‘Mulutmu, Harimaumu’, pepatah lama yang tak lekang dikubur waktu. Pesan yang terkandung sederhana namun tajam, yakni kendalikan ucapanmu. Sekali terlepas, kata-kata bisa menjelma menjadi senjata yang melukai, bahkan menyerang balik pemiliknya. Orang Jawa menyebutnya ‘ojo waton njeplak’ atau ‘jangan asal bicara’. Sebab, berucap gegabah ibarat melepas harimau dari kandangnya, begitu keluar, siap menerkam.
Lisan adalah pedang bermata dua. Darinyalah seseorang bisa diangkat derajatnya setinggi langit. Sebaliknya, lantarannya pula seseorang akan dihunjamkan dan dijatuhkan ke dalam jurang kenistaan. Fenomena ini berlaku untuk siapa saja, dari rakyat biasa hingga mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Apalagi bagi pejabat publik, kata-kata mereka yang beraura negatif akan menjadi bara dalam sekam yang siap melalapnya.
Di era digital, satu kalimat bisa menyebar lebih cepat dari api, apalagi jika keluar dari mulut pejabat. Pilihan diksi yang keliru, gestur meremehkan, atau nada suara meninggi dapat menjadi percikan yang menyulut ledakan kemarahan kolektif masyarakat. Terlebih jika percikan itu jatuh di atas tumpukan-tumpukan kekecewaan yang sudah lama mengering.
Itulah yang terjadi di Pati, Jawa Tengah, pada hari-hari jelang peringatan HUT Ke-80 Republik Indonesia, 17 Agustus 2025. Kebijakan menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan hingga 250% memang pemicu protes, namun api benar-benar berkobar setelah respons Bupati Sudewo dengan ucapan memantik amarah, “50 ribu pun saya tak gentar!” Bagi sebagian warga, kalimat itu terdengar seperti tembok kuasa menantang, bukan jembatan empati.
Meski permintaan maaf dilontarkan kemudian, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Pada 13 Agustus, demonstrasi meledak tak terbendung. Kantor Bupati, gedung DPRD dilempari batu, dan kendaraan dibakar, serta botol dan sandal melayang saat bupati akhirnya muncul. Teriakan lantang ‘mundur!’, menandai tuntutan yang mengerucut. Sudewo harus lengser. Sejatinya, ratusan orang datang membawa keluh kesah dan tuntutan perbaikan.
Sebagaimana dicatat oleh suarasurabaya.net dalam esai editorialnya bahwa satu kata, satu gestur gerakan tangan, atau satu nada tinggi bisa memadatkan kekecewaan yang berserakan menjadi gelombang massa. Dalam perspektif semantik, kata ‘gentar’ membentuk ‘oposisi biner’, yakni antara kuat dan lemah, berani dan takut, menang dan kalah.
Disampaikan dengan nada meninggi dan gestur mengepalkan tangan, pesan itu memancarkan citra perkasa sekaligus menghapus kesan rendah hati. Di ranah sosiolinguistik, bagi masyarakat Pati yang terbiasa dengan tutur halus dan basa-basi simbolik, respons seperti itu menciptakan bentang emosional. Seorang bupati tak lagi dianggap sebagai ‘pamong’ yang merangkul, melainkan penguasa yang berdiri di menara gading.
Fakta yang tak bisa diabaikan, PBB hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya ada tumpukan kekecewaan: kebijakan lima hari sekolah, ancaman PHK guru honorer, pemutusan kontrak karyawan RSUD, hingga gaya komunikasi yang dianggap jauh dari empati. Semua itu berkumpul dalam satu momen, dipadatkan oleh satu kalimat, lalu meledak menjadi layaknya ‘people power’.
Gejolak Pati memberi pelajaran penting bahwa kekuatan seorang pemimpin tak hanya terletak pada kebijakan yang dibuatnya, namu juga pada kata-kata yang membungkusnya. Bahasa bukan sekadar alat menyampaikan informasi, juga jembatan membangun kepercayaan. Dan ketika bahasa kehilangan rohnya, ia berubah menjadi tembok yang memisahkan, bahkan jurang yang tak lagi bisa dijembatani.
Pepatah ‘mulutmu, harimaumu’ sebuah idiom peringatan bagi kita, juga para pemuka, para panutan, pun lebih-lebih bagi para penguasa. Bahwa, pada sosok yang bijak, kata-kata bisa menjadi mata air yang menyejukkan dan sebaliknya di sosok egois dan angkuh, ia menjelma jadi badai yang menghancurkan. Meski lidah tak bertulang, namun kekuatannya mampu menumbuhkan atau meruntuhkan segalanya.
Hidup di era, di mana suara bisa menjangkau dunia dalam hitungan detik, kendali atas ucapan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang menentukan nasib. Sebab, tak ada yang bisa menarik kembali kata yang sudah terucap, sama seperti tak mungkin memungut bulu yang tertiup badai angin kencang. Dan pada akhirnya, bijak dalam berbicara adalah seni merawat martabat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
“Kata-kata yang terucap tak akan kembali, bak bulu yang tertiup badai angin kencang. Bijak berucap adalah santun dalam merawat martabat. ‘Mulutmu, harimaumu’ tak sekadar pepatah, melainkan alarm peringatan bahwa satu kalimat mampu mengangkatmu setinggi langit, atau menjatuhkanmu ke dasar palung tak bertepi.” (Ali Muchson)
