Roode Brug Soerabaia, Reenactor Bangor Jakarta,
dan Reenactor Front Bandung Territory 1945 (FBT 45)
Reka Ulang “Serangan Umum Surakarta”, Meriahkan Harvetnas 10 Agustus
Jerit sirine memecah pagi yang biasanya damai di kawasan Car Free Day Bundaran HI Jakarta. Desingan peluru memotong udara, dan dentuman ledakan menggema di antara derap langkah para pejuang. Di tengah hiruk-pikuk itu, tubuh-tubuh “berguguran” bersimbah darah palsu, tertutup karung goni dan kotak kayu, adegan yang seolah membekukan napas penonton.
Di sudut lain, tampak seorang ibu tak kuasa menahan air matanya. Di pinggir area pertunjukan teatrikal, seraut wajah duka berbisik kepada seorang reenactor yang sedang beraksi di dekatnya, “Ayah saya salah satu Pahlawan TRIP di Solo, andai beliau masih hidup, pasti akan sangat senang melihat ini.”
Pagi itu, Minggu (10/8/2025), Pelataran Plaza Indonesia Jakarta bukan sekadar ruang publik, ia menjelma menjadi medan laga. Dalam rangka memperingati Hari Veteran Nasional 10 Agustus, komunitas Roode Brug Soerabaia berkolaborasi dengan Reenactor Bangor Jakarta dan Front Bandung Territory 1945 menghadirkan drama kolosal “Serangan Umum Surakarta” atau “Pertempuran Empat Hari di Surakarta”.
Drama teatrikal kolosal didukung penuh Pemkot Surabaya, DPC LVRI Surabaya, DPD LVRI Jawa Timur, serta DPP LVRI Pusat. Sebanyak 80 reenactor menghidupkan kembali babak bersejarah Juli 1949, yakni saat Tentara Nasional Indonesia, Tentara Pelajar (TP), dan rakyat bahu-membahu mempertahankan Surakarta dari Agresi Militer Belanda 1949.
Sejak pukul 06.00, ribuan warga memadati arena CFD. Namun baru pukul 08.00, “genderang perang” dibuka dengan pembacaan puisi bertema kepahlawanan oleh Denting Kemuning, diiringi biola Arul Lamandau yang membawakan “Anak Negeri” ciptaan Gombloh. Getaran nadanya mengalun seperti bisikan semangat para pahlawan dari masa lalu.
Narasi sejarah berpadu lagu perjuangan “Tanah Air” dan “Satu Nusa Satu Bangsa”, membuat suasana larut dalam rasa haru dan bangga. Para reenactor memerankan peran mereka cukup detail. Seragam militer Belanda lengkap helm baja, dan senapan laras panjang, pakaian pejuang rakyat yang sederhana, lusuh, berlumuran darah palsu dan perban, hingga pejuang perempuan gagah mengibarkan Merah Putih sambil menenteng senjata replika.
Lalu, suara lantang komandan membelah udara: “Maju! Jangan mundur! Pertahankan kota ini sampai titik darah penghabisan!” Sorakan “Merdeka!” pun menggema, diiringi tembakan yang bersahut-sahutan. Seorang pejuang merunduk sambil menyeret rekannya yang terluka, darah palsu membasahi seragamnya, sementara di kejauhan, pasukan musuh melancarkan serangan balasan. Adegan ini membuat penonton terhanyut, seakan berada di tengah lorong-lorong Surakarta yang bergejolak di tahun 1949.
Adegan demi adegan memaku mata penonton, reka ulang penembakan, penawanan, penyiksaan terhadap rakyat, hingga serangan balasan yang penuh adrenalin. Mobil perang berderu di tengah kerumunan, patroli dan penyerbuan dilakukan seolah penonton adalah warga kota yang terjebak di tengah baku tembak. Suara tembakan dan ledakan berpadu sorakan “Merdeka!” menciptakan sensasi seakan waktu mundur 76 tahun ke belakang.
Di balik gemuruh tepuk tangan dan sorak penonton, ada tersisa keheningan batin yang sulit dijelaskan. Drama teatrikal kolosal ini bukan sekadar rekayasa atau simulasi adegan maupun hiburan di akhir pekan, ia adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan jiwa-jiwa yang pernah berkorban tanpa pamrih demi nusa dan bangsa.
Drama teatrikal “Serangan Umum Surakarta” mengajak kita menyadari bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari keberanian untuk berdiri melawan ketidakadilan, meski nyawa menjadi taruhannya. Di tengah hiruk-pikuk zaman yang sering melupakan sejarah, momen seperti ini menjadi pengingat yang tajam.
Sedangkan tugas kita hari ini, yakni menjaga warisan itu dengan hati yang bersih, tekad yang kuat, dan rasa cinta tanah air yang tak lekang oleh waktu. Lantaran bangsa yang besar adalah bangsa yang tak hanya mengingat pengorbanan pahlawannya, namun juga tetap meneruskan semangatnya dalam setiap langkah sesuai tanggung jawab yang diemban masing-masing.
*
Bangsa Indonesia memperingati Hari Veteran Nasional, sebagai penghargaan dan penghormatan dari pemerintah dan rakyat Indonesia kepada para pahlawan yang telah berjuang untuk Kemerdekaan Republik Indonesia. Penetapan Hari Veteran Nasional tanggal 10 Agustus melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 30 Tahun 2014 oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.
Hari Veteran Nasional diperingati setiap tahun pada tanggal 10 Agustus sejak tahun 2015. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), veteran adalah mantan prajurit (pasukan perang, pejuang); orang yang sudah banyak pengalaman (dalam suatu pekerjaan dan sebagainya). Veteran Nasional dikelompokkan menjadi beberapa jenis berdasarkan kurun waktu mereka berjuang.
Jenis-jenis tersebut meliputi: Veteran Perjuang Kemerdekaan Republik Indonesia (berjuang pada periode 17 Agustus 1945-27 Desember 1949, Veteran Pembela Trikora (berjuang pada periode 19 Desember 1961-01 Mei 1963), Veteran Pembela Trikora (berjuang pada periode 3 Mei 1964-11 Agustus 1966), Veteran Pembela Seroja (berjuang pada periode 21 Mei 1975-17 Juli 1976), dan Veteran Perdamaian (berdasarkan mandat dari PBB).
Acara juga dihadiri Dr. drg. Maria Margaretha KT, M.Si, putri pejuang veteran nasional R.AJ. Sri Sedjati Moewardi. Ia meluncurkan buku perdananya berjudul Kenangan Manis pada Seorang Ayah Pahlawan Nasional yang Hilang, yang dipersembahkan untuk seluruh veteran dan diserahkan secara simbolis kepada Ketua Umum LVRI, H.B.L. Mantiri.
Selain itu, Ketua Umum LVRI H.B.L. Mantiri memberikan piagam kepada anggota pimpinan Pemuda Panca Marga Kota Malang, Andika Gatot Setiawan, atas partisipasi dalam pelaksanaan Hari Veteran Nasional (HARVETNAS) 2025 dengan aksi berjalan kaki (long march) Malang –Jakarta, sejauh 1000 km.
Di samping itu, H.B.L. Mantiri juga memberikan piagam kepada Roode Brug Soerabaia dan sertifikat untuk seluruh pemain drama teatrikal dengan memberikan sertifikat atas partisipasi dalam pelaksanaan Hari Veteran Nasional (HARVETNAS) 2025, yang diserahkan secara simbolis kepada Satrio Sudarso, Ketua Roode Brug Soerabaia.
Satrio Sudarso, Ketua Roode Brug Soerabaia yang sekaligus sebagai sutradara “Pertempuran 4 Hari di Surakarta”, mengatakan bahwa ia sangat bangga melihat bagaimana acara Hari Veteran Nasional 2025 di Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta yang diselenggarakan oleh DPP LVRI berhasil menghidupkan kembali semangat perjuangan para pahlawan.
Pertunjukan ini, lanjutnya, sebagai reka ulang atau simulasi Serangan Umum Surakarta yang dimulai pada 7 Agustus 1949, dan berlanjut hingga 10 Agustus 1949, yakni menampilkan strategi gerilya, keberanian TNI hingga Tentara Pelajar (TP), dalam mempertahankan Kota Surakarta, dan merebut kembali kemerdekaan Republik Indonesia.
Keberhasilan pementasan ini tidak hanya terletak pada teknik akting dan desain produksi yang memukau, tetapi juga pada kemampuan kami menghubungkan penonton dengan nilai-nilai kepahlawanan yang tetap relevan. Setiap adegan menyoroti tekad pejuang dan rakyat Surakarta yang menaklukkan tentara Belanda dengan keberanian, tambah Satrio Sudarso.
”Sebuah kisah yang menginspirasi, wujud rasa kebanggaan, dan hormat kepada para veteran kita. Apresiasi penonton tak hanya berupa tepuk tangan saja, namun berlarut-larut dengan mata berkaca-kaca, sebagai penanda bahwa drama teattrikal dapat menjadi jembatan emosional antara sejarah dan generasi kini,” ujarnya.
Pun lebih dari sekadar hiburan, tambahnya, pertunjukan ini memberikan dampak edukasi yang mendalam kepada masyarakat Jakarta khususnya, dan masyarakat luas. Melalui dialog yang didasarkan pada fakta, seperti peran Mayor Achmadi Hadisoemarto, Kapten Suhendro, dan Letkol Slamet Riyadi dalam pertempuran.
Lantaran itu, para penonton memperoleh wawasan baru tentang strategi militer, semangat kebersamaan, dan pentingnya persatuan dalam menghadapi penjajahan. Dari mereka tak sedikit memberikan komentarnya bahwa kini lebih mengerti sejarah perjuangan 1949, dan terdorong untuk menghormati serta meneruskan warisan nilai-nilai itu kepada generasi berikutnya, jelasnya.
“Saya yakin, dengan menggabungkan emosi dan edukasi melalui seni, kita dapat menumbuhkan kesadaran kolektif yang berkelanjutan tentang perjuangan para veteran dan para pahlawan kita,” pungkas salah satu Dosen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jawa Timur.
Usai pementasan teatrikal, Fatih Maruf Abimanyu, Kelas 3 SDN Sidosermo 1 Surabaya, salah satu peserta ‘bocil’ anggota Roode Brug Soerabaia, menyampaikan kesannya bahwa dapat diberi kesempatan ikut dalam pementasan drama teatrikal “Pertempuran Empat Hari di Surakarta” dalam acara Kirab Harvetnas 2025 merupakan kesempatan berharga. Belajar sejarah, tidak hanya di kelas, tapi bisa di komunitas.
Ia pun mengucapkan terima kasih kepada Roode Brug Soerabaia yang memberinya kesempatan langka bisa bergabung dan main di Jakarta. Selama bergabung di komunitas Roode Brug Soerabaia, menurutnya bahwa ia bisa belajar sejarah perjuangan bangsa dengan cara asyik dan menyenangkan, sehingga lebih menghayatimakna sejarah.
“Eyang Veteran jadi tokoh inspirasi dan tokoh teladan untuk semangat belajar. Kalau para Eyang dulu berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka tugas generasi saya saat ini adalah mengisi kemerdekaan dengan giat belajar, dan tangguh menghadapi tantangan demi masa depan yang lebih baik,” pungkas Fatih.
Ringkasan Detik-Detik “Serangan Umum Surakarta”
Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak berhenti pada saat proklamasi 17 Agustus 1945. Justru setelah itu, bangsa Indonesia harus menghadapi tantangan berat: keinginan Belanda untuk kembali menjajah.
Berbagai upaya diplomasi dan kekuatan militer pun dijalankan beriringan. Dalam konteks inilah peristiwa Serangan Umum 4 Hari di Surakarta, yang berlangsung pada 7–10 Agustus 1949, menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Latar peristiwa ini dimulai dari Agresi Militer Belanda II yang pecah pada 19 Desember 1948, di mana pasukan Belanda berhasil menduduki Yogyakarta, ibu kota Republik saat itu. Kota Surakarta pun menjadi target berikutnya.
Demi mencegah jatuhnya fasilitas strategis ke tangan musuh, Letkol Slamet Riyadi memimpin aksi pembumihangusan kota Solo pada 21 Desember 1948. Kota berubah menjadi lautan api, Pasar Gede, kantor gubernur, dan sejumlah bangunan penting dibakar oleh rakyat dan pasukan TNI sebagai siasat perlawanan.
Menjawab agresi ini, Mayor Achmadi sebagai Komandan Pertempuran Solo memimpin rapat komando pada 22 Desember 1948. Pasukan dibagi dalam empat rayon yang dipimpin oleh perwira muda seperti Kapten Suhendro dan Kapten Prakoso.
Serangan umum pertama pun dilancarkan pada 8 Februari 1949. Di desa Baki, Sawangan, dan Tegalgondo, pasukan TNI dan Tentara Pelajar menghadang laju pasukan Belanda dalam pertempuran sengit. Meskipun sempat memukul mundur musuh, mereka harus menarik diri sesuai taktik gerilya.
Seiring waktu, kekuatan pasukan bertambah. Tentara Pelajar bergabung dengan pasukan Mobile Brigade, Corps Pelajar Islam, hingga Hizbullah. Reorganisasi dilakukan untuk memperkuat tiap kompi. Serangan demi serangan pun terus dilancarkan.
Gubernur Militer Kolonel Gatot Subroto bahkan menginstruksikan agar perlawanan terus dilakukan siang dan malam. Pada 5 Agustus 1949, perintah siasat besar dikeluarkan untuk melaksanakan serangan umum ke kota Surakarta mulai tanggal 7 Agustus.
Minggu pagi, 7 Agustus 1949, pasukan Republik memulai serangan dari segala penjuru. Tiga perempat kota berhasil dikuasai dalam waktu singkat. Serangan ini membuat Belanda kewalahan. Rayon Prakoso menyerbu dari utara, Suhendro dari selatan, Abdul Latief dari barat, dan Sumarto dari timur laut. Hingga sore, 15 pos pertahanan Belanda diserang.
Namun sekitar pukul 15.00 WIB, Belanda melancarkan serangan udara membabi buta yang menyebabkan banyak korban sipil. Meski begitu, serangan berlanjut hingga malam hari. Para pejuang menyusup ke kampung-kampung, bersama rakyat, membangun perlawanan dari bawah.
Hari kedua, 8 Agustus, bendera Merah Putih berkibar di setiap kampung yang dikuasai pasukan Republik. Pasukan Belanda terputus dari komunikasi dan bantuan logistik. Letkol Slamet Riyadi mengeluarkan siasat baru untuk melaksanakan serangan besar terakhir pada 10 Agustus 1949 sebelum diberlakukannya gencatan senjata.
Serangan ini dijalankan secara intensif. Di tengah kondisi genting, satu kompi pasukan bentukan Belanda (TBS) justru bergabung dengan pasukan Republik, membawa senjata lengkap—sebuah kejutan yang membakar semangat juang.
Tanggal 10 Agustus menjadi hari terakhir pertempuran. Pagi hingga tengah malam, serangan besar dilakukan oleh Tentara Pelajar dan TNI. Letkol Slamet Riyadi memimpin langsung serangan dari berbagai arah, sementara rakyat ikut mendukung logistik, perlindungan, hingga informasi. Setelah pukul 24.00, gencatan senjata resmi diberlakukan.
Dalam suasana hening, rakyat keluar dari tempat persembunyian, menyambut para pejuang, menyanyikan lagu perjuangan, dan melihat Sang Merah Putih berkibar di penjuru kota. Sebuah kemenangan moral dan simbolis yang luar biasa.
Namun kemenangan itu ternoda oleh pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan pasukan Belanda. Pada 11 Agustus 1949, pasukan khusus Korps Specialle Tropen (KST) menyerang rakyat sipil di kawasan Kratonan, Jayengan, hingga markas Palang Merah Indonesia di Gading.
Petugas PMI, pasien, bahkan rakyat yang tak bersenjata dibantai tanpa ampun. Meski pasukan Republik telah mengepung KST, Kapten Hendro mematuhi perintah gencatan senjata dan memilih tidak menyerang.
Atas dasar kemanusiaan dan mencegah pembantaian massal, Letkol Slamet Riyadi akhirnya menggelar perundingan dengan Kolonel Van Ohl dari Belanda. Hasilnya adalah kesepakatan penghentian permusuhan, konsinyasi pasukan Belanda, serta patroli bersama TNI dan Belanda melalui Local Joint Committee. Kontak antara dua pihak dijembatani oleh Letnan Rujito sebagai perwira penghubung.
Akhir dari kekuasaan Belanda di Surakarta ditandai pada 12 November 1949, saat dilakukan upacara penyerahan kota kembali ke pangkuan Republik Indonesia. Serangan Umum 4 Hari Solo terbukti menjadi senjata strategis yang memperkuat posisi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB).
Selain menggagalkan rencana pembentukan negara boneka “Negara Jawa Tengah”, peristiwa ini membuktikan bahwa Republik Indonesia tidak bisa ditundukkan secara militer. Kemenangan ini tak lepas dari harga yang mahal. Dari 2.000 Tentara Pelajar yang berjuang, tujuh orang gugur, belum termasuk korban dari kesatuan lain dan rakyat sipil yang jumlahnya tidak terhitung.
Namun pengorbanan ini menjadi warisan semangat nasionalisme dan patriotisme yang harus dikenang, khususnya oleh generasi muda. Bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari nyawa, peluh, dan tekad para pejuang yang rela mati demi Merah Putih tetap berkibar.
Biarkan Foto Bicara
Hari Veteran Nasional 10 Agustus 2025
Acara Awal dan Launching Buku























Drama Teatrikal “Serangan Umum di Surakarta 1949”






























































Penyerahan Buku dan Piagam Penghargaan dari DPP LVRI







Foto Bersama Para Reenactor dan Pengurus DPP LVRI










Wawancara Kompas TV dengan Roode Brug Soerabaia




Saat Datang di Jakarta dan Saat Pamitan untuk Kembali ke Surabaya
Saat Datang








Saat Pamitan





