Aksara Jawa tak sekadar untuk baca-tulis,
namun juga mengajak manusia memahami dirinya sendiri.
Di balik deretan huruf “Hanacaraka” yang diajarkan sejak bangku sekolah dasar (SD), yakni Aksara Jawa itu terdiri atas 20 aksara, yaitu Ha, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La, Pa, Dha, Ja, Ya, Nya, Ma, Ga, Ba, Tha, Nga. Dalam deretan itu sesungguhnya tersimpan sebuah kisah panjang tentang kesetiaan, konflik batin, dan perjalanan manusia memahami makna hidup.
Bagi masyarakat Jawa, aksara bukan sekadar alat tulis-menulis, melainkan ruang simbolik tempat nilai-nilai kehidupan diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, legenda Aji Saka tak hanya hidup sebagai cerita rakyat, namun juga sebagai refleksi tentang manusia dan peradaban.
Tokoh Aji Saka dikenal dalam tradisi Jawa sebagai sosok pembawa peradaban, termasuk aksara Jawa yang populer dengan susunan “Hanacaraka”. Namun, perlu dipahami bahwa kisah Aji Saka berada dalam wilayah legenda, mitologi, dan tradisi lisan, bukan catatan sejarah yang sepenuhnya dapat diverifikasi sebagaimana tokoh kerajaan yang tercatat jelas dalam prasasti.
Meski demikian, justru di situlah kekuatan kisah legenda, mitologi, dan tradisi lisan ini berada. Legenda sering kali hidup lebih lama dibanding fakta sejarah, sebab ia menyimpan nilai dan kebijaksanaan yang terus relevan bagi manusia lintas zaman.
Dalam berbagai cerita rakyat Jawa, Aji Saka digambarkan sebagai seorang pendatang bijaksana yang datang ke tanah Jawa untuk menaklukkan raja lalim bernama Dewata Cengkar. Setelah berhasil membawa perubahan, Aji Saka dipercaya memperkenalkan tata budaya, ilmu pengetahuan, dan aksara Jawa.
Kisah ini berkembang luas dalam tradisi Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga kesusastraan Jawa lama seperti serat dan babad tradisional. Sebagian cerita bahkan mengaitkannya dengan Kerajaan Medang Kamulan dan awal mula peradaban Jawa.
Di tengah perkembangan cerita tersebut, lahirlah susunan aksara Jawa yang sangat terkenal, yakni: hanacaraka, datasawala, padhajayanya, magabathanga. Sedangkan dalam pelafalan bahasa Jawa menjadi ‘honocoroko’, ‘dotosowolo’, ‘podhojojonyo’, ‘mogobothongo’.
Dalam penulisan modern, kalimat itu biasa ditulis sebagai: hana caraka, data sawala, padha jayanya, maga bathanga. Menariknya, rangkaian ini bukan hanya urutan alfabet, melainkan sebuah narasi simbolik yang membentuk cerita utuh, sebagai berikut:
“Hana caraka” berarti “ada utusan”.
“Data sawala” berarti “terjadi perselisihan”.
“Padha jayanya” berarti “sama-sama kuat”.
“Maga bathanga” berarti “menjadi bangkai semuanya”.
Di balik empat baris sederhana itu tersimpan tragedi kesetiaan yang begitu mendalam. Menurut legenda, Aji Saka memiliki dua abdi setia bernama Dora dan Sembada. Suatu ketika, Aji Saka menitipkan pusaka kepada Sembada dengan pesan agar pusaka tersebut tak diberikan kepada siapa pun selain dirinya sendiri.
Setelah waktu berlalu, Aji Saka mengutus Dora untuk mengambil pusaka itu. Namun, Sembada menolak karena memegang teguh amanat tuannya. Di sisi lain, Dora bersikeras karena merasa datang membawa perintah langsung dari Aji Saka.
Keduanya sama-sama setia. Keduanya sama-sama merasa benar. Tak ada pengkhianat dalam kisah itu. Yang ada hanyalah dua orang yang memegang amanah dengan sepenuh hati, namun gagal menemukan jalan komunikasi. Konflik pun tak terhindarkan. Dora dan Sembada bertarung hingga tewas bersama.
Tragedi itu kemudian dikenang dalam susunan aksara Jawa:
Hana caraka, ada utusan.
Data sawala, mereka berselisih.
Padha jayanya, sama-sama sakti dan kuat.
Maga bathanga, akhirnya sama-sama menjadi mayat.
Di sinilah kisah Hanacaraka menjadi begitu manusiawi. Ia berbicara tentang kesetiaan, namun sekaligus memperlihatkan bahwa kesetiaan yang fanatik, tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi tragedi.
Ia mengajarkan kehormatan, namun juga mengingatkan pentingnya memahami maksud dan komunikasi. Sebuah pelajaran yang tetap relevan hingga hari ini, ketika manusia sering kali terjebak dalam konflik karena merasa dirinya paling benar.
Secara budaya, masyarakat Jawa memang mempercayai Aji Saka sebagai pembawa aksara Jawa. Meski demikian, dalam kajian sejarah dan linguistik modern, aksara Jawa dipahami sebagai hasil evolusi panjang kebudayaan tulis.
Para ahli paleografi menjelaskan bahwa aksara Jawa berkembang dari aksara Brahmi di India, kemudian turun menjadi aksara Pallawa, berkembang menjadi aksara Kawi, hingga akhirnya membentuk Hanacaraka modern seperti yang dikenal sekarang.
Karena itu, Aji Saka lebih dipahami sebagai simbol lahirnya peradaban tulis di tanah Jawa, bukan pencipta aksara dalam arti literal. Namun, simbol sering kali memiliki kekuatan yang lebih besar daripada sekadar fakta teknis. Sosok Aji Saka menjadi lambang bahwa peradaban dimulai dari ilmu pengetahuan, tata budaya, dan kemampuan manusia meninggalkan jejak melalui tulisan.
Cermin Kehidupan Manusia
Lebih jauh lagi, Hanacaraka juga dapat dimaknai secara reflektif sebagai perjalanan eksistensi manusia. Dalam pandangan spiritual dan filosofis, empat rangkaian kalimat itu seolah menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta.
“Hana caraka” dapat dimaknai bahwa manusia adalah utusan. Dalam keyakinan religius, manusia hadir di bumi bukan tanpa tujuan, melainkan membawa amanah sebagai khalifah untuk menjaga keharmonisan kehidupan alam dan menebar kebaikan.
Kemudian “Data sawala” menggambarkan pertentangan dalam diri manusia. Setiap individu manusia dibekali hati nurani sekaligus nafsu. Di sanalah konflik batin bermula. Manusia terus berada dalam tarik-menarik antara kebijaksanaan dan keinginan, antara kebenaran dan godaan, serta antara berbuat baik dan berbuat buruk atau hina.
Selanjutnya, “Padha jayanya” menunjukkan bahwa keduanya sama-sama kuat. Nafsu tak pernah benar-benar lemah, sebagaimana hati nurani pun selalu memiliki daya untuk membimbing manusia. Karena itu, hidup sejatinya adalah ruang pilihan. Setiap keputusan yang diambil manusia akan melahirkan konsekuensi moral yang harus dipertanggungjawabkan di pengadilan akhir kelak.
Dan akhirnya, “Maga bathanga” menjadi pengingat paling sunyi bahwa setiap manusia akan menempuh jalan kematian. Pada titik itu, seluruh jabatan, kekuasaan, ambisi, dan kesombongan akan luruh menjadi tubuh yang terbujur diam. Yang tersisa hanyalah jejak perbuatan selama hidup.
Barangkali itulah sebabnya aksara Jawa terasa begitu hidup dalam kebudayaan Jawa. Ia bukan hanya alat baca-tulis, melainkan cermin perenungan tentang manusia itu sendiri. Di dalamnya ada ajaran tentang amanah, konflik batin, pilihan hidup, hingga kefanaan.
Legenda Aji Saka pada akhirnya mengajarkan, peradaban tak hanya dibangun oleh kecerdasan, namun juga oleh kebijaksanaan hati. Huruf-huruf Hanacaraka bukan sekadar susunan bunyi, melainkan pengingat, hidup adalah perjalanan memahami diri, menjaga amanah, dan menyiapkan bekal sebelum tiba pada akhir perjalanan manusia. “Pulang menuju keabadian, hidup dalam dimensi yang lain.”
Daftar Pustaka
- Kumparan. (2022). Arti dan kisah di balik huruf Jawa Hanacaraka Datasawala. Kumparan. https://kumparan.com/berita-terkini/arti-dan-kisah-di-balik-huruf-jawa-hanacaraka-datasawala-1xIGjQi2A8O/full
- Portal Jember. (2024). Kisah asal mula, sejarah, dan filosofi aksara Jawa Hanacaraka Data Sawala Padha Jayanya Magabathanga. Portal Jember.
https://portaljember.pikiran-rakyat.com/kisah-nusantara/pr-164766622/kisah-asal-mula-sejarah-dan-filosofi-aksara-jawa-hanacaraka-data-sawala-padha-jayanya-magabathanga?page=all - Serat Aji Saka. (n.d.). Naskah sastra Jawa tradisional
- Babad Tanah Jawi. (n.d.). Naskah historiografi tradisional Jawa.
Featured image: Source Google
