Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa

Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Share this :

Perwakilan Roode Brug Soerabaia Turut Hadiri Undangan Peringatan

————

Sembilan Maret hari jiwa bergetar
Nada-nada lahir menjadi nyawa bangsa
Di Tanah Pahlawan ini
Nada abadi bersemi
Dari biola yang bersaksi
Lahirlah lagu suci negeri

Langit sejarah terbuka
Menggema dalam sukma
Nama agung terpateri
Dalam harmoni negeri

Pelajar guru-guru mahasiswa
Dalam satu suara
Dalam satu jiwa
Menggema bersama

*) Gelora Indonesia Raya
Menggetarkan jiwa bangsa
Gelora Indonesia Raya
Menghidupkan semangat merdeka
Gelora Indonesia Raya
Dari Surabaya bergema
Gelora Indonesia Raya
Untuk dunia yang damai selamanya

Di Timur matahari bersinar
Di Barat gema berkibar
Dari ujung ke ujung negeri
Nada menyatu tak terhenti

Biola sejarah berbunyi
Mengalun tanpa henti
Mengikat waktu dan arti
Dalam satu harmoni

Di Pusara sunyi ini
Doa-doa mengalir abadi
Nada bukan sekadar bunyi
Ia jiwa, ia nurani

Musik membangun jiwa bangsa
Menguatkan arah langkah
Menjadi cahaya sejarah
Untuk masa depan yang cerah

Kembali ke *)

Indonesia Raya
Indonesia Raya
Indonesia Raya
Gelora, gelora, gelora
Indonesia Raya


Demikian lirik lagu berjudul Gelora Indonesia Raya karya Helent (Heri Prasetyo) adalah salah satu lagu yang digemagaungkan saat Parade Indonesia Bermusik dalam rangkaian peringatan Hari Musik Nasional 2026, bertajuk “Gelora Indonesia Raya”. Lagu yang diaransemen oleh Sam Candra, dan dibawakan oleh Higayon Singers menjadi semacam gema batin, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Peringatan Hari Musik Nasional tahun 2026 diselenggarakan pada 8–9 Maret di Kompleks Makam Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya, di Jalan Kenjeran, Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari, Surabaya 60135.

Pemilihan tempat ini bukan sekadar soal lokasi. Ia merupakan ruang simbolik yang menyimpan ingatan kolektif bangsa, tempat di mana sejarah musik nasional bertemu dengan penghormatan kepada seorang tokoh yang menjadikan nada sebagai bahasa perjuangan.

Rangkaian acara dimulai pada 8 Maret dengan suasana yang khidmat. Para peserta berkumpul di pusara sang komponis untuk memanjatkan doa. Dalam keheningan petang Surabaya, lagu “Indonesia Raya” kemudian dinyanyikan bersama, dipimpin oleh musisi Arul Lamandau.

Lagu kebangsaan, Indonesia Raya, itu kembali dikumandangkan dan seakan-akan terdengar seperti kali pertama saat dilahirkan pada Konggres Pemuda II, 28 Oktober 1928 di Jakarta: menggetarkan, menghidupkan semangat, dan menyatukan jiwa yang hadir.

Heri Lentho, pembina Yayasan JatiSwara yang menjadi penyelenggara kegiatan, menuturkan bahwa tema Gelora Indonesia Raya diharapkan mampu menyalakan kembali kesadaran para musisi tentang makna karya dalam perjalanan bangsa.

“Sejarah telah menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan lewat medan perang. Musik pun dapat menjadi bentuk perlawanan, pengingat, sekaligus penyala harapan,” lanjutnya.

Suasana kemudian berubah lebih semarak ketika panggung dibuka dengan penampilan kelompok tari ZR Dance. Puluhan penari cilik bergerak lincah mengikuti irama lagu “Garuda”, karya Heri Lentho. Gerak mereka seperti menafsirkan kembali semangat nasional dalam bahasa tubuh yang riang dan penuh energi.

Setelah itu, irama keroncong mengambil alih panggung melalui kelompok Keroncong Impresif Riang Gembira dari Sidoarjo. Petikan alat musik tradisional berpadu dengan denting kontra bass yang memberi ritme khas. Tiga vokalis menyanyikan lagu-lagu mereka dengan harmoni yang lembut, menghadirkan nuansa keroncong klasik yang seolah membawa penonton menyusuri lorong waktu.

Panggung berikutnya menghadirkan pasangan musisi Surabaya, Cak Untung dan Ning Indri. Mereka membawakan sejumlah lagu rock Indonesia lama. Dentuman gitar dan vokal yang kuat menghadirkan nostalgia, mengingatkan bahwa musik Indonesia selalu tumbuh dari beragam warna dan generasi.

Ketua Panitia Hari Musik Nasional 2026, Nurhayati, menjelaskan bahwa momen pembukaan tersebut hanyalah awal dari rangkaian panjang Parade Indonesia Bermusik. Berbagai kelompok musik dan seni turut dilibatkan, mulai dari musisi individu, komunitas, hingga para pelajar, sebagai wujud perayaan bersama atas kekayaan musikal Indonesia.

“Di antara rangkaian kegiatan itu, Parade Musik Anak menjadi salah satu ruang penting. Anak-anak tampil menyanyikan berbagai lagu yang sarat pesan moral. Kehadiran segmen ini mengingatkan kembali bahwa lagu anak pernah menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter generasi muda,” tambah Nurhayati.

Rokim Dakas, Humas Hari Musik Nasional 2026, menilai bahwa lagu anak saat ini semakin jarang terdengar di ruang publik. Padahal, melalui lagu-lagu sederhana itulah nilai-nilai kehidupan sering pertama kali dikenalkan kepada anak.

“Musik dapat menjadi medium yang halus untuk menanamkan pesan, membangun mental, sekaligus menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air,” ujar Rokim..

Sejumlah tokoh, seniman, dan budayawan turut hadir dalam peringatan ini. Salah satunya adalah Remy Wicaksono, putra almarhum Gombloh. Ia datang bersama keluarga untuk merasakan kembali atmosfer lagu-lagu nasional yang pernah dibawakan ayahnya, lagu-lagu yang dahulu menjadi suara nurani masyarakat.

“Pada kesempatan ini, saya ingin mendengar lagu-lagu nasional. Termasuk yang pernah dibawakan almarhum ayah saya,” kata Remy Wicaksono.

Panggung kemudian dilanjutkan dengan penampilan duo musisi asal Madura, The Adipoday Snekta Bangkalan. Mereka membawakan lagu-lagu bernuansa kritik sosial serta musikalisasi puisi. Dari sana, musik tampil sebagai medium refleksi, menggambarkan kegelisahan zaman sekaligus harapan akan perubahan.

Beragam warna musik lainnya turut hadir: jazz dari kelompok Buka Titik Jazz, Horas Project, Anolux, Gatot Strenkali, Pepeng, Random Acoustic, Tambur Acoustic, hingga Suar Marabahaya. Masing-masing membawa gaya dan ekspresi berbeda, namun semuanya berpijak pada satu kesadaran, yakni musik adalah bahasa universal yang mampu menyatukan.

Pada 9 Maret, rangkaian kegiatan berlanjut dengan agenda Ziarah Musik Indonesia Raya di Makam W.R. Supratman. Di tempat yang sama, berbagai penampilan kembali digelar, di antaranya dari Higayon Singer, Tegar, Istana Karya Difabel, hingga Pino sang drummer cilik.

Salah satu momen yang paling menggugah adalah acara bertajuk Seribu Suara Pelajar. Sekitar seribu siswa dari SMP Negeri 3 Surabaya berkumpul di Gedung Siola, Jalan Tunjungan. Dalam satu harmoni besar, mereka menyanyikan “Indonesia Raya” tiga stanza. Suara mereka bergema seperti pesan lintas generasi, semangat kebangsaan tidak pernah benar-benar padam selama terus diwariskan.

Puncak penutupan peringatan Hari Musik Nasional dijadwalkan dihadiri oleh Giring Ganesha, Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, secara simbolis ia akan menyerahkan bantuan dari Presiden RI melalui Kementerian Kebudayaan kepada Institut Musik Jalanan Indonesia, sebuah bentuk dukungan bagi ekosistem musik yang tumbuh dari akar masyarakat.


Pada akhirnya, peringatan Hari Musik Nasional bukan sekadar serangkaian panggung pertunjukan. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap nada terdapat sejarah panjang tentang perjuangan, identitas, dan harapan.

Dari biola yang dahulu digesek W.R. Supratman hingga suara seribu pelajar yang bergema di Surabaya, musik terus mengikat bangsa ini dalam satu harmoni. Dan selama lagu-lagu itu masih dinyanyikan: di sekolah, di panggung rakyat, atau di ruang-ruang sunyi, gelora Indonesia Raya akan selalu menemukan jalannya untuk hidup di dalam jiwa bangsa. (Ali Muchson)

Biarkan Foto Bicara
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya
Musik Membangun Jiwa Bangsa

Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa
Hari Musik Nasional 2026: Gelora Indonesia Raya – Musik Membangun Jiwa Bangsa

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *