Disadur dari Bincang Surabaya Pagi Ini – RRI PRO I Surabaya
Sabtu, 16 Agustus 2025, Pukul 08.00-09.00
Narasumber Satrio Sudarso, Ketua Roode Brug Soerabaia
Pukul 05.00, fajar 17 Agustus 1945 baru saja merekah di langit Jakarta. Jalan Pegangsaan Timur masih diselimuti kabut tipis, udara lembab membawa aroma tanah basah setelah embun dini hari. Di antara kesunyian yang belum sepenuhnya pecah, dua sosok tampak bergegas mendekati rumah bernomor 56. Nafas mereka terengah-engah, keringat bercucuran, tetapi langkah tak pernah goyah.
Mereka adalah Alex dan Frans Mendoer. Di pundak salah satunya tergantung sebuah tas kulit yang berisi kamera Leica, senjata yang tak kalah penting dari senapan. Dengan lensa itu, mereka akan mengabadikan sebuah peristiwa yang kelak menjadi nyawa dari ingatan bangsa: detik-detik lahirnya Indonesia. Rumah Soekarno masih sunyi, jendela-jendela tertutup rapat, seolah ikut menyimpan rahasia besar yang menunggu waktunya pecah.
Menjelang pukul 07.00, suasana mulai berubah. Dr. Soeharto tiba di halaman, langkahnya terhenti oleh pemandangan tak biasa: puluhan pemuda, dengan wajah tegang namun penuh semangat, telah memenuhi halaman rumah. Mereka bergerak sibuk, menyiapkan sesuatu yang luar biasa.
“Ada apa ini koq ramai-ramai?” tanyanya penuh heran. Dr. Muwardi, yang memimpin barisan itu, menatapnya dengan mata berkilat. “Hari ini kita proklamasikan kemerdekaan. Semuanya sudah beres.” Soeharto terdiam sesaat, seakan tak percaya.

“Apanya yang beres?” tanyanya ragu. Muwardi menunjuk para pemuda yang berdiri tegak. “Itulah Barisan Berani Mati. Kita sudah putuskan. Bung Karno yang akan menentukan waktunya. Beliau masih tidur, baru saja pulang setelah rapat semalam di rumah Maeda.”
Ketika masuk ke kamar, Soeharto mendapati Bung Karno masih terbaring. Tubuhnya panas, demam, tetapi wajahnya tetap memancarkan kewibawaan seorang pemimpin. Soeharto segera mengobati, berharap sang Proklamator bisa mengumpulkan tenaga untuk sebuah momen yang tak bisa ditunda.
Pukul 08.00, di luar kamar, Fatmawati baru saja menyerahkan Sang Saka Merah Putih yang dijahitnya dengan tangan sendiri, semalam suntuk tanpa tidur. Ketika berpapasan dengan Soeharto, matanya memancarkan lelah bercampur cemas. “Bagaimana Mas, keadaan Bung Karno?” tanyanya dengan suara lirih.
Soeharto menjawab lembut, “Badannya demam seperti biasanya. Biarkan beliau beristirahat sebentar.” Fatmawati menarik napas panjang. “Saya pun hampir roboh rasanya, tapi bendera ini harus selesai. Hari ini akan dikibarkan.” Senyum getir muncul di bibir Soeharto. “Yang sabar, Jeng. Semoga kita semua dilindungi Gusti Allah.”
Waktu bergulir. Menjelang pukul 09.30, ketegangan semakin menebal. Chudancho Latif Hendraningrat memimpin koordinasi keamanan dengan tegas. Pasukan eks-PETA berseragam sederhana namun bersenjata lengkap ditempatkan di titik-titik strategis. “Sapri, bawa regumu ke belakang rumah.

Jika pasukan Jepang datang lewat rel, tembakkan senapan ke udara sebagai tanda.” Suara Latif terdengar lantang. Perintah demi perintah mengalir, hingga semua pasukan tahu betapa genting situasi itu. Sedikit saja salah langkah, darah bisa tumpah.
Sementara itu, arus manusia mulai memenuhi Jalan Pegangsaan Timur. Tokoh-tokoh nasional, pemuda, pelajar, ibu-ibu, hingga barisan pelopor berdatangan. Sekitar seribu orang berdesakan, namun tak ada suara gaduh. Mereka semua tahu, detik ini bukan detik biasa, ia adalah peralihan antara perbudakan dan kebebasan.
Tokoh-tokoh tersebut, antara lain: Soekarno, Hatta, Suwiryo, dr. Muwardi, Mr. Wilopo, Mr. A. Gafar Pringgodigdo, M. Tabrani, SK. Trimurti, Sayuti Melik, Sukarjo Wiryopranoto, Bu Fatmawati, Nona Mudhasih Yusman, Sudiro, Latif Hendraningrat, Anggota Barisan Pelopor Istimewa, Pelajar dan lain-lain (sekitar 1000 orang).
Menjelang 09.55, Chudancho Latif berdiri tegak di depan barisan. Dengan suara yang menggema ia berkata, “Kita akan lahir sebagai bangsa yang besar dan teratur. Aturlah barisan untuk menghormati pemimpin kita!”
Setelah semua barisan berdiri tegak dalam sikap sempurna, Bung Karno dan Bung Hatta dipersilakan Chudancho Latief untuk maju. Mereka berdua melangkah maju beberapa langkah. Mendekati mikropon Bung Hatta menghentikan langkahnya sehingga tidak lagi berdampingan dengan Bung Karno yang tepat di depan mikropon.

Semula Latief berdiri di samping kanan Bung Karno. Ketika Mendoer hendak memotret Bung Karno, Latief melangkah ke samping lagi 2 langkah untuk menghormati Bung Karno, tapi ternyata dia masih kena potret juga.
Tampak Shodancho Sanusi berdiri di belakang Bung Karno sebagai ajudan sedangkan Shodancho Moh. Saleh berdiri di belakang Bung Hatta sebagai ajudan. Ada juga Essei Chudancho dr Soetjipto yang masuk ke potret.
Semua hadirin tiada bersuara. Keadaan menjadi tenang karena semua mata mengarah kepada Bung Karno. Semua telinga berusaha menangkap dengan jelas proklamasi kemerdekaan yang akan dibaca oleh Bung Karno.
Seketika kerumunan merapat, berdiri tegak menahan debar. Pintu kamar terbuka, Soekarno dan Hatta keluar perlahan, diikuti Fatmawati. Wajah Bung Karno masih pucat karena demam, namun langkahnya mantap, penuh wibawa.
Semua mata menatapnya. Semua nafas tertahan. Mikrofon berdiri di depan, menunggu suaranya. Dengan nada berapi-api, Soekarno mulai berbicara tanpa teks. Ia mengisahkan panjangnya perjuangan bangsa, pahit getir yang sudah dilalui, hingga tibalah saatnya bangsa Indonesia menggenggam nasibnya sendiri. Suaranya bergetar, tapi penuh keyakinan.

“Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangannya sendiri akan dapat berdiri dengan kuat!” Kemudian, dengan selembar kertas di tangan, ia melanjutkan, “Saudara-saudara, dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami!” Lalu, dengan suara tegas yang menggema di langit Jakarta, ia membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada pukul 10.10.
PROKLAMASI
“KAMI BANGSA INDONESIA DENGAN INI MENYATAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA. HAL – HAL YANG MENGENAI PEMINDAHAN KEKUASAAN DAN LAIN – LAIN DISELENGGARAKAN DENGAN CARA SEKSAMA DAN DALAM TEMPO YANG SESINGKAT – SINGKATNYA”
Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 2605
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno – Hatta
Kata-kata itu seperti petir yang membelah langit pagi, menghentak dada semua yang mendengar. Air mata pun pecah di banyak wajah: Fatmawati menangis terharu, Soewirjo terisak, dan banyak lelaki dewasa terkulai dalam tangis bangga.
Acara berlanjut pada pengibaran Sang Saka Merah Putih pukul 10.20. Bung Karno dan Hatta menuruni tangga teras, berdiri di dekat tiang bambu sederhana. Para pemuda berkerumun. Ketika SK Trimurti diminta mengibarkan bendera, ia menolak halus, “Biar yang laki-laki saja, prajurit berseragam.”

Suhud, pemuda sederhana dengan kemeja kotak biru, maju. Ia menyerahkan bendera ke tangan Latif, yang terkejut menerima pusaka itu langsung dari seorang pemuda. Dengan hati-hati, Latif mengikatkan bendera pada tali kasar, lalu menariknya perlahan.
Serentak, suara ribuan orang menyanyikan “Indonesia Raya”. Lagu itu bergema dari dada yang bergetar, bukan dari orkestra megah. Tiang bambu sederhana itu seakan menjelma menjadi menara kebanggaan. Bendera Sang Saka Merah Putih berkibar, meski tiang tak tinggi dan tali kasar, namun di mata rakyat yang hadir, ia menjulang setinggi langit.
Setelah bendera berkibar megah, Bung Hatta memberikan sambutan singkat. Soewirjo melanjutkan dengan mengumumkan Komite Nasional Indonesia. Dr. Muwardi turut menambahkan pesan harapan. Akhirnya, Soekarno sendiri menutup upacara dengan doa, memohon restu Tuhan bagi bangsa yang baru lahir ini.Acara berakhir pukul 10.30
Dan begitulah, di rumah sederhana di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, di tengah halaman yang tak luas, dengan tiang bambu seadanya, bangsa Indonesia lahir. Hari itu, bukan sekadar sebuah proklamasi, melainkan sumpah, darah, dan air mata yang menjelma menjadi takdir: “Indonesia merdeka, kekal, dan abadi.” (Ali Muchson)

Featured image: @albumsejarah – Brief Script “Detik Detik Menjelang Pembacaan Proklamasi”
