Roode Brug Soerbabaia Turut Hadiri Peringatan 97 Tahun Indonesia 3 Stanza
Surabaya – Hari ini, 28 Oktober 2025, lagu Indonesia Raya 3 Stanza diperingati di Kompleks Makam W.R Soepratman, Jalan Kenjeran Surabaya. Lagu yang lahir 97 tahun silam adalah dari rasa kehilangan identitas dan kerinduan W.R. Soepratman akan kebebasan. Sebagai jurnalis dan pemuda terpelajar, ia menyaksikan betapa rakyat Indonesia terpecah, minder, dan tak punya simbol persatuan.
Bagi Wage, bangsa tanpa lagu kebangsaan adalah bangsa tanpa suara. Ia ingin menciptakan lagu yang bisa membangunkan jiwa bangsa, sesuatu yang dapat dinyanyikan bersama oleh semua golongan, suku, dan agama. Ia ingin rakyat kecil sekalipun bisa berdiri tegak dan berkata dengan bangga, “Inilah tanah airku.”
Indonesia Raya bukan sekadar lagu, ia adalah mantra kebangsaan, doa panjang dalam tiga stanza. Ditulis dengan semangat dan keikhlasan seorang seniman yang percaya bahwa musik bisa mengguncang takhta penjajahan. Dan benar, tujuh belas tahun kemudian, pada pagi 17 Agustus 1945, lagu itu akhirnya diperdengarkan.
Bukan lagi dengan biola di ruang kecil, melainkan di halaman rumah Pegangsaan Timur 56, di udara pagi Jakarta yang baru saja merdeka, Upacara itu sederhana: bendera merah putih dijahit tangan, tiang bendera dibuat dari bambu, dan pengeras suara berdiri seadanya.

Di antara daun-daun trembesi yang bergerak pelan, suara itu naik ke langit, Wage sudah tiada, tapi nadanya hidup. Lagu yang dulu dilarang, disita, dan dibungkam kini mengiringi kelahiran sebuah bangsa. Ia tidak menyaksikan lagu ciptaannya dinyanyikan, tapi setiap getaran biola yang pernah ia mainkan seolah ikut berderu bersama angin pagi itu.
Barangkali begitulah nasib para pencipta perubahan, mereka pergi sebelum karyanya benar-benar dipahami bangsanya sendiri. Namun justru karena kepergian itu, karya mereka abadi, menembus waktu, dan terus mengingatkan generasi setelahnya bahwa kemerdekaan tak pernah selesai dirayakan.
Dari diamnya lahir suara. Dari kesunyian, lahir kebangsaan. Karena memang begitu cara sejarah bekerja, kadang yang paling mengubah dunia bukanlah teriakan, melainkan sebuah nada yang dimainkan dalam diam. Musik bagi Wage bukan sekadar hiburan; adalah bahasa kebebasan, la bisa menumpahkan perasaan yang tak selalu diucap dalam kata.
Sosok yang lahir pada 9 Maret 1903 di Purworejo, sering duduk ditemani biolanya, suara gesekan senar terdengar lirih, seolah ia sedang berbicara dengan Tuhan. Dari permenungan itu lahirlah sebuah melodi, sederhana tapi kuat, mengalir seperti doa. Ia menulis liriknya sendiri, dengan kata yang jujur dan menggugah.
“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku, di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku….”

Dua Stanza yang Dilupakan
Namun di balik kemegahan lagu kebangsaan yang kita kenal, tersimpan dua bagian yang jarang terdengar, dua bait yang seolah dikubur oleh waktu, padahal di sanalah ruh kebangsaan itu bersemayam. Mungkin karena kita terlalu sering mendengar lagu ini hanya sebagai formalitas, bukan sebagai ziarah batin kepada cita-cita yang melahirkannya.
Sebagaimana yang disampaikan Rudy T. Mintarto dalam buku Peringatan 97 Tahun Indonesia Raya 3 Stanza bahwa mengapa lagu kebangsaan yang diciptakan tiga stanza, kini hanya dinyanyikan satu stanza saja? Apakah karena kita hanya menyanyikan sepertiganya, maka semangat kebangsaan kita pun hanya berdenyut separuhnya?
Pertanyaan itu menggugah kesadarannya bahwa Indonesia Raya 3 Stanza bukan sekadar lagu, melainkan doa dan cita-cita luhur yang lahir sebelum republik ini merdeka. Lagu ini dinyanyikan untuk kali pertama pada 28 Oktober 1928, dalam momen sakral Sumpah Pemuda, saat bangsa ini masih bermimpi tentang kemerdekaan.
Maka, menurutnya, ketika kita memperingati 97 tahun Indonesia Raya, sesungguhnya kita sedang memuliakan roh kebangsaan yang hidup dalam setiap nadanya. Mari kita renungkan kembali makna yang terpatri dalam dua stanza yang jarang dan atau tidak pernak kita nyanyikan.

Lirik Lagu Indonesia Raya
Stanza Satu
Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.
Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg’riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.
Refrain
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg’riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.
Stanza Kedua
Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk s’lama-lamanya.
Indonesia, tanah pusaka,
P’saka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.
Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya,
Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.
Refrain
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg’riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.
Stanza Ketiga
Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
M’jaga ibu sejati.
Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.
S’lamatlah rakyatnya,
S’lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg’rinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.
Refrain
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg’riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Makna filosofi stanza satu menekankan persatuan, “Marilah kita berseru, Indonesia bersatu”. Pesan ini jelas bahwa kemerdekaan hanya bisa dicapai dengan kebersamaan, Lirik “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” bahkan diubah urutannya atas usulan Ir. Soekarno, menegaskan pentingnya membangun jiwa sebelum raga.
Stanza kedua menekankan spiritualitas, “Marilah kita mendoa, Indonesia bahagia.” Doa, kesadaran hati, dan budi luhur menjadi fondasi kebangsaan. Sedangkan stanza ketiga berisi sumpah agraria dan janji abadi: “Marilah kita berjanji, Indonesia abadi.” Lirik “Pulaunya, lautnya, semuanya.” adalah penegasan bahwa tanah, laut, dan seluruh kekayaan Nusantara adalah milik bangsa yang wajib dijaga.
Betapa luhur pesan yang terkandung di dalamnya. Wage Rudolf Soepratman menulis bukan sekadar lirik, tapi mantra kebangsaan, doa yang mempersatukan tanah, jiwa, dan cita-cita bangsa. Namun, setelah kita merdeka, entah sejak kapan, dua stanza terakhir itu perlahan dilupakan. Yang tersisa hanyalah satu stanza, satu fragmen, satu potongan dari doa besar yang seharusnya utuh.
Dan mungkin, dalam keheningan kita yang jadi terbuai, kita tak sadar bahwa sebagian doa bangsa ini terputus di udara, belum melangit. Bahwa sebagian suara W.R. Soepratman masih menunggu untuk dinyanyikan kembali dengan penuh kesadaran.


Andai Soepratman masih hidup hari ini, mungkin ia akan tersenyum getir dan berkata, “Aku mencipta lagu untuk Indonesia Raya, bukan Indonesia yang setengah sadar akan jiwanya.” Maka, peringatan ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengingat moral dan spiritual, agar bangsa ini kembali menyadari makna sejati lagu kebangsaannya.
Bahwa saat kita menyanyikan lengkap tiga stanza, sejatinya kita sedang mendoakan, menyadarkan hati, dan menyucikan budi, bukan sekadar memeriahkan upacara. Maka, menjelang satu abad usia lagu Indonesia Raya kelak pada tahun 2028, marilah kita renungkan kembali pesan yang tersirat di bait-bait itu.
“Sadarlah hatinya, sadarlah budinya untuk Indonesia Raya.” Apakah hati kita sudah sadar untuk mencintai negeri ini dengan cara yang benar? Apakah budi kita telah digunakan untuk menegakkan keadilan, menumbuhkan kebaikan, dan menjaga kemuliaan tanah air kita? Ataukah sebaliknya, diam-diam menggerogoti Indonesia dengan dalih demi rakyat, demi Indonesia maju?
Mungkin, baru ketika kita berani menyanyikan tiga stanza itu dengan penuh kesadaran, kita benar-benar mendengar Indonesia berbicara, bukan hanya melalui suara merdunya, tapi lewat gema jiwanya yang utuh. Karena sejatinya, lagu kebangsaan ini bukan sekadar untuk dinyanyikan, dan didengar, namun untuk direnungkan, dihidupi, dan diwariskan.
Referensi
Buku Peringatan 97 Tahun Indonesia Raya 3 Stanza

