berasal dari homeschooling atau pendidikan musik di luar negeri, ini menguatkan sinyal bahwa sistem pendidikan nasional kita membutuhkan penataan ulang yang serius. ASA didirikan oleh beberapa filantropis diketuai oleh Pia Alisjahbana (pendiri Femina Group), dan telah berlangsung sejak 2008 hingga sekarang.

Anak butuh waktu, ruang lengang, dan atmosfer yang mendukung untuk mengejar passion mereka, bukan sekadar memenuhi daftar tugas yang nyaris membuat kelelahan. Tanpa ekosistem yang memberi napas dan kesempatan bereksplorasi, potensi terbaik mereka hanya akan menjadi catatan yang tak pernah sempat tumbuh menjadi pencapaian.
Jalan hidup tidak ditentukan oleh selembar kertas tanda lulus. Ia ditentukan oleh keahlian, reputasi, dan kemampuan menghasilkan karya bermakna. Bahkan di era sekarang, ijazah bukan hanya mudah didapat, tetapi juga mudah dipalsukan. Maka, menjadi master dalam satu bidang jauh lebih menentukan masa depan daripada menjadi “serba bisa tapi tak benar-benar bisa”.
Surabaya layak menjadi lentera kecil yang memberi contoh bahwa keberanian untuk keluar dari pola umum dapat menghasilkan perubahan signifikan. Ketika orangtua, guru, dan institusi musik di sana memilih jalan berbeda, mereka membuktikan bahwa hasilnya pun tentu berbeda.
Fenomena ini bukan mitos, bukan kebetulan, dan bukan pula keberuntungan semata. Ia adalah buah dari fokus kolektif, dan semestinya menjadi inspirasi bagi kota-kota lain, juga bahan penelitian serius untuk memahami bagaimana Jawa Timur, khususnya Surabaya, mampu bersinar saat daerah lain mulai meredup.
Karena itu, Ananda Sukarlan bukan sekadar beropini, tetapi merefleksi mendalam yang patut dijadikan bahan pertimbangan bagi siapa pun yang peduli pada masa depan pendidikan musik Indonesia. Ia sekaligus menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering bermula dari keberanian mengambil langkah-langkah kecil yang konsisten dan berpihak pada perkembangan anak. (Ali Muchson)
Featured image: Foto koleksi Ananda Sukarlan
