“Champion of the World” dan Mereka yang Tak Pernah Dielukan

“Champion Of The World” Dan Mereka Yang Tak Pernah Dielukan
Share this :

Suatu hari menjelang petang di akhir pekan, di luar rumah gerimis turun tanpa jeda sejak sore, meredam bunyi jalanan dan menyisakan udara yang lembap dan dingin. Dalam suasana seperti itu, saya memilih duduk diam, membiarkan waktu berjalan pelan, ditemani alunan musik. Hingga pada satu giliran, lagu Champion of the World dari Coldplay mengalun, mengisi ruang dengan nada yang lirih sekaligus berdenyut.

Pun saya menyimak video klipnya, sekelompok siswa tampak mengepung satu sosok yang menjadi sasaran perundungan, tatapan merendahkan, tawa yang melukai, dan tubuh yang perlahan menyusut oleh rasa takut. Ada sesuatu yang seketika menyentuh perasaan, mengetuk batin perlahan namun dalam. Di balik hujan yang tak kunjung reda, lagu itu menghadirkan sebuah sunyi lain, sunyi yang meminta untuk direnungkan lebih jauh.

Berangkat dari rasa penasaran itu, saya mencoba memahami liriknya melalui google translate. Maklum, saya “nol” dalam bahasa Inggris. Dari situ saya menyadari bahwa ada lagu-lagu yang tak meminta kita berdiri dan bertepuk tangan, tak mengajak berjingkrak, tak pula memaksa optimisme murahan. Justru mengajak kita duduk, diam, dan merenung, menyingkap pesan apa yang tersembunyi di balik lirik-liriknya.

Dan lagu yang saya maksud adalah Champion of the World dari Coldplay. Ia berbicara lirih tentang kegagalan, tentang usaha yang tak kunjung berhasil, tentang proses panjang yang melelahkan, tentang seseorang yang terus jatuh namun memilih untuk tak benar-benar pergi dari gelanggang kehidupan.

Sosok dalam lagu ini bukanlah pemenang sejak awal mula. Ia dianalogikan sebagai anak biasa yang berusaha keras menjadi seperti anak-anak lain di sekolah. Ia mencoba menyesuaikan diri, mencoba dengan sungguh-sungguh, mencoba bertarung dalam duel-duel kecil kehidupan, dan semua upayanya acapkali tak menemui keberuntungan.

Bahkan sebelum sempat memulai tumbuh, ia sudah akrab dengan bayangan kegagalan. Namun justru dari situlah denyut lagu ini dapat ditemukan. Sebab kegagalan, alih-alih memadamkan semangat atau menidurkan kembali mimpi-mimpinya, justru menempa keberanian yang sunyi untuk tetap berdiri dan bertahan untuk tetap melangkah.

Di banyak titik terendah perjalanan kehidupan, kita pernah menjadi sosok seperti yang digambarkan dalam video klip itu: sosok yang tak menonjol, tak dihiraukan, tak mampu bersaing dalam kompetensi, tak lolos dalam kompetisi, bahkan kadang hanya dikenal sebagai figur yang selalu terpinggirkan. Menjadi pejuang tanpa dukungan, yang seolah berjalan tanpa daya.

Pun tak jarang, mereka adalah sosok yang acapkali dibully oleh lingkungannya, diremehkan, atau bahkan direndahkan. Lagu ini tak menyangkal kenyataan pahit tersebut. Ia justru menyemangati dengan cara yang jujur, lalu memunculkan pertanyaan yang tak mudah dijawab: “Jika dunia tak memberi panggung, apakah kita masih mau berdiri?”

Jelajah lereng gunung yang terasa seperti jalan bunuh diri dalam lagu ini menjadi metafora paling telanjang tentang tantangan hidup. Ia adalah mimpi yang tampak mustahil, cita-cita yang dikatakan orang lain tak akan berhasil, jalan terjal yang sering disarankan untuk ditinggalkan saja. Bahkan tak sedikit orang kerap memberi label negatif sebelum kita sempat mencoba.

Namun di tengah semua suara sumbang itu, tokoh dalam lagu ini mengenakan mahkota di kepalanya: “Champion of the World.” Sebuah quote yang menyemangati untuk memberi label dan menyebut dirinya juara. Bukan karena ia telah menang, melainkan karena ia memilih percaya pada dirinya sendiri saat tak ada yang lain percaya, bahkan ketika ia diremehkan.

Di sinilah lagu ini terasa sangat universal. Ia tak memuja penderitaan, tak pula mengagungkan luka. Ia mengakui bahwa perjuangan itu melelahkan, kegagalan itu menyakitkan, dan rasa ingin menyerah itu nyata. Namun berhenti sepenuhnya bukanlah pilihan yang ingin diambil. Menjadi juara bukan soal mengalahkan orang lain, melainkan bertahan satu ronde lebih lama dari keputusasaan.

Ada bagian lagu yang menghadirkan sosok “dia”, yang mungkin nyata, mungkin pula hanya imajiner. Sosok ini membawa pengakuan, cinta, atau sekadar keyakinan bahwa usaha itu berarti. Inilah alasan paling jujur, mengapa banyak orang tetap bertahan: bukan demi tepuk tangan khalayak, melainkan demi satu wajah, satu kalimat, atau satu keyakinan kecil bahwa hidup masih layak diperjuangkan.

Sepeda, roket, terbang ke angkasa, bahkan E.T. bukan sekadar imaji penghibur. Ia adalah bahasa imajinasi seorang anak yang menolak menyerah pada kenyataan pahit. Ketika dunia terasa terlalu berat, imajinasi menjadi ruang bernapas, suatu cara paling sederhana untuk bertahan hidup. Di sanalah harapan dijaga, dan perlawanan paling sunyi menjadi siap sikap posisi kuda-kuda.

Pada akhirnya, lagu ini secara implisit mengajarkan bahwa setiap orang memiliki definisi kemenangannya sendiri. Menjadi juara bukan berarti berdiri di podium tertinggi. Ia bisa berarti tetap bermimpi meski dilecehkan, tetap mencoba meski gagal, dan tetap melangkah meski terluka. Kemenangan di sini bukan kepalan tangan memukul udara atau teriakan kesombongan, melainkan bisikan yang meneguhkan: “Aku menang karena aku tak berhenti.”

Dalam konteks pembelajaran kehidupan, pesan ini menjadi sangat relevan. Kita boleh gagal berkali-kali. Kita boleh merasa biasa saja, boleh tak secerah orang lain. Namun selama masih mau belajar, mencoba, dan berdiri lagi setelah jatuh, kita telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar piala: kita telah memenangkan diri kita sendiri.

Champion of the World, tembang dari Coldplay, adalah suara bagi mereka yang berjuang dalam sunyi. Mereka yang tak selalu menang, tak selalu dielu-elukan, namun tetap melangkah. Dan barangkali di situ pesan paling jujur yang disampaikan Coldplay secara tak terus terang: “Juara sejati bukan mereka yang selalu dielu-elukan, melainkan mereka yang tak menyerah pada versi terburuk dari dirinya sendiri.” (Ali Muchson)

Champion of The World
By Coldplay

I tried my best to be just like
The other boys in school
I tried my best to get it right
And died in every duel

This mountainside is suicide!
This dreams wil never work!
Still this sign upon my headstore write:
A champion of the world

I tried my best to stay alight
Fly like a firework
I tried my best at taking flight
But my rocket ship reversed

*

Oh referee don’t stop the fight!
Everyone can see I’m hurt
But I’ll stand before conquistadors
Til I’m champion of the world

When I sail,
And when I sail, I’m sailing west
I might fail
Knowing I might fail but still I’m hoping for the best

In my dreams,
And in my dreams, onto my chest
She’ll pin the colours and say:
“I wondered the whole wide world but Baby you’re the best”

**

So I am flying on my bicycle
Heading up wards from the Earth
I am jumping with no parachute
Out into the universe

I have E.T. on my bicycle
Because giving up won’t work
I am riding on my rocket ship
And I’m champion of the world

Sumber:
https://www.youtube.com/watch?v=kayI9QB1-IA&list=RDkayI9QB1-IA&start_radio=1

“Champion Of The World” Dan Mereka Yang Tak Pernah Dielukan
“Champion Of The World” Dan Mereka Yang Tak Pernah Dielukan

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *