Roode Brug Soerabaia Turut Ramaikan “Budhal Tok!”,
Gathering Ulang Tahun ke-44 PEMUDI’S
Sore itu, suasana di kawasan Benteng Kedung Cowek terasa berbeda. Tak hanya lantaran langit diselimuti mendung dan matahari yang perlahan turun, melainkan oleh satu irama yang tak biasa, deru mesin tua yang berulang, “udhug…, udhug…, udhug…”.
Suara itu datang silih berganti, bertubi-tubi, seperti denting waktu yang diputar kembali. Ia tak sekadar bunyi kendaraan, namun gema sejarah yang bangkit dari masa silam, mengisi ruang dengan kenangan yang lama tersimpan.
Ratusan sepeda motor lawas berkumpul, masing-masing membawa cerita dari zaman yang berbeda. Kendaraan roda dua, yang oleh masyarakat Jawa dulu disebut “montor udhug” karena karakter suaranya, sehingga masyarakat menyebutnya dengan sebutan itu.
Montor udhug pernah menjadi bagian dari denyut kehidupan di era kolonial, melintasi jalanan kota, mengangkut kepentingan militer hingga administrasi pemerintahan. Kini, di tangan para perawatnya, ia hadir bukan sebagai alat, melainkan sebagai warisan.
Para pemilik kendaraan itu tergabung dalam komunitas PEMUDI’S, sebuah perkumpulan pecinta motor kuno yang konsisten menjaga eksistensi kendaraan bersejarah. Banyak dari koleksi mereka berasal dari Eropa, yang diproduksi pada masa Revolusi Industri.
Yakni, ketika teknologi mulai mengubah cara manusia bergerak dan berpindah. Tak heran, kendaraan-kendaraan ini masuk dalam kategori benda cagar budaya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Memasuki usia ke-44 pada tahun 2026, PEMUDI’S merayakan momentum tersebut melalui sebuah gathering bertajuk “Budhal Tok!” yang digelar pada 25–26 April 2026 di kawasan benteng bersejarah tersebut. Lebih dari sekadar perayaan ulang tahun, acara ini menjadi ruang temu bagi para pecinta otomotif klasik, sekaligus ajang merawat ingatan kolektif.
Kemeriahan acara semakin terasa dengan hadirnya kegiatan Halal Bihalal dari Motor Antique Club Indonesia Wilayah Timur, yang telah menjadi agenda tahunan. Momentum ini mempertemukan para anggota lintas daerah dalam suasana hangat penuh keakraban, memperkuat jejaring sekaligus semangat pelestarian.
Tak hanya berkumpul, para peserta juga diajak bergerak bersama dalam kegiatan Rolling Thunder “Suramadu Ride”. Ratusan montor udhug melaju dari Benteng Kedung Cowek menuju ujung Jembatan Suramadu di sisi Bangkalan, lalu kembali lagi.
Perjalanan pulang-pergi itu bukan sekadar konvoi, melainkan parade sejarah yang melintas di jalur modern, sebuah kontradiksi yang justru mempertegas keberlanjutan waktu yang mengukir sejarah itu tetap dilestarikan.
Di area acara, suasana semakin hidup dengan hadirnya pasar kuliner, lapak sparepart motor tua, hingga ajang Motorcycle Pick Award yang memberi apresiasi pada kendaraan terbaik. “Budhal Tok!: diselenggarakan berkat disponsori dan didukung oleh: @perum.bulog, @esse.loveyourself, @extrajoss_ultimate, @pertaminalub, @paldamvbrw, @customland_id, dan @katsuexpress.id.
Di antara riuh aktivitas tersebut, dua pelukis asal Surabaya, Edi Marga dan Lutfi Satako, turut menghadirkan warna berbeda. Mereka melukis langsung di lokasi, menjadikan montor udhug dan suasana sekitar sebagai objek spontan, sebagai upaya turut mengabadikan peristiwa dalam bahasa visual agar sejarah agar ia tak hilang ditelan zaman.
“Kami tidak sekadar merekam bentuk, tetapi menangkap rasa, tentang waktu yang bergerak, tentang sejarah yang tetap bernapas,” ujar Edi Marga, yang anggota Roode Brug Soerabaia, didampingi founder-nya, Ady Setyawan, usai turut Rolling Thunder “Suramadu Ride”.
Widi Munawar (56), peserta dari Ciamis, Jawa Barat, salah satu anggota CBB (Classic Bromfiet Brother) Bandung, mengatakan bahwa baginya perjalanan ini seperti menjemput rasa yang lama tertunda. Sudah sering saya melintas Surabaya dalam perjalanan Ciamis–Bali, tapi selalu hanya lewat, tanpa sempat benar-benar singgah.
“Di ‘Budhal Tok!’ ini, saya akhirnya bisa berhenti sejenak, merasakan denyut sejarah di Benteng Kedung Cowek. Mengendarai montor udhug bukan sekadar hobi, tapi cara kami menjaga ingatan tetap hidup di jalanan. Selamat ulang tahun ke-44 PEMUDI’S, semoga terus menjadi rumah bagi kenangan yang tak lekang oleh waktu.” Tambah pemilik DKW tahun 1961.
Pada kesempatan yang sama, Hadi, peserta dari Cirebon, Jawa Barat, menjelaskan bahwa datang ke acara ini rasanya seperti pulang ke satu bagian hidup yang pernah ia tinggalkan. Surabaya bukan sekadar kota baginya, tapi ruang yang menyimpan banyak cerita: tentang masa muda, tentang persahabatan, tentang proses menjadi diri sendiri.
“Melihat montor-montor tua ini kembali melaju, saya seperti diajak menengok ulang perjalanan hidup itu. ‘Budhal Tok!’ bukan hanya temu komunitas, tapi juga ruang untuk berdamai dengan waktu, mengingat tanpa harus terjebak di masa lalu,” pungkas “Inspektur”, panggilan akrab oleh juniornya di Mapala ITS dulu.
Namun, acara ini tak lahir begitu saja. Sebelum deru mesin tiba, langkah awal telah dilakukan dengan kegiatan “Aksi Resik-Resik” pada 19 April 2026. PEMUDI’S brsama Paldam V/Brawijaya dan Roode Brug Soerabaia, membersihkan area benteng. Kegiatan ini menjadi simbol, merawat sejarah tak hanya pada benda bergerak seperti kendaraan, juga pada ruang yang menyimpannya.
Dengan dukungan berbagai pihak, “Budhal Tok!” menjelma lebih dari sekadar pertemuan komunitas. Ia menjadi peristiwa yang mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam satu ruang, satu waktu, dan satu semangat, yakni menjaga warisan agar tetap hidup sepanjang masa.
Benteng Kedung Cowek berlokasi di Jalan Kedung Cowek, Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya berstatus sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB). Penetapan sebagai BCB tersebut oleh Pemerintah Kota Surabaya berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Surabaya Nomor: 188.45/261/ 36.1.2/2019 tanggal 31 Oktober 2019. (Ali Muchson)
Ketika senja benar-benar turun dan satu per satu suara “udhug” mulai mereda, yang tersisa bukan hanya gema mesin, melainkan kesadaran. Bahwa sejarah tak pernah benar-benar pergi, ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali. Dan di Benteng Kedung Cowek hari itu, sejarah kembali berdenyut, melalui roda-roda tua yang setia berputar melawan lupa.
Biar Foto Bicara
Deru “Montor Udhug” Menggema di Benteng Kedung Cowek,
Merawat Ingatan Lewat Roda Waktu





























