Sebuah Refleksi atas Ulang Tahun Pak Stefanus Nuradhi dan Mbak Citra Rachman
Ulang tahun kerap kali dipahami sebagai penambahan angka, adalah sebuah penanda waktu yang terus bergerak maju tanpa pernah menoleh ke belakang. Namun, pada titik tertentu, usia tak lagi sekadar tentang bertambah, melainkan tentang bagaimana seseorang memaknai perjalanan hidup yang telah ditempuh.
Dalam perayaan ulang tahun ke-79 bagi Pak Stefanus Nuradhi, dan ke-45 bagi Mbak Citra Rachman , terselip sebuah refleksi yang lebih dalam, yakni tentang arti “bonus usia” dan bagaimana ia dirayakan dengan penuh rasa bersykur.
Dalam kerangka kebijakan pemerintah, usia 66+ dikategorikan sebagai usia lanjut, fase yang sering disebut sebagai masa menikmati “bonus umur.” Bagi Pak Stefanus Nuradhi, istilah ini menyiratkan bahwa kehidupan yang dijalani setelahnya adalah tambahan dari kecukupan sebagai berkah hidup atas umur panjang.
Namun, makna “bonus” tak sebatas pada usia 66+ saja, bagi Mbak Citra Rachman yang baru ke-45. Di sini menjadi jauh lebih luas ketika usia itu dipahami sebagai usia kematangan, sebagai ruang baru untuk menjalani hidup dengan cara yang lebih fokus, dan merdeka dengan menikmati berkah sehat, serta keleluasan dalam segala hal.
Menariknya, menikmati masa bonus tak berarti melambat atau menarik diri dari kehidupan. Justru sebaliknya, fase ini menjadi momentum untuk menemukan kebebasan baru, kebebasan untuk melebur, bersyukur, dan berbagi kebahagiaan tanpa terhalang sekat usia maupun generasi.
Dalam sosok Pak Nuradhi dan Mbak Citra Rachman misalnya, usia lanjut atau usia matang, bukan sekat yang menghalangi hadirnya jiwa yang tetap hangat, semangat, dan penuh empati. Seperti Pak Nuradhi, ia menjadi figur yang dituakan, namun tetap mampu membaur dengan yang lebih muda tanpa jarak.
Kehadiran sosok seperti ini dalam sebuah komunitas memiliki makna yang sangat penting. Ia menjadi jangkar, atau pengikat yang merekatkan hubungan antargenerasi. Di tengah dinamika kelompok yang beragam, keberadaan figur yang mampu mengikis batas usia menjadi kunci lahirnya keakraban yang tetap dalam koridor saling menghormati.
Dalam momen dan kondisi yang demikian, seperti tertawa lepas, bercanda ceplas-ceplos, hingga menikmati momen-momen sederhana bersama menjadi cara paling nyata dalam merawat jiwa. Di sanalah kebahagiaan hadir bukan sebagai sesuatu yang dicari, melainkan yang tumbuh dari kebersamaan yang tulus dan apa adanya.
Refleksi ini semakin menemukan bentuknya dalam komunitas PSL (Pernak-Pernik Surabaya Lama), sebuah ruang yang tumbuh secara alami, tanpa paksaan, tanpa indoktrinasi. Komunitas ini beranggotakan dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang beragam, namun dipersatukan oleh visi kebersamaan dan keguyuban. Usia bukan sekat, hanya angka yang tak lagi relevan untuk membatasi interaksi.
Dalam suasana seperti itu, sering kali seseorang lupa pada usianya sendiri. Bukan karena mengabaikan realitas, melainkan karena kebahagiaan yang dirasakan begitu utuh. Namun di saat yang sama, ada kesadaran yang tetap hadir. Meski usia makin menua, namun semangat untuk bergerak dan berkumpul tetap hidup.
Bahkan dengan kesadaran fisik, pun tak mengurangi semangat untuk terus mengikuti ke mana #blusukanedan ini melangkah, sebuah ungkapan sederhana yang justru menyiratkan kedalaman makna tentang semangat kebersamaan.
Lebih jauh lagi, kesadaran akan “bonus usia” juga membawa pada pemahaman, hidup bukan hanya tentang menerima, namun juga memberi. Ketika perjalanan semakin mendekati tujuan akhirnya, ada panggilan untuk berbagi. Berbagi pengalaman, kebijaksanaan, dan tentu saja, kebahagiaan.
Dalam konteks ini, menjadi tua tak lagi identik dengan keterbatasan. Sebaliknya, ia menjadi fase di mana seseorang dapat benar-benar merdeka, bebas dalam berbicara, bersikap, berkomunikasi, dan mengekspresikan diri yang tetap dalam konteks kesantunan.
Di dalam komunitas seperti PSL, kebebasan ini terasa nyata. Tak ada batas antara tua dan muda, tak ada sekat yang memisahkan, bahkan perbedaan latar belakang pun tak menjadi penghalang. Semua melebur dalam satu semangat. Guyup rukun.
Pada akhirnya, ulang tahun bukanlah tentang bertambahnya usia, melainkan tentang berkurangnya jatah waktu. Perspektif sederhana ini mengingatkan bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk hidup lebih bermakna.
Raga boleh menua, jumlah angka makin bertambah, dan menyimpan jejak perjalanan panjang, namun jiwa yang terus merayakan kebersamaan tak akan pernah benar-benar tua. Ia akan tetap hidup, bergerak, dan menyebarkan sukacita.
Selamat ulang tahun Pak Stefanus Nuradhi dan Mbak Citra Rachman. Teruslah melangkah, berbagi, dan menyalakan kebahagiaan, sebab hidup yang paling bermakna adalah kebaikan hidup yang dibagikan. Momen di Camellia, San Diego, Kompleks Pakuwon City Surabaya, Sabtu (9/5/2026), menjadi salah satu penandanya.
Pun momen penanda kebersamaan atas rasa syukur ternyata tak cukup di Camellia saja. Ada bonus dari ‘Engkong’ Hartono Widjaya, yakni ia mengajak “mbelah duren” durian montong Bali di Nyidam Duren. Sebuah wisata makan durian makan di tempat, bisa memilih sesuka, bila tak cocok akan diganti 100%. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
Merayakan “Bonus Usia”: Ketika Umur Menjadi Ruang Berbagi





































