Dalam kearifan lokal Jawa, hidup kerap diibaratkan sebagai ‘mampir ngombe’, singgah sebentar untuk melepas dahaga, lalu melanjutkan perjalanan. Ungkapan bijak ini menyimpan makna dalam: bahwa hidup di dunia bukan tujuan akhir, melainkan persinggahan sementara untuk menuju hidup di keabadian.
Kita datang tanpa membawa apa-apa, menjalani hari-hari dengan berbagai peran dan pencapaian, lalu pergi kembali kepada Tuhan tanpa menggenggam apa pun. Sejak awal, hidup yang kita jalani sesungguhnya tak pernah sepenuhnya menjadi milik kita.
Kita lahir ke dunia ini bukan atas kehendak kita sendiri, melainkan kehendak orang lain. Nafas pertama kita hirup dengan tangisan, sementara tangan-tangan menyambut, membersihkan, dan memeluk tubuh yang masih lemah adalah tangan orang lain.
Mandi pertama dimandikan orang lain. Nama yang merupakan identitas doa pertama, yang akan kita bawa seumur hidup, dipilihkan oleh orang lain. Sejak detik awal keberadaan kita, hidup sudah mengajarkan satu hal mendasar: kita hadir karena dan bersama orang lain.
Kita tumbuh dalam asuhan orang lain. Belajar berjalan dengan berpegangan tangan orang lain. Belajar bicara dan belajar mengenal hidup dari nilai-nilai yang ditanamkan orang lain. Pendidikan kita diperoleh dari guru-guru yang mencurahkan waktu, ilmu, dan kesabaran, mereka adalah orang lain.
Gelar, ijazah, dan pengakuan akademik pun pada akhirnya diberikan oleh institusi dan ditandatangani oleh orang lain. Bahkan saat kita meraih keberhasilan atau kesuksesan itu pun tak pernah luput dari keberpihakan orang lain.
Memasuki usia dewasa, kita bekerja, dan penghasilan pun datang dari orang lain. Kita membuka usaha, namun tetap bergantung pada relasi, kepercayaan, dan dukungan orang lain. Kita membangun keluarga, dan prosesi sakral pernikahan pun dipimpin oleh orang lain.
Lalu kita hidup di dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan pun selalu melibatkan kehadiran orang lain. Bahkan penghormatan atas pencapaian, penghargaan, dan pujian, semuanya datang dari orang lain.
Setelah sekian tahun berjalan, tubuh yang dahulu kekar dan kuat perlahan m,enjadi lemah lantaran usia menua. Di masa renta, kita kembali membutuhkan orang lain. Saat sakit, pengobatan, perawatan, dan perhatian datang dari orang lain.
Hingga pada akhirnya, saat ajal menjemput, mandi terakhir dilakukan oleh orang lain. Liang kubur digali oleh orang lain. Berangkat ke pemakaman tubuh kita diantar dan digotong oleh orang lain. Air mata yang jatuh pun berasal dari mata orang lain, dan doa-doa terakhir akan dipanjatkan oleh orang lain.
Setelah kematian kita, seluruh yang selama ini kita sebut “milik”: harta benda, rumah, kendaraan, sawah, ladang, pakaian, perhiasan, bahkan benda yang paling kita cintai akan diambil, dibagi, dan dilanjutkan oleh orang lain.
Pada titik itu, kita baru benar-benar dihadapkan pada kenyataan paling telanjang: tak ada satu pun yang benar-benar kita miliki. Semua hanyalah titipan, singgah sebentar, lalu berpindah tangan, ke tangan orang lain.
Namun ironi hidup manusia justru terletak di sini. Di tengah hidup yang sepenuhnya bergantung pada orang lain, dan bersifat sementara ini, mengapa kita masih sering bertengkar, berdebat, saling melukai, menebar fitnah, iri, dengki, dan memelihara ego.
Maka jadi aneh, dengan tak sadar kita sering menghabiskan energi untuk membuktikan bahwa kita lebih hebat, lebih kaya, lebih pintar, atau lebih berkuasa dari sesama. Kita menyimpan dendam, iri, dan kesombongan, seolah-olah waktu dan hidup ini milik kita selamanya.
Padahal hidup, kata orang Jawa, hanyalah ‘mampir ngombe’, singgah sejenak untuk melepas dahaga. Kita datang tanpa membawa apa-apa, dan pergi pun tanpa membawa apa-apa. Yang tersisa bukan apa yang kita kumpulkan, melainkan apa yang kita tinggalkan lebih lama dalam ingatan dan hati orang lain.
Kesadaran ini yang semestinya menuntun kita untuk hidup dengan rendah hati. Belajar mencintai dengan sepenuh kasih. Belajar memaafkan dengan tulus, bukan lantaran orang lain selalu benar, melainkan hati kita layak untuk damai. Berdamai dengan diri sendiri, menerima keterbatasan, dan berdamai dengan sesama, meski tak selalu sejalan.
Pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan amarah, kecemburuan, kesombongan, dan keegoisan. Jika hidup hanyalah ‘mampir ngombe’, barangkali hidup sederhana, apa adanya, murah hati, penuh empati, dan kasih sayang, justru menjadi warisan paling berharga.
Yang pasti bukan warisan harta kekayaan, melainkan jejak kebaikan yang akan dikenang lama setelah kita kembali pulang kepada-NYA. Sebab ketika semuanya telah usai, yang benar-benar tinggal bukan apa yang kita miliki, melainkan bagaimana kita pernah hadir, memperlakukan, dan bermakna bagi orang lain. (Ali Muchson)
Featured image: ChatGPT/AIphoto
