Penghormatan Terakhir untuk Sang Begawan: Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas

Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas
Share this :

SURABAYA – Di antara keheningan lorong Rumah Duka Adi Jasa yang berselimut aroma hio dan karangan bunga, sebuah penghormatan terakhir terajut dengan khidmat. Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL), komunitas pemerhati bangunan kuno yang identik dengan tagar #blusukanedan; dan Roode Brug Soerabaia (RB), komunitas kesejarahan Surabaya 1945; hadir untuk memberikan penghormatan terakhir dalam upacara Mai Song bagi almarhum Prof. Ir. Johan Silas, Kamis (11/6/2026) petang.

Kehadiran kedua komunitas ini bukan sekadar kunjungan dukacita biasa. Prof. Ir. Johan Silas, yang merupakan ayahanda dari pegiat budaya Ina Silas, adalah sosok “Begawan Tata Kota” yang jejak pemikiran dan kiprahnya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah fisik maupun sosial kota yang mendapatkan ‘jejuluk’ atau julukan Kota Pahlawan.

Menyelami Tradisi Mai Song

Tradisi Mai Song merupakan sebuah ritual penting dalam budaya kematian etnis Tionghoa. Secara harfiah, acara ini dilaksanakan sebelum jenazah leluhur dikuburkan atau dikremasi. Ia menjadi ruang sakral sekaligus kesempatan terakhir bagi keluarga, kerabat, maupun kolega untuk memandang raga orang terkasih sebelum raga tersebut benar-benar dilepaskan dari dunia fana.

Bagi penganut agama Buddha atau Kong Hu Chu, Mai Song sarat dengan ritual sembahyang khusus yang ditujukan sebagai bekal spiritual bagi mendiang. Namun, bagi umat Kristiani seperti dalam persemayaman Prof. Ir. Johan Silas, Mai Song tetap dijalankan sebagai tradisi penghormatan budaya yang diisi dengan doa-doa penguatan dan pidato apresiasi bagi para pelayat.

Yang sudah mengenal Kristus lebih simpel, yakni dengan memanjatkan doa bagi almarhum dan harapan bagi yang ditinggalkan. Untuk Kristen Katolik sudah baku ritualnya dan berlaku di manapun belahan dunia.

Prosesi Mai Song dimulai dengan tahapan yang penuh kasih: memandikan jenazah, meriasnya, dan mengenakan pakaian terbaik. Dalam filosofi Tionghoa, ini adalah perwujudan nilai “Hao”, yakni bakti dan kasih yang paling tinggi. Diharapkan, arwah dapat memulai perjalanan menuju alam baka dalam kondisi yang paling sempurna dan bermartabat.

Selain itu, secara tak langsung kesempatan maisong ini adalah ajang reuni keluarga besar sebagaimana juga saat resepsi perkawinan anggota keluarga. Sudah menjadi tradisi dan kebiasaan hospitality etnis Tionghoa adalah menyambut tamu dengan memberi dan mengajak makan, bisa secara sederhana, pun bisa “wah” bergantung pada kemampuan finansial keluarga.

Setelah itu, jenazah ditempatkan di dalam peti jenazah bermaterial kaca. Hal ini sengaja dirancang agar seluruh anggota keluarga dan kerabat dapat melihat wajah mendiang secara bersamaan untuk terakhir kalinya sebelum peti ditutup permanen. Setelah masa persemayaman selesai, jenazah akan menjalani prosesi penguburan atau kremasi sesuai dengan wasiat atau kesepakatan keluarga.

Peti ditutup kaca bukan tradisi maisong, namun adaptasi dari budaya lain, agar pelayat bisa melihat wajah almarhum terakhir kalinya. Kesempatan ini biasanya pada saat upacara tutup peti.

Chrisyandi Tri Kartika, Founder Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL), menuturkan bahwa kehadiran perwakilan anggota komunitas dalam tradisi Mai Song ini adalah sebuah perjalanan spiritual untuk memaknai “bangunan” yang paling esensial, yakni manusia dan warisannya.

“Kehadiran kami di sini bukan sekadar bentuk dukacita, melainkan sebuah ziarah memori atas dedikasi luar biasa Prof. Ir. Johan Silas bagi Surabaya. Tradisi Mai Song mengajarkan kita bahwa raga boleh berpisah, namun nilai kebajikan seseorang harus terus ‘dilihat’ dan dirawat dalam ingatan kolektif,” tuturnya.

Sebagaimana PSL merawat pernak-pernik bangunan lama agar tak lekang oleh zaman, tradisi ini mengingatkan bahwa manusia adalah ‘bangunan sejarah’ yang paling berharga. Menghargai fase akhir hidup seseorang dengan cara yang penuh hormat adalah bentuk tertinggi dalam menghargai sejarah itu sendiri,” pungkas Chrisyandi, yang juga seorang Pustakawan di Universitas Ciputra Surabaya.

Upacara Mai Song memberikan pelajaran berharga, kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah transisi yang harus disambut dengan rasa hormat yang mendalam. Bagi keluarga besar PSL, dan RB, turut serta menyaksikan keberlangsungan tradisi ini di tengah kemajuan zaman adalah suatu media pengingat.

Bahwa, Surabaya tak sekadar belantara beton dan aspal, melainkan kota yang hidup karena akar budaya dan manusia-manusia hebat yang pernah berjuang di dalamnya. Selamat jalan, Prof. Ir. Johan Silas. Raga mungkin telah dipulangkan ke haribaan semesta, namun jejak ilmu dan pengabdian Anda akan selalu menempati ruang terhormat dalam memori Kota Pahlawan. (Ali Muchson)

Referensi:

  1. tokobungasurabayaonline-adijasa.com (Mengenal Proses Pemakaman Mai Song)
  2. Wikipedia (Tradisi Pemakaman Tionghoa)

Biarkan Foto Bicara
Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas

Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas
Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas
Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas
Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas
Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas
Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas
Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas
Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas
Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas
Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas
Komunitas PSL dan RB Hadiri Tradisi Mai Song Prof. Ir. Johan Silas

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *