Buat Ayah yang Super Sibuk: ‘Father Hunger’ Lebih Berbahaya daripada ‘Fatherless’
Mumpung masih berdekatan dengan peringatan Hari Ayah pada 12 November, kiranya topik tentang “Waspadai Akibat ‘Father Hunger’ bagi Tumbuh Kembang Buah Hatimu!” masih memiliki benang merah yang kuat dengan tulisan saya berjudul “Hari Ayah Nasional: Ayah, Pilar Sunyi di Balik Kokohnya Sebuah Keluarga”.
Dalam struktur keluarga, peran ayah bukan sekadar pencari nafkah. Sosoknya adalah penentu arah, menjadi pemandu yang membekali anak-anak dengan rasa tanggung jawab, empati, perhatian, kasih, disiplin, serta keberanian menghadapi tantangan hidup. Ayah juga merupakan pelindung keluarga, memastikan anak-anak tumbuh dalam rasa aman di bawah jangkauan kasihnya.
Namun, di era teknologi dengan kehadiran gawai dan media sosial, muncul tantangan baru dalam komunikasi dan interaksi keluarga. Di ruang keluarga modern, tatap muka sering kalah oleh tatapan ke layar. Distraksi digital menggerus kualitas interaksi antaranggotanya. Walaupun ayah secara fisik berada di rumah, tetapi jiwanya tersesat di dunia maya. Dari sinilah ‘father hunger’ muncul.
Father hunger adalah kondisi ketika anak merasakan tekanan psikologis akibat tidak berfungsinya peran ayah dalam pengasuhan. Data Universitas Sebelas Maret (2021) menunjukkan Indonesia menempati posisi ketiga di dunia sebagai ‘fatherless country’, yakni negara dengan banyak anak yang tumbuh tanpa pola asuh ayah.
Tak dapat dimungkiri, kesibukan membuat banyak ayah hanya berfokus pada peran mencari nafkah sehingga kurang hadir dalam proses tumbuh kembang anak. Ada yang berangkat saat anak masih tidur, pulang ketika anak sudah terlelap. Pun ketika bertemu, ayah sudah terlalu lelah. Akibatnya, banyak momen penting dari perjalanan tumbuh kembang anak terlewat begitu saja.
Father Hunger Tentu Berdampak
Dalam keseharian, beban pengasuhan hampir selalu jatuh pada ibu. Maka tak heran ketika anak bermasalah, ibu kerap menjadi pihak pertama yang disalahkan. Sementara itu, peran ayah acap kali direduksi hanya sebagai pencari nafkah, sebuah persepsi keliru yang masih hidup di masyarakat.
Padahal, secara ideal peran ayah sangat penting dan tidak boleh dipinggirkan. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh tanpa pola asuh ayah lebih rentan mengalami ‘father hunger’ yang berdampak pada pembentukan karakter, kemampuan bersosialisasi, hingga cara memecahkan masalah.
Selain itu, anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah secara emosional lebih rentan menjadi korban perundungan atau ‘bullying’ maupun masuk dalam hubungan ‘toxic’, baik dalam keluarga, persahabatan, maupun pasangan kelak di masa dewasa.
‘Father hunger’ jauh lebih berbahaya daripada ‘fatherless’. ‘Fatherless’, yakni ketiadaan ayah karena perceraian, kematian, atau migrasi kerja di luar kota atau luar negeri. Kondisi ini masih dapat diatasi dengan berbagai strategi penanggulangan (coping strategy), melalui dukungan keluarga besar, komunikasi jarak jauh, atau lingkungan yang suportif.
Namun, ‘father hunger’ jauh lebih sulit dikenali jika dibandingkan dengan ‘fatherless’, sebab ‘father hunger’ sering tampak normal, sementara anak tidak memiliki bahasa untuk menyampaikan berbagai keluhannya.
‘Father hunger’ terjadi ketika anak tinggal serumah dengan ayah, tetapi tidak mendapatkan kelekatan emosional. Ketidakhadiran batin inilah yang memicu ‘emotional hunger’, rasa tidak layak dicintai, haus validasi, dan pola hubungan yang kacau saat dewasa. Dampaknya bisa mengiringi mereka hingga bertahun-tahun kemudian.
Jika dijabarkan secara luas, berikut beberapa dampak, meski tentu tidak semuanya, yang mungkin dialami anak ketika mereka mengalami ‘father hunger’:
- Merasa rendah diri, kurang percaya diri, pesimis, tidak memiliki semangat bersaing, prestasi akademik rendah, kemampuan pemecahan masalah lemah, serta emosi yang tidak stabil seperti mudah marah, mudah kecewa, menyimpan dendam, atau bahkan perilaku agresif, dan mengintimidasi untuk menutupi ketakutan dan ketidakbahagiaan.
- Rentan terlibat dalam hubungan toxic, mengalami ‘daddy issues’, terjerumus pergaulan bebas seperti kecanduan alkohol, obat-obatan, atau seks bebas; menjadi pelaku atau korban kekerasan fisik, emosional, atau seksual; depresi; serta mengalami gangguan psikosomatik seperti sakit kepala, sakit perut, maag, hingga nyeri dada.
Apa yang Mesti Dilakukan Ayah?
Disadari atau tidak, figur ayah sangat berarti dan selalu dinantikan kehadirannya oleh anak. Jika selama ini Anda terlalu tenggelam dalam kesibukan kerja, ada kemungkinan anak mengalami ‘father hunger’. Maka, mulai sekarang ayah dituntut untuk hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Beberapa langkah berikut dapat dilakukan:
- Luangkan Waktu
Buat aktivitas yang dapat dilakukan bersama anak, seperti berolahraga, menjalankan hobi, atau berkebun bersama. Momen-momen seperti ini membuka ruang bagi ayah dan anak untuk saling berbagi cerita, memahami perasaan satu sama lain, hingga membahas topik-topik berat seperti bahaya narkoba, seks bebas, bullying, atau risiko pergaulan yang merugikan. - Jadi Pendengar yang Baik
Menjadi pendengar yang baik adalah bentuk empati yang membuat anak merasa dihargai. Saat anak bercerita, dengarkanlah dengan sabar dan respons yang tepat. Berikan pujian ketika anak berhasil melakukan sesuatu, tertawalah ketika ia mengisahkan hal lucu, dan jangan ragu menunjukkan kasih sayang. Sentuhan emosional seperti ini membuat anak merasa aman dan dicintai. - Dukung Minat dan Bakat Anak
Ayah perlu jeli melihat potensi anak. Jika anak suka bernyanyi, dorong ia untuk terus berlatih atau ikut les vokal. Jika anak menyukai alat musik, fasilitasi minatnya. Keterlibatan ayah dalam minat anak akan memperkuat rasa percaya diri dan membangun kedekatan emosional. - Contohkan Perilaku Terpuji
Anak adalah peniru ulung. Karena itu, ayah perlu memberikan teladan dalam kebiasaan sehari-hari: berbicara sopan, menjaga kebersihan, makan makanan bergizi, hingga mengelola emosi dengan baik. Teladan yang konsisten akan menjadi fondasi karakter anak.
Dibutuhkan Intervensi
Jika kita menginginkan generasi yang bukan hanya cerdas tetapi juga stabil secara emosional, maka kehadiran ayah bukan hanya raganya, namun juga hatinya. Hal ini harus menjadi perhatian bersama:
- Perlu hadirnya peran pemerintah untuk reformasi kebijakan cuti ayah dengan pemahaman bahwa memperpanjang cuti bukan sekadar bonus, tetapi investasi penting untuk menciptakan ‘bonding’ atau ikatan antara ayah dan anak.
- Program parenting di Indonesia perlu menyasar kepada ayah, bukan hanya ibu seperti yang terjadi selama ini. Dukungan emosional dan pelatihan komunikasi keluarga dapat memperkuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan.
- Sekolah dapat menjadi ruang restoratif. Program ayah-anak di sekolah dapat menjadi intervensi yang efektif, misalnya kegiatan ‘Hari Ayah’ atau proyek belajar bersama sebagai sarana mempererat ikatan emosional.
- Peran media, baik cetak maupun online, dapat memperluas narasi tentang ayah yang peka dan hadir secara emosional, menantang stereotip lama bahwa ekspresi kasih sayang ayah kepada anak cenderung lemah.
*
Pada akhirnya, masa depan generasi kita sangat bergantung oleh sejauh mana para ayah mampu hadir sepenuh hati dalam kehidupan anak-anaknya. ‘Father hunger’ tak hanya luka kecil dalam pengasuhan, namun dapat menjadi ‘borok’ besar yang menggerogoti karakter, kepercayaan diri, dan stabilitas emosional anak hingga dewasa.
Lantaran itu, peran ayah tak boleh berhenti pada hadirnya raga, melainkan mesti hidup dalam kepedulian, teladan, dan kelekatan batin. Ketika ayah benar-benar hadir: mendengar, membimbing, dan memberi kasih sayang, sesungguhnya ia sedang menyiapkan fondasi bagi terbentuknya generasi yang tangguh, berempati, dan mampu berdiri kukuh menghadapi dinamika zaman. (Ali Muchson)
Referensi:
- https://www.alodokter.com/father-hunger-ini-pengertian-dan-dampaknya-pada-anak
- https://www.kbbi.web.id/kukuh
- https://theconversation.com/father-hunger-lebih-mengganggu-perkembangan-emosional-anak-dibandingkan-fatherless-268566
- Universitas Sebelas Maret (2021). Angka Fatherless di Indonesia Terbanyak Ketiga, Mahasiswa UNS Buat Proyek Edukasi Peran Ayah.
